"aku harus mendapatkan pria dingin itu!" tekad seorang gadis sembari menyeringai.
Dia adalah Queensha Karren Bramantyo yang tergila gila dan terobsesi pada seorang pria bernama Darren Austin Keith yang memiliki paras tampan dan menawan tapi memiliki sifat dingin dan sulit untuk didekati.
Semakin dalam gadis itu menggali informasi tentang pria itu, dia semakin tahu karakter dan latar belakangnya yang menarik.
Bagaimana kisah cinta mereka berdua? apakah Queen berhasil mendapatkan cinta pria pujaannya?
Ini adalah squeel novel DOKTER CANTIK ISTRI KETUA MAFIA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona manies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sudut mata
Queen tersenyum manis sekali saat Darren dengan gantle membukakan pintu untuknya "terimakasih" ujarnya lalu masuk kedalam mobil dengan perasaan berbunga.
Darren tertegun, dia melakukan hal itu dengan spontan dan tanpa dia fikirkan terlebih dahulu, menghela nafasnya panjang lalu masuk kedalam mobil dengan wajah datar dan minim ekspresi.
Queen memandang wajah tampan Darren, hal itu sungguh membuat Darren tak nyaman saat seorang gadis cantik terus menerus menatap wajahnya.
"kenapa memandangiku terus! lihat kesana!" tangannya membalikkan wajah cantik Karren agar menghadap kearah jendela mobil.
"ishh.. hanya anda yang aku perhatikan seintens ini loh! harusnya anda bangga! kalau anda mau tahu banyak sekali pria yang menginginkan aku memperhatikan mereka tapi terus aku abaikan" ucapnya kesal, dia melipat tangannya didada lalu menyandarkan tubuhnya kesadaran kursi.
Darren melirik Karren sekilas "tapi sayangnya aku itu bukan mereka!" ucapnya tegas.
Karren membuang nafasnya dengan panjang "ya kalau anda sama seperti mereka, tak akan ku kejar kejar kan?" ucapnya terdengar begitu ambigu, dia lelah sebenarnya akan sikap Darren yang suka berbicara datar dan tanpa perasaan begitu, tapi hal itu justru yang membuat Karren semakin tertarik dan merasa tertantang untuk dapat mendapatkan hati seorang Darren Austin Keith.
Darren tak peduli, dia lebih memilih memainkan ponsel dari pada melayani obrolan tak berfaedah itu.
Karren menatap wajah Darren yang terlihat selalu tampan "tampan sekali" gumam-gumam kecil.
"mau saya antar kealamat mana nona Karren?"
Karren yang tadi terfokus kewajah Darren menoleh kearah Jonathan yang tadi bertanya "kesekolahanku saja kak"
"kenapa kesekolahan lagi? biar saya antar kerumah saja"
Karren menggeleng "tak perlu, saya mau ambil motor disana"
"baiklah"
Darren yang sedari tadi diam membisu mendengarkan apa yang diobrolkan oleh Jonathan dan Karren, dia menoleh kesamping dimana gadis itu ternyata memejamkan matanya, jika dilihat Karren benar benar tertidur karena Darren mendengar nafasnya yang sudah teratur.
Tangannya terulur hendak menyingkirkan anak rambut yang menutupi sedikit wajah Karren "apa yang mau aku lakukan?"
Darren geleng-geleng kepala lalu menarik tangannya kembali, dia melengos kearah jendela memperhatikan jalanan yang terlihat semakin ramai, tanpa sadar dia hampir memegang gadis itu "untung saja itu tak terjadi. kalau sampai gadis itu tahu bisa besar kepala nanti"
Darren sesekali menoleh kearah Karren, entah kenapa dia suka sekali memandang wajah cantik gadis itu saat sedang terlelap, sangat cantik dan lembut jika dipandang, dia tak akan merasa bosan saat memandang wajahnya itu.
Mobil berhenti didepan gerbang sekolah tempat Karren belajar, Jonathan menoleh kebelakang, dia tahu jika gadis itu terlelap karena sepanjang jalan tak terdengar suara cerewetnya sama sekali "tuan"
Darren menoleh kesamping, menghela nafasnya dengan kasar "tunggu sebentar lagi, takutnya dia pusing saat tiba-tiba dibangunkan"
Jonathan mengangguk, dan kembali mengahdap kedepan,dia menyandarkan tubuhnya yang terasa sedikit lelah "bisa bisanya tuan mau menunggu nona Karren? sebenarnya aku sedikit heran karena selama ini tuan tak mau sedetikpun menunggu siapapun, tapi ini demi seorang gadis kecil dia rela menunggunya, sungguh sebuah keajaiban"
Sudut bibir Jonathan tertarik "benar kan kalau tuan terpikat oleh gadis ini? gadis bar-bar yang selalu bicara terus menerus dan tanpa lelah mengejar tuan? hihihi"
**
Darren kembali membuka ponselnya, dia sedang berbalas pesan dengan orang kepercayaannya diParis, dia sedang membahas bagaimana perkembangan perusahaan selama dia tinggal pergi.
greep
Darren sedikit tersentak saat kepala Karren jatuh keatas bahunya, dia menoleh dan ternyata gadis itu masih asik menjelajahi alam mimpi, mungkin.
