Hijrahnya Ernest adalah titik awal perjalanannya untuk menjadi seorang hamba yang bertaqwa sekaligus perjuangannya untuk meraih bahagia bersama Aisya.
Pendidikan yang berjauhan menjadi ujian Aisya dan Ernest berikutnya, bersama kesibukan masing-masing yang semakin membuat hubungan keduanya berjarak, hingga seiring waktu keduanya hanya saling menitipkan pada Yang Maha Kuasa.
Setelah perpisahan lama, Ernest memutuskan untuk pulang dan berencana meminang Aisya, lalu ujian hubungan seperti apa yang Tuhan berikan untuk keduanya demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan? Bagaimana usaha mereka untuk meraih kebahagiaan yang diridhoi Sang Pencipta?
"Dear My'Adam...
jika memang kamulah Adamku, aku yakin Rabb akan menjaga raga, telinga, mata, dan hatimu hingga kamu kembali..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DM'A_part 24
Bersama dengan selesainya seluruh rangkaian ibadah umroh Aisya dan Ernest, berakhir pula perjalanan honeymoon keduanya disana.
Ditatapnya lekat-lekat kaca jendela pesawat yang mulai mengangkat rodanya dari daratan dan mengudara, namun jelas netra Ai sedang melihat jauh ke depan. Pikirannya masih bersama rumah Tuhan, dimana rasanya baru kemarin ia dapat menyentuh batu paling mulia di muka bumi ini, dimana rasanya baru kemarin ia seperti merasa sedang diimami oleh sang rasul. (beribadah di Raudhah dan sujud di tiang Aisya)
Ernest memanjangkan pandangan ke arah pandangan istrinya, tak ada niatan untuknya bergurau saat ini, "nanti kalau ada waktu dan rejeki lagi, kita kesini lagi..." ia menguarkan senyuman menenangkan untuk Aisya.
"Aamiin." Gerakan mulut itu jelas sedang mengaminkan ucapan suaminya, "by..."
"Hm?" Ernest kembali menoleh saat ia telah mendapatkan posisi enak di sandaran bangku pesawat.
"Kamu yakin kalo Erja sama Ersa bisa nerima aku serumah sama mereka?" kekhawatiran Aisya jelas bukan tanpa mendasar, Erja dan Ersa cukup antipati dengan lingkungan berbau kekeluargaan dan beragama seperti Aisya, dan si alnya grandpa meminta kedua anak itu untuk tinggal serumah dengan Ernest dan grandpa agar Ernest dapat mendidik keduanya, menurut grandpa papa dan mama tak becus mendidik anak selama ini.
Nest. Grandpa mohon didik adik-adikmu, buat mereka layak untuk menerima warisan grandpa nantinya.
Grandpa yang semakin hari, kondisi kesehatannya semakin menurun pun menjadi bahan pertimbangan Ernest dalam mengambil setiap keputusan.
Rencana sempurna tak selalu berproses sesuai yang diinginkan, namun yakinlah jika semua atas dasar keridhoan Tuhan dan dijalani dengan penuh keikhlasan maka akan berakhir indah.
Ernest kembali memutar otaknya, ia bersyukur karena dengan menurunkan setiap ujian, itu tandanya Tuhan masih menyayanginya.
Mungkin mulai sekarang ia akan benar-benar menjadi orang sibuk, bye-bye pengangguran! Selain dari kegiatan kampusnya nanti, karena Ernest ambil magister, Ernest pun akan turun langsung mengurus bisnis grandpa. Ditambah kedua adiknya yang bisa dibilang berakhlak bobrok itu dititipkan padanya.
"Ai!" teriak Raudhah melambaikan tangannya ketika Ernest dan Aisya baru saja tiba di bandara.
"Assalamu'alaikum teh! A Sandi!"
"Wa'alaikumsalam. Cieeee penganten baru! Baunya hmmmm----kok bau sampo!" goda Raudhah tergelak.
