Enam bulan setelah Kirei Zhaklyn—perempuan tangguh di balik kesuksesan industri teknologi—tewas tragis dalam kecelakaan akibat sabotase keji, hidup Vaxerion Mahendra ikut hancur. Konglomerat otomotif itu memilih mundur dari dunia bisnis, hidup seperti cangkang kosong yang didera kedukaan mendalam.
Namun, di sebuah malam gala internasional, pintu aula terbuka. Di sana muncul sepasang manusia: Andi Clark, miliarder pemegang kendali perbankan global asal Swiss, menggandeng seorang wanita yang memiliki wajah, sorot mata, dan senyuman yang seratus persen persis dengan almarhumah Kirei.
Dia adalah Kirei Alexandra. Datang dari Eropa dengan pembawaan ketus, jutek, dan dingin, dia langsung menepis kasar pelukan Vaxerion: "Jaga jarak Anda, Tuan Mahendra. Saya bukan barang peninggalan masa lalu Anda."
Apakah wanita jutek ini adalah Kirei yang bangkit dari kubur untuk membalas dendam, atau ada rahasia adopsi yang sengaja dikubur sejak bayi? Di tengah adu kekayaan tingkat tinggi dan gesekan harga diri melawan Andi Clark, takdir baru yang jauh lebih berbahaya siap menggoncang Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Detak Server dan Badai yang Mengintai
Aroma kopi hitam tanpa gula kembali memenuhi ruangan seluas dua ratus meter persegi di lantai empat puluh lima Vancort Tower. Kirei berdiri mematung di dekat dinding kaca besar, menatap lurus ke arah langit Jakarta yang mulai diselimuti terik matahari pagi. Hari ini adalah awal persiapan menjelang pameran teknologi nasional, sebuah pertaruhan besar bagi Zhaklyn Mobile untuk memamerkan keunggulan sistem operasi Zhaklyn OS di depan para menteri dan investor global.
Namun, di balik penampilannya yang sempurna pagi ini—balutan kemeja sutra berwarna champagne yang jatuh pas di tubuh rampingnya dan celana palazzo hitam yang menyapu lantai dengan elegan—pikiran Kirei tidak sepenuhnya berada di ruang rapat. Di bawah meja kerjanya, jemari lentiknya meremas pelan kotak beludru biru berisi gantungan kunci SMA usang yang kemarin dikembalikan oleh Vaxerion. Ada rasa haru yang nyata yang masih mengendap di dadanya, sebuah rasa aman yang belum pernah dia rasakan sejak gubuk pinggir relnya dihantam banjir lima tahun lalu.
Pip.
"Nona Kirei, dokumen integrasi sasis dari Mahendra Motors sudah dikirim oleh tim Tuan Vaxerion. Namun..." Suara Maya dari interkom terdengar agak ragu-ragu, menahan napas sejenak sebelum melanjutkan. "...ada lalu lintas data yang mencurigakan di peladen luar kantor. Seseorang dari jaringan perhotelan di Jakarta Pusat mencoba mengunduh riwayat legalitas perusahaan lama ayah Anda, Tuan Harlan."
Mendengar nama ayahnya disebut, mata jernih Kirei yang secantik kristal langsung menyipit tajam. Topeng CEO yang dingin dan kaku kembali terpasang sempurna dalam hitungan detik. "Blokir aksesnya, Maya. Siapkan tim hukum untuk melacak alamat IP pengunduh."
Kirei meletakkan cangkir porselennya dengan ketukan halus yang tegas di atas meja marmer Carrara. Dia tahu betul, setelah kejatuhan Hendrawan dan penahanan ayahnya semalam, musuh-musuh bisnisnya di luar sana pasti sedang mencari celah untuk menjatuhkannya. Tapi dia tidak menyangka bahwa serangan berikutnya akan mengarah pada dokumen riwayat masa lalu keluarganya yang paling dia tutupi. Kirei mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasakan amarah dan kecemasan manusiawi mulai bergejolak di dalam dadanya. Dia menolak menjadi lemah. Dia akan membalas siapa pun yang mencoba mengusik ketenangan adiknya, Rian, dan Oma.
