"Kau benar-benar sempit dan nikmat."
Akibat jebakan seseorang, Aksara tanpa sadar meniduri seorang gadis tidak bersalah. Gadis yang tidak dikenalnya, namun menjadi gadis pertama yang ia nikmati.
Bukan hanya gadis itu yang pertama, namun Aksa juga. Dia mengambil mahkota gadis itu secara paksa di bawah kendali obat.
Aksa menyelidiki gadis itu, yang ternyata hanya seorang pengantar makanan di restoran milik paman dan bibinya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah Aksa akan bertanggung jawab atau justru lari??
Update setiap hari‼️
Follow Ig : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melisa menemui Ayesha
Ayesha sedang pergi ke salah satu pusat perbelanjaan atas suruhan oma Nuri. Sambil mempersiapkan pernikahan, oma Nuri ingin Ayesha keluar rumah karena ia tahu gadis itu bosan di rumah terus.
Oma Nuri pun sudah menghubungi Aksa untuk menjemput Ayesha di mall dalam satu jam.
"Nona, kita baru membeli satu baju. Anda yakin ini sudah cukup?" Tanya pelayan berbaju hitam itu.
"Iya, Mbak. Nggak apa-apa, satu pun cukup." Jawab Ayesha.
Ayesha sangat bingung belanja di sana. Barang-barang yang mahal membuat dompetnya terasa menangis.
Rasanya butuh 3-4 bulan bekerja dengan bibinya hanya untuk membeli selembar pakaian di mall ternama itu.
"Nona, anda duduk di sini dulu ya. Saya akan beli minum, saya akan segera kembali." Kata pelayan itu dengan sopan.
Ayesha duduk di sofa kecil yang ada di mall. "Baiklah, Mbak. Aku tunggu disini ya," balas Ayesha.
Pelayan itu pun lekas pergi meninggalkan Ayesha untuk membeli minum.
Ayesha duduk seorang diri sambil mengusap perut, sesekali akan menutup mulut dan hidungnya. Ayesha sedikit mual mencium berbagai perfume orang-orang yang berlalu lalang di depannya.
Ketika Ayesha duduk sendiri, seorang wanita datang dan langsung duduk di sebelah gadis itu.
Si wanita berbaju merah menatap Ayesha dengan tajam dan penuh rasa tidak suka. Hal itu tentu karena Ayesha dianggap tidak pantas untuk menjadi menantunya.
"Kau, Ayesha kan." Ucap Melisa dengan nada yang terdengar tidak bersahabat.
Ayesha menoleh, ia melempar senyuman manis dengan ekspresi bingung yang mendominasi.
"Maaf, tapi anda siapa?" Tanya Ayesha bingung.
Melisa tidak menjawab, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Ayesha.
"Ini adalah cek kosong yang sudah saya tandatangani, kau bebas mengisi nominal berapapun asal kau meninggalkan putraku." Ucap Melissa dengan sedikit ketus.
"Saya tahu, gadis miskin sepertimu pasti hanya mengincar uang, jadi lebih baik kau langsung tulis nominal yang kau inginkan dan pergi dari kehidupan Aksa." Tambah Melisa semakin meninggikan nada bicaranya.
Ayesha terkejut, bukan hanya terkejut mendengar tuduhan wanita di hadapannya, tapi juga terkejut karena wanita ini adalah ibu Aksara.
"Nyonya, maaf. Apa yang anda katakan barusan tidak benar, saya tidak mengincar uang atau apapun." Ucap Ayesha dengan lembut.
"Halah! Tidak usah bersandiwara di depan saya, terima saja cek ini dan pergi dari hidup Aksara." Sahut Melisa dengan nada semakin tinggi.
Ayesha mengatur nafasnya, ia tidak mungkin ikut terpancing emosi hanya karena ucapan wanita dihadapannya ini.
