Yang baik hati, bisa bantu Author dengan follow akun ini.
Follow IG : @KeiL.Story
Sinopsis :
Kelanjutan dari kisah Luciel Dawnbringer. Untuk mengetahui kisah selengkapnya, silahkan baca karya sebelumnya dengan judul yang sama.
Terima kasih banyak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei L Wanderer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa Harus Terkejut?
Satu bulan kemudian.
Dikarenakan harus menunggu dua bulan lagi untuk kembali, Ciel memutuskan untuk menghabiskan waktu satu bulan untuk memahami berbagai sihir kegelapan dan sihir ruang yang dia peroleh dari tablet batu dalam Garden of Purple Moon.
Sedangkan untuk memahami dan membangun domainnya sendiri, pemuda itu telah menyadari dasar-dasarnya. Namun karena memerlukan cukup banyak waktu, dia memilih untuk membangunnya setelah kembali ke Kekaisaran Black Sun. Lebih tepatnya … kembali ke Wilayah Blackfield.
Ciel sendiri tidak ingin menunjukkan seluruh kemampuannya dan menyimpan berbagai kartu rahasia. Jadi dia memutuskan untuk memainkan profil rendah, khususnya di tempat jauh seperti bagian Tengah Benua.
Setelah mendalami sihir kegelapan dan mempelajari beberapa sihir ruang, Ciel merasa kekuatannya lebih bertambah dan dirinya memiliki lebih banyak cara untuk mengatasi musuh yang berbeda-beda.
“Pantas saja, sihir kegelapan sangat dirahasiakan bahkan dibenci. Meski kuat, sihir semacam ini terlalu berbahaya.” Ciel bergumam pelan.
Meski sudah mempelajari dan mendalami sihir kegelapan, Ciel sendiri tidak berencana menggunakannya secara berlebihan. Sedangkan sihir ruang sendiri lebih rumit dan sangat jarang, jadi pemuda itu tidak pernah berniat menunjukkannya kepada orang lain yang tidak benar-benar dia percaya.
“Jika ada sihir ruang … apakah ada sihir yang berhubungan dengan waktu?” gumam Ciel dengan ekspresi serius.
Memang Ciel sudah melihat skill yang berhubungan dengan waktu seperti Nubuat milik Raja dari Kerajaan Natrace. Pemuda itu tahu betapa berbahayanya sihir tersebut. Bahkan lebih berbahaya dari sihir kegelapan yang dia pelajari.
Belum lagi, skill milik Raja dari Kerajaan Natrace itu hanya bisa digunakan untuk mengintip sedikit ke masa depan. Sama sekali tidak sepenuhnya mengendalikan aliran waktu.
Memikirkan itu, Ciel memutuskan untuk menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin main-main dengan hal yang di luar pengertiannya. Belum lagi itu berada di level yang sangat sangat berbahaya.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar ketukan pintu, Ciel menjawab dengan santai.
“Masuk.”
Pintu terbuka lalu sosok Camellia memasuki ruangan. Sekarang Ciel berada di sebuah ruangan luas yang merupakan gabungan dari ruang latihan dan ruang eksperimen. Karena tinggal di Kekaisaran Silver Sky cukup lama, dia memutuskan untuk menghubungi pamannya dan meminjam ruangan khusus dan rahasia.
Pamannya sendiri tahu setiap orang memiliki rahasianya sendiri. Untuk menghormati Ciel, dia menyiapkan sebuah ruang luas yang mencakup banyak hal. Tentu saja, juga memiliki susunan khusus anti deteksi untuk menjaga privasi.
“Saya membawakan makan siang anda, Tuan.”
Setelah tinggal cukup lama, Camellia kembali mengurus semua kebutuhan Ciel setiap harinya. Tentu saja, bergiliran dengan Elena karena wanita itu juga ingin membantu serta menghabiskan waktu dengan Ciel.
“Terima kasih, Camellia. Letakkan saja di sana.”
“Baik.”
Mendengar ucapan Ciel, Camellia menjawab lalu membawa makanan itu menuju meja. Melihat pemuda tampan yang duduk dengan tenang sambil memikirkan sesuatu, dia bertanya dengan lembut.
“Apakah ada masalah, Tuanku?” tanya Camellia.
“Sama sekali tidak.” Ciel menggeleng ringan.
“Ngomong-ngomong … Pangeran Xildas menyampaikan pesan kepada saya. Dia ingin bertemu dengan anda.”
“Kapan?” tanya Ciel santai.
“Ketika anda tidak sibuk, anda bisa mendatanginya di arena latihan atau kamarnya.”
“Jadi begitu …”
Ciel mengangguk ringan. Beberapa saat kemudian, suara Camellia terdengar.
“Maafkan saya, Tuanku. Saudari Elena juga ingin meminta maaf kepada anda.”
