Mia Hazel dan Benjamin menikah karena terpaksa. Saat itu Benjamin memiliki tunangan yang dicintainya. Dan Mia hanya ingin menyelamatkan usaha ibunya.
Walaupun sudah menikah, Mia memilih menjalankan pekerjaannya tanpa mempedulikan suaminya. Benjamin juga tetap bertemu kekasihnya tanpa mempedulikan istrinya.
Mereka berpura-pura tidak saling mengenal ketika diluar rumah dan kembali ke rumah seperti orang asing.
Ibu Benjamin telah merancang berbagai situasi dan kondisi agar mereka bisa menyatukan perasaan tapi semuanya percuma.
Semua itu berubah ketika Benjamin mulai menaruh curiga pada istrinya yang sering tidak pulang karena pekerjaan. Benjamin menjadi sangat marah saat menemukan Mia bersama laki-laki lain.
Akankah mereka menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Atau haruskah mereka berpisah demi kebaikan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Seperti kilatan petir yang menyambar, Mia yang duduk di depan cermin berharap bahwa semua yang terjadi malam ini hanyalah mimpi. Tapi ... semuanya memang terjadi. Sentuhan, ciuman dan hal itu benar-benar terjadi. Mia pikir, Benjamin tidak akan pernah mengulangi sesuatu yang pernah dibilangnya sebuah kesalahan dalam hidupnya. Bertunangan dan menikah dengan Mia serta menyentuhnya bukan merupakan sesuatu yang diinginkan Benjamin. Karena itu, Mia hanya bisa menerima semuanya selama ini. Lalu ... apa ini?
Pasti Benjamin hanya merindukan Olivia, karena kekasihnya itu sudah lebih dari satu Minggu belum pulang dari Maldive atau entah kemana. 'Tidak ... kalau Benjamin merindukan kekasih yang sangat dicintainya, dia tidak akan melakukan semua ini' pikir Mia. Apa yang sebenarnya Benjamin lakukan disaat perceraian mereka sudah di depan mata?
Mia masih larut dalam pikirannya saat Benjamin keluar dari kamar mandi. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkannya, Mia mengambil inisiatif untuk keluar dari kamar dan mengambil kopernya. Belum sempat menarik pegangan pintu, sebuah tangan besar menghalangi pintu untuk terbuka.
"Aku sudah bilang, sebelum kita resmi bercerai, kau akan tetap ada disini" kata Benjamin. Mia tidak habis pikir, sebenarnya apa yang terjadi pada laki-laki yang tidak pernah memperhatikannya ini.
Sebenarnya, Mia ingin sekali melawan laki-laki yang ada di depannya ini. Sayangnya, tenaganya terkuras habis saat melawan Benjamin di ranjang dan kamar mandi. Apabila Mia mencoba untuk menahan laki-laki ini lagi, bisa dipatikan dia tidak bisa bangun dari tidur besok pagi.
'Menyerah sekarang dan besok pagi-pagi sekali segera pulang ke rumah. Itu adalah jalan yang terbaik untuk malam ini' pikir Mia.
Terpaksa, dia mengurungkan niatnya untuk maju dan segera mundur keluar dari jangkauan Benjamin. Tidak ada lagi kata yang terucap dari mulut suaminya, membuat Mia sedikit tenang.
Dia pergi ke tempatnya tidur, di kursi dekat jendela yang telah digunakannya selama dua tahun ini.
"Tidurlah di ranjang. Aku tidak akan melakukannya lagi" kata Benjamin membuat Mia mengambil kuda-kuda.
"Tidak ... aku tidur disini saja" jawab Mia lalu menancapkan tubuhnya ke kursi dan melihat suasana langit malam. Masih pukul sembilan malam, tapi langit gelap sekali. Memang rumah ini terasa dingin saat siang hari karena banyak pohon. Namun, hal itu membuat rumah terasa suram di malam seperti ini. Selama dua tahun, Mia tidak menyadarinya sama sekali.
"Sejak kapan studiomu berdiri?"
Mia menoleh ke arah laki-laki yang duduk di ranjang. Siluet Benjamin yang tampak dengan lampu redup itu, tiba-tiba membuat Mia terpana.
"Satu tahun setengah yang lalu"
Tidak tahu kenapa kelakuan laki-laki itu berubah dalam satu malam saja, Mia hanya berusaha keluar dari rumah ini dalam keadaan utuh.
"Aku memberikan hak yang harus kau terima setiap bulan. Kenapa tidak kau pakai untuk membesarkan studiomu?" tanya Benjamin lagi membuat Mia perlahan merasa jengah.
Benjamin memang melaksanakan kewajibannya sebagai suami, yaitu memberikan uang bulanan kepada Mia. Tapi, Mia tidak pernah menyentuh uang itu sepeserpun. Bukan karena ego ataupun masalah harga diri. Mia dapat menghidupi diri sendiri serta ibunya sejak lama sekali. Dan kebiasaan hidup itu sangat sulit dirubah.
