Suatu hari nanti, anganmu akan menjadi nyata, mimpimu akan terwujud, dan do’amu akan terkabul.
Liliana Pramesti, seorang gadis yatim piatu yang hidup dalam sebuah kemiskinan, menjadi tulang punggung bagi adik semata wayangnya yang menderita penyakit down syndrom, tentu saja adalah hal sulit baginya.
Namun, kerasnya hidup, tidak lantas menyurutkan keyakinan dan perjuangannya untuk tetap bertahan.
Hingga ... suatu hari, dia terpaksa harus menikah dengan cinta pertamanya sedari kecil, semenjak itu, dunianya berubah, jungkir balik, kedamaiannya terenggut begitu saja.
“Bang Ilham itu, seperti batu, dan aku seperti air, batu dan air bisa hidup berdampingan, meski batu memang memiliki karakter yang keras, dan air memiliki karakter yang lembut, namun tidak tersentuh. Tapi suatu hari nanti ... air mampu menghancurkan batu”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Neng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun Pengantin
Perasaan adalah suatu hal yang terkait pada sebuah rasa, entah rasa suka atau rasa tidak suka. Seringkali, jatuh cinta membuat dirimu menjadi lebih agresif dari biasanya. Tubuhmu akan terlalu cepat merespon jika itu tentang orang-orang yang kamu cintai.
Satu minggu lagi pernikahan Bang Ilham dan Sisil akan segera di gelar, kau tahu bagaimana rasanya?? Sakit.
Seluruh keluarga sibuk mempersiapkan acara pernikahan untuk Bang Ilham. Begitu pula di rumah Pak Rt. Yang notabenenya adalah rumah Sisil, mereka semua sibuk. Untuk persiapan pagelaran pernikahan kedua insan yang sebelumnya sudah berjanji untuk sehidup semati ini. Jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat tidak menyukainya.
Sebagai tetangga Sisil, jelas aku bisa melihat setiap acara yang mereka lakukan. Dan sebagai salah satu dari pegawai Bu Fatimah, otomatis, mau tidak mau aku juga harus membantu acara pernikahan pangeranku. Meski aku sungguh tidak menyukainya.
“Lia, kamu mau yah jadi pengiring pengantinku??” Pinta Sisil kala aku terpaksa harus berkunjung kerumahnya. Karena Sisil sedang di pingit.
“Emmhh ... “ Sejenak aku berfikir, bagaimana mungkin, aku harus menjadi pengiring pengantin bagi rivalku sendiri?? Ini mustahil, aku ingin akulah yang jadi ratu hari itu, bukan jadi dayang-dayangnya!.
“Ayolah Lia, hanya kali ini saja, menikah itu sekali dalam seumur hidup bukan??” Sisil menatapku, memohon dengan sangat kepadaku.
“Baiklah” Aku mengangguk,
“Terimakasih banyak Lia” Sisil menggenggam tanganku erat.
“Sama-sama, kalau begitu aku kerumah Bu Fatimah dulu ya Sil, aku di ajak Bu Fatimah buat ngambil baju di butik” Aku memundurkan langkah setelah Sisil mengiyakan permintaanku.
“Lia! Jangan lupa, senin depan, kamu harus menjadi penggiring pengantinku, bukan yang lainnya!” Seru Sisil kala aku sudah mendekati ambang pintu. Apa maksudnya?? Aneh.
Aku mengangguk, kemudian berlalu, berjalan dengan kaki lemas menuju rumah Bu Fatimah, aku sungguh sudah seperti kehilangan gairah hidupku. Sepekan lagi pangeranku akan menjadi milik orang lain.
***
“Lia!!” Seru Bu Fatimah kala aku baru tiba di halaman rumahnya
Aku mendongakkan kepalaku, “Iya Bu?”
“Ayo kita berangkat” Bu Fatimah mendekatiku, lalu menggandeng pundakku.
“Iya, hanya kita bertiga Bu??” Tanyaku, mengedarkan pandangan, kala kusadari hanya Bu Fatimah dan Almira yang terlihat.
“Iya, Ilham lagi gak mau keluar rumah katanya, gak apa-apa, kan cuman tinggal ngambil aja bajunya, sudah di ukur juga" Bu Fatimah kembali berjalan, membukakan aku pintu mobil, lalu aku masuk kedalamnya, sementara Almira memasuki mobil dengan duduk di depan.
“Lia, Lia kenapa?? Kok lemes gituh??” tanya Bu Fatimah menatapku, kala aku hanya terdiam lalu menatap jalanan.
“Gak apa-apa” Aku menggeleng.
“Kak Lia, nanti Kak Lia mau jadi teamnya siapa??” tanya Mira menatapku dari kursi depan.
“Aku kayaknya mau dari team Sisil deh” Aku tersenyum menatap Mira.
“Yah ... aku bakalan sendirian dong mendampingi Bang Ilham” Mira berdecak kecewa.
“Sisil udah lebih dulu request Mira” jawabku.
“Nanti kita pake baju yang samaan ya Kak” tawar Mira.
“Gak, aku gak punya baju bagus, aku mau pake baju seadanya aja” jawabku, lalu menundukkan kepala.
“Lia, belum punya bajunya??” tanya Bu Fatimah, aku mengangguk, sekilas kulihat Bu Fatimah tersenyum, lalu mengelus kepalaku singkat.
Aku menunduk ... ini rasanya menyakitkan! Aku kehilangan harga diriku.
Tiba di butik, kami bertiga turun dari dalam mobil. Kemudian berjalan menuju kedalam butik.
“Selamat siang Bu” sambut pelayan butik dengan hormat.
