NovelToon NovelToon
Hanya Seorang Figuran

Hanya Seorang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vaestra

Renazia Putri Maharaja, adalah salah satu orang yang beruntung di dunia. Selain pintar dan cantik, wanita yang baru saja menginjak umur 27 tahun itu, juga memiliki keluarga yang sangat sayang padanya, serta teman yang banyak.

Ditambah dengan kesuksesannya di dunia desainer, membuat orang-orang iri padanya.

Namun, semuanya hilang dalam semalam, ketika Rena tiba-tiba terbangun di tempat yang asing dengan tubuh yang berbeda, dengan nasib yang berbeda juga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaestra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

duapuluhempat

Rena kembali melakukan hal yang nekad. Kali ini, dia tidak keluar dari mansion, melainkan dia ke bangunan di mana para pelayan tinggal. Setelah memastikan, Dante benar-benar tidak pulang dan, para pengawal dan pelayan yang berada di sekitarnya berkurang, Rena langsung beraksi.

Tadi siang, Rena tidak sengaja mendengar ada pelayan yang membicarakan tentang Via dan Riri. Katanya, keduanya mendapatkan hukuman.

Saat dia bertanya ke pelayan itu, mereka tidak memberitahunya. Sehingga, Rena harus memastikannya sendiri.

Kriet

Padahal, Rena sudah berhati-hati dan pelan-pelan membuka pintu kamar Via dan Riri. Namun, masih saja terdengar suaranya. Untungnya, tidak ada bangun.

Kosong. Tidak ada siapapun di kamar Via dan Riri, membuat Rena semakin khawatir. Wanita itu tampak berpikir, dan mencoba mengingat, apakah ada bangunan lain di area mansion Moretti. Siapa tau, kedua pelayannya di kurung di sana.

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

Rena terlonjak kaget. Dia segera berbalik, dan mendapati Dante yang berdiri di ambang pintu, melipat tangannya, sambil menatap tajam ke arahnya.

"Mampus."

"D-Dante?"

Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar itu, menatap lurus ke arah Rena. "Aku tanya, apa yang kamu lakukan di sini?"

"A-aku ..." Rena tiba-tiba menjadi gugup dan, dia kehilangan kata-kata untuk dia jadikan alasan.

"Kamu mau kabur lagi?"

Rena sontak menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku hanya ... ingin mencari Via dan Riri. Sudah beberapa hari, aku tidak melihat mereka." Akhirnya, Rena memutuskan untuk jujur.

Dante terdiam sejenak, sebelum menjawab. "Mereka ada tugas di tempat lain. Sekarang, kembali ke kamarmu, sebelum aku membawamu ke ruangan bawah tanah."

Rena bergeming. Dia menatap Dante dengan tatapan menuntut jawaban. Rena ingin, Dante memberikan jawaban yang Rena inginkan.

"Aku bilang, kembali ke kamarmu."

"Tidak. Aku hanya ingin tau, di mana mereka berada," kekeuh Rena, rasa takutnya akan dikurung di ruang bawah tanah menghilang. Dia hanya ingin tau di mana Via dengan Riri berada.

Dante menghela napas panjang. "Baiklah. Ikut aku."

Wanita itu tersenyum senang. Dengan cepat, dia mengikuti Dante keluar dari bangunan itu. Langkah Rena tiba-tiba terhenti ketika, Dante juga berhenti.

"Sebelum, kita ke sana. Kamu harus tutup mata dulu," Dante berkata sambil menyerahkan saputangan yang dia terima dari Enzo, lalu dia mengulurkannya pada Rena.

Rena menatap saputangan itu dengan perasaan was-was. Dia takut, jika Dante menipunya, dan membawanya bukan ke tempat di mana Via dan Riri berada, melainkan ke tempat lain.

Melihat Rena yang ragu, Dante langsung maju dan hendak memasangkan saputangan itu. Namun, Rena segera menepisnya.

"Kamu mau menipu aku,kan?!" seru Rena dengan penuh amarah, merasa tidak terima karna, Dante merasa Dante mencoba menipunya.

"Yasudah. Kamu tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi." Dante memilih untuk masa bodoh. Pria itu hendak berbalik meninggalkan Rena.

"Jahat."