"Aku tidak ingin memperluasnya. Seperti ini saja sudah cukup" jawab Mia lalu merebahkan tubuhnya di atas kursi.
"Seorang pengusaha tidak akan pernah merasa cukup"
Perkataan Benjamin benar-benar membuat Mia merasa tidak suka. Dengan sengaja, Mia tidak menjawab perkataan Benjamin dan membalik badannya menghadap jendela.
'Besok, pagi-pagi sekali. Aku harus segera pergi dari kamar dan rumah ini' pikir Mia lalu menutup matanya.
Benjamin memang melihat Mia tidak tertarik dengan pembicaraan mereka. Tentu saja, baru kali ini mereka melakukan pembicaraan di kamar. Kamar tempat mereka seharusnya melakukan semuanya sebagai pasangan suami istri. Semua yang telah dilewatkan oleh Benjamin dengan sengaja.
Perempuan itu ternyata benar-benar tertidur. Bahkan suara dengkuran halus terdengar dari Mia. Wajah perempuan ini benar-benar polos ketika tidur. Tidak, bukan. Tidak hanya saat tidur. Pada saat perempuan ini melepaskan kenikmatannya, wajahnya juga tetap seperti ini. Wajah itu, sesuatu yang membuat Benjamin terbebani dulu. Tapi sekarang, tidak lagi.
Mia seperti mendengar semua kata hati Benjamin, berbalik memperlihatkan wajah tidurnya yang cukup mengganggu. Menggemaskan. Ungkapan itu meluncur bebas dari kepala ke hati Benjamin. Dulu sekali, Benjamin pernah merasakan desir rasa seperti ini sebelumnya. Bahkan ketika hubungannya dengan Olivia baik-baik saja.
Kemunculan Mia dengan penampilan polos berambut panjang itu pernah membuat jantung Benjamin berdebar. Tapi dengan segera dia melupakannya karena kehadiran Olivia yang sangat terang saat itu. Benjamin mengulurkan kedua tangannya dan membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Rasa hangat yang menyebar dari tubuh Mia membuatnya sangat nyaman saat ini.
Pagi harinya, Mia terbangun sebelum matahari terbit. Baru kali ini, Mia merasa alas tidurnya hangat. Dan alasannya adalah dia berada di atas ranjang besar, dengan sesosok tubuh besar memeluknya. Kapan dia pindah ke ranjang? Ahh, Mia tidak peduli. 'Yang terpenting adalah sekarang satu-satunya kesempatannya untuk pergi dari rumah ini' kata Mia pada dirinya sendiri.
Perlahan, Mia keluar dari pelukan Benjamin dan segera turun dari ranjang. Memakai jaket dan membawa kopernya yang hampir hancur keluar dari kamar. Untunglah, laki-laki itu sepertinya tidak sadar kalau Mia keluar. Berjalan dengan cepat ke arah pintu dan berhasil masuk ke dalam mobilnya. Dengan gerakan cepat, Mia segera memacu mobil keluar dari rumah keluarga Clay yang telah mengurungnya selama dua tahun.
Mia bisa bernapas lega sekarang. Tiga hari lagi, semua perjanjian antara kedua keluarga akan segera berakhir. Tidak ada lagi ikatan antara Mia dan laki-laki itu lagi. Sungguh senang dan ringan langkah kaki Mia memasuki rumahnya sendiri. Ibunya menunggu di depan pintu, seakan menanti semua ini terjadi.
"Akhirnya" kata ibunya memeluk Mia dengan bahagia. Putri yang selama ini disandera di keluarga lain akhirnya pulang ke rumahnua.
"Apa ada yang terjadi semalam? Kau pulang pagi" kata ibu Mia seperti ingin mencari tahu.
"Tidak ada yang terjadi, Bu. Aku akan segera pergi ke pengacara Smith dan mengurus perceraianku dan kak Ben" jawab Mia dengan mata yang berbinar.
Dia sangat menantikan hari ini tiba. Meskipun Mia sangat menyayangi tante Laura seperti ibunya sendiri. Tapi Mia tetap saja merasa sesak setiap kali kembali ke rumah keluarga Clay. Apalagi dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suaminya itu. Benjamin. Apa laki-laki itu sudah bangun sekarang? Masih terasa kehangatan tubuh laki-laki itu di punggung Mia. Sangat hangat. Sayangnya, kehangatan itu akan segera hilang.
Tidak ... bukan hilang. Tapi tidak pernah ada untuk Mia. Karena kehangatan itu hanya untuk Olivia. Kekasih Benjamin yang akan segera menjadi istrinya setelah mereka benar-benar berpisah.
tp kl ga gini ga ada cerita yeeee... hehehehee...
tp yg bodoh disini gq cm ben tp ortunya jg.. duit dihambur2in kok diem aja
plissla