NovelToon NovelToon
Istri Ketiga Mas Bram

Istri Ketiga Mas Bram

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Poligami / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka Pradita

Sebuah pengorbanan dari seorang istri yang sudah menyiapkan seorang wanita terbaik untuk suaminya.

Bagaimana kisahnya? Ikuti kisahnya dan temukan jawabannya. Novel ini sarat akan makna bila diikuti sampai ending.

Ikuti kisah serunya yang dibalut religi di dalamnya.
Follow Instagram Author : ekapradita_87

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Selamat membaca!

Aku terbangun ketika Mas Bram mulai menggoyangkan tubuhku.

"Sayang, sudah subuh. Bangun yuk, kita mandi habis itu kita salat jamaah."

Mendengar itu seketika tubuhku langsung bangkit dari kasur, aku mengucek mataku beberapa kali untuk mengumpulkan kesadaranku yang masih belum terkumpul penuh.

Namun tiba-tiba saja Mas Bram menggendong tubuhku dan membawaku masuk ke dalam kamar mandi.

"Mas... Aku bisa mandi sendiri."

"Aku tahu itu, cuman masalahnya kalau kamu nggak dibawa ke sini, bisa-bisa kita kehabisan waktu untuk salat subuh."

"Astaghfirullah, aku hampir melupakan itu saking lelahnya Mas. Makasih ya kamu sudah mengingatkan aku."

Aku pun segera membuka pakaianku di hadapan Mas Bram, entah kenapa aku sudah tidak merasa canggung lagi berlaku seperti ini di hadapan Mas Bram, karena kejadian semalam sudah tidak ada lagi yang bisa aku tutupi dari Mas Bram.

"Sayang, apa kamu sengaja menggodaku?" tanya Mas Bram seraya memeluk tubuhku dari belakang, hidungnya menempel di leherku, membuatku bergidik merinding.

"Aku nggak berniat untuk menggoda kamu, Mas. Ingat ya, kita mau mandi biar bisa salat, jangan sepagi ini Mas, nanti malam kita bisa melakukannya lagi."

Terlihat jelas Mas Bram menyeringai penuh kemenangan.

"Baiklah kalau kamu yang memintanya," ucap Mas Bram sambil melabuhkan sebuah kecupan lembut di pipiku.

Akhirnya kami mandi bersama tanpa melakukan apapun, tidak ada banyak waktu untuk bermain-main karena kami bangun kesiangan.

Setelah selesai mandi dan mengambil wudhu, aku dan Mas Bram mulai menjalankan salat subuh berjamaah, hal yang melengkapi kesempurnaan yang telah kami berdua rasakan dari semalam.

Selesai salat, aku mencium punggung tangan Mas Bram dan mengamini semua doa yang Mas Bram ucapkan. Setelah semua kami lakukan, aku pun keluar dari kamar dan menuju ke dapur, agar bisa memasak sesuatu untuk dapat kami makan di pagi ini.

Ternyata Mas Bram mengekor di belakangku.

"Mas kamu tunggu saja di kamar, aku mau ke dapur dulu, mau masak sesuatu."

"Emangnya kamu tahu dimana letak dapurnya?" tanya Mas Bram dengan mengangkat kedua alisnya.

"Pasti di lantai bawah kan Mas?" jawabku sok tahu.

"Tuh kan salah. Ayo ikuti aku! Aku juga ingin bantuin kamu masak."

"Emangnya ada bahan yang bisa diolah untuk menjadi masakan?" tanyaku kembali kepada Mas Bram sambil terus melangkah mengekor di belakang Mas Bram yang mulai menuruni anak tangga.

"Ada dong sayang, aku sudah stok bahan-bahan masakan untuk kita berdua di sini selama satu Minggu. Aku sudah mempersiapkan ini semua jauh-jauh hari, jadi Insya Allah tidak ada yang kurang selama kita bulan madu di Bogor."

Raut wajahku begitu berdecak kagum dengan segala pemikiran Mas Bram.

"Oh jadi Mas sudah mempersiapkan semua ini dari lama? Hmm pantesan semuanya terlihat sangat perfect."

Mas Bram menghentikan sejenak langkahnya, kemudian menangkup kedua sisi wajahku, hingga pandangan mata kami saling bertaut mesra.

"Apa kamu bahagia sayang?"

Aku mengangguk penuh keyakinan, "Aku sangat bahagia Mas, terima kasih untuk semua hal yang sudah kamu berikan untukku."

Mas Bram tersenyum masih terus menatapku.

"Sudah tugasku memberimu kebahagiaan, sayang. Aku sangat mencintaimu."

