Tania yang sudah memiliki kekasih jatuh cinta pada seorang siswanya di saat dia tengah menjalani masa-masa PPL.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Ghina Fithri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Sandy Sakit
Tania hanya mengangguk menjawab permintaan pria yang pertama kali masuk ke dalam hatinya, walau saat ini wajah Sandy terlintas di benaknya.
Tania berusaha menguatkan hatinya, bahwa Reyhan adalah jodohnya.
Melihat anggukkan dari sang kekasih, Reyhan berdiri lalu memasangkan cincin berlian tersebut di jari manis Tania.
Mama dan papa Tania saling berpandangan, mereka terharu melihat keseriusan Reyhan ingin meminang putri mereka.
Papa Tania merangkul istrinya, " Semoga Tania bahagia bersama Reyhan," ucap papa Tania pada istrinya.
"Aamiin," lirih mama Tania.
Setelah acara pemasangan cincin, semua teman-teman mereka mengucapkan selamat, lalu mereka menikmati hidangan yang telah disediakan Reyhan.
"Selamat, Tan! Bang Rey adalah pria yang baik. Dia pantas menjadi calon suamimu," bisik Nurul pada sahabatnya.
Tania hanya tersenyum.
"Lupakan bocah tengil itu," bisik Nurul lagi memberi nasehat pada sahabatnya.
“Rul, gue jadi bingung,” lirih Tania mulai mengungkapkan isi hatinya saat Reyhan sedang asyik bercengkrama dengan teman-temannya.
“Tan, loe jangan gila, deh! Sandy itu hanya bocah ingusan. Loe lihat Reyhan! Dia sudah mapan dan sangat menyayangi loe. Apakah apa yang dilakukan hari ini tidak berarti buat loe?” Nurul semakin geram dengan sikap sahabatnya.
“Gue bahagia banget dengan apa yang telah dilakukan Reyhan buat gue, tapi bayangan Sandy selalu terlintas di benak gue, Rul!” bantah Tania.
Dia sendiri bingung dengan hatinya saat ini, logikanya hilang seketika karena cintanya yang buta. Kasih sayang dan kelembutan Sandy, perhatian serta apa yang telah diperbuatnya dengan Sandy membuat Tania sulit untuk melupakan bocah yang telah berani mengambil ci**an pertamanya.
Hubungan Tania dengan Reyhan selama ini tidak pernah ada masalah yang sangat fatal di antara mereka, sikap dewasa Reyhan membuat hubungan mereka baik-baik saja. Reyhan sangat menghargai Tania, dia tak pernah melakukan hal-hal di luar batas kepada kekasihnya karena dia sangat menghargai Tania.
“Sayang, kamu ngapain di sini?”tanya Reyhan tiba-tiba membuyarkan lamunan Tania yang duduk sendiri menghadap ke pemandangan laut yang indah.
Tania menoleh ke arah Reyhan yang memanggilnya, acara ulang tahun Tania sudah usai, beberapa teman mereka telah pulang begitu juga dengan keluarga Tania.
Kini tinggallah Tania dan Reyhan beserta para pekerja yang membereskan taman seusai pesta di taman puncak Gunung Padang.
“Mhm, nggak ada aku hanya menikmati sejuknya angin,” jawab Tania.
Reyhan mendekati Tania, dia duduk di samping Tania. Mereka menikmati keindahan pemandangan laut hingga matahari terbenam.
****
Setelah liburan selama tiga hari dikarenakan guru-guru mengadakan acara loka karya, para siswa dan mahasiswa PPL kembali masuk sekolah seperti biasanya.
“Tan, gue ke perpus duluan, ya!” Nurulmeletakkan tasnya lalu keluar dari ruang khusus mahasiswa PPL menuju perpustakaan.
Tania hanya mengangguk, dia mulai memeriksa beberapa tugas yang akan dikumpulkannya pada Pak Lingga selaku guru pamongnya.
Setelah selesai, Tania melangkah menuju ruang guru untukmenemui Pak Lingga.
“Pagi, Pak!” sapa Tania saat bertemu dengan Pak Lingga.
“Eh, Tania!”balas pak Lingga.
“Ini, Pak. Rpp dan semua perangkat pembelajaran yang bapak minta kemarin. Semua sudah saya tulis tangan. Evaluasi belajar juga sudah ada di sini, Pak!” ujar Tania sambil menyerahkan buku folio pada Pak Lingga.
“Bagus!” seru PakLIngga kagum dengan kerjinan Tania.
“Oh iya,Tan. Hari ini kamu dampingi saya masuk kelas, ya!” pinta pak Lingga.
“Baik, Pak!” sahut Tania bersemangat.
Teeeeetthhh (Bel masuk kelas berbunyi)
“Ayo!” ajak Pak Lingga.
