Semenjak mama dan kakek meninggal, hidup Ryuna seperti kereta api tanpa rel. Memiliki papa, namun dia tak pernah mencintai mamanya dan menginginkan dirinya. Bagi papanya, hidup dengan mamanya itu hanya sebuah kecelakaan dan paksaan.
Memiliki kepribadian introvert dan pendiam. Ryuna sering kali di-bully dan dipandang remeh oleh teman-teman satu sekolahnya.
Hidup Ryuna terasa komplit.
Ya, komplit untuk semua luka dan derita.
Tapi, sikap lembut Barry padanya membuat Ryuna sering kali marah dan tak membutuhkan belas kasihannya.
Barry menegaskan bahwa dia benar-benar mencintainya. Tapi, semua lelaki di mata Ryuna sama saja. Mereka hanya sosok pria kasar yang berhati dingin.
Apakah Barry juga bersikap dingin seperti papanya suatu hari nanti? Apakah mungkin cinta yang dilontarkan Barry itu tidak semata-mata hanya untuk menjebak lalu mempermalukannya di depan semua orang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei68, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24. Perubahan
"Ryu, gue jadi bingung sama keadaan sekarang. Tadi adalah hal pertama kalinya Rafan tersenyum tipis sama gue dan lo juga ngelakuin hal yang sama pada Barry. Lalu Lucio? Dia kenapa tiba-tiba sok bijak begitu? Kalian baik-baik aja kan? Gue heran. Tadi gue kayak ngelihat lo sama Rafan di balkon. Tapi, di saat aku mau ke sana, eh. Kalian malah menghilang, itu kalian atau bukan sih?” Viona terus berkata. Kini dia dan Ryuna sudah berada di bangku mereka, menunggu jam pelajaran selanjutnya yang akan dimulai 15 menit lagi.
Ryuna menatap taman dari kaca jendelanya sejenak, tempatnya yang asri selalu ingin sekali dikunjunginya.
“Ryuna jawablah. Gue menunggu,” Ketus Viona.
“Hm?” Dialihkannya pandangannya ke Viona yang juga menatapnya.
“Kalian semua kenapa?” tanya Viona lagi.
“Nggak apa-apa, mungkin perasaan lo aja.” jawab Ryuna yang bersikap bodoh amat.
“Lalu yang di balkon itu...."
“Udahlah. Gue lagi malas berdebat.” Potong Ryuna untuk menghindari percakapan.
“Siapa yang mau berdebat? Gue cuma bertanya.” Ryuna tidak menjawab lagi, mata Viona memang jeli. Jarak pekarangan dan balkon sekolah cukup jauh.
Perihal pertemuan Ryuna dan Rafan di balkon kamar itu memang nyata, Viona tidak salah lihat. Hanya saja dia tak mau menceritakannya pada cewek itu yang sudah cemburu buta pada cowok itu.
Angin pagi menyejukkan nuansa di hari ini, inilah percakapan mereka di waktu itu. Sesuatu yang hal penting untuk disampaikan hanya untuk membuat temannya tak merasa dirinya disakiti lagi.
“Lo minta gue buat bertegur sapa dengan Barry?” Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Ryuna saat Rafan datang hanya untuk membicarakan soal perasaan Barry padanya.
“Seenggaknya lo datang jadi temannya kalau nggak bisa menjadi lebih.” kata Rafan serius.
Sorot matanya menatap Ryuna yang memang tampak menawan jika dilihat dari dekat. Tapi, hatinya yang keras bak batu di perairan, tidak akan mampu menghancurkan batas rasa itu dengan mudah.
“Teman?” tanya Ryuna, terdengar ragu.
“Hm.” Rafan mengangguk kecil. “Hargai perasaannya meski lo benci sama dia, dia sungguh-sungguh sama lo, tapi lo malah selalu memberikan luka ke dia.”
Luka? Berbicara tentang luka, Ryuna langsung ingat pada Dewa yang ditinggalkannya. Padahal dia datang untuk menjadi teman dan sudah membuatnya merasa nyaman dalam setiap tuturan katanya.
Nggak. Aku nggak mau membuka rasa suka itu lagi, sudah cukup bagiku. Ryuna menyadarkan dirinya dari lamunan yang telah menjadi masa lalunya.