“En?” Ciel agak bingung. “Kenapa kalian harus meminta maaf?”
“Kami masih terlalu lemah dan tidak bisa membantu anda. Sebaliknya, kami selalu merepotkan anda untuk menghadapi semuanya sendiri.”
“...”
Ciel terdiam. Selama ini dia sama sekali tidak keberatan karena melakukan semuanya tulus dari hati. Pemuda itu tidak menyangka para wanitanya benar-benar berpikir terlalu banyak.
“Kalian sudah sangat membantu. Dalam hal kekuatan, kalian tidak lebih dari seorang Marquis. Terlebih lagi … kalian lebih membantu dalam mengurus Wilayah Blackfield, bahkan juga mengurus diriku.
Aku sangat bersyukur dan berterima kasih karena kehadiran kalian. Jadi … jangan meminta maaf seperti itu.”
“Saya-”
“Kita adalah keluarga. Sudah sepantasnya saling mendukung. Aku menyayangi kalian, dan kalian menyayangiku. Saling membantu ketika menghadapi masalah …
Bukankah keluarga seharusnya seperti itu?”
Menatap pemuda tampan yang tersenyum ke arahnya, Camellia merasa terharu dan senang. Meski dia dianggap sebagai selir, bahkan menghabiskan malam dengan Ciel dengan penuh cinta dan gairah … dalam hatinya, Camellia berpikir bahwa dirinya adalah pelayan Ciel.
Merasakan ketulusan Ciel yang tidak peduli dengan latar belakang atau hal-hal lain semacam itu, Camellia merasa cintanya kepada pemuda itu benar-benar semakin dalam. Sampai-sampai tidak bisa lagi diukur kedalamannya!
...***...
Sore harinya, di arena latihan.
“Aku dengar kamu mencariku, Xildas.”
Melihat Xildas yang berlatih sendirian, Ciel langsung menghampirinya. Dalam satu bulan, hubungannya dengan sepupunya itu menjadi lebih dekat. Cukup dekat untuk saling memanggil langsung dengan nama tanpa perlu sopan-santun.
“Kamu akhirnya datang, Luciel. Aku pikir kamu akan terus mengurung diri dan tidak keluar dari ruangan itu.”
“Ada apa?” tanya Ciel tanpa basa-basi.
“Aku … aku akan menikah bulan depan!”
“Oh.” Ciel mengangguk ringan.
“...”
Xildas tertegun. Dia sudah membayangkan bagaimana ekspresi sepupunya itu. Terkejut, takjub, atau tertegun. Hanya saja … pemuda itu tidak menyangkan bahwa Ciel menjawab dengan hambar.
“Aku bilang, aku akan menikah, Luciel?”
“Aku dengar itu.” Ciel berkata dengan nada bosan.
“Apakah kamu tidak terkejut?”
“Kenapa harus terkejut? Kamu sudah bertunangan, mulai lebih sering menghabiskan waktu dengan Elvira, dan sebagainya. Aku malah lebih terkejut kenapa kamu tidak segera menikah.
Biasanya para bangsawan (laki-laki) akan menikah beberapa waktu setelah ulang tahun ke-20 mereka. Kamu sedikit terlambat. Apakah aku harus terkejut?”
“...”
Entah kenapa, Xildas yang mendengar Ciel berkata dengan nada bosan dan sedikit tak acuh itu merasa wajahnya ditampar berkali-kali. Bahkan merasa setiap tamparan itu sangat keras!
“Katakan saja waktunya. Apakah ada yang lain?” tanya Ciel dengan ekspresi hambar.
“T-Tidak ada.”
“Kalau begitu aku akan-”
Sebelum ucapan Ciel selesai, suara langkah kaki terburu-buru terdengar. Sosok ksatria mengetuk pintu sebelum langsung memasuki arena latihan.
“Kenapa kamu terburu-buru? Mana sopan santunmu!” teriak Xildas.
“Maafkan saya, Pangeran Xildas. Yang Mulia Kaisar memerintahkan para ksatria untuk memanggil para Pangeran. Kelihatannya sesuatu yang penting telah terjadi.
Saya … saya tidak berani berperilaku lambat.”
“Tidak apa-apa,” ucap Xildas. “Kamu boleh kembali.”
“Selain itu …”
“Apakah ada yang lain?”
“Pangeran Luciel … Yang Mulia Kaisar juga mempersilahkan anda untuk datang.”
Mendengar itu, Ciel agak terkejut. Dia mengangguk ringan.
“Terima kasih atas kerja kerasmu. Kalau begitu aku juga akan datang.”
Mengatakan itu, Ciel diam-diam berpikir.
Mengumpulkan semua Pangeran … apa yang sebenarnya coba Paman Verner lakukan?
>> Bersambung.