NovelToon NovelToon
AKSARA

AKSARA

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Vaa_Morn

Aku dan kamu terikat dalam sebuah ikatan yang diwali dengan kata-kata, berbahan dasar Aksara.

Cinta yang berawal dari sebuah aksara itu, awalnya tidak saling mengenal dan memahami. Takdirlah yang seolah mempertemukan, mengikat, dan berakhir dengan kebersamaan. Lantas, mengapa takdir juga yang memberikan sebuah ujian penuh liku itu? Mengapa seolah akan ada hari dimana akan ada sebuah jarak yang memisahkan mereka dan berakhir menjadi sebuah peristiwa bertajuk ANTARA.

Lalu benci dan cinta itu beda tipis KATANYA. Kata yang awalnya tak ingin kenal mengenal, caci mencaci-caci, bahkan berang memerangi, mendadak ada rasa yang tumbuh bersamaan keluarnya warna-warni bunga yang bermekaran.

Cinta itu manis, hidup tak indah bila kita tak merasakan iramanya cinta, itu JELASNYA. Tetapi seutas kata Cinta tak ada artinya, jika tak mengandung sebuah keabadian yang menjelma. Anggap saja cinta kita perlu diuji untuk menumbuhkan kesetiannya. Dari hal itu kita hanya menemukan dua opsi setelah mendapat ujian itu, BERTAHAN UNTUK KEMBALI atau PERGI UNTUK SELAMANYA.

Percayalah dibalik cinta yang hampir terkoyak itu, akan ada kebahagiaan yang tak berujung sedang menunggumu.

[PLAGIATOR DALAM JENIS APAPUN DILARANG MENDEKAT!]

*****
@Copyright: Agustus 2019.
Move: 30 Agustus 2020.
Picture by: @Vaa_Morn
Story By: Vaa_morn.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaa_Morn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH EMPAT

Ara bangun kesiangan karena game barunya. Ia lupa waktu, dan baru saja tidur jam empat pagi ini. Mungkin bagi Ara ia sudah terlalu terbiasa tidur disaat-saat waktu menjelang pagi. Tapi melihat matanya yang memiliki lingkar hitam lumayan parah, ia jadi malu untuk datang ke sekolah.

Ara ingin bolos, namun ia tahu jika  Mamahnya pasti akan menceramahinya seharian penuh. Apalagi Mamahnya pergi dari rumah dengan hati yang sedikit dongkol karena dirinya tak kunjung bangun. Ara tak tahu harus apa, yang pasti ia harus berangkat sekolah, meskipun ia sendiri sudah sangat kesiangan!

Sudah pasti Ara kena hukum, jadi ia memilih untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Asisten Rumah Tangganya sudah menyiapkan makanan untuknya, mubazir jika ia tak memakannya meski hanya sesuap nasi saja.

"Neng Ara kok bisa kesiangan gini sih, nggak takut dihukum." itu komentar Asisten rumah tangganya, namanya Bi Inah. Wanita paruh baya yang sudah menginjak usia senja.

"Hehe iya Bi, nggak apa-apa lah sekali-kali." jawab Ara sambil terkekeh kecil. Meskipun dalam hatinya ia mengucap kata 'berkali-kali'.

Bi Inah hanya mengiyakan saja. Percuma ia mengkritik anak majikannya yang satu itu, yang ada ia harus menabahkan hati karena dijahili oleh kelakuannya yang terlampau ajaib itu. Ara harus bisa membanggakan diri sendiri, mengingat ia sangat pandai mencari alasan yang masuk akal. Mungkin jika Mamahnya ada di sekitarnya atau dihadapannya, sudah dipastikan ia mendapatkan jeweran pedas lagi.

Ara lantas menggendong tasnya, setelah perutnya terisi penuh. Sedikit bersendawa pelan, kemudian menggaruk-garukkan kepalanya karena merasa malu terhadap para pekerja yang sudah hadir dirumahnya.

"Ara pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." pamit Ara yang kemudian berlari ke luar rumah. Tak apa jika ia harus dihukum, yang jelas ia jadi tak mengikuti mata pelajaran fisika. Ia tak mau terus-terusan ditagih soal keikutsertaannya dalam kompetisi antar sekolah. Ia tak mau dituntut untuk menggunakan otaknya lebih berat lagi, pokoknya bisa ribet urusannya!

Ara membuka gerbangnya, kemudian menengok kesana kemari. Tak ada sama sekali kendaraan yang melintas. Ara cemberut. Ia akan terlambat satu jam, jika ia harus berjalan kaki ke sekolah.