Ryuna melihat manik-manik mata milik pria tampan ini, lekuk wajahnya yang rupawan tentu saja membuat Viona suka padanya. Tapi, hal itu tidak berlaku padanya, si pemilih hati dingin Ryuna tidak akan pernah lagi melirik ketampanan seseorang. Itu bukanlah hal yang utama baginya, dia akan mempertahankan seseorang yang mampu meluluhkan hatinya dengan caranya sendiri.
“Gue bakal jadi temen Barry, asal lo nggak lagi mengabaikan temen gue Viona.” ujar Ryuna dengan tegas.
Rafan masih bergeming, menatap mata tajam Ryuna dengan mencari sebuah kebohongan di mana gadis itu tidak bersungguh-sungguh dalam mengatakan hal itu tapi sayang, Ryuna tetaplah gadis polos yang hanya akan menyampaikan apa yang dipikirkannya tanpa ada kata yang ditambah-tambah. Serius.
Rafan melakukan hal ini karena merasa kasihan pada sahabatnya Barry yang selalu patah hati karena perempuan, meski berwajah datar dan selalu tampak tidak peduli, siapa sangka Rafan hanya akan peduli secara diam-diam di mana tidak ada orang yang mengetahui apa yang dia lakukan.
“Oke. Gue lakuin.” jawab Rafan pada akhirnya.
Ryuna tersenyum kecil untuk pertama kalinya untuk Rafan. Begitu juga cowok itu yang melakukan hal yang sama.
Tak ingin berlama-lama di balkon sekolah dan takut ada yang melihat mereka di sana, Ryuna memutuskan untuk pergi memasuki kelas, dan setelah itu segera disusul oleh Rafan dengan ekspresinya yang datar.
...***...
Penelitian tentang perkembangan yang terjadi pada jerapah, itulah yang dilakukan oleh Ryuna dan Barry saat ini. Mereka memilih tempat di depan sebuah bangunan yang ada di sekolah untuk membuat sebuah catatan di buku untuk diserahkannya nanti pada bu Finara.
Akhir-akhir ini bu Finara memang sering menyuruh murid-muridnya untuk melakukan tugas yang berkaitan dengan hal-hal yang membuat para siswa-siswi berinteraksi dan berkomunikasi secara intelektual satu sama lain.
Seperti yang dilakukan Ryuna dan Barry, mereka berusaha untuk bisa satu pemikiran tentang hal yang dibahas. Cukup mengesankan, pasalnya Ryuna selalu memberikan kesempatan pada Barry untuk mengungkapkan yang diketahuinya tentang jerapah, meski ada yang tidak bertepatan dengan itu Ryuna segera memperbaiki kalimat-kalimat itu.
Lambat laun Barry mengerti, dibalik sikap pendiamnya Ryuna selama ini menyimpan sebuah berlian yang tak pernah dilihat orang. Itulah yang membuat Barry selalu kagum dengan gadis itu, penuh misteri, namun selalu membuat orang-orang terkesan dan bungkam, tapi tetap menyadarkan dirinya jika dia datang ke Ryuna sebagai teman dan jangan sampai dia menjauh lagi hanya karena tahu dia masih menyimpan rasa itu lagi padanya.
“Jerapah merupakan spesies hewan tertinggi yang hidup di darat. Jerapah jantan dapat mencapai tinggi 4,8 sampai 5,5 meter dan memiliki berat yang dapat mencapai 1.360 kilogram. Jerapah betina biasanya sedikit lebih pendek dan lebih ringan....” Ryuna kembali mengecek catatan yang telah ditulis.
Barry hanya memperhatikannya sejenak, “Apa ada yang kurang?”
Ryuna masih bergeming dan memagut-magut kecil. “Gue rasa ini lebih dari cukup. Penjelasannya sudah detail, panjangnya sudah hampir mencapai 5 halaman.”
Barry mengembuskan napasnya yang cukup didengar oleh Ryuna. “Kenapa harus membahas soal jerapah? Anak SMP aja bisa menguraikannya sendiri.”
“Anggap aja ini adalah sebagai pengulangan pelajaran, mungkin bu Finara meminta kita untuk merangkum beberapa fakta dan sejarah pada jerapah untuk menguji seberapa luasnya pemikiran kita tentang hewan ini. Dan itu menjelaskannya tanpa buku bukan? Kita menjelaskannya dengan pengetahuan kita sendiri.” jelas Ryuna tersenyum kecil.
Barry membalas senyum itu, puas dengan jawaban yang diberikan gadis itu. “Oke. Ayo kita kumpulkan tugasnya sekarang.” dia menerima buku catatan yang diberikan Ryuna. Mereka bangkit dari duduknya dan bersiap-siap untuk pergi.
Barry dan Ryuna berjalan beriringan di koridor sekolah. Tampak canggung jika terus diam seperti itu, tapi sungguh Barry tak tahu apa yang harus diucapkannya. Dia tahu gadis itu berubah karena Rafan, untuk itu dia pergunakanlah baik-baik kesempatan itu mengenal Ryuna.
“Ryuna nggak akan mau dekat dengan lo karena lo suka sama dia, tapi buatlah alasan karena lo mau berteman sama dia dan bukan karena suka.” jelas Rafan pada waktu itu, setelah bertemu dengan Ryuna di balkon.
Barry akan menjaga baik-baik amanah itu, yang terpenting sekarang adalah untuk membuat Ryuna selalu ingin menjadi temannya.
“Kak Dewa, nanti kabari aku ya.” ucap seseorang yang membuat Ryuna refleks menoleh. Bukan karena gadis itu tapi karena dia memanggil nama itu disebut.
Ryuna menatap datar saat Dewa juga memandang ke arahnya, dia berdiri di dekat kursi panjang bawah pohon sembari memegang ponselnya. Gadis itu telah beranjak pergi berlawanan arah, dia cantik. Senyumannya juga manis, siapa yang tak suka dia?
Memang cocok untuknya. Ryuna tersenyum miring, di saat hatinya terenyuh hanya senyum palsu itulah yang bisa menutupi rasa sakit di dalam dadanya. Segera dia menaiki anak tangga meninggalkan tempat itu, sudah dipastikan setelah ini dia tak akan mau lagi bertemu dengan cowok itu.
Rasa suka dan benci itu beda tipis, mungkin iya hari ini akan terkagum padanya dengan sangat. Tapi,ingatlah di hari esok yang akan datang hanya tinggal kebencian saat mata dan kepalanya melihat dia bersama dengan yang lain.
Ryuna memang sedang berusaha untuk tidak mencintai orang lagi, mengingat cinta yang membuat orang lemah Ryuna semakin bertekad untuk melupakan semua kekagumannya pada lawan jenis. Jangan ada lagi ketertarikan pada lawan jenis, itu sungguh hanya membuang-buang waktu.
“Ryuna? Lo baik-baik aja kan?” Suara itu menyadarkan Ryuna yang saat itu bernapas berat.
Ryuna berhenti di tempat saat sudah berada di lantai dua. “Lo aja yang antar bukunya, gue mau ke toilet sebentar.”
Barry hanya mengangguk kecil. “Oke.”
Mereka berjalan bertolak belakang. Di setengah jalan, Barry sempat berpikir jika Ryuna tiba-tiba saja badmood hanya karena pria itu yang sedang tersenyum pada teman perempuannya, entah siapa perempuan itu tampaknya mereka saling mengenal.
“Lo masih sulit melupakan dia.” Gumamnya pelan.
Sementara Ryuna menatap dirinya di kaca lebar. Napasnya masih terdengar berat, dihelanya napas panjang berkali-kali. Mencoba untuk memahami dirinya jika dia memang sudah berteman dengan rasa sakit itu sejak kecil, dan tak perlu lagi merasa terdayuh.
“Huh... gue bisa melewati semua ini.”
Terima kasih
semangat dan sukses selalu ya
jgn lupa mmapir ya 🤗😍
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
Numpang promote juga ya
kalau sempat ke karya ku juga ya guys... terimakasih..
SEMANGAT... JAGA KESEHATAN KALIAN...
sukses iya kak untuk karyanya
jangan lupa mampir di karya pertamaku yang menceritakan tentang cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam damai dari keturunan raja