Kania Dahani Larasati, gadis remaja yang cantik, pemberani dan supel. Di usianya yang masih 18 tahun, ia harus terpaksa menikahi calon kakak iparnya yang usianya 32 tahun, Kania terpaksa menikahi kakak iparnya karena kakaknya kabur tepat di hari pernikahannya.
Orang tua Kania memaksa Kania untuk menikah dengan Kevin Anggara agar kedua belah pihak keluarga tidak merasa malu dan bisnis ayahnya juga terselamatkan.
Semua foto yang ada di novel berasal dari Pinterest, jadi hak cipta
milik Pinterest.
Mohon dukungannya dengan cara like, komen, rate, favorit dan vote agar author bisa semangat buat update yup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faiola Dea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baikan nih
Kania tidak mau menyianyiakan kesempatan berharga seperti sekarang ini, Kevin meminta maaf padanya itu suatu hal yang gak boleh di di buang gitu aja. Kesempatan baik gak datang dua kali jadi harus di pergunakan sebaik mungkin. Biarlah harga diri ini terinjak, toh juga di depan suami sendiri, gak ada yang tahu. Jadi gak ada yang perlu di permasalahkan.
"Baiklah, Kania maafin Om. Tapi Om gak bakal kayak kemarin lagi ya? Om harus bersikap baik, perhatian, gak cuek dan lembut" ucapnya, Kania menghentikan Kevin yang mau pergi ninggalin Kania.
Kevin berbalik sambil menunjukkan senyum pemikatnya, membuat Kania jadi terpelet di buatnya "Ya ampun pake acara lembut segala udah kaya brownis lumer aja!"
"Om, Kania lagi serius juga! Malah di bencandain, gak lucu tau!"
"Yahh gitu doang langsung ngambek, udah jangan ngambek entar jeleknya nambah loh" Kania tidak menghiraukan godaan Kevin, Kania membuang muka menatap pemandangan luar. Padahal dalam hati senangnya mah gak ketulungan mendengar Kevin menggodanya.
"Oke. Aku akan bersikap sesuai yang kamu harapkan dan inginkan" mendengar itu, membuat Kania sontak langsung memeluk Kevin tanpa perhitungan dan aba-aba. Kevin hampir terjatuh ke arah belakang karena Kania yang tiba-tiba memeluknya. Untung Kevin kuat jadi gak jatuh cuma sempoyongan aja.
"Berarti kita udah beneran jadi suami istri ya, Om?" Tanya Kania yang memeluk erat Kevin.
"Kan emang kita udah jadi suami istri beneran sejak sebulan yang lalu?"
"Tapi yang kemarin itu belum resmi karena Om Kevin dingin ke Kania."
"Yaudah. Mulai hari ini kita resmi jadi suami istri" ucap Kevin pasrah dan gemas sendiri sambil mencubit hidung mungilnya karena Kania terus mewawancarainya.
"Sakit tau Om! Nanti kalau hidung Kania yang kecil dan imut ini jadi panjang kaya Pinokio, gimana?" Kania memegangi hidungnya bekas cubitan Kevin.
"Gak papa, malahan Enak, saat kita ciuman, hidung kita jadi cepet bersentuhannya" goda Kevin. Ia ingin membalas perbuatan Kania yang dulu selalu menggodanya dan selalu membuat hatinya dag dig serr seperti sedang bergoyang bang Jali. Sekarang gantian Kevin ingin membuat Kania merasakan apa yang ia rasakan
"Om belajar ngegombal dari Kania ya? Lumayanlah. Kania beri nilai 50 ya, masih pasaran soalnya gombalannya, Kania maklumin soalnya Om kan masih pemula" balasnya dengan enteng. Bukannya malu-malu Kuda Nil, pipi merah kaya udang di rebus di air comberan. Ini bocah malah menilai gombalan Kevin. Sungguh disini Kevin merasa gagal menjadi seorang pria.
Kevin memilih pergi keluar mencari udara segar setelah mendengar jawaban Kania yang tak sesuai harapannya, "Om mau kemana? Gak jadi minta nasi gorengnya Kania?" Teriak Kania.
Iya juga ya, gara-gara balasan bocah tengik itu aku sampai lupa kalo aku belum makan.
Dengan terpaksa Kevin berbalik menuju ke arah Kania, perutnya masih kosong. Ia tidak mau pergi keluar dalam keadaan kelaparan. Kebetulan bocah tengik itu menawarkan makanan, rejeki nomplok mah gak boleh di tolak nanti rejeki nomploknya kapok datang ke kita lagi.
"Sepiring berdua ya, Om?" Tawarnya sambil mengecilkan sebelah matanya di ikuti senyum pepsodent di bibirnya.
Ini bocah selalu aja bikin hati ku kembang kempis sampe mau pipis. Giliran aku yang ngegoda dia, dia malah biasa aja seperti gak ada dosa!