Ara memilih untuk duduk, memainkan ponselnya berharap ada angkutan umum yang melintas di depannya. Ia tak mau berjalan ke halte bus, tentu saja karena pasti busnya akan datang lagi dua jam kemudian.

Satu menit, hening.

Ara memilih untuk menyandarkan dirinya pada gerbang rumah. Menunggu, rasanya membuat kantung matanya semakin berat.

Dua menit, hening.

Ara menguap karena rasa kantuk. Namun ia tetap menahan matanya agar tak langsung terpejam.

Lima menit, selamat mimpi indah.

Ara sudah memejamkan mata sepenuhnya di depan gerbang rumah. Mungkin jika ada warga yang melintas, orang itu merasa terheran-heran dengan kelakuannya yang bisa tidur dimana saja. Apalagi ia masih memakai pakaian sekolah. Harusnya pergi ke sekolah kan sekarang?

Lalu dalam keadaan genting seperti ini, siapa sih yang masih bisa memejamkan mata? Itu Ara, jangan ditanya lagi.

Di waktu yang bersamaan, Aksen tak lain adalah tetangga rumahnya itu sedang merapikan rambutnya yang masih terlihat agak basah. Namun Aksen sama sekali tak berniat mengeringkannya. Ia sudah kesiangan untuk pergi ke kantor, dan hendak berkerja.

Ia mematikan lampu, yang kemudian membuat kamarnya menjadi agak gelap. Tentu saja gelap, Aksen masih belum membuka korden kamarnya. Mau tak mau, Aksen harus membukanya terlebih dahulu, agar ada cahaya yang masuk ke dalam kamarnya.

Namun ketika ia menyibak kordennya, matanya langsung mengarah kepada seorang gadis yang tertidur pulas di depan gerbang rumah. Itu Ara! Aksen berjalan menuju balkonnya untuk memastikan lebih jelas.

Benar dugaannya. Ia tertawa melihat Ara yang tak tahu malu memejamkan matanya dipinggir jalan itu. Ia masuk kembali ke dalam kamarnya, kemudian mengambil jas dan memasangkan ke dalam tubuhnya.

Mengambil kunci mobil dan tas kerjanya, Aksen kemudian dengan penuh semangat ia menuruni tangga. Ia tak sabar melihat Ara dari jarak dekat, sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan gadis ajaib itu. Rasanya sedikit rindu, tetapi sebelum ia melangkah lebih jauh, seseorang menghalangi jalannya. membuat ia yang buru-buru, sedikit mendengus sebal.

"Nanti Papah pulang ke rumah Sen." Devon mengangkat suaranya.

Aksen berusaha untuk tersenyum. "Aksen udah tahu Bang. Nanti Aksen pulang cepet kok. Ya sudah ya, Aksen buru-buru."

Devon melihat kepergian Aksen yang nampaknya mencurigakan. Ada sesuatu yang disembunyikan dari Aksen. Tapi apa? Devon mengikuti Aksen menuju ke depan rumah, berharap ada sesuatu yang membuka jalan pikirannya.

Aksen sendiri mengambil salah satu mobil yang akan digunakan olehnya, kemudian memasukkan tas kerjanya ke dalam mobil pilihannya itu. Namun dari pada memilih untuk menjalankan mobilnya, ia malah berjalan pelan menuju tempat Ara. Kemudian ia mulai berjongkok pelan.

"Cantik." gumam Aksen, kemudian tersenyum melihat cara tidur yang nampak konyol dari Ara itu.

Ara sendiri tetap tak bergeming. Ia tak sadar, jika ia sedang menjadi perhatian dari  seseorang. Dan itu tak lain adalah seorang Aksenio! Catat! Aksen sendiri mengambil ponselnya, kemudian menghidupkan fitur kameranya.

Ckrekk...

Aksen tersenyum melihat hasil jepretannya itu. Konyol, namun terkesan manis dan gemas baginya. Mungkin foto Ara akan menjadi pengantar tidur untuknya. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Ara, namun sepertinya Ara sudah terlanjur pulas dan pergi menuju alam mimpi.

Aksen mengetuk-ketuk jarinya dengan dagu. Ia harus bisa berpikir jernih untuk membangun Ara itu. Sekilas, otaknya memutar penuh mencari sesuatu yang dapat membuat Ara tersadar penuh. Tapi apa?

Ting!

Aksen mengembangkan kedua bibirnya untuk tertarik ke atas. Ia mendekatkan wajahnya 10 senti di depan Ara, kemudian mengungkapkan idenya untuk membangunkan Ara.

"Maling!" seru Aksen keras.

Ara sendiri yang merasa kaget, langsung meninju seseorang di hadapannya. Tentu saja Aksen yang belum ada persiapan, terhuyung ke belakang. Apalagi tenaga Ara dikatakan sangat besar.

"Sstttt..." desis Aksen yang pasti keadaan wajahnya sangat buruk.

Ara sendiri mengucek-kucek matanya perlahan. Setelah kesadarannya penuh, ia baru sadar jika ia baru saja memukul seseorang. Ara langsung membelalak kaget, tatkala tetangga depan rumahnya lah yang dipukul olehnya secara tak berperasaan.

"Lo nggak apa-apa?" tanya Ara yang sudah menggigit bawah bibirnya yang bergetar.

Bodoh, sudah tahu jika Aksen terluka karena dirinya. Ia ingin memegang luka itu, namun Aksen langsung menepisnya.

"Luka gue bisa parah karena tangan lo lagi. Pokoknya lo harus tanggung jawab sekarang!"

Ara menggaruk-garuk rambutnya sedikit meringis. Apa yang harus ia lukukan, jika ia tak boleh melihat luka yang ia berikan itu.

"Kita ke rumah sakit sekarang ya?" Ara bertanya hati-hati.

"Nggak. Gue nggak mau ke rumah sakit." jawab Aksen lagi.

"Terus gimana?" desis Ara frustasi.

"Lo harus jadi pacar gue." jawab Aksen santai.

"Hah?!" Ara menganga saking lebarnya.

Disisi itu, Devon yang melihat mereka dari jarak tak jauh dari mereka hanya bisa terkekeh pelan. Meskipun samar-samar ia mendengar, Devon masih bisa mengartikan ucapan Adiknya dengan jelas.

Sedikit kasihan pada Aksen, namun konyol juga dengan apa yang diucapkan Adiknya barusan. Tapi itu Adiknya yang super dingin, entah kenapa dirinya merasa bangga pada cara Adiknya menembak seseorang. Terlibih lagi ia sangat bersyukur, ternyata adiknya masih pria normal. Buktinya saja ia masih menyukai seorang wanita.

Devon harus sujud syukur sekarang. Ia berlari menuju ke dalam rumah, berharap Alissha Isteri tercintanya mau mendengar cerita update nya.

Ara sendiri masih belum bisa berpikir jernih. Hatinya masih bertanya-tanya, dengan sedikit logika yang menjawabnya. Apakah Aksen tadi menembaknya? Atau langsung memintanya sebagai seorang kekasih?

Sebelum itu, bangunkan Ara terlebih dahulu. Sepertinya Ara masih berada di alam mimpi sekarang.

*****

1186 Kata.

1
Rahmawati Dirman
Luar biasa
Rahmawati Dirman
Lumayan
Ai Rusyati
pasti nadia itu
Ai Rusyati
keluarga ini bar bar tp lucu dan memang saling menyayangi tp beda aja cara mengungkapkan nya
Ai Rusyati
kita k aku takut klo nanti nadia bkal jd benci smaa ara karna acemburu
Ai Rusyati
ng aksen udah sebucin itu sama ara sampai keponakan sendiri d cemburuin
Ai Rusyati
part ini bikin senyum2
Ai Rusyati
penuh dgn teka teki nih kehidupan ara sama aksen
Ai Rusyati
adik kakak kocak😂
Ai Rusyati
gk sengaja buka2 apl ini nemu cerita yg dr prolog nya bagus sarat akan makna kyk nya seru cerita nya so cus lanjut baca
Ai Rusyati
kasian si om d gangguin terus mana si ara d cuekin lg hahaha
dinamo listrik (Jambi)
boleh ga sih nadia dibikin mati aja thor ketabrak mobil kesel
kharisma dwi
sweeettttt
kharisma dwi
bapak lucknut emang 😭
kharisma dwi
pengen mutilasi si NADIA boleh gak thor?
kharisma dwi
ishhh jahat
kharisma dwi
aihhhhhhhh
kharisma dwi
aksen kok gw yg baper yaaaaa hihi
kharisma dwi
Ara emosiann satuin sama modelan kaya Nadia begini aduhh parah 😆
fita🍁
belum pernah kumpul sama baikan kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!