"Aku menikah dengan pria yang belum pernah aku kenal sama sekali. Meskipun begitu, aku berusaha mencoba untuk menerimanya sebagai suamiku."
Almaira Syafira—seorang dokter cantik yang taat pada agama, di sandingkan dengan seorang laki-laki yang tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.
***
Karena sebuah kejadian naas yang menimpa Alvian dan ibunya, membuat seorang Alvian Alvaro harus menikahi wanita yang sama sekali bukan tipe-nya.
"Aku tidak akan pernah mencintaimu sampai kapanpun itu!" ucap Alvian dengan penuh penegasan.
Sakit pasti, itulah yang dirasakan Almaira sekarang.
Baca kelanjutannya di sebuah novel karya aku yang berjudul, "Menikahi Wanita Muslimah" ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Kenapa Tidak Dari dulu
Alvian telah keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan pakaian rapinya, dengan berjalan mendekati tempat tidur.
Di atas tempat tidur itu sudah terlihat Almaira yang tengah tertidur dengan nyaman di atasnya. Alvian mulai beranjak menghampirinya dan mencoba mendekati wajah Almaira sambil mencium keningnya. Tanpa malu sedikit pun, Alvian mengelus kepala Almaira dengan sangat lembut.
"Aku rasa egoku terlalu tinggi sehingga aku tidak pernah melihat, bertapa lembut dan tulusnya dirimu menerimaku meskipun kamu sudah tahu sikap aku yang sering kali mengabaikanmu," gumam Alvian di saat Almaira tidur nyenyak.
"Aku juga telah menyesal! Kenapa tidak dari dulu saja aku menerimamu sebagai istriku. Wanita istimewa yang pernah aku temui dari sekian rebu wanita di dunia ini."
***
FLASHBACK
Kejadian itu bermula di saat Alvian berusaha menyakinkan diri atas kesembuhan ibunya, dan ternyata usahanya sangatlah sia-sia.
Almaira dengan tiba-tiba ke luar dari ruang operasi ibunya dengan memberikan kabar yang cukup membuatnya sangat terpuruk.
Di situlah keadaan Alvian menjadi sangat terguncang. Ibu yang sangat Alvian sanyangi dengan tiba-tiba meninggalkan dirinya dengan begitu cepat. Bukannya tidak menerima takdir, tapi Alvian tidak mampu dan tidak berdaya di saat ibunya telah dinyatakan tiada di dunia ini.
Pikirannya sangatlah kacau dikala itu sehingga istrinya saja, ia abaikan dan kewajibannya pun, Alvian sudah tinggalkan.
Akibat dari pikirannya yang sedang tidak baik, Alvian sudah beranggapan bahwa Almairalah yang menjadi penyebab ibunya meninggal sebab pada saat itu, Ibu Hilma masih mempunyai kesempatan untuk bisa sembuh. Namun, semua itu telah terhalang ketika Ibu Hilma dengan tiba-tiba menjadi drop, dalam seketika ibunya harus meninggalkannya.
Di tambah yang menangani ibunya bukanlah siapa-siapa, dia istrinya—Almaira. Maka dari itu, Alvian ditambah terpuruk dan terus menyalahkan istrinya dibandingkan membahagiakannya.
Setiap pulang dari kantor, Alvian sengaja lembur dan pulang sangat malam sehingga tidak ada waktu bersama dengan istrinya. Namun, dengan perlahan hatinya mulai luluh dengan semua perhatian, kesabaran, dan kelembutan yang Almaira berikan kepadanya.
Tidak pernah sedikit pun Almaira berbicara kasar kepadanya meskipun Alvian sering kali mengabaikannya, tapi Almaira sangatlah sabar dengan terus tersenyum, meski hatinya sangat terluka.
Istri mana yang tidak terluka ketika suaminya tidak pernah memperdulikannya? Apalagi sampai mengabaikannya, rasanya dirinya bukan lagi seorang istri, melainkan musuh yang sering kali dihindari.
Alvian mulai sadar, Almaira adalah pilihan terbaik yang ibunya titipkan kepadanya. Istri yang sempurna dengan segudang prestasi dan keistimewaan yang sangat luar biasa.
Tidak ada lagi celah yang perlu Alvian hiraukan, sudah pasti Almaira tidaklah bersalah hanya dirinyalah yang telah salah menilainya.
***
Alvian perlahan mencium kembali kening Almaira serta seluruh wajahnya yang sangatlah cantik.
"Aku belum bisa menjadi imam yang baik untukmu, tapi aku akan berusaha memperbaiki sikapku dari mulai sekarang. Berusaha untuk tidak akan pernah mengabaikanmu kembali!"
Perlahan Alvian menyelimuti seluruh tubuh istrinya sambil merebahkan dirinya di samping Almaira, tampa malu lagi Alvian memeluk tubuh Almaira masuk ke dalam pelukannya sambil memejamkan kedua matanya.
Akhirnya Almaira bisa tertidur nyaman di dalam dekapan suaminya, dan Alvian juga mulai luluh kepada Almaira. Sikapnya mulai lebih baik kepada Almaira, dengan mencoba menerima kehadiran Almaira sebagai istrinya, di dalam kehidupan rumah tangga yang tidak seindah cerita novel.
Smoga mereka bahagia selalu dan cepat dapat momongan biar tambah lengkap kebahagiaan mereka.
Atau ndak ngembaliinnya sekalian ngelamar..... maunya sih!