NovelToon NovelToon
SKENARIO TUAN DANENDRA

SKENARIO TUAN DANENDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Duda
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lovelyiaca

Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.

Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.

"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Badai Sebelum Ikrar

Pemilik Camelia Boutique dan dua pegawainya berdiri kaku di depan pintu utama. Mereka menunduk dalam, hampir tak berani menarik napas, seolah kehadiran Steve di sana adalah badai yang siap meluluhlantakkan segalanya.

Steve sendiri tidak melirik mereka. Ia melangkah tergesa menaiki tangga marmer dengan aura intimidasi yang membuat udara di sekitar terasa berat dan sesak.

Di belakangnya, rombongan butik itu terbirit-birit membawa manekin gaun pengantin yang tampak megah sekaligus mencekam. Theo, seperti biasa, hanya mengekor dalam diam, memasang wajah sedatar tembok.

BRAK!

Pintu kamar terbuka dengan satu sentakan kasar, menghantam dinding hingga catnya terkelupas.

Mata Elleta melebar. Bukannya menciut, ia justru bangkit dari duduknya dengan napas memburu. Ia berdiri tegak, menatap Steve dengan tatapan yang bisa membakar siapa pun yang berani memandangnya.

“Apa-apaan ini, Steve?! Apa maksudnya ini?!” teriak Elleta. Suaranya pecah, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang sudah sampai di ubun-ubun.

Steve tidak langsung menjawab. Ia justru berjalan menuju cermin besar, merapikan letak kerah jas dan dasinya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah tindakan kasarnya tadi hanyalah hal sepele. “Besok hari pernikahan kita, Elleta. Lebih cepat, itu lebih baik.”

Atmosfer ruangan mendadak panas. Pemilik butik dan pegawainya memilih mundur, lalu keluar tanpa suara. Theo pun ikut menghilang di balik pintu, menyisakan mereka berdua dalam ketegangan yang kian memuncak. Elleta maju selangkah.

Dengan keberanian yang tak terbantahkan, ia menarik dasi Steve, memaksa laki-laki itu menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Aroma jasmine tea yang menguar dari napas Elleta menusuk indra penciuman Steve.

“Apa yang kamu rencanakan?! Katakan padaku!” suara Elleta rendah, bergetar hebat. Urat lehernya menonjol, ia menolak untuk terlihat lemah. “Aku masih berduka, dan kamu seenaknya mempercepat pernikahan ini? Kamu benar-benar gila, Steve! Belum puas kamu menghancurkan hidupku sampai aku terpaksa pulang ke Indonesia?”

“Harusnya pernikahan itu bulan depan,” lanjutnya tajam, setiap kata terasa seperti tusukan. “Kamu enggak punya hati, ya? Kamu cuma senang mempermainkan perasaan orang lain!”

Elleta menarik dasi itu lebih kuat. “Kamu enggak punya hak itu, Steve. Kamu mempermainkan keadaanku sesuka hatimu. Apa kamu belum puas menghancurkan orang yang aku cintai? Sekarang ini?!”

Steve perlahan mendekat. Ia tidak berteriak, namun setiap langkahnya terasa seperti predator yang sedang mengepung mangsanya.

“Hak?” Steve tertawa sinis. “Aku membeli hak itu sejak hari pertama kamu menginjakkan kaki di rumah ini, Elleta.”

“Kamu egois!” Elleta menarik dasi Steve lebih kasar. “Kamu pikir dunia berputar hanya untuk keinginanmu? Aku punya kehidupan! Aku punya duka yang harus kuselesaikan!”

Steve diam. Ia membiarkan Elleta melampiaskan amarahnya, namun tangannya refleks mencengkeram pinggang Elleta, menarik tubuh gadis itu hingga tak ada celah di antara mereka.

“Kamu pikir aku peduli pada dukamu?” bisik Steve tepat di telinga Elleta, suaranya serak dan berbahaya. “Aku hanya peduli pada satu hal. Kamu menjadi milikku, secepat mungkin. Dan tidak ada yang bisa menghentikanku, bahkan Tuhan sekalipun.”

Elleta terkesiap. Detak jantung Steve berdegup kencang, sama cepatnya dengan miliknya. Apakah dia gugup? Atau hanya marah?

Steve melepaskan cengkeramannya, fokusnya teralihkan pada bibir Elleta yang bergerak menuntut jawaban. Ia menelan ludah dengan susah payah, lalu memalingkan wajah dengan cepat. Semburat merah di pipinya menjadi pengkhianat, pertahanan diri dari pesona Elleta yang tidak ingin ia akui.

“Keputusanku sudah bulat. Tidak bisa dibantah. Jadi bersiaplah besok, Elleta. Kamu bakal berganti status menjadi istriku.” Tanpa menunggu jawaban, Steve melenggang pergi.

Elleta menatap punggung itu dengan kebencian yang mendidih. Ia mengejar Steve hingga ke ruang kerja, lalu menghantam meja pria itu dengan keras.

BRAK!

“Aku belum selesai bicara! Aku enggak setuju pernikahan itu dipercepat!”

Steve berbalik. Emosinya tersulut oleh keberanian Elleta yang tak terkendali. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. “Apa lagi, El? Semuanya sudah jelas, bukan?”

“Permainan apa lagi ini, Steve? Aku masih....”