"Nyonya, saya benar-benar tidak mengincar uang. Saya bersedia menikah dengan tuan Aksa karena bayi dalam kandungan saya butuh ayah." Ucap Ayesha masih pelan dan lembut.
"Hanya itu, Nyonya." Tambah Ayesha.
Melisa hendak berucap, namun ia dikejutkan dengan kedatangan Aksa yang langsung menarik tangan Ayesha untuk berdiri.
Aksara menarik tangan calon istrinya, lalu membawanya untuk berdiri di belakangnya. Setelah itu, Aksa menatap sang mama dengan tajam.
"Aksa, mama sedang bicara." Ucap Melisa.
"Mama bukan bicara, tapi berusaha untuk membuat Ayesha pergi dan membawa anakku." Sahut Aksara.
"Aku sudah pernah mengatakannya kan, mama tidak perlu ikut campur dalam hidupku." Tambah Aksa dengan nada bicara yang begitu dingin.
Melisa terkejut. "Aksa, mama ini ibu kamu. Mana mungkin mama tidak ikut campur dalam hidup kamu, mama mau yang terbaik untuk kamu." Timpal Melisa.
Aksa menepis tangan sang mama yang hendak memegang tangannya.
"Apapun itu, aku minta berhenti mengganggu Ayesha. Awas saja jika mama berniat untuk melukai dirinya atau bayi dalam kandungannya." Tegas Aksa lalu menarik Ayesha untuk pergi dari sana.
Ayesha terlihat kebingungan, ia berusaha untuk bicara namun melihat raut wajah Aksa yang mengeras dan marah membuatnya mengurungkan niatnya.
Ayesha seketika teringat kejadian waktu itu, ketika Aksara merancau dan menyalahkan diri sendiri tentang kematian ibu kandungnya.
"Apa wanita tadi bukan ibu kandung tuan." Batin Ayesha bertanya-tanya.
Aksara menarik Ayesha sampai ke parkiran, ia membuka pintu lalu sedikit mendorong gadis itu untuk masuk dan duduk di kursi.
"Jangan bicara apapun." Ketus Aksa ketika melihat bibir Ayesha bergerak dan siap melontarkan sesuatu.
Aksa membanting pintu, lalu ia lekas menyusul masuk. Aksara langsung mengendarai mobilnya pergi meninggalkan area mall.
"Tuan, mbak yang tadi datang bersama saya. Dia ketinggalan," ucap Ayesha.
"Aku bilang diam." Sahut Aksa tanpa menatap Ayesha.
Ayesha langsung memegangi mulutnya sendiri, ia tidak berani bicara apapun lagi jika Aksa sudah memintanya diam seperti ini.
Selama perjalanan itu tidak ada obrolan sama sekali, hanya suara-suara khas jalanan yang terdengar dari dalam mobil.
Ayesha benar-benar tutup mulut, bukan hanya takut tapi juga mengerti suasana hati pria itu yang sedang kacau.
"Mulai hari ini kau tinggal bersama Oma, dan aku yang akan tinggal di apartemen." Ucap Aksara.
Ayesha menoleh. "Tapi kenapa, Tuan?" Tanya Ayesha.
Aksa menoleh. "Aku bilang jangan bicara!" Tegur Aksa.
Ayesha langsung menutup mulutnya, ia menundukkan kepalanya dan menatap ek arah jendela.
"Xyan akan membawakan barang-barangmu nanti, dan kau tidak boleh keluar sendirian." Ucap Aksara lagi.
Ayesha hanya diam saja, ingin menyahut tapi takut Aksara akan memarahinya lagi.
"Kau mendengarku?" Tanya Aksara menoleh sebentar.
Ayesha hanya diam, membuat Aksa berdecak kesal.
"Jika ditanya itu di jawab, Ayesha." Ucap Aksa memijat pelipisnya sebentar.
"Tapi anda bilang saya tidak boleh bicara." Sahut Ayesha.
"Diam!"
BIASA MOOD BAPAK HAMIL EMANG BEGITU 😕
Bersambung.........................