NovelToon NovelToon
Penantang : Dari Sekolah

Penantang : Dari Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Action / Duniahiburan / Fantasi
Popularitas:745
Nilai: 5
Nama Author: Xdit

Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arah yang di tuju?

Rivaldo memandangi senyum Rio yang terangkat, namun ada sesuatu yang terasa salah. Senyum itu terlalu tipis untuk disebut tenang, terlalu retak untuk disebut lega.

“kau bisa memanfaatkan ku, apakah kau baik-baik saja?,Bagaimana caranya kau bisa setenang ini? Kau bahkan kehilangan tujuanmu… karena aku.”

Rio tertawa kecil, lalu senyumnya melebar hingga membuat dada terasa dingin.dan membuat muka Rivaldo menjadi tegang dan panik

“Baik-baik saja dari mana, sialan?,Selama ini Aku cuma menahannya. Menahan diri supaya tidak gila.”

Ia menunduk, dahi menempel di meja kayu yang dingin, bahunya bergetar. Air mata jatuh tanpa suara. “Aku menahannya… selama ini.”

Tangannya mengepal. “Aku berjanji pada diriku sendiri, Bahwa aku tidak akan pernah memaafkanmu. Tapi setelah aku tahu kebenarannya, aku malah tidak tahu harus berbuat apa.”

Kata-katanya berantakan, seperti pikirannya. “Haruskah aku melanjutkan balas dendamku… atau mengejar kebenaran tentang orang tuaku?. Semalaman aku hampir gila memikirkannya.”

Rio mengangkat kepalanya perlahan. Matanya melebar, basah, dengan kilau yang membuat Rivaldo refleks menahan napas. Senyum itu muncul lagi, tipis dan menyeramkan. “Dan mungkin… aku memang sudah gila sekarang. Bertahun-tahun aku menyimpan dendam padamu.”

Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit kafe yang tak berubah sejak tadi. “Tapi saat aku tinggal selangkah lagi mencapai tujuanku,tapi yang ku dapatkan hanyalah kehampaan.”

Tidak ada kemenangan di suaranya. Tidak ada kelegaan. Hanya ruang kosong yang bergema.

“Lucu, kan?”

Rio tersenyum tanpa tawa. “Dendamku membesarkanku, tapi saat ia runtuh… aku tidak tahu siapa diriku.” Tangannya bergetar di atas meja.

...“Aku menang, tapi tidak membawa apapun di tangan ku.."...

Rivaldo terdiam. Di hadapannya bukan lagi korban, bukan pula penuntut balas dendam.lalu dia menunduk, pandangannya tertuju pada permukaan meja kafe yang memantulkan cahaya lampu. Tangannya menopang dagu, raut wajahnya menunjukkan keraguan yang sulit disembunyikan.

“Aku akan membantumu..., jika kita bisa mencari kebenaran tentang kematian ibu mu , apakah kau akan memaafkan ku?” tanya Rivaldo.

Nada suaranya tidak lagi keras seperti biasanya, melainkan rapuh.

“Aku menyimpan penyesalan di dalam hatiku, seperti rasanya aku berbuat salah padamu.”

Rio mengusap wajahnya pelan, seolah mencoba menyingkirkan beban yang menekan kepalanya sejak lama.“Lakukan apa yang kau mau.”

Jawaban itu terdengar kosong, bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu banyak hal yang bercampur di pikirannya. Rivaldo terdiam. Di dalam benaknya, keraguan semakin menguat. "Pikiran Rio benar benar kacau, dia bisa selalu berubah-ubah pikiran bahkan sifatnya, ini mungkin adalah kesalahan ku?"

Ia menatap Rio lebih lama, lalu mengulurkan tangan dan memegang pundaknya, kali ini tanpa tekanan.“Kalau begitu kau pulang lah, kita akan melakukan ini setelah ujian sekolah.”

Rio kembali tersenyum, senyum tipis yang tidak sepenuhnya cerah.

“Aku bahkan lupa pada ujian..., baiklah. tapi sebelum itu ,aku memiliki beberapa informasi yang mungkin berguna untuk mu.”

Nada bicaranya berubah, lebih fokus, seakan pikirannya menemukan satu arah kecil di tengah kekacauan.

 “Apa itu?” tanya Rivaldo yang bingung.

“Tentang ‘Melewati Tembok’.” kata Rio serius.

“Melewati tembok?, apa maksudnya?” Rivaldo masih tidak paham dengan perkataan Rio. “Apa mungkin perasaan yang muncul saat aku melawan mu?”

Rio menghela napas lega, seolah akhirnya tidak sendirian dalam pemahamannya. “Akhirnya kau juga paham, Itu memunculkan suatu kemampuan, Dan sepertinya di picu oleh keadaan di mana kita bertekad untuk sesuatu yang amat sangat penting bagi kita.”

Rivaldo mencoba mengingat kembali sensasi saat pertarungan itu terjadi. “Jadi begitu, pantas saja saat aku melawan mu, seperti ada yang berbeda dengan tubuhku, rasanya sangat panas dan..”

Kalimatnya terputus ketika Rio menyela. “Dan saat kau memukulku, rasanya seperti di pukul dua kali ?. itu mungkin kemampuan mu.”

Kau benar..” kata Rivaldo.

Ia menarik napas pelan, bahunya sedikit turun. “Tapi setelah pertarungan selesai, tubuhku langsung sakit, organ tubuh ku terasa hancur dari dalam.”

Nada suaranya datar, lebih mirip laporan daripada keluhan. Rasa sakit itu masih tertinggal, belum benar-benar hilang dari tubuhnya.