Saat Elleta melangkah mundur, kakinya tersangkut taplak meja yang menjuntai. Ia kehilangan keseimbangan. Refleks Steve yang ingin menangkap justru menjadi bumerang. Mereka jatuh dengan posisi yang sangat ambigu dan menyesakkan di lantai ruang kerja.

Hening sejenak. Hanya suara napas mereka yang beradu. Steve menahan berat tubuhnya, tatapannya terkunci pada bibir Elleta yang sedikit terbuka karena terkejut.

“Menyenangkan, bukan?” bisik Steve dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Elleta berdiri. “Menjadi milikku bahkan dalam posisi yang paling tidak terduga sekalipun.”

Elleta meludahi lantai tepat di samping wajah Steve, sebuah penghinaan telak. “Jangan bermimpi. Kamu hanya predator lapar, Steve. Dan setiap predator pada akhirnya akan mati terjebak oleh jebakannya sendiri.”

Elleta bangkit, menyambar kerah bajunya dengan kasar. Wajahnya sedingin es, namun matanya berkilat penuh dendam. “Ingat, itu enggak sengaja. Jangan berharap pernikahan besok akan membahagiakanmu, atau bahkan memberimu kepuasan. Itu akan jadi bencana bagimu, Steve. Aku bersumpah, hari di mana kamu mengikatku, adalah hari di mana kamu menandatangani surat kematian kehormatanmu sendiri. Kamu pikir kamu pemenang? Kamu hanya pecundang yang sedang menunggu waktu untuk hancur.”

Steve terkekeh pelan, meski ada kilatan amarah yang tak tertahan di matanya. Ia bangkit berdiri, membersihkan debu di jasnya dengan gerakan lambat yang penuh intimidasi. “Lakukan sesukamu, Elleta. Tapi pernikahan itu tetap terjadi. Takdir tidak bisa kau lawan dengan sumpah serapah.”

Begitu Elleta keluar, senyum miring tersungging di bibir Steve. Ia segera meraih ponselnya. “Theo, perketat pengamanan di Katedral besok. Elleta pasti akan berbuat nekat.”

Steve menyentuh dadanya. Sisa aroma vanila dan mawar segar dari sentuhan Elleta seolah masih tertinggal, membekas tajam dan mengusik ketenangannya.

Senyum miring itu memudar saat ia teringat tatapan mata Elleta tadi bukan tatapan wanita yang terpojok, melainkan tatapan seseorang yang memegang kartu as.

Steve menatap langit malam dari jendela. “Apa yang sebenarnya kamu rencanakan, Elleta?”

*

*

*

Elleta tidak menangis. Ia justru berdiri di depan cermin, menyentuh bayangannya dengan jemari dingin. Ia mengeluarkan ponsel kecil yang ia sembunyikan rapat-rapat dari pengawasan Steve.

Jempolnya bergerak lincah di atas layar. "Besok. Katedral. Pastikan semuanya siap. Jangan sampai ada yang gagal."

Elleta menekan tombol kirim. Matanya menatap manekin gaun pengantin yang berdiri kaku di sudut ruangan itu dengan ambisi yang selama ini ia pendam. Ia berjalan mendekat, jemarinya menyentuh kain sutra yang halus itu, lalu mencengkeramnya dengan kuat.

Ia tidak butuh cinta, ia tidak butuh belas kasihan. Ia hanya butuh satu kesempatan di Katedral esok hari untuk memastikan bahwa Steve akan membayar harga yang setimpal atas segala kehancurannya.

"Pernikahan ini akan jadi bencana, Steve," bisiknya pada bayangan di cermin. "Tapi bukan untukku."

1
Roseanne_0606
wah seru nih mode detektif 🤭
Roseanne_0606
waduh apa nih 😭😭
Roseanne_0606
aneh nih si steve, ditampar bukannya marah malah suka 😭😭😭
Lovelyiaca: Steve aslinya bucin ya gengsi aja itu hehe 😌
total 1 replies
Roseanne_0606
Tim Elleta sih kak 💪
Lovelyiaca: Kalau aku timnya Theo aja 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Akhirnya update lagi kak 🤭
Lovelyiaca: Iya kak, aku bakal update terus, tunggu kelanjutannya ya 😆
total 1 replies
Roseanne_0606
Gapapa kak, semangat ya 💪
Lovelyiaca: Makasih yaa kak 😆🔥
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan asal nuduh woyy 😭😭😭
Lovelyiaca: Maaf ya kak, sesuai script soalnya 🙏🙏🙏 - Steve A.D
total 1 replies
Roseanne_0606
di tabok aja, El. Stevenya itu 😭😭
Lovelyiaca: tabok aja kak 🤣
total 1 replies
Roseanne_0606
Bagus kak ceritanya 😆
Lovelyiaca: makasih kak, tunggu kelanjutannya ya
total 1 replies
Roseanne_0606
Semangat updatenya thor 💪
Lovelyiaca: makasih supportnya kak 😄
total 1 replies
Roseanne_0606
Jangan mau pulang El
Lovelyiaca: makasih udah mampir ya kak
total 1 replies
Maryati ramlin
cerita bagus di tunggu kelanjutan
Lovelyiaca: Terima kasih sudah membaca karyaku, di tunggu kelanjutannya ya 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!