Satu kecupan singkat mendarat tepat di bibirku, Mas Bram kembali melanjutkan langkahnya untuk mengantarku ke dapur.

"Ini dapurnya dan semua bahan-bahan untuk dimasak ada di dalam kulkas, sebagian di dalam lemari ini. Oh ya, memang kamu mau masak apa? Biar aku bantuin."

"Tidak perlu Mas. Mas tunggu saja di ruang makan, nanti kalau sudah mateng baru kita makan sama-sama."

"Nggak mau, aku maunya bantuin kamu masak supaya kamu nggak kecapekan sayang."

Aku sudah tak bisa menolak keinginan Mas Bram lagi, aku pun mengizinkannya untuk membantuku memasak. Mas Bram memang selalu seperti itu, kalau sudah bicara A sudah tidak bisa dibantah apalagi dilarang.

"Ya sudah Mas. Kita masak nasi goreng aja ya Mas, boleh kan?"

"Boleh banget dong, lebih praktis dan nggak banyak buang tenaga. Tenaganya ditabung buat entar malam ya?" tanya Mas Bram seraya mengedipkan satu matanya.

kedua pipiku merona merah melihat wajah Mas Bram yang sedang menggodaku.

"Kamu ini Mas, malam masih lama, Mas," ucapku mencebik sambil berkacak pinggang.

Melihat expresiku seketika Mas Bram terkekeh lucu.

"Maaf ya sayang, aku cuma bercanda saja kok, habisnya aku senang kalau lihat kamu ngambek. Aku mau di atas nasi gorengnya dikasih telur ceplok ya sayang."

"Iya, ya udah sekarang Mas bantuin aku kupas bawang-bawang ini, habis itu isian nasi gorengnya dicuci dulu terus diiris deh," ucapku sembari menyerahkan bahan-bahan yang akan dikerjakan oleh Mas Bram.

"Siap," ucap Mas Bram yang aku lihat penuh semangat.

Setelah berkutat di dapur selama 30 menit, akhirnya dua piring nasi goreng siap disajikan di atas meja makan. Memasak kali ini membuang banyak keringatku, karena Mas Bram selalu menggodaku.

"Sekarang ayo kita makan! Habis itu kita jalan-jalan ke kebun teh yuk, gimana sayang?" ajak Mas Bram membuatku menjadi antusias.

Selama tinggal di Jakarta aku belum pernah jalan-jalan ke kota Bogor, padahal jarak antara Jakarta ke Bogor tidaklah terlalu jauh, tapi baru kali ini Mas Bram mengajakku.

Aku begitu menyukai suasana alam nan sejuk di kota ini, udaranya dingin walau tanpa bantuan AC. Ketika aku membuka pintu depan villa, udara yang begitu segar sudah menyapaku dengan ramah.

"Mas di sini sejuk ya, beda sama di Jakarta."

"Apa kamu ingin kita pindah ke sini?"

"Jangan Mas, bagaimana dengan kuliahku dan pekerjaanmu? Dan bagaimana juga dengan Mba Hanum, kasihan dong kamu pulang perginya kejauhan."

"Ya sudah kalau begitu kita akan sering-sering liburan ke Bogor saja ya, kalau kamu mulai jenuh dan bosan di Jakarta."

Kami pun melanjutkan aktivitas makan kami. Aku sudah kembali duduk dan mulai menyantap nasi goreng hasil masakanku, begitu juga Mas Bram yang terlihat lahap memakannya.

🍂🍂🍂

Udara pagi yang semakin dingin dengan embun pagi yang masih tampak membasahi setiap dedaunan. Aku dan Mas Bram kini sudah berada di luar Villa, kami akan menyusuri perkebunan teh yang memang berada tepat di belakang area Villa.

Hamparan kebun teh terpampang nyata di pelupuk mataku. Aku begitu senang menatap sekitar area perkebunan dengan suasana yang begitu asri.

"Mas tempat ini nyaman banget ya, sekarang kita akan kemana Mas?"

"Kita ke sana yuk, naik paralayang, tapi kamu berani gak?"

Mendengar pertanyaan Mas Bram membuatku bergidik ngeri, namun bukan Biru namanya bila tak punya keberanian untuk mencoba sesuatu.

"Aku berani Mas, walau aku belum pernah, tapi pasti akan jadi pengalaman yang hebat."

Mas Bram pun menunjukkan arahnya untuk kami menuju ke arah Bukti Gantole. Setelah mendekati tempat itu, aku mulai melihat beberapa pengunjung yang ditemani oleh orang-orang profesional mulai menaiki paralayang.

