Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Lepasin! Lepasin gue, Paman!" ucap Anna mencoba memberontak dengan sekuat tenaga. Ia memukul dada bidang Axel dan menyentakkan tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari kukungan pria itu.
Namun, Axel menulikan telinganya. Baginya, pemberontakan Anna tidak ada apa-apanya. Dengan satu gerakan cepat dan tak terbantahkan, Axel langsung menyergap pinggang Anna, mengangkat tubuh mungil gadis itu, lalu menggendongnya di atas bahu bagai karung beras.
"Paman Axel, turunin! Malu dilihat orang! Turunin gak?!" teriak Anna frustrasi, memukuli punggung Axel sementara kakinya menendang-nendang udara.
Axel mengabaikan semua jeritan itu. Ia melangkah lebar dan tegas membelah taman menuju mobil mewah hitamnya yang terparkir tak jauh di sana. Begitu sampai, Axel membuka pintu penumpang depan dengan satu tangan, memasukkan Anna ke dalam dengan paksa, lalu langsung mengunci pintu mobil dari sistem kemudi setelah ia sendiri masuk ke kursi supir.
Suasana di dalam mobil seketika terasa begitu sempit dan mengurung. Axel memutar tubuhnya menghadap Anna, menatap gadis itu dengan tatapan mengintimidasi yang sangat pekat. "Sekarang, jelaskan padaku. Apa maksud dari ucapanmu di taman tadi, Anna?" tuntut Axel dengan suara rendah yang berbahaya.
Rasa takut Anna seketika menguap, digantikan oleh rasa kesal, kecewa, dan amarah yang sudah menumpuk sejak semalam. Dada Anna kembang kempis menahan emosi. Ia menatap balik mata tajam Axel tanpa rasa takut lagi, meluapkan seluruh unek-unek yang mengganjal di hatinya.
"Kenapa? Paman mau penjelasan apa lagi?!" bentak Anna, suaranya bergetar dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. "Bukannya kemarin malam Paman sendiri yang bilang kalau Paman gak percaya sama cinta? Paman bilang semuanya cuman karena nafsu dan obsesi, kan?!"
Axel terdiam, rahangnya mengetat mendengar ucapan Anna yang meniru kalimatnya semalam.
"Lalu kalau semuanya cuma sebatas nafsu, kenapa Paman harus repot-repot ikut campur urusan hidupku?! Kenapa Paman harus sok mengatur dengan siapa aku boleh bicara atau siapa yang boleh meluk aku?!" cecar Anna, air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya yang memerah.
"Aku ini manusia, Paman! Aku punya perasaan! Aku bukan barang koleksi atau mainan yang bisa Paman kurung dan Paman klaim sebagai hak milik cuma buat muasin ego dan obsesi Paman! Kalau Paman gak bisa menghargai aku sebagai manusia yang punya hati, mending Paman jauhin aku dan lupain semuanya! Aku benci diperlakukan kayak barang!"
Napas Anna memburu setelah menumpahkan seluruh rasa sakit dan kekecewaannya. Ia membuang muka ke jendela, terisak pelan sambil menghapus air matanya dengan kasar menggunakan lengan jaket putihnya, meninggalkan Axel yang terpaku membisu mendengar ledakan emosi dari gadis kecilnya itu.
Mendengar seluruh tangisan dan luapan emosi Anna yang begitu rapuh, dada Axel terasa seperti dihantam oleh hantaman tak kasat mata. Rasa sesak dan tidak nyaman yang asing kembali menyerang dirinya, jauh lebih kuat daripada malam sebelumnya. Melihat air mata yang terus mengalir di pipi gadis itu membuat keangkuhan dan ego besar Axel runtuh seketika.
Axel tidak membalas dengan bentakan. Ia menghela napas berat, lalu menggeser tubuhnya mendekati Anna. Tanpa memedulikan penolakan, Axel menarik tubuh mungil Anna ke dalam dekapan hangatnya. Ia memeluk Anna dari belakang, melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang ramping gadis itu, lalu menyandarkan dagunya di bahu Anna yang masih bergetar karena isak tangis.
Anna sempat ingin memberontak, namun tenaganya sudah terkuras habis oleh emosi. Akhirnya, Anna hanya bisa diam mematung, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan erat Axel yang terasa begitu protektif namun entah mengapa kali ini terasa sangat rapuh. Suasana di dalam mobil kembali menjadi sunyi, hanya menyisakan suara isakan lirih dari Anna.
"Maaf..."
Satu kata itu meluncur begitu saja dari bibir Axel. Suaranya terdengar sangat rendah, serak, dan dipenuhi penyesalan yang teramat dalam. Ini adalah kali pertama seorang Axel Elion merendahkan egonya untuk meminta maaf kepada seseorang.
Axel mempererat pelukannya, menghirup aroma manis dari rambut Anna yang dicepol asal.
"Maafkan aku, Anna," bisik Axel lagi tepat di samping telinga gadis itu. "Aku tidak bermaksud menganggapmu sebagai barang pajangan atau meremehkan perasaanmu."
Axel terdiam sejenak, mencoba menata kalimat yang sangat asing bagi lidahnya yang biasanya hanya mengucapkan perintah dingin.
"Kau benar... aku bilang aku tidak percaya cinta. Tapi kenyataannya adalah... aku tidak tahu apa itu cinta," aku Axel dengan jujur, suaranya terdengar getir. "Sejak kecil, duniaku hanya dipenuhi oleh pengkhianatan, bisnis yang kejam, dan cara bertahan hidup. Aku tidak pernah diajarkan bagaimana cara menyayangi seseorang, dan aku tidak tahu seperti apa rasanya dicintai atau mencintai."
Axel memejamkan matanya, merasakan detak jantung Anna yang berpacu di dada bidangnya. "Bagiku, saat aku tidak ingin kehilanganmu, saat aku merasa gila melihatmu dekat dengan cowok lain, dan saat aku hanya ingin memilikimu sendirian... aku mengira itu hanya obsesi dan nafsu. Aku hanya menggunakan kata-kata yang paling aku pahami di duniaku yang hitam ini."
"Aku tidak tahu cara memperlakukan hatimu dengan benar, Anna. Tapi satu hal yang harus kau tahu... kehadiranmu di hidupku itu nyata, dan aku benar-benar tidak bisa melepaskanmu," pungkas Axel lembut, mengecup bahu Anna dengan penuh perasaan, mencoba menyalurkan rasa asing yang perlahan mulai ia sadari di dalam hatinya.
cerita ny bagus banget 😍