Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Kontrak Utama
Pagi hari di lantai tiga puluh dua Tamara Tower terasa begitu sunyi dan dingin. Udara dari pendingin ruangan terpusat berembus pelan, membawa aroma kertas baru dan sisa kopi arabika yang pekat.
Di balik meja marmer hitamnya, Elena Van Doren duduk dengan ketenangan yang intimidatif. Hari ini ia mengenakan kemeja sutra berwarna hitam legam dengan kerah tinggi, dipadukan dengan blazer abu-abu gelap bergaris tipis (pinstripe). Rambut bob tajamnya berkilau di bawah lampu pendar, melambangkan sosok wanita yang memegang kendali penuh atas takdir orang lain.
Di hadapannya, duduk Rendy Pratama. Penampilan Rendy pagi ini tampak sangat kontras dengan energinya saat berada di pesta diplomatik dua malam lalu. Ada lingkaran hitam yang samar di bawah matanya, pertanda bahwa pengusiran Lisa dari penthouse Menteng telah menguras sisa-sisa kedamaian malamnya.
Namun, di balik kelelahannya, ada kilatan ambisi yang berapi-api. Bagi Rendy, rasa lelah adalah harga kecil yang harus dibayar demi menyambut dana segar satu triliun rupiah yang sudah berada di ambang pintu masuk rekening perusahaan.
"Ini adalah laporan dari tim auditor independen kami, Tuan Rendy," ucap Elena, suaranya terdengar renyah namun dingin saat ia menggeser sebuah dokumen bersampul kulit tebal berwarna hitam ke arah Rendy.
Rendy dengan cepat menyambar dokumen itu. Tangannya sedikit bergetar saat membuka halaman demi halaman. Di sana, tertera logo firma forensik keuangan internasional terkemuka asal Singapura,firma yang sebenarnya berada di bawah kendali gurita bisnis Arka. Laporan itu menyatakan bahwa seluruh struktur modal awal Adiguna Group berada dalam status "Bersih dan Layak Investasi".
Setiap manipulasi data, setiap pengalihan dana asuransi Alana yang dilakukan oleh Hendra malam-malam sebelumnya, semuanya tampak lolos sensor dengan sempurna.
Rendy menarik napas panjang, sebuah kelegaan yang luar biasa seolah mencairkan ketegangan yang mengunci pundaknya selama seminggu terakhir.
Ia menatap Elena dengan binar mata penuh kemenangan. "Saya sudah katakan sejak awal, Elena. Perusahaan kami dikelola dengan transparansi mutlak. Tidak ada satu sen pun dana ilegal di dalam buku kas kami."
Elena menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat menawan namun menyimpan bisa yang mematikan. ("Tentu saja bersih, Rendy,") batin Elena mencemooh dengan kejam. ("Karena tim Arka sengaja membersihkan jalanmu agar kau tidak lari ketakutan sebelum melompat ke dalam jurang.")
"Saya menghargai profesionalisme Anda, Rendy," sahut Elena dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, sebuah taktik manipulasi psikologis untuk membuat targetnya menurunkan tingkat kewaspadaan. "Karena laporan ini memuaskan, saya tidak melihat alasan untuk menunda lagi. Ini adalah draf kontrak utama untuk investasi termin pertama senilai satu triliun rupiah."
Budi, yang berdiri tegap di samping meja Elena, melangkah maju dan meletakkan dua rangkap dokumen tebal berlogo Van Doren Group di atas meja rapat. Ketebalan dokumen itu mencapai lebih dari seratus halaman, penuh dengan bahasa hukum yang rumit, draf legalitas multilateral, dan lampiran pasal-pasal finansial yang sengaja ditulis dengan ukuran huruf yang kecil.
"Termin pertama ini akan dialokasikan khusus untuk penyelesaian infrastruktur dasar Adiguna City dan pelunasan utang jangka pendek kepada para vendor utama Anda," Elena menjelaskan seraya menyodorkan sebuah pena Montblanc berlapis emas ke arah Rendy. "Kami menginginkan efisiensi. Begitu kontrak ini ditandatangani, dana akan ditransfer ke rekening penampung (escrow account) dalam waktu dua puluh empat jam."
Rendy menatap pena di tangan Elena seolah melihat kunci gerbang surga. Ia membuka dokumen kontrak itu, membalik halamannya dengan cepat. Di halaman-halaman awal, semuanya berisi klausul standar: hak keuntungan bagi hasil sebesar tiga puluh lima persen untuk Van Doren Group, jadwal pencairan dana, dan struktur kepengawasan proyek.
Ketika Rendy hendak membalik ke bagian lampiran akhir, Januar, kepala tim legal Adiguna Group yang duduk di sebelahnya, berbisik dengan nada khawatir. "Tuan Rendy, mohon tunggu sebentar. Berikan saya waktu setidaknya dua jam untuk meninjau pasal-pasal di bagian jaminan silang (cross-collateral) pada halaman delapan puluh empat. Bahasanya menggunakan struktur hukum Eropa kuno yang sangat spesifik, saya perlu memastikan tidak ada ambiguitas."
Rendy menghentikan jemarinya di atas kertas. Ia melirik ke arah Januar, lalu beralih menatap Elena.
Elena tidak menunjukkan kepanikan. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, menatap Rendy dengan pandangan mata yang mendadak berubah menjadi dingin dan penuh kebosanan. Ia melirik arloji berlian di pergelangan tangannya dengan gerakan yang sengaja dibuat kentara.