Brak!
Pintu jati ruang kerjanya mendadak terbuka lebar tanpa ketukan. Suara langkah sepatu kulit yang kokoh menghantam lantai marmer dengan irama yang menantang, langsung membuyarkan semua ketegangan pikiran Kirei.
Itu Vaxerion.
Raja industri otomotif itu melangkah masuk dengan ketenangannya yang khas. Pria itu tidak mengenakan jas formalnya hari ini, hanya kemeja polo hitam polos berkualitas tinggi yang membungkus ketat tubuh tegapnya yang atletis setinggi seratus delapan puluh lima senti. Di tangan kanannya, dia menenteng sebuah rantang bambu tradisional yang tampak sangat kontras dengan penampilannya yang tampan dan berwibawa.
Vaxerion membawa serta aroma maskulin yang tenang—campuran parfum kayu cendana dan wangi bersih sisa udara pagi. Matanya yang tajam, jernih, dan dalam langsung mengunci pandangan Kirei dengan binar perhatian pekat yang begitu hangat, jenis tatapan matang yang sanggup membuat wanita mana pun di luar sana meleleh dan salah tingkah dalam hitungan detik.
"Kamu melewatkan sarapan pagimu lagi, Kirei," suara berat Vaxerion mengalun rendah, bergema romantis di dalam ruangan yang luas. Ditambah rahang tegas dan tatapan matanya yang sangat tampan, kehadiran pria itu benar-benar mendominasi ruangan. Dia berjalan mendekati meja Kirei, mengabaikan jarak profesional di antara mereka sampai jarak mereka dekat sekali.
Vaxerion meletakkan rantang bambu itu di atas meja marmer, lalu membuka tutupnya dengan telaten. Aroma wangi nasi uduk hangat, bawang goreng, dan semur tahu buatan Oma langsung menguar memenuhi ruangan, menyengat indra penciuman Kirei.
"Oma bilang kamu keluar rumah jam enam subuh tadi tanpa menyentuh makanan di meja," ujar Vaxerion lembut, suaranya melembut namun matanya memancarkan binar geli yang menawan saat melihat ujung bibir Kirei yang sedikit dikerucutkan karena gengsi. Pria dewasa itu mengulurkan tangan kirinya yang besar dan hangat, menangkup pelan punggung tangan Kirei yang sedang menegang di atas meja, mengusapnya dengan jempolnya secara sabar. "Aku tidak mau melihat calon istriku pingsan di ruang rapat sebelum pameran teknologi kita dimulai. Makanlah."
"Kamu kerumahku?" tanya Kirei dengan bingung dan penuh tanda tanya.
Vaxerion mengangguk.
Pipi Kirei mendadak terasa terkejut, wajahnya mulai panas terbakar hebat. Perhatian kecil yang dibungkus dengan cara yang sangat dewasa dan romantis dari pria setampan Vaxerion selalu sukses memorak-morandakan seluruh pertahanan es di hati Kirei. Rasa cemas dan amarah karena masalah peladen tadi mendadak menguap, digantikan oleh rasa terharu yang pekat hingga membuat matanya berkaca-kaca kembali.
"Terima kasih, Vaxerion," bisik Kirei jujur, suaranya agak parau. Dia tidak menarik tangannya dari genggaman hangat Vaxerion, membiarkan dirinya merasakan kehangatan yang nyata dari pria yang telah menjaganya sejak dia masih mengenakan seragam SMA basah kuyup di halte stasiun.
Vaxerion tersenyum sangat tampan—sebuah senyuman tipis yang menonjolkan garis wajah tegasnya yang maskulin, membuat Kirei menyadari bahwa di tengah badai konspirasi baru yang sedang diatur oleh Bianca dan Mirna di luar sana, dia tidak perlu takut lagi menghadapi dunia, karena dia memiliki benteng pertahanan terbaik yang berdiri kokoh di sebelahnya.
To be continued...