Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 Peti di Gudang Selatan
Anindya mendengar kabar Sinta dari Wulan, tetapi ia tidak langsung bicara.
Tubuhnya masih lemah. Wajahnya pucat, bibirnya belum benar-benar kembali berwarna. Namun matanya tetap jernih saat Arjuna masuk menjelang fajar.
"Sinta sudah pulang ke ibunya?" tanyanya pelan.
Arjuna berhenti di sisi ranjang. Ia tahu Wulan memilih kata yang ia berikan.
"Ya."
"Itu berarti ia tidak akan kembali."
Arjuna duduk di kursi dekat dipan. "Tidak."
Anindya menutup mata sebentar. Sinta pernah menyakitinya, merendahkannya, bahkan mungkin ikut membuat Puspa jatuh. Namun kematian tetap kematian. Seorang ibu tetap kehilangan anak.
"Apakah ini karena Puri Timur?" tanyanya.
"Ini karena Baskara membuang orang yang tidak lagi berguna."
Nama itu keluar tanpa gelar. Anindya membuka mata.
Arjuna tidak menarik kata-katanya. "Kau belum perlu memikirkan itu sekarang."
"Yang Mulia mengatakan hal itu setiap kali ada sesuatu yang justru perlu hamba pikirkan."
Untuk pertama kalinya sejak semalam, sudut bibir Arjuna bergerak sedikit. "Kau sedang sakit dan masih ingin berdebat?"
"Hamba sedang sakit, bukan kehilangan akal."
Kalimat itu membuat kehangatan singkat muncul di antara mereka. Namun di luar pintu, langkah cepat Adi menghapusnya.
"Yang Mulia," kata Adi setelah diizinkan masuk, "orang Garuda mengirim tanda. Kertanegara memindahkan peti malam ini. Mereka memakai kereta pembawa jenazah palsu agar penjaga tidak memeriksa."
Anindya langsung menatap Arjuna.
Arjuna berdiri. "Istirahat."
"Itu perintah?"
"Permintaan."
Ia mengambil kain tipis dan menutup bahu Anindya yang tadi terbuka sedikit. Gerakan itu cepat, tetapi hati-hati.
"Aku akan kembali sebelum jamu keduamu."
Anindya ingin bertanya lebih banyak, tetapi ia melihat sesuatu di wajahnya. Bukan tergesa, melainkan arah yang sudah jelas. Maka ia hanya berkata, "Jangan biarkan mereka membakar buku asli."
Arjuna menatapnya.
"Aku tidak akan membiarkannya."
***
Kereta pembawa jenazah palsu keluar dari gudang selatan Kertanegara saat kabut pagi belum hilang.
Empat orang berpakaian hitam berjalan di sampingnya. Di depan, seorang pria membawa dupa dan membaca doa pendek dengan suara yang sengaja dibuat sedih. Dari jauh, siapa pun akan mengira ada keluarga miskin yang membawa jenazah keluar sebelum matahari tinggi.
Garuda mengawasi dari atap rumah kosong.
"Mereka pintar," bisik salah satu anak buahnya.
"Mereka panik," jawab Garuda.
Orang yang pintar tidak akan memakai sandiwara terlalu tebal.
Di ujung jalan, kereta itu berbelok bukan ke arah pemakaman, melainkan ke gang sempit menuju gudang kecil milik saudagar kain. Di sana, Darmawan sudah menunggu sebagai penjual arang yang mendorong gerobak reyot.
Ia sengaja menabrakkan gerobaknya ke roda kereta.
"Aduh, maaf! Mata tua ini tidak berguna!" serunya keras.
Para pengawal kereta langsung marah. Salah satu mengangkat tangan hendak memukulnya. Saat itulah dua anggota Pasukan Garuda muncul dari sisi kiri dan kanan.
Pertarungan berlangsung pendek.
Tidak ada teriakan panjang. Tidak ada darah berlebihan. Satu orang dipiting sampai pingsan, satu dijatuhkan ke tanah, dua lainnya menyerah setelah melihat Garuda turun dari atap dengan keris terhunus.
Arjuna tiba beberapa saat kemudian bersama Harsa.
Raden Harsa mengenakan pakaian Pengadilan Kerajaan, bukan lagi pakaian kunjungan keluarga. Di tangannya ada gulungan aturan penyitaan yang semalam ia bawa.
"Atas dasar penggunaan segel kerajaan palsu dan pengangkutan barang tanpa catatan resmi," kata Harsa dengan suara jelas, "kereta ini disita sementara oleh Pengadilan Kerajaan dengan saksi Pangeran Mahkota."
