Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Pelayan Kepercayaan Keluarga Chen
"Cepat bangun! Pelayan Zhang sudah datang!"
Suara ketukan pintu yang keras, disusul lengkingan suara Tiffany, seketika menghancurkan mimpi indah Gavin tentang pesta di sebuah klub malam mewah di Jakarta. Dalam mimpinya, ia bahkan belum sempat menyentuh hidangan prasmanan ketika semuanya buyar begitu saja.
"Astaga..." gumam Gavin.
Ia mengerjapkan mata dengan panik, lalu terduduk di atas kasur lipatnya di ruang tengah dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan. Jiwanya terasa masih tertinggal di alam mimpi.
"Jam berapa ini, Tante?" gerutunya dengan suara serak sambil menggosok mata.
Tiffany sama sekali tidak menggubris keluhannya. Wanita itu melangkah cepat menghampiri, lalu tanpa basa-basi menyambar bantal dan selimut Gavin.
Brak!
Selimut itu langsung dilempar ke wajah Gavin.
Wajah Tiffany tampak jauh lebih tegang daripada biasanya. Riasan tipis yang selalu membuatnya terlihat anggun pagi itu gagal menyembunyikan kepanikan di matanya.
"Ini sudah jam tujuh pagi!" katanya dengan suara tertahan. "Pelayan kepercayaan ayahku sudah datang! Cepat bawa semua pakaian dan koper usangmu itu ke dalam kamarku!"
Rasa kantuk Gavin langsung lenyap dalam sekejap.
"Hah?! Masuk kamar Tante?" Matanya membulat lebar. "Bukankah Tante pernah bilang kalau aku dilarang keras menginjakkan kaki di kamar Tante? Bahkan mendekati pintunya saja sudah dilarang!"
"Aturan itu tidak berlaku sekarang!"
Tiffany melempar koper usang Gavin ke pelukannya hingga pria itu hampir kehilangan keseimbangan.
"Kalau dia masuk lalu melihat suamiku tidur di sofa ruang tengah dengan kasur lipat begini, dia pasti langsung curiga dan melapor kepada Ayah. Cepat! Taruh beberapa bajumu di lemariku. Bikin semuanya terlihat seperti pasangan yang benar-benar tinggal sekamar!"
Gavin yang akhirnya menyadari situasi benar-benar genting langsung melompat berdiri dan menyeret kopernya.
Dalam waktu kurang dari lima menit, kamar Tiffany yang semula rapi, minimalis, dan dipenuhi aroma lavender yang lembut kini sedikit kehilangan kesan elegannya. Di salah satu sudut lemari sudah tergantung beberapa kaus hitam bergambar karakter anime milik Gavin, sementara di bawah meja rias teronggok kotak sepatu edisi terbatas yang sama sekali tidak cocok dengan interior ruangan.
Tiffany memandangi hasil "dekorasi" itu sambil menarik napas panjang.
"Kamarku jadi seperti tempat kos mahasiswa...."
"Lebih tepatnya kos mahasiswa sultan," jawab Gavin bangga.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Gavin menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang king size milik Tiffany.
"Wow...."
Tubuhnya langsung tenggelam beberapa sentimeter.
"Kasur Tante empuk sekali."
Ia memeluk bantal besar itu sambil menutup mata.
"Jauh lebih enak daripada kasur lipatku. Ini baru namanya hidup," keluh Gavin sambil membenamkan wajahnya ke bantal empuk itu.
"Jangan tidur!" bentak Tiffany, melangkah cepat ke sisi ranjang sambil melipat kedua tangannya di dada.
Gavin membuka sebelah matanya dan tersenyum usil. "Aku cuma sedang melakukan uji kualitas," jawabnya santai, bahkan masih sempat menepuk-nepuk kasur itu beberapa kali.
Tiffany mendecakkan lidah, lalu menunjuk pintu kamar dengan wajah kesal. "Bangun! Ini bukan waktunya menikmati kasur!"
Tiffany sudah mengangkat sebuah bantal sofa, siap melemparkannya ke kepala Gavin.
Namun....
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu depan berbunyi.
Ritmenya pelan, teratur, tetapi terdengar sangat tegas.
Seluruh ruangan mendadak hening.
Tiffany menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan ke arah pintu, lalu kembali menatap Gavin.
Tatapannya kali ini jauh lebih serius.
"Gavin," bisiknya pelan.
"Hm?"
"Ingat batasanmu. Jangan berlebihan... tapi juga jangan sampai terlihat mencurigakan."
Gavin mengangguk.
"Mulai sekarang," lanjut Tiffany sambil menarik napas panjang, "kita harus benar-benar berhati-hati."
Ia merapikan rambutnya di depan cermin, meluruskan kerah blusnya, lalu memasang senyum profesional yang selama ini menjadi ciri khas seorang CEO.
Beberapa detik kemudian, Tiffany membuka pintu.
Di ambang pintu berdiri seorang wanita paruh baya bertubuh tegap. Seragam pelayannya tersetrika sempurna tanpa satu pun lipatan kusut. Rambutnya disanggul rapi hingga tak ada sehelai pun yang keluar dari tempatnya.