Kevin berusaha menormalkan jantungnya yang sedang berlomba lari maraton, ia berusaha sebiasa mungkin menghadapi Kania, "Gak ahh! Jijik aku, nanti ludahmu menempel dalam mulutku" tolaknya yang sok gak mau, aslinya mah pengen. Cuma ya nutupi gengsi aja. Tapi bukan Kania namanya, jika melambaikan tangan gitu aja itu.
"Kita kan udah resmi jadi suami istri beneran jadi mencoba ludah istri sendiri gak papa dong, Om. Lagian nanti juga Om bakalan ngerasain penuh ludahnya Kania, saat sedang berciuman" ini bocah emang ajaib bener dah, bisa-bisanya membalas semua perkataan Kevin di campur dengan gombalan, mana si Kevin slalu aja deg-deg an setiap Kania menggodanya.
Ini hati mulai lari maraton lagi. Kenapa gak bisa biasa aja gitu loo, waktu bocah tengik ini ngegombal, seenaknya lari tanpa ijin!
"Ya udah sekarang aja ngerasain ludahnya alias berciuman, sekalian pembuka di waktu sarapan, gimana?" Balas Kevin yang ia yakini Kania bakalan merasa malu sendiri.
"Beneran Om, ya udah Kania mau, udah siap juga. Ayo Om di mulai" kania sudah bersiap dengan keadaan mulut yang monyong se meter panjangnya. Sungguh seharusnya Kevin sudah menduga akan hal ini, Kania bukanlah gadis pada umumnya. Kania merupakan spesies wanita jadi-jadian yang tak sama dengan wanita di luar sana.
Kevin memilih mengambil nasi goreng yang ada di meja dan memakannya. Membiarkan Kania dalam keadaan merem dengan mulut monyongnya.
"Iihh Om kok malah makan! Tadi katanya mau acara pembukaan sebelum sarapan, belum di mulai pembukaannya udah makan aja! Kalo gitu suapin Kania!" Sentaknya kesal saat mendapati Kevin makan saat ia sedang merem. Kania sudah membuka lebar mulutnya selebar pintu Surga.
"Ambil sendok sendiri, sana!" Suruhnya.
"Gak ah Kania males, sendoknya Om aja"
"Itu sih maunya kamu, biar bisa nyobain sendok bekasku! Sana ambil sendok sendiri!" Kevin mendorong pelan Kania dari kursi tempat duduknya agar segera mengambil sendok di dapur.
Dengan kemalasan yang hakiki, Kania akhirnya berdiri, "Iya-iya, tapi jangan di habiskan nasi gorengnya lo?!" Kania menunjuk wajah Kevin dengan jarinya.
Kevin menurunkan jari Kania dan berucap dengan ramahnya, "Iya aku bakal sisain kok," mendengar itu Kania mulai berjalan ke arah dapur, "Tapi sisain nya piring sama sendoknya doang" sambungnya dengan keras.
🐥🐥🐥
"Om" panggil Kania. Kania dan Kevin memilih keluar dari rumah sederhana yang berada di pulau. Lebih tepatnya Kevin yang mengajak Kania keluar karena Kevin tak mau terjebak di situasi yang rumit bersama bocah tengik. Jika terus berada di dalam, Kania akan mulai membahas hal yang berhubungan dengan kemesuman.
"Iya, ada apa?" jawabnya tanpa menoleh ke arah Kania.
"Om, kemarin waktu Kania pingsan, Kania ngimpi Om Kevin nyium Kania tau? Berulang kali lagi. Kira-kira itu pertanda apa ya?"
Degg... Kevin kaget, bagaimana ciumannya bisa terasa sampai ke dunia mimpinya Kania?
Kevin masih belum menjawab seperti sedang mencari jawaban yang pas agar terlihat menyakinkan, "Aahh itu pertanda baik pastinya, buktinya kita sekarang udah baikan" Kevin tersenyum agar Kania lebih yakin padanya.
"Kirain itu pertanda Om bakal nyium Kania. Gimana kalo mimpi Kania di jadiin kenyataan sekarang, biar banyak kebaikan yang datang ke hidup kita?"
"Gak bisa Nia cantik, kan udah janji, kalo aku bakal berhubungan dengan Nia nanti saat Nia udah lulus SMA?"
"Tapi ciuman kan gak bikin hamil jadi ciumannya sekarang aja. Buat anaknya nanti"
Ini bocah gampang banget ngomongnya, pinter juga, kalo masalah mesum tapi ya! Di kira setelah ciuman bisa menjamin aku bakal bisa nahan burungku tetap berada di sangkar, apa?!
Bersambung
Udah siap up, ehh malah kehapus dong😂 sakitnya tuh di tangan ama mata😭
aku padahal udh nunggu nunggu eps selanjutnya lho......
soalnya bikin penasarannya
ayo dong Thor dilanjut lagi ceritanya, soalnya seru banget
baca lagii