NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033: Bukan Dikurung

Hendry tidak langsung menyalakan mobil.

Dia menatap Kevin dari kaca spion. "Pak Kevin, jangan hapus pesannya."

"Aku tahu."

"Saya perlu screenshot, nomor pengirim, waktu masuk, dan file asli. Kalau nanti kita butuh jalur hukum atau minimal somasi, bukti harus rapi."

Meilin menggenggam ponselnya. "Kirim ke email perusahaan?"

Kevin menoleh padanya.

Meilin menahan gemetar di jarinya. "Kalau bukti cuma di ponselku, terlalu mudah hilang."

Untuk sesaat, mata Kevin melembut.

"Kirim ke email kita dan folder evidence," katanya.

Hendry mengangguk. "Saya buat folder terpisah. Akses hanya kita bertiga."

Di sepanjang jalan menuju Kemang, tidak ada yang banyak bicara. Jakarta bergerak seperti biasa di luar kaca mobil, ojek online, panas, lampu merah, pedagang minuman di trotoar. Semuanya terlihat normal, dan justru itu membuat Meilin ingin marah. Hidupnya baru saja dibuka orang asing seperti file kantor, tapi dunia tetap berjalan tanpa merasa perlu berhenti.

Begitu tiba di apartemen, Kevin memeriksa pintu, balkon, jendela, lalu laci tempat mereka menyimpan dokumen. Dia bergerak terlalu cepat. Sepatunya bahkan belum dilepas sempurna.

"Ko."

"Sebentar."

"Ko."

Kevin berhenti.

Meilin berdiri di tengah ruang kecil mereka, masih memegang map. "Aku mau aman. Aku tidak mau dikurung."

Kalimat itu membuat tubuh Kevin menegang.

"Aku tidak mengurungmu."

"Belum. Tapi kamu sedang menuju ke sana."

Hendry yang masih di dekat pintu pura-pura sibuk menatap ponsel. Pilihan yang bijak.

Kevin menatap Meilin. Napasnya pendek, hampir tidak terlihat kalau orang tidak mengenalnya.

"Mereka punya alamatmu."

"Aku tahu."

"Mereka punya catatan IGD."

"Aku tahu."

"Mereka bisa mendekati orang-orang di sekitarmu."

"Aku tahu, Ko. Karena itu kita buat aturan. Bukan penjara."

Kevin diam.

Meilin meletakkan map di meja. "Aku akan share live location kalau pergi sendiri. Aku tidak akan naik mobil yang tidak jelas. Kalau ada nomor asing, aku screenshot. Kalau ada yang mengaku dari rumah sakit, galeri, atau notaris, aku cek ke kontak resmi. Tapi aku tetap perlu pergi ke galeri, meeting, dan hidup."

Hendry mengangkat mata sedikit, lalu kembali menunduk.

Kevin mengusap wajahnya dengan satu tangan.

"Aku tahu itu masuk akal."

"Tapi tubuhmu belum percaya?"

Kevin tidak menjawab.

Meilin mendekat dan menurunkan suaranya. "Aku tidak akan memaksa tubuhmu langsung tenang. Tapi kamu juga jangan memaksa hidupku mengecil karena mereka jahat."

Kalimat itu tinggal di ruangan beberapa detik.

Akhirnya Kevin mengangguk.

"Baik. Aturan, bukan penjara."

Hendry baru berani bicara setelah itu. "Kalau boleh, saya rangkum."

Mereka duduk mengelilingi meja kecil. Hendry membuat daftar di tablet. Bukti digital disimpan di folder evidence. Password email perusahaan diganti. Two-factor authentication diaktifkan. Akses demo dibatasi per email domain. Dokumen legal diberi nomor versi. Rumah sakit Tangerang dihubungi lewat kanal resmi untuk menanyakan akses catatan medis. Jessica diberi tahu secukupnya karena dia termasuk lingkaran dekat Meilin.

Nama Jessica membuat Meilin langsung menelepon.

Jessica datang satu jam kemudian dengan wajah seperti siap memarahi satu gedung.

"Mei, aku sudah bilang kabari kalau ada apa-apa, bukan kirim pesan singkat 'nanti cerita' lalu membuatku hampir stroke."

"Jess."

"Mana file-nya?"

Meilin memberinya ponsel.

Jessica membaca halaman pertama, lalu wajahnya berubah dari marah menjadi dingin.

"Mereka sampai ambil catatan IGD?"

"Iya."

"Ini bukan cuma gosip keluarga kaya. Ini sudah masuk privasi medis."

Kevin yang duduk di sisi meja berkata, "Kami sedang simpan bukti."

"Bagus. Aku punya kenalan lawyer, nanti aku tanya secara umum. Belum pakai nama kalian dulu." Jessica menatap Meilin. "Dan kamu jangan sok kuat sendirian."

"Aku tidak sendirian."

"Bagus. Pertahankan jawaban itu."

Malam turun di luar jendela. Hendry pulang setelah folder evidence selesai. Jessica tetap tinggal sampai Meilin benar-benar makan malam. Kevin memasak nasi lembek dengan telur dan sayur karena Meilin mulai mual setelah terlalu banyak tegang.

Saat Meilin masuk kamar untuk mengambil charger, baru setengah menit pintu tertutup, suara Kevin memanggil dari ruang depan.

"Meilin?"

Dia berhenti.

"Aku di kamar."

Tidak ada jawaban.

Meilin keluar dengan charger di tangan. Kevin berdiri di dekat meja, sendok masih di tangan, wajahnya terlalu tenang.

Terlalu dibuat-buat.

Jessica melihat dari sofa, lalu perlahan menurunkan gelasnya tanpa komentar.

Meilin berjalan ke Kevin.

"Aku cuma ambil charger."

"Aku tahu."

"Kamu tidak tahu. Kamu takut."

Rahang Kevin bergerak.

"Maaf."

Meilin mengambil sendok dari tangannya, meletakkannya di meja, lalu menggenggam jarinya.

"Tidak apa-apa takut. Tapi panggil aku sekali saja. Jangan berdiri seperti dunia baru runtuh."

Kevin memejamkan mata sebentar.

"Aku akan coba."

Jessica berdeham pelan. "Aku dukung latihan sehat ini. Tapi setelah itu Mei harus makan, karena aku tidak mau dimarahi Mama Zhu dari jauh."

Meilin hampir tertawa. Kevin benar-benar mengambil mangkuk lagi.

Pukul sembilan malam, email dari calon klien masuk.

Hendry meneruskan ke grup kecil mereka.

Demo minggu depan dikonfirmasi. Legal clause akan direvisi bersama.

Meilin baru sempat menarik napas lega ketika pesan kedua dari Hendry masuk.

Hendry: Ada satu email dari domain Halim Group mencoba mendaftar sebagai viewer demo. Saya sudah blokir.

Kevin membaca pesan itu.

Kali ini, dia tidak panik.

Dia hanya berkata pelan, "Mereka ingin masuk lewat pintu mana pun."

Meilin menatap layar.

Dan menyadari pintu berikutnya mungkin tidak akan mereka lihat sampai sudah hampir terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!