Sebuah senjata pusaka yg sempat menggegerkan dunia persilatan karena kehebatan nya, menjadi incaran banyak tokoh-tokoh pendekar yg berkeinginan untuk memiliki nya di saat senjata itu menghilang.
Dan bagi siapa saja yg akan berjodoh dengan pedang tersebut tentu akan menjadi tokoh dunia persilatan kelas wahid bahkan kemungkinan menjadi tokoh nomor satu tidak akan terbantahkan bila berhasil menggenggam senjata tersebut.
Baik dari kalangan putih maupun hitam saling berlomba guna mendapatkan pedang pusaka tersebut.
Nantikan kisah nya dalam cerita Pusaka Pedang Tabut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakaria Faizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#2 Kawah Chandra Dimuka.
Hingga pada sàat mendekati kawah agni yg masih saja memuntahkan lava panas yg memerah.
Diwandaka pun terus mengemposi tenaga dalam nya pada kedua kaki nya itu.
Ia melesat laksana anak panah yg terlepas dari busur nya hingga,
Hufhhh !,
Pemuda itu pun mendarat dengan begitu sempurna pada sebongkah batu padas yg sudah berwarna hitam.
Sedangkan di hadapan nya Kawah Agni terus saja murka, dengan berkesinambungan memuntahkan pijaran lava nan memerah.
Hawa panas yg teramat sangat langsung menyergap tubuh Diwandaka, dalam waktu sekejap saja ia sudah berkeringat dan seolah tidak akan mampu berada di tempat itu terus menerus.Memang jarak nya tidak lah terlalu jauh dari kawah agni itu.
Ketika ia akan melompat mundur, di lihat nya sebuah jurang yg cukup dalam pun terdapat di belakang nya ini.
Hehhh !
Mata nya langsung mencari sesuatu.
Belum pun ia menemukan apa yg di cari nya, terdengar lah suara seseorang yaitu eyang Menjangan Putih.
Kau harus terus melawan hawa panas itu , agar ia berhenti bergejolak , tempat yg kau cari ada di sebelah kiri mu,
Diwandaka pun menuruti perintah dari eyang Menjangan putih itu.
Dengan sekuat tenaga nya ia pun melawan rasa panas yg teramat sangat itu, Diwandaka pun mengerahkan tenaga dalam nya untuk mengatasi nya.
Dan ternyata berhasil, tubuh pemuda itu pun mampu menahan hawa panas yg keluar dari kawah agni ini.
Selain ia mampu menahan, secara perlahan tubuh nya pun mampu menyerap hawa panas itu hingga sesuatu yg membuat hati pemuda menjadi terkejut pub terjadi.
Tiba-tiba saja kawah agni ini tidak lagi mengeluarkan lava panas lagi.
Diam sama sekali tanpa ada pergerakan dari kawah tersebut, padahal sebelum nya terus saja menyembur- nyembur memuntahkan isi nya.
Keadaan di tempat itu pun menjadi gelap secara mendadak.
Aneh!
Seru Diwandaka dalam hati nya, ia memang sungguh tidak mempercayai dengan penglihatan nya itu, tidak ada lagi yg keluar dari dalam kawah itu selain asap yg menghitam.
Tetapi dengan demikian , Diwandaka pun bersiap, dari sesuatu yg berubah secara mendadak pasti dan patut untuk di waspadai.
Hufhh!
Ia pun melompat ke sebelah kiri nya, karena memang di sebelah itu terdapat tempat yg agak lebih luas dari tempat nya tadi mendarat.
Memang puncak kawah agni ini sangat jarang sekali terdapat ada tempat yg luas, umum nya akan segera menjadi jurang, mungkin karena akibat dari muntahan pijaran lava panas itu.
Dan sesuai dengan apa yg telah di katakan oleh eyang Menjangan putih tadi, tempat yg ada di sebelah kiri nya memang memiliki suatu tempat yg agak lebih luas dan masih dapat melihat kawah agni dengan sangat jelas pula.
Mendadak berhenti, apa yg akan terjadi ? bertanya dalam hati Diwandaka.
Ia pun mencabut dua buah anak panah nya dari endonng nya dan langsung memasang nya di busur nya.
Mata nya tetap tertuju pada kawah agni yg masih mengepulkan asap tebal tersebut.
Cukup lama juga, Diwandaka menunggu, tetapi tidak ada sesuatu pun yg terjadi, keadaan menjadi sangat hening seolah mereka menyadari ada sesuatu aneh yg akan terjadi di puncak agni ini.
Setelah beberapa lama menunggu,
" HhhRaaaaghhhh "
Tiba-tiba diantara asap yg mengepul tebal dan membubung ke udara itu , terdengar suara yg sangat memekakkan telinga.
Belum pun muncul makhluk tersebut, suara nya pun sudah mampu merontokkan tepian kawah ini.
Bebatuan yg sudah menghitam itu pun berguguran bagai kan pasir yg di lemparkan.
Termasuk tempat berpijak Diwandaka sendiri.
Eh,..apa-apa an ini, berkata pemuda itu dalam hati nya, ia berusaha menjaga keseimbangan nya.
Berhasil memang ia mempertahankan posisi nya.
Tetapi belum pun habis rasa keterkejutan nya, Diwandaka kembali merasakan getaran tanah yg di pijak nya ini semakin keras mengguncang nya.
Hahhh !
Hraaaghhhh !
Bersamaan itu pula muncullah sesosok makhluk yg sangat aneh seperti ular besar yg di atas kepala nya ada cahaya kemilau yg sangat menyilaukan setiap mata memandang nya.