Salah satu pengawal kereta pucat. "Ini jenazah."
Harsa menatapnya datar. "Kalau begitu, keluarganya akan berterima kasih karena kami memastikan kehormatannya."
Garuda membuka penutup kereta.
Tidak ada jenazah.
Yang ada peti panjang berlapis kain putih, beberapa kantong rempah gelap, dan dua gulung kain upacara dengan benang Badan Upacara. Di bagian bawah peti, ada lapisan kayu kedua.
Darmawan bersiul pelan. "Mereka benar-benar suka menyembunyikan barang di bawah barang."
Arjuna menatap peti itu. "Buka dasar palsunya."
Salah satu anggota Garuda memukul paku kecil di sudut. Kayu kedua terangkat. Di bawahnya, terbungkus kain minyak, ada buku besar setebal telapak tangan.
Harsa langsung maju, tetapi Arjuna mengangkat tangan. "Jangan disentuh sebelum saksi melihat."
Ia memanggil dua buruh gudang yang sudah diamankan Darmawan. Mereka gemetar, tetapi mengenali peti itu.
"Itu peti gudang selatan," kata salah satunya. "Biasanya dibawa malam hari."
"Siapa yang menyegel?"
"Orang Adipati Kertanegara."
"Siapa yang memerintah?"
Buruh itu ragu. Garuda menatapnya, dan keraguan itu patah.
"Pengurus gudang berkata perintah datang dari rumah utama. Kadang ada orang Kementerian Perang yang memeriksa."
Harsa mencatat setiap kata.
Arjuna membuka buku besar dengan ujung kain, tidak menyentuh langsung. Halaman pertama berisi angka. Halaman kedua berisi nama sandi. Halaman ketiga membuat Darmawan berhenti bersiul.
K, S, dan beberapa lambang kecil.
Di sisi kanan, ada cap burung hitam Kertanegara. Di bawahnya, tanggal pengiriman dan jumlah yang terlalu besar untuk disebut sumbangan upacara.
Harsa segera membuka kotak kecil berisi lilin hukum. "Buku ini harus disegel di sini. Jika dibawa tanpa segel Pengadilan, mereka bisa menuduh Puri Timur menukar isinya."
"Lakukan," kata Arjuna.
Dua buruh gudang diminta menekan ibu jari pada tinta hitam, lalu membubuhkan tanda di lembar kesaksian. Darmawan menjadi saksi pasar. Garuda menjadi saksi penangkapan. Harsa menulis tempat, waktu, dan keadaan peti saat dibuka.
Proses itu memakan waktu, tetapi Arjuna tidak memotongnya. Kemenangan yang dibangun tergesa bisa dibatalkan oleh satu celah hukum. Ia tidak akan memberi Kertanegara pintu keluar semudah itu.
"Salinan pertama untuk Pengadilan," kata Harsa. "Salinan kedua?"
"Untuk Putri Mahkota," jawab Arjuna.
Darmawan mengangkat alis, tetapi tidak berkomentar.
Arjuna tahu beberapa orang akan menganggap itu keputusan aneh. Namun Anindya sudah melihat pola yang dilewatkan para pejabat: biaya pengawalan, tanggal pertunjukan kosong, dan nama yang disembunyikan dalam singkatan. Bila buku besar ini menyimpan lapisan lain, mata Anindya mungkin menemukannya lebih cepat daripada mata orang yang hanya mencari kesalahan resmi di permukaan yang licin sekali.
"Ini cukup untuk menjatuhkan mereka?" tanya Garuda.
"Belum untuk semuanya," jawab Arjuna. "Tapi cukup untuk membuat mereka berlari."
Ia menutup buku itu.
Sebelum mereka sempat membawa peti pergi, seorang anak kecil berlari dari ujung gang. Ia tampak seperti pengantar makanan, tetapi berhenti tepat di depan Darmawan dan menjatuhkan daun pisang kecil.
Darmawan mengambilnya. Di dalamnya ada pesan singkat dari Pasar Sentosa.
Wajahnya berubah serius.
"Yang Mulia, rumah utama Kertanegara sudah tahu peti ini hilang. Mereka mengirim orang ke gudang lain."
Arjuna menatap gang yang mulai ramai.
"Ke mana?"
Darmawan menyerahkan pesan itu.
Di atas daun pisang, hanya ada satu kalimat.
Mereka akan membakar gudang barat sebelum matahari tenggelam.