Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.
Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.
Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?
Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
💔
💔
💔
💔
💔
Mood Gibran sungguh hancur pagi ini....
Gibran kembali ke kantornya dengan raut wajah yang tidak bersahabat, sudah dipastikan ada sedikit saja kesalahan karyawannya akan terkena semprot oleh Gibran.
Sementara itu....
Gilsya berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Oma Rubby, selama dalam perjalanan Gilsya terlihat murung tidak ceria seperti biasanya.
"Sepertinya aku harus bicara dengan Livia," batin Oma Rubby.
Mobil Oma Rubby pun sampai di depan sekolah bersamaan dengan taksi yang ditumpangi Livia, sesaat Livia dan Gilsya saling pandang hingga akhirnya Gilsya pun berlari masuk ke dalam sekolah tanpa menyapa Livia.
Livia hanya menghembuskan napasnya, hatinya begitu sakit saat melihat Gilsya terlihat murung. Livia menoleh ke arah Oma Rubby dan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Bu Livia, bisakah kita bicara sebentar."
Livia kaget tapi akhirnya Livia pun menganggukan kepalanya, Oma Rubby dan Livia berbicara di dalam mobil Oma Rubby.
"Bu Livia, maaf jika saya sudah lancang ikut campur urusan Bu Livia tapi saya mohon Bu, jangan hindari Gilsya dia sudah sangat sayang kepadamu entah kenapa setiap malam dia selalu mengigau dan menyebut nama Bu Livia. Mungkin karena Gilsya sudah lama tidak mendapatkan kasih sayang dari Maminya sehingga Gilsya merasa nyaman saat Bu Livia memperlakukan Gilsya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan Gilsya mengharapkan Bu Livia menjadi Ibu sambungnya, kalau Bu Livia tidak keberatan maukah Bu Livia menjadi Ibu sambung bagi Gilsya?"
Livia sangat terkejut dengan ucapan Oma Rubby, sungguh Livia tidak ada niat dan berencana untuk menjadi Ibu sambung Gilsya karena pada dasarnya Livia memang suka kepada anak-anak.
"Maaf Oma, dari dulu saya memang suka sama anak-anak jadi saya tidak bermaksud untuk membuat Gilsya menjadi seperti itu."
"Apa Bu Livia tidak mau menjadi Ibu sambung Gilsya?"
Lagi-lagi ucapan Oma Rubby membuat Livia mati kutu dan tidak bisa menjawab. Akhirnya setelah berbincang beberapa saat, Livia pun keluar dari mobil Oma Rubby dan masuk ke dalam sekolah.
Untuk saat ini Livia memang belum kepikiran untuk menikah lagi karena Livia masih fokus menata hatinya.
***
Gibran terlihat melamun di kursi kebesarannya, hari ini dia tidak terlalu sibuk lalu Gibran tersentak karena Gibran ingat sesuatu.
"Astaga, aku sudah lama tidak mengunjungi Panti Asuhan," gumamnya.
Gibran pun bangkit dari duduknya. "Arjun!"
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Hari ini saya mau pergi, dan sepertinya tidak akan kembali lagi ke kantor kamu urus saja semuanya dan kalau sudah waktunya pulang, kamu pulang saja jangan lembur."
"Baik Tuan."
Gibran pun segera pergi, di perjalanan menuju Panti Asuhan Gibran tidak lupa mampir dulu ke mini market untuk membeli makanan untuk anak-anak Panti.
Gibran memang setiap bulan selalu rutin mengunjungi Panti Asuhan karena Gibran pun menjadi salah satu donatur di Panti Asuhan itu. Tapi sudah dua bulan ini Gibran tidak mengunjungi Panti Asuhan karena kesibukannya.
Sesampainya di Panti Asuhan, anak-anak yang memang sudah mengenal Gibran langsung menyerbu Gibran.
"Om Gibran!" teriak anak-anak.
"Hallo semuanya, maaf ya Om baru kesini lagi. Om bawa makanan untuk kalian, kalian ambil ya di dalam mobil tapi jangan berebut Om mau masuk dulu."
Anak-anak tampak antusias, sementara itu Gibran pun masuk ke dalam Panti.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, ya Alloh Nak Gibran."