"Nest," sapa Sandi berjabat tangan dan menepuk punggung Ernest, sebagai sesama menantu rumah Huda, mereka harus senantiasa menjaga tali persaudaraan dan keakraban.
"A," angguk Ernest menggeret koper dan koper tambahan.
"Dari sana jam berapa?" tanya Sandi basa-basi dan berjalan bersampingan dengan Ernest, sementara Aisya sudah berjalan di depan mereka duluan dengan hebohnya saking rindunya kedua adik kakak itu.
"Jam 19.15 waktu setempat kita take off dari Jeddah, A."
Tak ada rumah seindah rumah keluarga abi Huda menurut Ernest, rasa hangat dan merasa dipeluk selalu bersamanya.
"Alhamdulillah," ucap umi memeluk putri bungsunya itu seraya mengusap-usap punggung Aisya, "kangen banget ngga ada yang berisik lagi di rumah!"
Ai tertawa disana, "ngga ada Ai sepi rumah, hening kaya lagi acara renungan malam," kekeh Arin.
"Gimana Nest, kabbah?" tanya abi Huda.
"MasyaAllah bi, Ernest susah bujuk Ai pulang!" balasnya berkelakar. Aisya langsung bereaksi sewot, "ih! Enak aja, kamu yang disana malah mau tidur!"
"Mana ponakan Ai, teh?! Kangen si gemoy ih!"
"Ada, lagi tidur..." jawab Arin.
Mereka langsung pindah ngobrol ke dalam. Ernest masih dibantu Sandi mengeluarkan koper keduanya dari dalam mobil.
"Teh, ini Ernest sama Ai beli sedikit oleh-oleh dari sana. Minta tolong dibongkarin aja biar bisa dibagi-bagi." Pinta Ernest diangguki Raudhah, "boleh. Ntar teteh sama umi yang bongkarin."
Aisya yang sudah berkangen-kangen ria dengan keluarganya bergegas masuk kamar demi melepas penat selama perjalanan dari Madinah-Jeddah, Jeddah-Jakarta, lalu Jakarta-Bandung.
Ia menanggalkan jilbab dan pakaian yang membalut tubuh, menghalangi udara sejuk masuk menerpa kulit.
Dan percayalah, pemandangan Aisya yang hanya memakai tanktop begini sambil baringan menyalakan AC adalah pemandangan paling indah di dunia, gleuk! Ernest meneguk salivanya sulit.
"Mandi dulu Sya. Biar seger," titah Ernest.
"Iya ntar by, masih cape." Tak taukah Aisya, jika titahnya itu adalah bentuk pengalihan atas bi rahi yang sudah mulai naik?!
Bandung tuh hawanya bikin pengen narik selimut bareng-bareng.
Aisya mengerutkan dahinya lalu membuka kelopak mata perlahan, merasa jika ranjang bergerak dan bergoyang.
Tanpa permisi ataupun ijin, Ernest tiba-tiba sudah berada di sampingnya memeluk posesif sembari memandangi wajah Aisya, Aisya menoleh ke arah samping ketika Ernest menopang kepalanya dengan sebelah tangan dan tangan lainnya memeluk perut rata Aisya.
"Awas by, gerah." tolaknya yang justru enggan dipeluk-peluk, bukannya menjauh Ernest malah dengan sengaja mendusel-dusel hidungnya di leher dan pipi Aisya membuat wanita itu kegelian, "By ih! Geli by!"
"Ampun!"
Ernest tertawa renyah mendengar rengekan memohon Aisya di bawah dekapannya. Hal romantis mungkin akan selalu ditemui jika mereka sedang bersama, bahkan hal kecil sekalipun.
"Udah by, aku mau mandi!"
"Mandi bareng?" alisnya yang usil naik turun. Aisya masih memundurkan wajahnya yang begitu in tim di dekap Ernest. Melihat wajah keruh Aisya, Ernest tak kehilangan akalnya, "sunnah loh Sya...masa rasul aja sering mandi bareng kok sama istri-istrinya...."