Tatapan matanya tajam dan tenang.
Seolah mampu menemukan kebohongan sekecil apa pun.
Dialah Pelayan Zhang.
Di samping kakinya sudah berdiri sebuah koper besar serta beberapa kotak hadiah yang ditata sangat rapi.
"Selamat pagi, Nona Muda," sapa Pelayan Zhang dengan suara datar namun penuh hormat.
Meski bibirnya tersenyum tipis, kedua matanya langsung menyapu seluruh isi penthouse.
Mulai dari rak sepatu.
Sofa.
Meja makan.
Hingga arah lorong menuju kamar.
Tatapannya benar-benar seperti seorang penyelidik profesional yang sedang mengumpulkan bukti.
"Selamat pagi, Pelayan Zhang. Silakan masuk," jawab Tiffany sambil menyingkir memberi jalan.
"Terima kasih."
Pelayan Zhang melangkah masuk dengan tenang.
"Oh ya, ini hadiah dari Tuan Besar dan Nyonya untuk Anda," katanya sambil menyerahkan sebuah kotak hadiah berbalut kertas elegan berwarna merah marun dengan pita emas.
Tiffany menerimanya dengan kedua tangan.
"Ayah dan Ibu sampai mengirim hadiah?" gumamnya pelan.
Jarinya mengusap pita emas itu sesaat.
"Sepertinya... mereka benar-benar memperhatikan pernikahanku."
"Beliau berdua berharap Nona Muda hidup bahagia ," jawab Pelayan Zhang singkat.
Belum sempat Tiffany membalas, terdengar suara langkah kaki dari arah koridor kamar.
Gavin muncul dengan santai.
Ia sengaja membuka dua kancing teratas kemeja santainya, membuat penampilannya tampak seperti seseorang yang baru bangun tidur. Rambutnya sengaja diacak sedikit agar terlihat alami.
Bahkan ia menguap kecil di tengah jalan.
"Oh... Pelayan Zhang sudah datang?" sapanya menggunakan bahasa Mandarin sehari-hari yang kini terdengar jauh lebih santai dibanding sebelumnya.
Pelayan Zhang mengangguk tipis.
Tanpa ragu sedikit pun, Gavin berjalan mendekati Tiffany.
Lalu....
Dengan gerakan yang sangat alami, tangan kanannya melingkar di pinggang ramping Tiffany.
Tubuh wanita itu otomatis tertarik mendekat ke sisinya.
"Sayang...."
Suara Gavin terdengar hangat.
"Kenapa tidak membangunkan aku lebih awal? Kita seharusnya menyambut Pelayan Zhang bersama."
Tubuh Tiffany langsung membeku.
Seluruh otot di bahunya menegang.
Kulit di sekitar pinggangnya meremang saat merasakan tangan Gavin berada di sana.
Di dalam hati, Tiffany sudah berteriak marah.
Berani sekali pria ini mengambil kesempatan! Tunggu saja nanti kalau Pelayan Zhang tidak ada!
Namun semua kemarahan itu hanya bisa dipendam.
Di depan mata Pelayan Zhang yang sedang mengamati mereka tanpa berkedip, Tiffany sama sekali tidak boleh menunjukkan kejanggalan.
Ia mendongak menatap Gavin.
Senyumnya terlihat manis.
Sangat manis.
Terlalu manis.
Saking kuatnya menahan emosi, sudut bibirnya bahkan sedikit berkedut.
"Maaf, Suami ku...." katanya dengan suara selembut mungkin. "Aku tidak tega membangunkanmu karena semalam kamu terlihat sangat... lelah."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan jeda yang sengaja dibuat dramatis.
Gavin balas tersenyum polos.
"Oh? Benarkah?" katanya sambil menggaruk kepala. "Ya Sayang, semalam memang cukup melelahkan."
Senyum Tiffany nyaris lepas dari wajahnya.
Pria ini! Kenapa harus mengatakan kalimat yang bisa disalahartikan sekarang juga?
Pipinya perlahan memanas, entah karena malu atau sibuk menahan emosi. Tanpa mengubah senyum anggunnya di hadapan Pelayan Zhang, jemari Tiffany diam-diam mencubit lengan Gavin yang masih melingkari pinggangnya.
Gavin hampir meringis karena cubitan itu, tetapi ia berhasil menahannya dan tetap memasang senyum manis seolah tidak terjadi apa-apa.
Pelayan Zhang memperhatikan seluruh interaksi kedua pengantin baru itu dengan ekspresi yang tetap tenang.
Tatapannya berpindah dari tangan Gavin yang masih melingkari pinggang Tiffany, lalu ke wajah mereka berdua.
Tidak ada komentar.
Tidak ada pertanyaan.
Namun sorot matanya seolah sedang mencatat semuanya di dalam kepala.
Detektif rumah tangga keluarga Chen itu baru saja memulai tugasnya.
Dan sejak detik itu pula, permainan kucing dan tikus di bawah satu atap resmi dimulai.