Gibran langsung meraih tangan Bu Lastri dan mencium punggung tangan Bu Lastri.
"Apakabar Bu, maaf Gibran baru bisa kesini lagi soalnya Gibran sibuk."
"Tidak apa-apa Nak, ayo silakan duduk sebentar ya Ibu ambilkan dulu minuman."
"Ga usah Bu, jangan repot-repot."
"Tidak merepotkan kok, tunggu sebentar."
Bu Lastri pun melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil minuman, sedangkan Gibran terlihat mendudukan tubuhnya di atas sofa.
Gibran melihat-lihat setiap sudut Panti Asuhan itu, hingga akhirnya ada yang menarik perhatiannya. Gibran melihat banyak sekali foto yang tertempel di dinding dan Gibran baru menyadarinya.
Gibran sudah lama menjadi donatur di Panti Asuhan itu, tapi selama datang ke Panti Gibran tidak pernah lama dan hanya memberikan uang untuk Panti tanpa memperhatikan setiap sudut Panti itu.
Gibran pun bangkit dari duduknya dan melihat-lihat foto yang berjejer rapi terpasang di dinding itu. Netranya kembali tertuju kesebuah foto yang terdapat dua wanita yang sangat Gibran kenal.
"Ini Nak Gibran, Ibu buatkan kopi untuk Nak Gibran."
"Ah iya, terima kasih Bu."
Gibran pun duduk kembali dan segera menyesap kopi yang dari tadi sudah menggoda indera penciumannya.
"Oh iya Bu, siapa dua wanita yang ada di foto iti?" tunjuk Gibran.
"Oh, itu Livia dan Monica dulu mereka tinggal disini."
"Maksud Ibu?"
"Dulu Ibu menemukan Livia di depan pintu Panti, malam-malam dalam keadaan hujan juga Livia menangis dan kedinginan. Sungguh orang tuanya sangat kejam membuang bayi cantik itu, hingga akhirnya Ibu mengurus Livia."
Gibran kaget, ternyata Livia adalah anak Panti itu. "Terus kalau Monica? yang saya tahu, Monica itu anaknya Pak Anjas rekan bisnis saya tapi kenapa dia juga ada disini?" tanya Gibran.
"Sebulan berselang, Ibu juga menemukan Monica yang dibuang oleh orang tuanya Livia dan Monica besar disini namun nasib Monica sangat beruntung dibandingkan Livia, ada sepasang suami istri yang mau mengadopsinya dan itu adalah Pak Anjas."
"Jadi Livia dan Monica saling mengenal?" batin Livia.
"Ibu merasa kasihan sama Livia karena nasibnya kurang beruntung, bahkan pernikahannya pun hanya mampu bertahan lima bulan."
"Memangnya kenapa Bu?" Gibran pura-pura tidak tahu.
"Livia itu pacaran dengan Damar sudah lama sudah sejak SMA, Damar terlihat sangat menyayangi Livia membuat Ibu juga awalnya suka kepada Damar. Hingga lulus kuliah, Damar memutuskan untuk menikahi Livia dan Ibu sangat bahagia akhirnya Livia bisa menemukan orang yang menyayanginya dan Ibu merasa tidak khawatir lagi, tapi ternyata dugaan Ibu salah justru Livia kembali terluka dan kehilangan cintanya."
Gibran terdiam mendengar cerita Ibu Lastri, entah kenapa Gibran sangat tertarik dengan cerita mengenai Livia.
"Damar selingkuh dengan Monica dan mereka sampai punya anak."
"Apa? Monica?"
"Iya, ternyata selama ini Monica juga menyukai Damar dan disaat mereka ada kerjasama ke luar kota, entah siapa yang memulai hingga pada akhirnya mereka selingkuh. Padahal selama ini Livia sangat menyayangi Monica, bahkan dulu waktu kecil Livia selalu memberikan mainannya kepada Monica tapi sekarang Monica justru membalasnya dengan perlakuan yang sangat menyakitkan."
Gibran hanya diam, ternyata Livia memang wanita yang sangat baik.
💔
💔
💔
💔
💔
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila