Stella Medison seorang putri angkat dari keluarga konglomerat. Dimalam pernikahan kakaknya, Stella dijebak hingga tidur bersama Xander Oliver, calon suami kakak angkatnya sendiri.
Stella dibuang keluarganya dan dipaksa menikah dengan Xander untuk balas dendam.
"Bencilah aku sekuat dan sepuas yang kamu mau, aku akan menerima setiap luka yang kau berikan" ~ Stella Medison.
"Aku tidak akan berhenti membencimu sebelum air matamu habis" ~ Xander Oliver.
Akahkah Stella kuat menghadapai segala siksaan batin dam fisik dalam rumah tangganya? Sedangkan dia juga mempunyai penyakit yang mematikan?
Simak ceritanya hanya di novel ini ya...
JANGAN LUPA TEKAN TOMBOL LIKE, KOMEN, FAV DAN VOTENYA KARENA ITU SANGAT BERHARGA BAGI AUTHOR.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir Kepergok.
"Harus makan dulu, ini sudah kelewat jam makan siang, nanti kamu malah sakit lagi," Daniel memesankan makanan yang cukup banyak untuk Stella meski wanita itu menolak. Setelah ia perhatikan, ia merasa Stella cukup kurus dari saat pertemuan mereka pertama kali.
"Iya, tapi nggak sebanyak ini juga Kak." Stella menggelengkan kepalanya melihat banyaknya makanan yang di pesan Daniel. Selain ia tak berselera makan, ia juga ingin secepatnya pulang karena merasa sudah terlalu lama di luar.
"Harus habis, kata Mama kalau kita makan nggak habis itu, ayam kita akan mati," kata Daniel asal saja.
"Apa hubungannya? Ada-ada aja Kakak ini," tukas Stella merasa hal itu sangat tidak masuk akal.
Mereka berdua makan siang dalam diam, hanya dentingan suara sendok dan garpu yang bersahutan, juga alunan musik yang di putar di restoran itu yang menemani. Namun keheningan itu sedikit terusik saat Stella mendengar suara yang cukup familiar.
Stella langsung memutar kepalanya melihat siapa orang yang datang, terlihat seorang pria dan wanita muda, ia tak bisa melihat jelas wajahnya karena lokasinya cukup jauh. Tapi dari siluetnya, Stella merasa sangat mengenalnya.
"Joana …" ucapnya merasa wanita itu sangat mirip sekali dengan Kakak angkatnya. Tapi untuk apa dia disana?
"Kau mengatakan sesuatu?" tanya Daniel yang mendengar Stella berbicara.
"Ha? Sebentar Kak, aku harus memastikan sesuatu," kata Stella memilih bangkit dari duduknya, ia sangat yakin kalau wanita itu adalah Joana, dan siapa pria yang bersama Joana tadi.
Stella tahu jelas kalau pria tadi bukanlah Xander, tapi siapa? Kenapa bisa bersama Joana? Selain itu insting Stella mengatakan kalau mereka berdua sepertinya ada sesuatu karena terlihat sangat intim saat berjalan. Kalau hanya sekedar teman, tak mungkin sampai merangkul pinggang. Apa mungkin …
"Akh! Panas! Panas!" Stella berteriak keras saat tak sengaja seorang pelayan yang membawa kopi panas menabrak dirinya hingga tumpah mengenai perutnya.
Semua orang pun begitu terkejut mendengar suara teriakan Stella. Apalagi Daniel yang langsung berlari menghampiri Stella.
"Stella …" ucap Daniel melihat baju Stella yang basah di bagian perut.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja," ucap pelayan sangat panik dan ketakutan.
"Minta maaf kau bilang? Apa kau tidak punya mata? Kau mencelakainya!" bentak Daniel sangat emosi karena melihat Stella yang kepanasan.
"Kak, sudah Kak, aku nggak apa-apa," Stella mencoba menenangkan Daniel seraya menahan rasa panas di perutnya, sepertinya saat ini perutnya sudah memerah karena kopi itu sangat panas.
"Tidak apa-apa bagaimana? Pegawai seperti dia harus dipecat, mana Manajer disini? dia harus memecat pegawai yang tidak becus ini!" Daniel tak bisa mentolerir kesalahan yang dibuat pelayan itu.
"Mohon maaf Tuan, ada apa ini?" seorang pria dengan pakaian jas lengkap menghampiri kerumunan itu, ia merupakan Manajer yang bertugas di restoran itu.
"Anak buahmu ini tidak becus bekerja, karena kecerobohannya, dia sudah menumpahkan kopi ke perut wanitaku!" ucap Daniel berapi-api, tak berpikir lagi apa yang sudah keluar dari mulutnya saat itu.
