Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.
Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pasukan Pengompor dan Kiriman Misterius
Kamar Aiswa yang tidak seberapa luas itu mendadak terasa seperti gerbong kereta api ekonomi saat jam pulang kerja. Sembilan gadis, rekan sejawat Aiswa di kampus, berkumpul dengan posisi yang sangat tidak estetik. Ada yang duduk di pinggir ranjang, ada yang lesehan di lantai beralaskan karpet bulu, bahkan ada yang nangkring di atas kursi belajar Aiswa.
Kabar bahwa Aiswa sakit memang menjadi alasan awal, tapi "menu utama" kedatangan mereka adalah berita panas yaitu, Aiswa resmi putus dari Aditya.
"Serius, Ai? Lu yakin nih putus beneran? Enggak lagi nge-prank kita, kan?" tanya Nala dengan wajah tidak percaya.
"Tapi ya... akhirnya teman gue sadar juga dari kegelapan," tambahnya sambil mengangguk-angguk puas.
Aiswa yang masih lemas di bawah selimut langsung melotot.
"Yee, dikira selama ini gue koma apa ya?" protes Aiswa ketus.
"Tapi kan, Ai... kalau dipikir-pikir, gue sih lebih dukung lo sama si bapak duda itu," ujar Shena tiba-tiba, memicu kompor di tengah ruangan.
"Udah deh, Shen! Jangan mulai ikutan gila!" seru Aiswa frustrasi.
"Lho, bener kata Shena. Setuju aja deh, Ai. Mana masa depan terjamin, tujuh turunan delapan tanjakan nggak bakal kekurangan sembako," Mikha menimpali dengan semangat.
"Bener juga! Malah dapat bonus anak satu yang lucu banget. Nggak perlu repot hamil duluan, langsung jadi ibu pejabat," Lalita ikutan memanasi suasana.
Elena, yang kebetulan pernah melihat sosok Devan secara langsung, tidak mau ketinggalan.
"Iya, Ai! Lagian, muka bapaknya Zianna itu... duh, cakepnya nggak manusiawi. Jauh lebih upgrade lah dibanding si Aditya yang mukanya standar pasar itu," ucapnya sambil membayangkan ketampanan Devan.
Aiswa langsung menutup telinganya dengan bantal. Alih-alih mendapatkan hiburan, ia merasa jiwanya sedang dipanggang hidup-hidup oleh teman-temannya sendiri.
Mengapa semua orang seolah-olah berada di tim "Duda Sinting" itu?.
"Sudah! Kalian semua pulang gih! Bukannya ngilangin stres, yang ada gue malah beneran gila dengar ocehan kalian!" teriak Aiswa dari balik selimut.
"Tapi Ai, cowok yang protektif sampai nyusulin pas hujan-hujanan gitu keren lho. Berasa di drama Korea, jadi gemes!" Bela memberikan serangan terakhir yang membuat Aiswa semakin ingin menghilang dari muka bumi.
Merasa diusir secara halus, sembilan gadis itu akhirnya keluar dari kamar dan memilih menyerbu ruang tamu untuk makan camilan yang disediakan Bunda Ayunda. Aiswa pun akhirnya keluar dengan langkah gontai, berniat mengusir mereka secara fisik agar ia bisa istirahat dengan tenang.
Namun, di tengah keriuhan mereka yang sedang mengunyah, terdengar suara ketukan pintu. Seorang kurir berdiri di depan rumah membawa sepaket besar makanan mewah dari restoran berbintang dan sebuah buket bunga lili putih yang sangat indah.
"Lho, paket buat siapa ini?" tanya Bunda Ayunda heran.
Teman-teman Aiswa langsung menyerbu ke depan, jiwa intelijen mereka bangkit seketika. Mereka melihat sebuah kartu kecil terselip di antara bunga-bunga itu.
"Ada catatannya! Ada catatannya!" seru Nala heboh.
"Cepat sembuh ya. Makan yang banyak."
From: D.A.
Ruang tamu itu mendadak hening selama tiga detik, sebelum akhirnya meledak oleh teriakan histeris sembilan wanita itu.
"D.A?! DEVAN ARGIAN?!" teriak mereka kompak.
Aiswa yang berdiri di ambang pintu hanya bisa menghela napas panjang dan mengelus dadanya sabar. Kepalanya mendadak makin pening. Ia tidak habis pikir dengan tingkah tuan muda yang satu ini.
Kadang bersikap otoriter seperti diktator, kadang manja tidak karuan, kadang mengerikan dengan segala ancamannya, dan sekarang... sok romantis mengirim bunga di depan teman-temannya.
"Benar-benar merepotkan..." gumam Aiswa sambil menatap bunga itu dengan perasaan campur aduk antara kesal dan sedikit, hanya sedikit... tersipu malu.