Riana tidak mengetahui wajah dibalik topeng CEO Angkasa, bahkan banyak desas desus wajahnya hancur dan mengerikan yang menyebabkan siapa saja yang melihatnya akan terkena kutukan.
Suatu ketika Riana melihat wajah dibalik topeng itu, ia terkejut melihat betapa menakjubkannya paras lelaki yang ada dihadapannya itu dan tunggu... bukankah dia terlihat familiar? Tidak salah lagi! dia adalah Awan, orang yang Riana kenal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shafa4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggumu, Awan
Restoran bintang lima yang mereka kunjungi dibooking khusus hanya untuk malam itu. Mereka sangat menikmati makanannya hingga memakannya dengan lahap. Riana yang duduk bersama Mayang dan Karina tampak menikmati makanan.
"Pak Angkasa tumben banget ya baik sama kita." ucap Karina.
"Baik karena ngasih makan ya kak?" tanya Lala.
"Tumben pinter. Lala makan yang banyak ya kalo perlu sama piringnya."
"Emang beling kayak gini bisa dimakan kak?"
"Bisa, kan rasanya kayak kerupuk."
"Setahu aku yang makan beling itu kuda lumping kak."
"Bukan, orang juga ada kok. Nih Rifki diem diem pernah makan beling. Debus, nelen golok"
"Beling bukannya nama hewan yang kayak ular?" tanya Rifki
"Belut." jawab Mayang
"Belut bukannya dibawah dada."
"Perut."
"Hahaha. Setres lu pada."
Riana terkejut saat melihat lelaki mengenakan masker lewat diseberang kursinya. Tidak mungkin matanya salah, ia sangat yakin itu siapa.
Ia yang belum makan sama sekali langsung berjalan mengikuti lelaki itu dari belakang. Tidak mungkin ia salah lihat, lelaki bermasker itu, mirip seperti, Awan.
Riana masuk ke dalam sebuah ruang makan tertutup. Sebuah pemandangan ruangan yang gelap dan disinari cahaya lilin saja seolah menjadikan suasana candle light dinner. Seorang lelaki bermasker duduk di kursi berhadapan dengan meja dan kursi kosong. Seolah kursi kosong itu sedang menantikan Riana untuk diduduki.
"Awan... enggak mungkin."
Tiba tiba ada yang menutup pintunya dari luar. Riana mendekati Awan yang terus melihatnya seraya duduk di kursi. "Awan kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Riana. "Kamu menganggap ini apa?"
"Mimpi?" ucap Riana.
"Iya, anggap saja ini mimpi dan kamu dilarang bangun untuk saat ini."
Riana mencubit pipinya dan ia merasakan kesakitan. Ini bukan mimpi, tapi kenapa Awan bisa ada disini?
Angkasa menyuruh Riana untuk duduk.
"Silahkan duduk." ucapnya. Riana segera duduk di kursi dihadapannya. Angkasa mulai membuka maskernya dan langsung menyingkapkan wajah sempurnanya yang sungguh rupawan.
"Kamu jahat Awan, kenapa kamu tega ninggalin aku? Kamu bilang kamu mencintaiku tapi kenapa kamu malah pergi setelah mengatakannya?!"
Angkasa terdiam.
"Kamu tidak benar benar mencintaiku, bukan?"
"Aku mencintaimu."
"Lalu kenapa kau pergi?!"
"Apa kau juga mencintaiku Riana?"
"Ya! Apa kau puas sekarang?"
Angkasa tersenyum. "Kalau begitu menikahlah denganku."
"Eh?" Riana terkejut.
"Aku ingin kau menjadi istriku Rian. Apa kau mau menerimanya?"
"A-aku mau."
"Tapi ini bukan waktu yang tepat, suatu saat nanti aku akan melamarmu. Apa kau sanggup menunggunya?"
"Berapa lama?"
"Tidak terlalu lama, aku berjanji akan menjelaskan semuanya padamu dan menikahimu."
Riana tersipu malu. Wajahnya memerah seperti apel. Jantungnya berdegup kencang. Perasaan yang sangat membuatnya tidak habis pikir untuk diterima. Perasaan yang hanya ia rasakan ketika bersama dengan Awan.
Bagaimana mungkin ia lupa. Dialah cinta pertamanya yang tak semudah itu ia lupakan, seumur hidupnya. Ia akan menunggunya.
"Aku akan menunggumu, Awan."
Shin menunggu didepan mobil mewah Angkasa. "Mau lanjut pulang tuan?" tanya Shin. "Kau pulang saja bersama mereka Shin. Aku akan pulang sendiri." ucap Angkasa. Shin mengiyakan permintaannya dan ikut bersama mobil lainnya.
Acara makannya sudah selesai. Ada yang pulang dengan mobil karyawan dan ada juga yang hendak menaiki angkot untuk pulang. Riana memilih untuk pulang naik angkot saat itu, ia berjalan menunggu di persimpangan jalan. Namun sayang sekali angkot kelihatan jarang malam itu.
Ia duduk di trotoar sembari memijat tengkuk dan mengurut kakinya. Pegal sekali rasanya, ini hari pertamanya bekerja tapi rasanya sangat lelah sekali.
Ia menguap beberapa kali menandakan betapa mengantuknya ia saat itu. "Angkot mana ya? Apa jangan jangan enggak ada angkot?" gumam Riana.
Tiba tiba muncul sebuah mobil hitam berjalan lambat dan menepikannya ke depan Riana. Gadis itu terkejut saat melihat siapa yang ada didalam mobil saat itu. Angkasa, lelaki yang selalu menyembunyikan wajahnya dengan topeng.
"Kamu ikut sama saya."
"Maaf? Bapak bicara sama saya?"
"Bukan, sama lampu."
Riana tertawa.
"Enggak apa apa pak saya bisa naik angkot."
"Enggak ada angkot malam malam seperti ini."
Riana merasa Angkasa ada benarnya, ia pun masuk dan duduk di kursi depan mobil, disebelah Angkasa yang menyetir.
"Makasih ya pak, sudah memberi saya tumpangan." Riana memasang seatbeltnya.
"Ya, sama sama."
Angkasa fokus menyetir. Riana sesekali memeluk tangan bagian atasnya, merasa kedinginan. Itu mungkin disebabkan karena AC yang dinyalakan di dalam mobil. Bajunya tangan pendek jadi tak heran membuatnya sedikit kedinginan. Angkasa diam diam mematikan ACnya dengan menekan tombol didepannya.
Beberapa menit berlalu, suasana hening. Tidak ada yang bicara saat itu. Riana menutup luapan kantuknya dengan punggung tangan. Ia merasa sangat mengantuk. "Pak, saya ingin bertanya satu hal."
"Tentang apa?"
"Kenapa bapak... baik sama saya..."
Angkasa terkejut saat melihat Riana sudah tertidur di kursinya. Angkasa mulai menepikan mobilnya ke tepian. Ia melepas jasnya dan selimuti tubuh Riana dengan jas itu. "Karena saya.. mencintaimu.. Rian..."
Menunggu sekitar satu jam hingga Riana bangun. Angkasa menguap beberapa kali menandakan ia juga mengantuk saat itu. "Maaf pak saya ketiduran." ucap Riana langsung menegakkan punggungnya di kursi.
"Rumah kamu lewat mana setelah ini?" tanya Angkasa.
"Masih lurus pak, nanti ada pertigaan belok ke kanan." ucap Riana.
Riana memberikan jasnya pada Angkasa. "Ini pak jasnya, maaf jadi nyelimutin saya." ucap Riana.
"Iya." Angkasa menerimanya.
Suasana hening, tidak ada salah satu dari mereka yang bicara saat itu. Mobil terus melaju dan berbelok ke kanan. Riana merasa rumahnya sudah dekat, ia mencoba membuka sabuk pengaman, namun terlalu keras.
Atau mungkin itu pertama kalinya ia mencoba membuka sabuk pengaman mobil, maklum saja ia tidak pernah menaiki mobil pribadi seperti ini. Ia coba ulang ulang buka namun urung juga tak mau terbuka.
"Bisa enggak?" tanya Angkasa
"Kok susah ya."
"Bentar." Angkasa menepikan mobilnya dan langsung membuka sabuk pengaman Riana. Gadis itu berdegup kencang karena seolah Angkasa memeluknya dari depan.
Mereka terlalu dekat hingga membuat Riana merasa panas wajahnya. Dalam adegan yang diperlambat Riana melihat sekilas separuh wajah Angkasa dibalik topeng.
Sejenak yang terlintas dipikirannya adalah Awan. Kenapa ia langsung berpikiran kalau Angkasa sangat mirip dengan Awan? Termasuk wajahnya? Apakah mungkin mereka memiliki bentuk wajah yang sama?
Angkasa selesai membuka sabuk pengamannya, ia memperhatikan Riana yang terus melihatnya. "Kenapa?"
"Bapak sangat mirip dengan orang yang saya kenal."
"Mungkin cuma perasaan kamu."
"Iya ya... mana mungkin sama."
"Habis ini kemana?"
"Belok kiri, lurus lalu sampai."
Angkasa mengangguk, ia ikuti arahan Riana.
"Kalo boleh tahu bapak kenapa suka memakai topeng? Err maaf pak saya enggak bermaksud menanyakan hal yang bersifat privasi."
"Karena untuk menghindari sesuatu hal buruk terjadi."
"Apa itu pak?"
"Ada lah pokoknya."
"Oh gitu ya hehe."
"Menurut kamu saya orangnya seperti apa?"
"Apa ya, misterius?"
"Iya?"
"Hmm iya, semua karyawan bahkan penasaran sama wajah bapak."
"Heh, gitu ya."
"Bahkan ada yang bilang kalo melihat wajah bapak--- eh enggak jadi deh."
"Kenapa?"
"Enggak pak enggak ada apa apa."
"Suatu saat nanti saya akan memberitahu padamu bagaimana wajah di balik topeng ini."
"Beneran pak?" Riana sangat berharap itu tidak terjadi karena khawatir kutukan itu menggerayanginya. Seperti kata Mitha dan para karyawan, melihat wajahnya bisa membuatnya mencret mencret.
Akhirnya mobil itu sampai didepan rumah Riana. "Sampai deh." ucap Riana merasa senang.
"Makasih banyak ya pak."
"Iya, saya pamit pulang dulu. Sampai jumpa besok."
"Iya pak."
"Besok jangan enggak masuk."
"Hehe enggak kok pak, saya pasti masuk."
Angkasa membelokkan mobilnya putar balik, lalu mulai pergi dari sana. Dian yang melihat mobil mewah baru saja pergi dari depan rumah langsung sumringah. "Mobil siapa tuh?"
"Pak direktur."
"Hah? Maksud kamu direktur kamu yang galak itu? Kok bisa dia nganterin kamu?"
"Iya bu. Tadi habis makan makan."
"Ih enak banget, mana makanan buat ibu?"
"Nih di perut."
"Kamu nih, ibu enggak dikasih."
"Hehehe."
"Tapi kamu kok bisa sih dianter sama direktur? Enak banget, kalian pacaran ya?"
"Ngawur. Udah ah Rian ngantuk "
"Yeh malah pergi."
KNP GK MITHA YG DPT BUKET BUNGA....???