Aku terpaksa meninggalkan kehidupan di kerajaan & tinggal bersama bibiku di sebuah desa terpencil, menanggalkan gelar & bahkan namaku. Kejutannya tidak berakhir sampai di sana, ternyata aku memiliki kekuatan sihir yang terpendam. Dan saat aku membiasakan diri dengan kehidupan baruku, aku melihat peristiwa mengejutkan yang membuatku bertanya-tanya, mungkinkah gadis yang datang dari Panti asuhan yang di kelola para penyihir & diakui sebagai putri yang asli juga putri palsu sepertiku. Jadi siapakah putri yang asli ?! Ayo baca biar g penasaran🙏🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alma Kadier Carally, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Bibi Vania mendengus. “ Dia sudah melihat semua yang bisa dilihat di desa ini, Jose.”
Jantungku, yang sejak tadi melonjak-lonjak di dalam dada, tiba-tiba terjatuh ke dalam perut. Aku terlalu bersemangat pada kemungkinan, akhirnya punya teman di Treb hingga tidak menyadari betapa besarnya pengharapanku sampai hal itu terancam hilang.
Bibi Vania menatapku & Jose bergantian. Aku tahu mataku pasti sarat ekspresi memohon, & rasa penuh penderitaan akibat mendamba pasti terlihat di setiap sudut tubuhku, karena bibiku mendesah & kemudian berkata,
“ Baiklah. Tapi jangan terlalu jauh. Aku tidak mau dibicarakan orang-orang.”
“ Tentu saja tidak,” Jose berkata sambil tersenyum. Kemudian dia merentangkan sebelah lengan, menunjuk langit yang mulai temaram. “ Nyonya Muller.” Udara masih nyaman, pepohonan & rumah-rumah menghasilkan bayangan panjang di jalan, membuat semua terlihat lembut & temaram.
Di ujung jalan aku bisa melihat Ardi, sang pandai besi berdiri di depan tokonya dengan pipa di mulut, tapi selain itu kami sendirian. Kami baru bicara setelah terhalang dua rumah dari rumah bibiku. Kemudian, tiba-tiba Jose mengembuskan napas.
“ Sejak dulu aku tahu bibimu sulit ditaklukkan, tapi apa dia selalu setegas ini padamu?”
Kehangatan meresapi diriku, bagaikan air yangmeresap melalui celah-celah kecil di sebuah dinding batu, mengisiku dengan sesuatu yang terasa seperti harapan. Meskipun begitu, aku berusaha menjaga wajahku tetap tenang saat berkata,
“ Dia sangat…. yah, kurasa tegas adalah kata yang tepat.” Beberapa langkah kemudian, aku berguman, “ Dia tidak terlalu menyukaiku.”
Jose berhenti sangat tiba-tiba hingga aku tersandung padahal tidak ada apa-apa di depanku. Jose mengulurkan lengan, & menangkap pundakku. Sejenak kami berdiri dalam posisi itu, tangannya menahan tubuhku, & aku merasa ada sesuatu yang naik turun di tulang punggungku. Hentikan, batinku. Dia hanya bersikap sopan.
“ Hati-hati,” Jose berkata sambil tertawa pelan.
“ Tahu tidak, aku mulai beranggapan kau membahayakan dirimu sendiri.”
Perasaan melayang itu, getaran kecil di tulangku menghilang. Aku tahu ekspresi wajahku pasti berubah, karena senyum malas Jose sudah digantikan kerutan cemas, & kedua tangannya langsung berada di samping tubuhnya lagi.
“ Terima kasih,” aku berkata kaku.
Jose menggelengkan kepala. “ Tak masalah. Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?”
Aku menggigit bagian dalam pipiku, tidak yakin harus berkata apa. Bagaimana mungkin Jose tahu kalau Devan selalu meledekku dengan kalimat yang persis sama? Bagaimana aku menjelaskan bagaimana wajah Devan seakan-akan menggantikan wajah Jose, & sesaat tadi aku merindukan temanku itu sehingga perutku sakit? Atau, karena berbagai alasan yang tidak kupahami, aku merasa bersalah atas kehangatan yang kurasakan saat Jose menyentuhku?
Tetapi aku & Devan tidak menjalin hubungan seperti itu, batinku.Kami hanya teman, meskipun kami sudah berteman sangat lama hingga tidak ingat kapan kami tidak berteman. Meskipun kami sangat dekat hingga kadang-kadang menyelesaikan kalimat satu sama lain atau melontarkan sebuah lelucon tepat sebelum yang lain melakukannya. Meskipun, setiap kali aku membayangkan hidup tanpanya, rasanya seperti melangkah ke dalam kegelapan tanpa lentera & tidak ada kesempatan untuk mememukannya lagi.
Simpul erat di hatiku mengencang lagi, & aku kemudian sadar bahwa Jose sedang menatapku.
“ Maafkan aku,” ujar Jose, matanya terbelalak.
“ Kita tak perlu membicarakannya kalau kau tak mau. Aku hanya… terkejut.” Sebuah senyum ragu.
“ Bagiku kau terlihat sangat mudah disukai.”
Mati-matian aku berusaha menyingkirkan pikiran mengenai Devan. Semua itu tidak ada gunanya untukku di tempat ini, & aku tidak ingin membuat calon temanku ini ketakutan, calon teman pertamaku di Treb menjauh. Aku ingin bahagia, aku ingin berteman dengan Jose bahkan jika itu bisa membunuhku.
Bersambung