"Kamu berani gak sayang?" tanya Mas Bram kembali bertanya, mungkin untuk memastikan.

"Berani aku Mas," sahutku walau aku sedikit gemetar.

Namun pengalaman pertama ini akan menjadi yang terhebat di atas ketinggian. Walau sebenarnya aku tidaklah terlalu berani jika berada di atas ketinggian.

Setelah Mas Bram membayar sejumlah uang untuk tiket kami menaikinya, tibalah giliranku. Entah kenapa saat beberapa pengaman mulai terpakai di tubuhku, darahku terasa berdesir hebat, bahkan ritme jantungku yang semula normal kini berdegup sangat kencang dan tak beraturan. Tanganku semakin dingin, yang sesekali Mas Bram coba untuk menggenggamnya.

"Sayang kita ketemu di bawah ya."

Aku mulai bersiap untuk lepas landas dengan paralayangku, ditemani seorang profesional yang usianya sudah terbilang cukup berumur. Saat paralayang mulai terbang di angkasa, sungguh saat itu jantungku seperti ingin lepas dari dadaku. Tubuhku seketika gemetaran, namun aku tetap bisa menikmati saat-saat seperti ini.

"Wow, ini benar-benar indah dan menegangkan."

Tak berapa lama paralayang yang Mas Bram naiki mulai melintas melewatiku. Dan akhirnya kedua paralayang kami mendarat secara bersamaan, setelah melepas pengaman pada tubuhku, aku langsung berlari untuk memeluk tubuh Mas Bram yang berada tidak jauh dari tempatku.

"Mas aku masih gemetaran banget..." ucapku dengan suara yang bergetar.

"Tapi kamu happy kan, sayang?"

"Akua bahagia banget Mas, walau di atas sana tadi tuh aku ketakutan banget. Terima kasih ya Mas."

"Makasih terus, kaya menang lotre saja," goda Mas Bram membuatku bingung.

"Abis aku harus bilang apa dong?" ucapku sambil mengedikkan bahuku.

Mas Bram tersenyum dengan kedua alis yang saling bertaut.

"Cukup bilang kamu sangat mencintaiku."

"Ok, aku sangat mencintaimu Mas."

"Kurang keras sayang, aku gak dengar," pinta Mas Bram dengan memegang daun telinganya.

Aku pun mulai melihat sekelilingku yang penuh dengan banyak pengunjung yang baru saja mendaratkan paralayangnya.

Namun aku memutuskan untuk menghiraukan mereka, saat Mas Bram kembali mengulang permintaannya. Aku pun dengan keras dan lantang mulai mengatakan seluruh isi hatiku pada Mas Bram.

"Aku sangat mencintaimu Bramantyo Wijaya."

Setelah mendengar suara teriakanku, Mas Bram kembali memberikanku sebuah pelukan yang erat. Saat ini cinta kami berdua semakin bersemi di hati kami masing-masing. Aku sendiri merasa sangat bersyukur karena Allah memberikan aku seorang suami, yang begitu pintar untuk membuatku bahagia dengan berjuta cara yang dia miliki.

🌸🌸🌸

Bersambung ✍️

Berikan komentar kalian ya?

1
Afternoon Honey
pertama kali baca karya penamu author Eka Pradita
Elisya Fina
bismillahirrahmanirrahim
mau coba baca crita tetang poligami,wlapun deg deg kan ku coba untuk memahaminya
dn mengambil hikmahnya dri crita ini,
Rosmawati/jnr
Bagus
Nila Hariyanti
keren ceritanya banyak ilmu agamanya
Eka Pradita: Makasih ya, baca cerita saya yang lain ya
total 1 replies
Agustin Ria Astuti
darius bukan🤔🤔🤔
Bunda Ayubi
Saya cari belum ada yaa kak yg judulnya Istri Pertama Mas Bram
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
penasaran bgt siapa sh priany
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
penasaran siapa sh yg udh memperkosa sofi
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
leo km hrs move on dr biru
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
biru km harus ingt bhw km sudah menikah
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
wah mas bram cmburu
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
yg sbr y bram glm kok plg cuma seminggu j
Erni Ynnn
biru bodoh
Erni Ynnn
Darius kyok'e yo 😅
Erni Ynnn
buat Darius bucin sm pelangi Thor..biar si mas Bram cemburu gitu 🤣🤣
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
bnr2y tuh mulut minta w jahit apa
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
sbr y hani
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
semoga istri pertama baik2j
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
udh cantik solehah lg
🐝⃞⃟𝕾𝕳 TerlenARayuAn
beruntung bgt bram punya istri sprt hani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!