"Termasuk ummu Aisya---" bisiknya memajukan bibir dan menjepit hidung Ai di bibirnya singkat membuat Aisya melotot sengit dan berdecak tak terima.
"Kan udah pernah!" sewotnya.
"Ya engga apa-apa, kan ngga sering juga...." balasnya. Aisya masih menatap menimbang-nimbang tapi Ernest langsung menggiringnya, "udah jangan kebanyakan mikir ah! Mau bikin pahala kok mikir!"
Ai melipat perhelai pakaiannya lalu memasukan itu ke dalam kopernya, jika sesuai rencana dan kondisinya baik-baik saja maka Ernest akan membawanya tinggal di rumah grandpa....ada rasa----entahlah! Satu rumah dua keyakinan, satu rumah namun sepertinya akan jauh dari kata hangat mengingat 2 hari yang lalu Erja dan Ersa sudah tiba lebih dulu dan menjadi penghuni disana. Apakah ia akan betah sebagai nyonya rumah? Ditambah kondisi grandpa yang membutuhkan perawatan intens.
"Ngga usah banyak-banyak," Ernest berjongkok di depan Aisya yang duduk di tepian ranjang selepas mengaji, masih dengan koko dan sarungnya.
"Biar sebagian buat baju ganti kalo nanti kita lagi kepengen nginep disini. Kalo kurang, nanti aku beliin..."
Ini dia Ernest Pradiawan, apa-apa tinggal beli! Dengan mudahnya.
Aisya tersenyum meraih punggung tangan Ernest dan membawanya ke pipi, "engga banyak by, cuma keliatannya aja soalnya kan kalo perempuan pakaian yang nempel di badan lebih banyak dari lelaki."
Ernest dapat melihat kekhawatiran di wajah Aisya, "Sya. Temani aku, mengayuh biduk rumah tangga bersama. Please! Jadi istri yang tangguh dan Aisya yang dulu, yang senantiasa mengingatkan aku seperti dulu...apalagi jika aku sedang lelah dan mulai tak konsisten."
"InsyaAllah," gumamnya.
"Mungkin ke depannya tidak akan mudah. Tapi bantu aku, memperbaiki semuanya, bantu aku melalui semuanya seperti dulu," pinta Ernest lagi.
"Aku tau kamu Aisya'ku..." kini Ernest berdiri dengan lututnya dan memegang kedua tangan Aisya, menempelkan ujung hidungnya dan hidung Aisya agar menjadi satu nafas.
"Kapan hubby mulai go public ganti posisi grandpa di kantor?"
"Setelah aku rasa semuanya sudah siap," jawab Ernest.
"Hm." gumam Aisya mengerti.
"Woy! Jangan kenceng-kenceng elah! Grandpa gue lagi sakit!" titah Erja yang justru membawa teman-temannya ke rumah grandpa dan malah berpesta mi ras dan merokok.
Iceu menggelengkan kepalanya frustasi jika rumah majikannya itu lebih mirip diskotik sekarang, "ya Allah."
"Iceuu!" teriak Ersa dari lantai dua dengan pakaian rumahan minimnya, "mana ice lemon tea punya Ersa!"
"Witwiii!" cuitan nakal dari kawan Erja.
"Ja. Adek lo makin gede makin gemesin!"
Erja melirik Ersa yang keluar dengan pakaian minim dipandangi oleh mata nakal teman-temannya, Erja menatap sengit dengan alis menukik tak suka, "si alan!" ia menyambar kerah baju Gusti, "lo pandangin adek gue sekali lagi, lo abis!" sengitnya.
"Santai bro---santai!" beberapa teman lain melerai keduanya, begitupun Gusti yang cukup terkejut, "sorry bro, gue ngga maksud..."
Erja melangkah menghampiri Ersa, "Sa! Lo jangan keluar kalo gue lagi bawa temen-temen, masukkk!" teriak Erja mengejutkan Ersa, "abang apaan sih!"
.
.
.
.
.
.
penasaran ending nya
Nunggu notif ernest dan Ai
Semoga ide” y bermunculan kak thor Sin