"Dua jam, Tuan Rendy?" Elena memotong dengan nada suara yang sarat akan kekecewaan yang dibuat-buat. "Saya memiliki jadwal penerbangan ke Singapura pukul satu siang ini untuk menghadiri rapat dewan direksi Van Doren Group. Jika tim legal Anda masih meragukan integritas draf kontrak yang disusun oleh pengacara internasional kami, saya rasa kita bisa menunda penandatanganan ini hingga bulan depan. Tentu saja, jika kontraktor baja Anda bersedia menunggu selama itu sebelum mereka menyegel lahan proyek Anda."
Mendengar kata menunda hingga bulan depan dan menyegel lahan, kepanikan instan langsung mencengkeram isi kepala Rendy. Ancaman kebangkrutan nyata kembali membayangi di depan matanya.
Dua jam meninjau kontrak bisa berarti kehilangan momentum satu triliun rupiah yang sangat ia butuhkan hari ini juga.
Rendy menoleh ke arah Januar dengan tatapan mata yang tajam dan penuh amarah. "Januar, draf ini sudah diperiksa oleh firma Singapura yang kredibilitasnya jauh di atas tim hukum kita. Jangan membuang-buang waktu Madam Elena dengan ketakutan yang tidak beralasan!"
"Tapi, Tuan Rendy, ini menyangkut klausul jaminan," Januar mencoba membela diri.
"Cukup!" potong Rendy ketus, egonya yang angkuh menolak untuk terlihat ragu di depan Elena. Ia merebut dokumen itu dari tangan Januar, membalikkannya langsung ke halaman tanda tangan yang ber-meterai.
Rendy tidak pernah tahu bahwa di dalam pasal halaman delapan puluh empat yang dilewatinya, terdapat sebuah klausul terkubur yang dirancang secara jenius oleh Arka. Klausul itu berbunyi:
[
Apabila dalam waktu tiga puluh hari sejak dana termin pertama dicairkan, terjadi penghentian aktivitas pembangunan (mangkrak) pada proyek Adiguna City selama lebih dari lima hari kerja berturut-turut akibat kelalaian operasional atau kelangkaan material, maka pihak kedua (Adiguna Group) dinyatakan wanprestasi secara mutlak. Sebagai konsekuensinya, seluruh hak kepemilikan saham mayoritas (enam puluh persen) milik Rendy Pratama di Adiguna Group akan dialihkan secara otomatis dan seketika kepada Van Doren Group tanpa melalui proses peradilan, sebagai kompensasi atas kerugian investasi.
]
Rendy menatap Elena dengan senyum penuh kepuasan yang buta. "Saya sangat mempercayai Anda, Elena. Hubungan kita... melampaui sekadar kertas kontrak ini."
Dengan satu tarikan napas yang mantap, Rendy menggoreskan tanda tangannya di atas meterai pada kedua rangkap dokumen tersebut. Suara gesekan pena di atas kertas itu terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi kejayaan yang telah ia curi dari Alana.
Elena menerima kembali dokumen yang telah ditandatangani itu. Ia menyerahkannya kepada Budi dengan gerakan yang sangat tenang. Di dalam dadanya, Alana sedang berteriak penuh kemenangan. Jerat tali gantung finansial telah resmi melingkar di leher Rendy Pratama, dan pria itu sendiri yang menarik simpulnya dengan senyuman bangga.
"Keputusan yang sangat berani dan visioner, Rendy," ucap Elena, suaranya kembali melembut, memberikan elusan psikologis terakhir pada ego mangsanya.
"Besok pagi, periksalah rekening perusahaan Anda. Uang itu akan ada di sana. Dan bersiaplah ... karena petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai."
Rendy bangkit dari duduknya, menjabat tangan Elena dengan erat, merasa dirinya kini telah menjadi bagian dari jajaran konglomerat elit dunia. Setelah Rendy dan timnya melangkah keluar dari ruang rapat dengan langkah penuh kemenangan semu, keheningan kembali menguasai ruangan.
Pintu rahasia di sudut ruangan bergeser terbuka tanpa suara. Arka melangkah masuk dengan setelan kemeja hitamnya yang khas. Pria itu berjalan mendekati meja kerja Elena, berdiri di samping wanita itu seraya menatap dokumen kontrak yang baru saja ditandatangani.
"Dia menandatanganinya tanpa membaca pasal jaminan silang," ucap Elena, kepuasan yang pekat terdengar jelas dari nada suaranya. Ia mendongak, menatap sepasang mata hitam Arka yang memantulkan cahaya lampu.
Arka mengambil pena Montblanc di atas meja, memasukkannya kembali ke dalam saku jasnya dengan gerakan yang tenang. "Orang yang sedang tercekik di dasar air akan menyambar apa saja yang dilemparkan kepadanya, Elena, bahkan jika yang dilemparkan itu adalah seutas tali yang terikat pada sebuah batu pemberat."
Arka membalikkan badannya, menatap dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan kota di bawah mereka. "Tiga puluh hari, Elena. Waktu untuknya sudah mulai berjalan sejak detik ini. Budi sudah menyiapkan tahap berikutnya. Kita akan memastikan bahwa uang satu triliun rupiah yang masuk ke rekeningnya besok pagi ... tidak akan pernah bisa ia gunakan untuk membeli satu sak semen pun di kota ini."
Elena berdiri di samping Arka, ikut menatap hamparan gedung pencakar langit. Angin balas dendam yang dingin berembus di dalam jiwanya, bersiap untuk meruntuhkan kerajaan properti yang dibangun di atas darah dan pengkhianatan. Permainan catur telah memasuki fase pertengahan, dan Alana tahu, skakmat hanya tinggal menunggu waktu.