Langkah Dante sontak terhenti. Namun, dia tidak berbalik menatap Rena. Enzo yang menjadi penonton, hanya bisa menatap ke arah yang lain, berpura-pura tidak mendengar apapun. Tapi, dia tetap waspada.

"Via dan Riri, adalah pelayanku tapi, kenapa mereka dihukum tanpa sepengetahuan aku?!"

Dante berbalik, menatap Rena dengan satu alis terangkat. "Mereka adalah bawahanku. Aku yang mengaji mereka. Kenapa kamu mengklaim mereka adalah pelayanmu?"

Rena mengatupkan bibirnya. Dia mengepalkan tangannya, merasa sangat kesal pada pria di depannya itu.

"Mau aku apakan mereka, yah terserah aku." Dante maju selangkah. "Kamu mau tau kenapa mereka dihukum? Itu karna, mereka membiarkan tawanan kabur."

Melihat raut wajah Rena yang memerah karna, menahan amarah, menjadi suatu kepuasan bagi Dante. Karna, dia bisa membungkam mulut wanita itu. Dia beralih menatap Enzo. "Bawa wanita ini masuk ke ruangan itu."

"Tidak! Aku tidak mau! Aku mau bertemu dengan Via dan Riri," tolak Rena, dia mundur beberapa langkah ketika Enzo ingin mendekatinya.

"Sebagai tawanan, kamu banyak maunya juga, yah? Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu." Dante melirik Enzo. Dan, dengan gerakan cepat, Enzo mendekati Rena dan membius wanita dengan menutup mulut serta hidungnya dengan saputangan yang sudah diberikan cairan bius.

Rena sempat memberontak, sebelum dia jatuh pingsan. Dante langsung mengambil alih tubuh Rena dan menggendongnya masuk ke dalam area hutan yang biasa dipandangi Rena dari balkon kamarnya dengan Enzo yang setia mengikutinya dari belakang.

Mereka berhenti di depan sebuah gubuk. Enzo dengan cepat membuka pintu gubuk itu.

"Tuan?" Via dan Riri sontak bangkit berdiri, ketika sosok Dante. Namun, mereka lebih terkejut lagi melihat Rena yang digendong oleh Dante.

"Siapkan kasur untuk nyonya," perintah Enzo yang langsung mereka laksanakan.

Dante membaringkan Rena di atas kasur itu. Lalu, menatap Via dan Riri. "Dia akan bersama kalian beberapa hari kedepan. Jadi, lakukan tugas kalian dengan baik."

"Baik, Tuan."

Dante menatap Rena, sebelum dia beranjak dari gubuk itu.

...

Wiliam memutarkan gelas yang berisikan wine di tangannya, sambil menatap ke arah foto Julian yang El bawakan untuknya tadi siang.

"El, menurutmu, kenapa Julian mengambil buku itu? Aku rasa, itu tidak menguntungkannya sama sekali. Kecuali, dia memberikannya pada Dante."

El terdiam sejenak. "Mungkin ... karna, istrinya."

Jawaban El membuat William menatapnya dengan tatapan bingung. "Istrinya?" Setau William, istrinya Julian meninggal dalam sebuah kecelakaan. "Apa hubungannya?"

"Tuan lupa? Beberapa tahun yang lalu, Tuan menabraknya saat Tuan membawa mobil dalam keadaan mabuk?"

William terkekeh pelan. "Aku kan sudah minta maaf. Dan, dia terlihat tidak mempermasalahkannya."

Tiga tahun yang lalu, William pernah minum-minum dengan beberapa rekan kerjanya. Saat itu, dia tidak membawa El, sehingga dia harus menyetir mobil dalam keadaan mabuk. Dan, dia kecelakaan, karna menabrak mobil lain yang tidak lain, adalah istrinya Julian.

William sudah meminta maaf, dan ingin memberikan kompensasi. Namun, Julian menolaknya. Untungnya, Julian tidak menyebarkan tentang hal ini.

"Bagaimana jika, Julian sebenarnya menaruh dendam dengan anda? Dan, dia sedang mempersiapkan sesuatu untuk membalas anda."

Raut wajah William berubah menjadi serius. Dia menegakkan tubuhnya. "Coba saja, main-main denganku. Akan aku hancurkan dia."

...bersambung

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjut, thor, makin penasaran/Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
wih, banyak rahasia ternyata/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!