Sudut bibirnya tertarik, dia mengusap kepala Karren dengan lembut dan sedikit menyingkirkan anak rambut yang tadi menutupi wajahnya.
Darren terbelalak, dia baru menyadari apa yang telah dia lakukan padahal tadi dia bisa mengontrol diri tapi melihat kepala Karren sedekat ini membuatnya entah kenapa tak bisa mencegah untuk mengelus surai lembut dan halus gadis ini.
Aroma harus mengaur masuk kedalam indera penciuman Darren, dia suka sekali dengan wangi rambut Karren sesekali menghirupnya tadi.
Darren menarik tangannya lalu kembali fokus pada ponselnya.
Jonathan menoleh kebelakang karena gadis itu tak kunjung bangun juga padahal sudah hampir setengah jam lamanya dia menunggu.
Dan matanya sedikit melebar saat melihat gadis itu tengah menyandarkan kepalanya dibahu Darren, tapi yang membuatnya kembali terheran-heran adalah tuannya itu membiarkan begitu saja, meski dia sedang fokus keponsel tapi dari apa yang dia lihat memang Darren tak keberatan sama sekali.
"tuan"
Darren mendongak "hmm"
"apa kita harus menunggunya bangun?" tanya Jonathan sembari memperhatikan wajah cantik Karren.
Darren menoleh kesamping, dia mendorong kepala Karren sampai membuat gadis itu terlonjak kaget, begitupun dengan Jonathan.
"emmhh.. kenapa aku didorong?" keluh Karren dengan mata yang masih menyipit, dia menguap dan menoleh kesamping.
Karren melihat dengan jelas bahwa Darren saat ini tengah mengibas jasnya yang tadi tidak sengaja dia tiduri, gadis itu mendengus dan memberengut "emangnya aku kotoran apa!" sungutnya tak terima,dia menoleh kekanan dan kiri "waah sudah sampai ternyata"
Jonathan terkekeh, padahal dia tahu sekali tadi Darren sama sekali tak keberatan Karren menyender padanya.
"terimakasih tuan, aku pergi dulu" mengenakan tas yang tadi dia lepas lalu memegang knop pintu mobil.
"tunggu!"
Karren menoleh kesamping saat Darren berseru "kenapa?" gadis itu tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya kearah Darren.
Tapi lagi lagi Darren mendorong kening Karren dengan jari telunjuknya.
"isshh... kau menyebalkan sekali tuan!" gerutu Karren "kenapa menghalangiku pergi? apa tuan mau menciumku dulu?"
cetak
"awww.." pekik Karren saat Darren menyentil keningnya "sakit tahu"
"otakmu itu harus dicuci, agar tak kotor!"
Karren hanya mendengus, sebenarnya dia tadi hanya asal bicara saja, mana mau dia dicium oleh pria yang belum memiliki ikatan apapun dengannya, walaupun dia tergila gila pada Darren tapi dia tidak bodoh dengan menyodorkan tubuhnya untuk pria arogan ini.
"sudah sering aku cuci kok di tempat laundry!"
"buahahaha" tawa Jonathan menggema didalam mobil, dia suka sekali saat Karren sudah berbicara random begitu.
Begitupun dengan Darren, sudut mata pria tampan itu sedikit berkedut tadi "jo!"
"maaf tuan" ucapnya lalu membekap mulutnya sendiri.
"mau apa lagi tuan? saya lelah ingin sekali pulang" ucap Karren sedikit merengek, hal itu sungguh membuat Darren tertegun.
"ehem.. bersihkan wajahmu dengan ini" menyerahkan satu botol air mineral pada Karren, dia tak mau sampai gadis ini kenapa-napa nanti saat menyetir karena dia masih terlihat mengantuk.
Karren menatap botol itu sebentar lalu mendongak menatap wajah Darren, dia mengambilnya dengan perasaan senang "terimakasih perhatiannya tuan, pasti anda takut kalau aku masih mengantukkan? aduuhh... anda manis sekali siih.." mengambil botol itu dan memeluknya.
Jonathan ingin sekali tertawa tapi dia tahan sekuat tenaga, sungguh gadis itu sangat manis dan juga bisa menaikkan mood.
"siapa yang perhatian! aku memberi itu agar kamu membersihkan wajah, lihatlah disusut matamu ada kotoran!"
Karren terbelalak, dia langsung mengusap kedua sudut matanya wajahnya memerah karena malu.
"sana keluar! melihatmu terus membuat mataku sakit!"
Setelah mempermalukan gadis itu, dengan tak berperasaan Darren mengusirnya begitu saja.
Karren yang merasa malu segera keluar, dia lari terbirit menuju warung tempatnya menitipkan motor.
"buahahaha" tawa Darren menggelegar, sungguh wajah Karren barusan membuatnya tak tahan untun menahan tawa "dia lucu sekali"
**
Selamat malam...
Jangan lupa like komen dan kasih bunga/coffee ya guys.. Vote juga dong 😁
Apresiasi dan dukungan kalian adalah semangatku 🤗
Danzel Danzel,,,, kamu salah ngomong di depan mereka yg jaillll hahahahahaha
otw malam pertama