Tempat Diwandaka pun menjadi amblas jatuh ke dalam jurang.
Hufhh !
Pemuda itu pun meloncat dengan mengerahkan tenaga dalam nya hingga ia dapat hinggap di atas sebuah daun pohon yg tinggi menjulang di tepian jurang dan agak menuju puncak kawah sebelah timur.
Dari tempat nya ini ia dapat menatap dengan sangat jelas sosok makhluk yg bagaikan ular besar itu menggerakkan kepala nya ke arah kiri dan kanan seolah sedang murka.
Dari sorot mata nya yg memerah memancar cahaya yg dapat membakar apa pun yg di kenai nya.
Hraaghh !
Whusshhh !
Boumpph !
Dari pacaran kedua bola mata makhluk besar nan aneh itu meluncur lah bola api yg sangat besar dan menghancurkan salah satu tempat di sebelah kanan dari Diwandaka.
Kontan saja tempat itu menjadi hangus terbakar akibat hantaman cahaya api tersebut.
Inikah naga penunggu kawah agni ini, berseru dalam hati Diwandaka.
Bulu kuduk nya bergidik, sungguh tidak menyangka cucu eyang Ganda Puro harus berhadapan dengan sesosok makhluk yg mungkin hadir hanya di alam mimpi saja , sosok naga api yg memiliki sebuah mahkota di atas kepala nya.
Penghuni kawah agni melihat ke arah Diwandaka.
Ternyata ia dapat merasakan kehadiran makhluk lain yg ada di tempat itu.
Hraaghhh !
Hraaghhh !
Dua kali kepala naga api yg berwana kehitaman ini menggeliat seolah merasa tidak senang dengan kehadiran makhluk lain di tempat nya ini.
Di saat ketegangan tengah melanda hati Diwandaka ,di saat itu pula ia mendengar suara yg berkata tepat di dekat telinga.
Jangan khawatir , dengan kemampuan mu itu kau dapat mengalahkan nya dan merebut mustika merah delima yg ada di atas kepala nya tersebut, kelemahan nya pada titik kedua bola mata nya!,
Suara dari eyang Menjangan putih yg memberi tahukan mengenai makhluk yg berupa naga api penunggu kawah agni bagian barat laut gunung Bayang itu.
Memang keadaan benar-benar tidak menguntungkan bagi Diwandaka , ia tidak dapat berpijak di atas tanah lagi , karena setiap kali makhluk naga api ini bergerak maka tanah akan langsung jatuh berguguran masuk ke dalam jurang yg sangat dalam itu.
Tempat itu benar-benar porak-poranda akibat gerakan makhluk raksasa ini.
Sembari menguatkan hati nya, Diwandaka membaca mantera yg telah di ajarkan oleh eyang Menjangan Putih , ia memang berniat mengambil benda yg tidak terlalu besar yg ada di atas kepala naga api tersebut terletak di atas mahkota nya.
Hufhhh!
Selesai merapal mantera nya , melesat lah tubuh pemuda asal desa Semenyih ini dengan begitu cepat nya, ia mempergunakan segala kemampuan nya guna mendapatkan apa yg menjadi tujuan nya itu.
Hraaghh !
Naga api itu menggeliatkan kepala nya begitu merasakan ada sesuatu makhluk kecil yg coba mendekati kepala nya ini.
Diwandaka kembali harus melentingkan tubuh nya kalau tidak ingin kena hantaman kepala sang naga api yg tengah menggerakkan kepala nya ini.
Begitu berada di atas udara dan berada tepat di samping kepala sang naga api, terdengar suara yg sangat keras sekali yg menghantam ke arah pemuda itu.
Ternyata daru dalam mulut sang naga api ini keluar cahaya merah, bagaikan bola api raksasa yg melesat menerjang ke arah Diwandaka.
Pemuda itu pun buru- buru meluruk turun agar terbebas dari serangan sang naga api yg baru saja di lepaskan nya tersebut.
Luput serangan yg keluar dari dalam mulut sang naga api itu, tetapi tentu saja tidak membuat kedudukan dari Diwandaka menjadi semakin baik.
Tubuh nya yg bergerak turun itu seolah mendapatkan kejaran sebuah tangan raksasa yg terdapat pada bagian dada dari sang naga api ini.
Kedua tangan yg sangat besar itu berupaya menggapai tubuh mungil dari Diwandaka.
Agak kerepotan juga ia menghindari nya , beberapa kali ia harus bersalto dengan gerakan yg sangat cepat sekali , seolah tubuh pemuda itu menjadi sebuah bola yg menggelinding begitu cepat nya keluar dari jangkauan tangkapan makhluk penunggu kawah agni itu.
Pertarungan kedua makhluk yg sangat berbeda jenis ini semakin seru, meski saat itu Diwandaka tidak menggunakan senjata nya, ia lebih banyak mempergunakan ilmu peringan tubuh nya dan tenaga dalam nya.
Hingga pada satu teriakan yg sangat keras sekali , pemuda itu berseru sambil membuka kedua telapak tangan nya yg membentuk dua buah cakar.
" Jurus Cakar Elang menyambar mangsa !"
" Dhumbh !"
" Bletaaarr !"
Suara dentuman sangat keras menggelegar dan menghajar tubuh dari sang naga api itu.
Tepat pada bagian dada makhluk penunggu kawah Agni gunung Bayang itu hantaman yg di lepaskan oleh Diwandaka tadi.