Tania mengangguk, dia melangkah mengikuti Pak Lingga menuju kelas XI IPA 1.
“Nanda, tolong bapak ambilkan kursi kosong untuk Buk Tania!” perintah Pak Lingga pada salah satu siswa sebelum dia duduk di kursinya.
Sebelum memulai pembelajaran, Pak Lingga membaca absen. Satu per satu menyahut Pak Lingga saat namanya terpanggil.
“Sandy!” panggilPak Lingga.
“Izin, Pak!” jawab Rio sebagai sahabat Sandy.
‘Izin kenapa?” tany Pak Lingga.
“Ibunya sakit, Pak,” jawab Rio singkat.
Seketika hati Tania merasa kasihan dengan apa yang tengah dihadapi oleh Sandy. Pikirannya mulai tidak fokus dengan pembelajaran yang dilakukan oleh Pak Lingga.
“Pak, saya boleh minta izin?” tanya Tania pada Pak Lingga saat mereka telah keluar dari kelas.
“Izin? Ke mana?” tanya Pak Lingga heran.
“Ada urusan yang harus saya selesaikan, Pak!” ujar Tania memberikan alasan.
“Ya sudah, hari ini biar saya masuk kelas sendiri,’ujar Pak Lingga memberikan izin.
“Terima Kasih, Pak!” ucapp Tania.
Dia pun langsung berlari ke ruangan khusus untuk mahasiswa, lalu mengambil semua peralatannya dan Tania pun langsung meangkah menuju parkir. Dia melajukan scoopy merahnya menuju rumah Sandy.
Pikirannya mulai khawatir dengan kondisi Sandy saat ini. 1 jam perjalanan, Tania sampai di depan rumah Sandy.
“Assalamu’alaikum,” ucap Tania.
“Mak! Mak!” pekik Sandy tak menghiraukan salam Tania dari luar.
Tania langsung masuk ke dalam rumah Sandy saat mendengar suara panik Sandy.
“Sandy,” lirih Tania.
“Tania!” seru Sandy kaget saat mendapati Tania berada di rumahnya.
“Ada apa, San?” tanya Tania.
“Tania, bantuin aku. Kita harus bawa mak ke rumah sakit sekarang juga,” seru Sandy.
Ibu Sandy terlihat semakin lemah, dia mulai tak sadarkan diri.
“Iya!” sahut Tania.
Sandy menggendong tubuh ibunya, “Ayo, Tan!” pekik Sandy tak sabar.
“I-Iya,” gumam Tani.
Hampir saja Tania tidak bisa melakukan apa-apa karena panik, dia mengambil sepeda motornya. Tania menaiki speda motor miliknya, lalu Sandy ikut berbonceng di scoopy merah milik Tania dengan sang ibu masih berada di dalam gendongannya. Tania melajukan scoopynya dengan tarik tiga secara langsung.
Sesampai di rumah sakit, Sandy berlari menuju IGD.
“Dokter! Tolong, ibu saya, Dok!” teriak Sandy.
Dua orag erawat petugas IGD datang menghampiri Sandy, mereka menuntun Sandy untuk membawa ibunya ke sebuah brangkar kosong yang tersedia di rumah sakit tersebut.
Seorang dokter jaga datang menghampiri ibu Sandy. Dia mulai memeriksa kondisi ibu Sandy. Sedangkan Sandy dan Tania menunggu di luar.
Sandy yang saat ini lemah, langsung memeluk tubuh Tania. Dia mulai menangis di pelukkan Tania.
“Aku nggak mau kehilangan mak,” lirih Sandymembuat hati Tania terenyuh.
Tania merasa asihan pada Sandy, dia hanya memiliki ibu sebagai orang tua baginya. Ayahnya telah lama meninggal dunia.
“Kamu sabar, ya! Mak pasti sembuh.” Tana berusaha menenangkan Sandy sebisa mungkin.
Tak berapa lama, dokter yang memeriksa kondisi ibu Sandy keluar dari ruang pemeriksaan.
Sandy langsung menghampiri sang dokter. “ Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?” tanya Sandy taksabar ingin mengetahui keadaan sang ibu.
“Menurut pemeriksaan yang saya lakukan, ibu kami mengalami jantung bocor. Sehingga membuat tubuhnya lemah, dan saya sarankan untuk di operasi,” jelas sang Dokter pada Sandy.
“Apa?” pekik Sandy tak percaya.
Bersambung...
Readers yang baik hati mohon dukungan nya dengan meninggalkan jejak...
Rate...
Like...
Komentar...
Hadiah...
dan
Vote...
Terima kasih🙏🙏🙏
Udh Ry favorite, like dan Komen
3 Cogan dan Ry mampir