menceritakan tentang seorang gadis mantan penari ballet yang mencari tahu penyebab kematian sang sahabat soo young artis papan atas korea selatan. Hingga suatu ketika ia malah terjebak rumor kencan dengan idol ternama. bagaimana kisah mereka, yukkk langsung baca saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon venn075, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Masa lalu itu masih terekam jelas dalam benaknya, seperti bayangan kabur yang terus mengikuti setiap langkahnya. Di dalam ingatannya, ia melihat dirinya sendiri sebagai anak kecil yang tak terlalu berbeda dari teman-temannya. Mereka bertiga—seorang anak laki-laki dan dua anak perempuan—adalah sahabat karib yang selalu bersama, menjelajahi dunia kecil mereka dengan keceriaan dan tawa.
Mereka sering bermain di halaman rumah yang luas, berlarian mengejar satu sama lain, membuat kenangan manis di setiap sudut rumah yang mereka hiasi dengan imajinasi. Di mata mereka, dunia itu adalah tempat yang penuh petualangan dan kebahagiaan. Namun, semua itu mulai berubah ketika seorang anak laki-laki baru datang ke lingkungan mereka.
Anak itu bukan orang asing—dia adalah teman lama salah satu gadis itu, seorang anak laki-laki yang gadis itu kenal sejak kecil. Namun, kehadirannya menjadi pemicu perubahan yang tak pernah mereka duga. Kedekatannya dengan kedua gadis itu perlahan-lahan membuat mereka menjauh dari sahabat mereka yang telah ada. Tentu saja, pria kecil yang sudah lama merasa menjadi bagian dari ikatan itu merasa cemburu. Ia merasa terabaikan, merasa seolah posisinya terancam.
Pada suatu sore yang cerah, mereka semua bermain di ruang tamu besar rumahnya. Rumah itu sepi, hanya dihiasi suara tawa anak-anak yang bermain dengan penuh kegembiraan. Pria kecil itu diam-diam mengamati, merasakan sesuatu yang mengganjal di dada. Saat ia melihat kedua gadis itu tertawa bersama anak laki-laki yang baru datang, perasaan cemburu itu mulai membakar hatinya. Dendam yang tak tersampaikan mulai tumbuh dalam diamnya, semakin sulit untuk disembunyikan.
Tanpa sadar, perasaan itu berubah menjadi kemarahan. Di satu momen yang tak terduga, pria kecil itu mendekat ke arah anak laki-laki yang baru bergabung dengan mereka. Dengan tangan yang gemetar karena amarah yang terpendam, ia mendorong tubuh anak itu dengan keras.
"Jangan ganggu kami!" teriaknya dalam diam, tanpa kata, hanya dengan sebuah dorongan yang cukup kuat untuk membuat anak laki-laki itu kehilangan keseimbangan. Pria kecil yang baru datang itu terjatuh dan membentur meja kayu besar di sudut ruangan. Suara benturan keras terdengar, disertai dengan jeritan anak laki-laki itu yang terhenti begitu saja. Darah mulai mengalir dari kepalanya yang terbentur meja, membuat lantai di sekitarnya menjadi merah.
Kedua gadis kecil itu terkejut, wajah mereka pucat seketika. Mereka berlari menuju anak laki-laki yang terluka, memanggil-manggil ibu mereka dengan panik. Air mata mulai mengalir di pipi mereka, dan suara tangisan mereka mengisi ruang yang hening. "Ibu! Ibu! Tolong!" mereka menangis, tak bisa menahan kepanikan mereka.
Semua orang yang ada di rumah, termasuk orang tua mereka, berlarian masuk ke ruang tamu begitu mendengar suara tangisan dan teriakan itu. Pandangan mereka langsung tertuju pada darah yang berceceran di lantai, dan anak laki-laki yang terjatuh, tak mampu bergerak. Ibu dari kedua gadis itu berteriak ketakutan, sementara ayah mereka dengan cepat mengangkat anak laki-laki yang terluka itu dan berlari keluar untuk membawanya ke rumah sakit.
Di tengah kekacauan itu, pria kecil yang menjadi pelaku hanya berdiri terpaku di tempatnya, matanya kosong. Ia menatap kepergian mereka, ekspresinya datar, tidak ada penyesalan atau rasa takut yang tergambar. Hanya ada satu perasaan yang mendalam—dendam yang terpendam. Ia merasa seolah ia telah kehilangan segalanya, merasa terpinggirkan dan tidak dihargai. Tak ada kata maaf, hanya rasa lega yang aneh.
Saat ia mendengar suara ambulans yang datang, ia tetap diam, mengabaikan segala yang terjadi di sekitarnya. Semua itu terasa seperti sebuah titik balik dalam hidupnya—sebuah langkah kecil yang mengarah pada jalan yang tidak bisa ia mundurkan lagi. Dendam itu kini berakar dalam dirinya, lebih dalam dari yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan saat ia melihat kedua gadis itu, yang menangis dan memanggil ibunya, ia tahu bahwa mereka tidak akan pernah sama lagi. Mereka tidak akan pernah melihatnya seperti dulu, dan ia tahu, bahwa dengan satu dorongan itu, ia telah merusak segalanya.
Dengan ekspresi yang tetap datar, pria kecil itu hanya berdiri, membiarkan semuanya berlalu. Namun, di dalam hatinya, sesuatu yang lebih gelap mulai tumbuh, memupuk dendam yang akan membekas dalam dirinya, selamanya.
---
Di sebuah ruang pertemuan mewah yang dipenuhi oleh para pebisnis dan eksekutif dari berbagai industri, suasana terasa formal dan penuh ketegangan. Beberapa orang berbicara dengan suara rendah, membicarakan strategi dan rencana bisnis mereka, sementara yang lain tampak lebih santai, berbaur dengan kolega dan mitra mereka. Namun, di antara semua itu, ada dua sosok yang tak terduga, yang tak sengaja bertemu di tengah keramaian.
Tuan Erland, ayah Cassi, adalah pria yang sangat dihormati dalam dunia bisnis. Sosoknya yang tegas dan karismatik selalu menarik perhatian, meskipun ia tidak pernah berusaha menonjol. Hari itu, ia mengenakan jas hitam dengan dasi yang rapi, matanya tajam namun penuh perhitungan, seperti biasanya.
Di sisi lain, Tuan Declan, ayah Jihoon, adalah seorang pria yang lebih tua, dengan penampilan yang lebih tenang dan berpikiran terbuka. Meski memiliki kekuatan besar dalam dunia bisnis, ia selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan koleganya. Meskipun aura dirinya lebih santai dibandingkan dengan Tuan Erland, ia adalah seorang yang sangat memperhatikan detail dan menjaga citra keluarga.
Ketika kedua pria itu tanpa sengaja bertemu di tengah pertemuan itu, suasana seketika menjadi sedikit lebih tegang. Mereka saling berpandangan, dan meskipun tidak ada kata-kata yang keluar pada awalnya, semua orang di sekitar mereka dapat merasakan ketegangan yang mulai terbentuk. Tidak ada percakapan panjang, hanya beberapa detik hening yang terasa seperti berjam-jam.
Tuan Erland adalah orang pertama yang memecah keheningan, membuka pembicaraan dengan suara dalam yang khas. "Tuan Declan," katanya, sambil mengulurkan tangan untuk berjabat. "Senang bertemu dengan Anda di sini."
Tuan Declan menerima jabat tangan itu dengan senyum ramah, meskipun raut wajahnya tetap tenang dan penuh wibawa. "Tuan Erland, sepertinya kita memiliki lebih banyak urusan yang harus dibicarakan daripada yang saya kira," ujarnya, nada suaranya masih penuh kehati-hatian.
"Begitu," jawab Tuan Erland, tatapannya tajam. "Namun, kita tidak bisa menghindari kenyataan bahwa dunia ini memang penuh dengan kejutan, misteri.
Setelah beberapa saat berbicara tentang urusan bisnis yang tidak terlalu penting, Tuan Declan akhirnya mengubah arah pembicaraan. "Tuan Erland," katanya dengan suara yang lebih lembut, "Saya tahu bahwa ini mungkin bukan pembicaraan yang biasa kita lakukan, tapi saya rasa kita harus membicarakan sesuatu yang lebih pribadi."
Tuan Erland menatapnya dengan tajam, tetapi kali ini ada ketertarikan yang lebih besar di matanya. "Apa maksud Anda?" tanya Tuan Erland, yang semakin merasa bahwa percakapan ini bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih penting.
Tuan Declan menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan lebih tegas, "Saya tahu tentang hubungan antara Cassi dan Jihoon. Dan saya ingin Anda tahu bahwa saya memberikan restu saya pada mereka berdua."
Kata-kata itu mengalir begitu saja, dengan ketegasan yang mengesankan, namun dengan rasa hormat yang jelas. Tuan Declan tidak ragu sedikit pun. "Saya melihat bagaimana Jihoon berubah sejak ia bertemu dengan Cassi. Saya percaya bahwa mereka bisa saling mendukung, saling menguatkan."
Tuan Erland terdiam sejenak, matanya memandang ke arah Tuan Declan, mencari-cari sesuatu di wajah pria itu. Ia tahu, hubungan antara kedua keluarga mereka selama ini tidak selalu mudah, dan ia sendiri selalu sangat melindungi putrinya. Namun, mendengar restu tersebut dari Tuan Declan membuat hatinya sedikit lebih lega. Mungkin ada harapan, meski perasaan ragu masih ada.
"Saya menghargai kejujuran Anda, Tuan Declan," kata Tuan Erland akhirnya, suara suaranya kembali keras dan tegas. "Namun, saya juga ingin Anda tahu bahwa saya akan terus mengawasi mereka berdua. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi kebahagiaan anak saya."
Tuan Declan mengangguk, senyum di wajahnya tetap ada meskipun ia tahu bahwa tantangan akan tetap ada di depan mereka. "Tentu saja, saya mengerti. Saya juga akan memastikan Jihoon selalu menjaga Cassi dengan baik. Mungkin kita tidak bisa mengontrol segala sesuatu, tetapi saya percaya mereka akan menemukan jalan mereka sendiri."
Keduanya saling menatap sejenak, dan meskipun suasana tetap tegang, ada rasa saling menghormati yang tumbuh di antara mereka. "Saya rasa itu sudah cukup untuk sekarang," kata Tuan Erland, melangkah mundur. "Terima kasih atas keterbukaannya."
Tuan Declan tersenyum dengan lembut, merasa sedikit lebih lega setelah percakapan itu. "Terima kasih juga, Tuan Erland."