Rio menyipitkan matanya. “Aku juga seperti itu , bahkan aku pingsan.”

Ucapannya singkat, tanpa emosi berlebihan, seperti membicarakan kejadian biasa meski kenyataannya tidak demikian.

Mata Rivaldo melebar, rasa penasaran muncul di wajahnya. “Benarkah?, apa kemampuan mu?”

Pertanyaan itu keluar cepat, tanpa dipikirkan lebih dulu.

Wajah Rio kembali datar. Tatapannya tidak berubah, tetap tenang dan tertutup.“Hanya berpikir cepat..”

Itu jawaban yang aman. Sebuah kebohongan kecil yang ia gunakan untuk melindungi dirinya sendiri. Karena Rio belum sepenuhnya percaya pada Rivaldo .

Rivaldo terdiam sesaat, lalu menatap Rio dengan ekspresi terkejut. “Jadi itu alasan kau bisa berkembang denga sangat cepat..”

Ia mulai memahami pola yang selama ini ia abaikan.

“Begitulah.” jawab Rio.

......................

Riko, Arya, Liam, Kris, dan Eliza sudah berkumpul di depan rumah Rio. Suasana sore itu tenang, tenang untuk ukuran rumah yang biasanya selalu berisik oleh suara penghuninya.

Riko melangkah masuk lebih dulu, meninggalkan yang lain menunggu di luar dengan berbagai ekspresi yang berbeda.

Tak lama kemudian, Riko kembali keluar. Wajahnya biasa saja, tapi jawabannya cukup mematikan harapan. “Rani bilang, Rio tidak ada di rumah ..”

Eliza langsung mengerutkan kening, tangannya terlipat di dada. “Hah di mana dia, padahal kita di sini untuk menjenguknya.”

Nada suaranya jelas kesal, seperti merasa usahanya datang ke sini jadi sia-sia.

Kris berjongkok, lalu menatap Eliza dengan ekspresi lebih tenang. “Ya..kita juga tidak sepenuhnya benar.., kita datang ke sini tanpa mengabari Rio .”

Ucapannya terdengar realistis, seperti orang yang sudah menimbang kesalahan sejak awal.

Arya mengangguk pelan. “kau benar..."

Jawabannya singkat, tapi cukup untuk menegaskan bahwa ia sepakat, meski sedikit kecewa.

Liam memperhatikan mereka semua, lalu menghela napas panjang. “Lalu bagaimana?, apa mau pulang?, kita tidak tahu di mana Rio berada kan?, lebih baik kita lakukan besok.”

Nadanya malas,tubuhnya sudah setengah jalan pulang bahkan sebelum keputusan dibuat.

Mereka pun melihat satu sama lain dan bernafas panjang."Haaaah.."

"Baiklah ayo kita pulang." Riko pun mengajak mereka berjalan."Ayo kita tidak perlu menunggu.."

...----------------...

Rio yang telah selesai berbicara dengan Rivaldo akhirnya keluar dari kafe itu. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan, sementara langkahnya membawa dia menyusuri jalan menuju rumah, kedua tangannya masuk ke kantung celana.

Di kepalanya, pikirannya masih berputar. “Seharusnya tidak apa apa kan?, aku memberikan informasi tentang itu kepada Rivaldo?..., aku juga tidak tahu..” Gumamnya pelan, lebih untuk menenangkan diri sendiri daripada mencari jawaban.

Ia berjalan di sisi taman yang ramai. Anak-anak berseragam sekolah berlarian kecil, tas menggantung di punggung mereka, sementara beberapa orang tua tampak baru pulang kerja dengan wajah lelah tapi lega.

Suara obrolan, tawa, dan langkah kaki bercampur menjadi hiruk-pikuk sore yang terasa normal, kontras dengan kekacauan yang masih bersarang di dalam pikiran Rio.

Di tengah langkahnya, fokus Rio tiba-tiba teralihkan. Dari arah berlawanan, seorang lelaki berjalan mendekat. Usianya tampak seumuran dengannya. Rambut perak mencolok, mengenakan hoodie hitam dengan semburat lembayung merah, dipadukan celana kargo hitam dan sandal jepit tebal yang terdengar samar menghantam aspal. Tanpa alasan jelas, pandangan Rio tertahan padanya.

Mereka saling melewati begitu saja. Namun tepat saat bahu mereka hampir sejajar, sebuah suara tajam bergaung di dalam kepala Rio.

“Tingg!!.”

Langkahnya terhenti sepersekian detik. “Apa itu barusan?!, King’s Sense beresonansi?, tapi.. dengan siapa?, jangan-jangan!!.” Napasnya sedikit tertahan, jantungnya berdetak lebih cepat.

Rio refleks menoleh ke belakang, matanya menyapu keramaian taman dan jalanan.

Lelaki berambut perak itu sudah tidak ada, seolah ditelan oleh arus manusia yang lalu-lalang. Tidak ada jejak, tidak ada petunjuk, hanya perasaan ganjil yang masih tertinggal.

“Siapa dia?.” Gumam Rio pelan.

1
DANA SUPRIYA
kasihan Rio, sabar ya walaupun sabar itu membuat hati kesal
lyks kazzapari
ya saya bantu dg like dan hadiah 😄
Rdt: wah makasih banyak,aku jadi ngerepotin kamu jadinya 😅
total 1 replies
Hans_Sejin13
jangan lupa bantu saya kak
Rdt: oke ,udah ku bantu
total 1 replies
Rdt
peak
Anisa Febriana272
Mampir, jangan lupa mampir juga ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!