“Selamat siang” balas Bu Fatimah sambil menggenggam tanganku di samping kirinya, dan tangan Mira di tangan kanannya.
“Wah, putri Ibu cantik-cantik sekali” puji pegawai boutik.
“Terimakasih, mana pesanan baju saya?” tanya Bu Fatimah, kemudian beliau duduk di sebuah sofa.
“Sebentar, ya bu, saya ambilkan dulu pesanannya” pelayan kemudian berlalu kedalam sebuah ruangan tempat mereka menyimpan barang pesanan. Tak lama pelayan keluar ruangan tersebut dengan menenteng beberapa bungkusan baju.
“Bu, ini untuk pakaian pengantin prianya” pelayan menyodorkan bungkusan yang berisi pakaian pengantin untuk bang Ilham.
“Dan ini untuk pakaian mempelai wanitanya” pelayan kembali menyodorkan sebuah bungkusan yang berisi sebuah gaun mewah.
“Ibu mau lihat dulu hasilnya??” tanya pelayan.
“Wah, boleh tuh, coba lihat?” Bu Fatimah bersorak semangat.
Pelayan kemudian membuka bungkusan tersebut, dan memperlihatkan sebuah gaun berwarna putih, dengan minim payet, tapi masih terkesan cantik, elegant, namun sederhana.
“Wah, cantik sekali, tapi kok ini di bagian pinggangnya kayak kegedean deh mbak” tiba-tiba Bu Fatimah meraih baju tersebut, dan memperjelas pandangannya pada bagian pinggang gaun.
“Ah, semuanya sudah sesuai ukuran kok Bu” pelayan mengelak.
“Untuk meyakinkan, Ibu bisa mencobanya kok” tawar pelayan tersebut.
“Saya yang harus nyobain baju ini??” tanya Bu Fatimah mengerutkan dahinya.
“Bukan, saya rasa badan calon menantu Ibu, dan badan putri Ibu satu ukuran deh, boleh di coba dulu sama Putri Ibu” pelayan menunjukku, aku menganga, mana mungkin aku bisa mencoba pakaian itu? Itu mustahil bagiku.
“Oh, ayo Lia di coba bajunya” seru Bu Fatimah.
Aku menggeleng, memundurkan langkah, lalu melambaikan tanganku “Tidak Bu, saya tidak mau”.
“Loh?? Kenapa gak mau Lia?? Hanya mencobanya saja kok” Bu Fatimah mendekatiku.
“Ah, nanti Sisil marah” elakku.
“Tidak, mana mungkin dia bisa marahin kamu” Bu Fatimah tersenyum.
Jangankan marahin, Sisil bahkan pernah membuat hidupku terasa ada di neraka!.
“Tidak Bu” Aku masih tetap menolaknya.
“Ayo Lia, gak apa-apa” Bu Fatimah terus meyakinkan aku.
“Baiklah” akhirnya aku mengalah.
Pelayan tersenyum, lalu menuntunku dan membantuku mencoba pakaian Sisil di kamar ganti.
“Wah, bajunya pas sekali Mbak, sepertinya baju ini sangat cocok untuk Mbak, dan lebih cocok di gunakan Mbak daripada pengantinnya” pelayan tersenyum, kagum melihatku.
Aku menatap tubuhku di cermin, aku sungguh terlihat cantik dan anggun. Bahkan aku teramat bersyukur, hanya karena aku bisa mencoba baju ini, bahkan hanya untuk beberapa saat. Aku keluar dari kamar pass lalu berjalan menuju Bu Fatimah dan Mira.
“Waaahhh ... Kakak cantik banget” Mira menutup mulutnya tidak percaya.
“Iya, Lia cantik sekali” puji Bu Fatimah tak mau kalah.
“Terimakasih,” Aku merunduk, tersenyum malu-malu.
“Lia cocok sekali pakai baju ini” Bu Fatimah mengitari tubuhku.
“Tapi, ini baju Sisil” gumamku.
“Tak apa, Ibu juga sudah belikan kamu baju yang lain, inih” Bu Fatimah mengacungkan sebuah bungkusan yang berisi baju, baju bagus dan mahal, yang memiliki warna dan model yang sama dengan Almira.
“Kakak, baju kita samaan lagi!!!” seru Mira kegirangan.
“Ah, iya, terimakasih banyak Bu” Aku memanggutkan kepalaku.
“Sama-sama Lia, Ibu harap, kamu selalu bahagia” Bu Fatimah memelukku dengan mata yang berkaca-kaca, entah kenapa?.
“Kak! Lihat sinih!” teriak Mira tiba-tiba.
“Kenapa??” sontak aku dan Bu Fatimah menatap Mira kompak.
Cekrek ... cekrek ... cekrek ...
Tiba-tiba Mira mengarahkan kamera ponselnya ke arahku dan Bu Fatimah, kami tersenyum.
“Moment ini harus di abadikan” Mira tersenyum jahil pada kami.
“Baiklah” Bu Fatimah merangkulku erat, dan Mira kembali mengabadikan moment ini. Moment dimana aku menggunakan gaun pengantin milik Sisil.
Bersambung ..........
Next?
jujur saya lbh suka cerita yg real life drpd yg haluu....
semua cerita teteh bagus2 kok. semangat terus ya teh....🥰🥰🥰🥰
Sehat terus tetehku, terus lah berkarya. Love you 🤗🤗🤗
semangat berkarya Teteh, ttp sehat & bahagia, maafin para readers yg suka komplen ky netizen😌
tapi percayalah, aku menikmati cerita Lia yg bnyk bgt beri pelajaran bt kita. makasih Teteh🤗
...