Stella menghela nafasnya, ia menatap pelayan yang sangat ketakutan itu. Ia lalu menarik tangan Daniel dengan keras agar pria itu menatapnya.
"Tidak perlu berlebihan Kak, aku sudah tidak apa-apa. Pak Manager, pelayan ini tidak bersalah, dia juga pasti tidak sengaja melakukan ini, jangan pecat dia," ucap Stella tak ingin membuat orang kehilangan pekerjaan hanya karena masalah sepele seperti ini. Lagipula dia juga tadi tidak melihat saat berjalan.
"Stella, apa …"
"Kak! Sudah! Aku mau pulang sekarang!" Stella berucap sangat tegas dengan sorot mata seriusnya membuat Daniel bungkam seketika.
Ia masih tak terima, tapi dia bisa apa, Stella sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah. Padahal jelas kalau pelayan itu bersalah, entah terbuat dari apa hati Stella itu, kenapa bisa dengan mudah memaafkan seseorang.
"Nona, sekali lagi saya minta maaf karena sudah membuat Anda terluka. Maafkan saya Nona," ucap pelayan itu ingin bersujud kepada Stella.
"Tidak apa-apa, aku sudah tidak apa-apa, lain kali lebih berhati-hati ya," ucap Stella menahan lengan pelayan itu.
Setelah semua masalah selesai, Stella dan Daniel segera pergi dari restoran itu. Mereka masih harus melakukan perjalanan lagi menuju kota Jakarta. Saat mobil mereka pergi, Joana segera keluar dari tempat persembunyiannya.
Ya benar, wanita yang dilihat Stella tadi memang Joana. Ia sedang melakukan pemotretan sekaligus berjalan-jalan dengan Marvin kekasihnya.
"Ah … untung saja tadi kamu lihat Stella lebih dulu Sayang, kalau tidak, kita pasti udah ketahuan," ucap Joana menghela nafas lega karena Stella tak jadi memergokinya bersama Marvin.
"Ya, tapi sepertinya dia masih curiga tadi," kata Marvin.
"Biarkan saja, memangnya dia bisa apa? Mau mengadukan kepada Xander?" ucap Joana santai saja.
"Bisa saja 'kan? Dia tadi juga sempat melihatmu" kata Marvin ragu.
"Hahaha, kau itu sangat lucu Sayang, bukankah kau tau kalau Xander lebih memihak ku? Aku yakin pria bodoh itu akan lebih percaya padaku daripada Stella," kata Joana tertawa penuh kepuasaan, merasa tak ada gunanya kalau Stella akan mengadukan dirinya.
"Oh satu lagi, apa kau juga lupa Sayang, kalau aku sudah mempunyai kartu yang akan membuat Stella hancur?" sambung Joana menunjukan sebuah foto Stella bersama Daniel yang sempat ia ambil diam-diam tadi. "Dengan aku menunjukan kepada Xander, kau pasti tahu bukan apa yang akan terjadi?" ucap Joana lagi tersenyum licik.
Marvin melirik Joana dalam diam, wanita yang bersamanya ini adalah wanita yang berbahaya. Ia bisa saja berubah menjadi sangat jahat, secara bersamaan juga bisa menjadi baik. Marvin harus lebih berhati-hati mulai saat ini.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Joana mengerutkan dahinya saat melihat tatapan yang tak biasa dari Marvin.
"Tidak, aku hanya tidak menyangka kalau kekasihku sangat cerdik, aku jadi semakin mencintaimu," kata Marvin mengambil tangan Joana lalu menciumnya.
"Well? Jadi kapan kau akan menikahi ku?" ucap Joana menagih janji Marvin yang akan menikahinya.
"Sabar dong Sayang, aku kan sudah bilang kalau aku akan menikahi mu kalau misi yang aku lakukan sudah selesai," kata Marvin mencubit gemas pipi Joana, merayu wanita itu agar melupakan janji hanya sebenarnya ia sendiri tidak yakin akan menepatinya.
"Memangnya penting banget ya misi itu? Lebih penting dari aku?" kata Joana merajuk dengan wajah cemberutnya yang imut.
"Kalian berdua sama-sama penting, ini juga untuk kelangsungan kehidupan masa depan kita, Sayang" kata Marvin lagi dengan senyum mautnya yang membuat Joana tak lagi bisa berkata-kata.
Wanita seperti Joana itu sangat mudah ditaklukkan, hanya dengan sedikit perhatian dan sentuhan, maka ia pasti akan mendapatkannya.
Happy Reading.
Tbc.