NovelToon NovelToon
Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku

Status: tamat
Genre:Komedi / Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:421k
Nilai: 5
Nama Author: Hana Hikari

Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?

Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?

“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”

“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.

Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.

*
*
*

SPIN OFF Aara Bukan Lara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bapak Anak-Anak Aku

Drrt.. Drrt..

Ponsel Yuki bergetar hebat di atas kursi panjang berbahan stainless. Ponsel itu dibiarkan tergelak karena sempat Yuki abaikan demi beranjak dari duduknya dan berkacak pinggang di hadapan Dimas.

Meraih ponsel yang sudah terdiam, Yuki masih melirik sinis pada Dimas yang justru menantang dengan juluran lidah. “Aaaaaa.. Akhirnyaa..” Jerit Yuki lepas tanpa beban sambil melompat riang.

“Ki, jangan berisik woi..!!” Ucap Dimas panik dan malu karena sudah menjadi tontonan. Tidak apa jika hanya sesama mahasiswa, namun kini ada para Dosen pengajar yang bahkan dari fakultas lain sedang melintas tidak jauh dari posisi Ara, Dimas dan Yuki berada.

“Biarin, wek..!” Ucap Yuki santai dan terkesan masa bodoh sembari tetap bergerak kegirangan tanpa sadar sudah menjadi hiburan gratis yang jelas akan membuat dirinya malu suatu saat nanti.

“Ki-..” Ucap Ara yang langsung dicegah oleh Dimas.

“Biarin aja dia malu nanti.” Bisik Dimas lirih sambil menampilkan seringai licik.

“Yuki udah!” Ucap Ara cepat dan tegas, memberikan kode lirikan yang nyatanya tidak Yuki pahami sedikitpun.

“Mata kamu kenapa Ra? Sakit?”

‘Astaga Yuki..’ Keluh Ara dalam hati sambil mengusap dadanya untuk bersabar.

“Gak apa-apa. Udah duduk sini aja.” Ucap Ara sambil menepuk tempat yang sebelumnya Yuki duduki. Namun diabaikan oleh Yuki yang justru sedang tersenyum memandangi layar ponselnya.

Memandang dalam kebingungan yang semakin menguat, Ara menoleh pada Dimas yang rupanya juga sedang menatap lekat dengan raut heran pada Yuki. “Kenapa lagi sih dia?”

“Udah miring. Udah kerasukan setan kredit.” Celetuk Dimas kuat.

Plak.

Memukul bahu Dimas secara asal, Yuki akhirnya kembali mendudukkan dirinya. “Sembarangan..”

“Gak usah pakai mukul juga kali..!” Protes Dimas, mengusap bahunya yang terasa panas akibat serangan dadakan dari tangan nakal Yuki.

“Gemes banget sih sama kamu Cuuiit.. Sini deh pengen aku cubit..!” Celoteh Yuki mendayu, bersuara manja yang terdengar sangat menyeramkan.

Merinding Dimas menggeser duduknya hingga menempel tanpa celah pada pegangan kursi. “Raa.. Teman mu kenapa itu kok aneh??” Ucap Dimas dengan suara yang dibuat bergetar ketakutan, tubuhnya juga ikut bereaksi seolah terancam pada kehadiran Yuki.

Menggeleng mantap, Ara mengibaskan tangannya pertanda menolak. “Teman siapa? Teman mu kali.”

“Bukan.. Bukan teman ku ini. Spesies nyasar dari mana ini??” Ucap Dimas lagi sambil mendorong pelan Yuki agar menjauh darinya.

“Tega ya kalian.. Udah deh terserah.” Menghentakkan kakinya, Yuki berjalan menjauh, pura-pura merajuk. Hanya tiga langkah dan kemudian memutar balik badannya. “Oya, sore ini gak ada jam ganti kan?”

“Nggak, kan kelas sore udah dipindah besok pagi. Minggu lalu juga udah pindah jam, kamu lupa?” Jelas Ara yang ditanggapi senyum sumringah oleh Yuki. Entah apa yang Yuki pikirkan, namun terlihat mencurigakan.

“Gak dong.. Cuma nanya aja kok.” Ucap Yuki sembari memeluk tubuhnya sendiri dengan perasaan senang. Benar-benar semakin aneh saja tingkah Yuki yang ditangkap lensa mata Dimas dan Ara.

...----------------...

Melangkah dengan riang, Yuki mendudukkan dirinya pada kursi dan meja yang sama. menghadap pada arah yang sama pula dengan saat pertama kali dirinya masuk ke dalam restoran ini.

Benar, Yuki saat ini sudah berada di dalam restoran milik seseorang yang menggetarkan hatinya. Bukan untuk melamar pekerjaan atau sudah resmi menjadi seorang pramusaji, namun kini Yuki kembali datang sebagai pelanggan.

“Hi Mas Keven..” Sapa Yuki dengan nyaring saat matanya menangkap kehadiran Keven. Berdiri sambil melambai heboh, Yuki melangkah mendekat sambil sesekali mengerling genit.

Mengerutkan dahinya dengan mata terbelalak, Keven tampak syok pada sikap Yuki yang sok akrab dan sangat-sangat kegenitan dengannya. Mencoba melirik pada sosok di sekitarnya, Keven akhirnya yakin bahwa memang ‘Keven’ dirinya lah yang Yuki maksud, bukan pada sosok ‘Keven’ lain yang mungkin ada di dalam restorannya.

“Kamu ngomong sama aku?” Ucap Keven sambil menunjuk pada dirinya sendiri.

Mencondongkan tubuhnya, Yuki menengok ke kanan dan kiri pada sesuatu di belakang Keven. Tidak lama, hanya beberapa detik yang kemudian langsung menegakkan kembali punggungnya.

“Gak ada Keven lain tuh di sini. Memang Mas Keven bisa diduplikat kayak kunci gembok?” Ucap Yuki asal sambil tersenyum miring. “Harus sabun sebesar apa ya buat cetak duplikatnya?” Terkekeh Yuki membayangkan Keven yang ditekan di atas sabun batangan dengan ibu jarinya.

Mengabaikan ucapan Yuki yang terdengar aneh, Keven menyugar rambutnya dan menatap Yuki dengan sorot mata menajam. “Kenapa kamu dari tadi panggil aku Mas?” Tanya Keven ketus, alisnya menukik ke atas menyiratkan tanya dan penolakan secara bersamaan.

“Aku sekarang ini konsumen loh. Jadi jangan paksa aku panggil kamu Bapak layaknya atasan dan bawahan atau bahkan persis anak dan Bapaknya.” Ucap Yuki disertai jari telunjuk yang mengacung, bergerak mengikuti nada penuturan setiap kata yang Yuki ucapkan.

“Terlalu bagus Mas Keven jadi Bapak aku, malah lebih cocok jadi Bapak anak-anak aku aja.” Imbuh Yuki lirih sambil mengulum senyumannya. Menutup bibir dengan telapak tangan guna menahan tawa akibat ekspresi terkejut Keven yang menggemaskan.

“Gila!” Ucap Keven ketus dan berlalu meninggalkan Yuki yang justru mengekorinya.

“Mas Saka ganteng kemana ya Mas Kev?” Tanya Yuki dengan langkah lebar mengejar Keven yang berjalan dengan cepat.

“Aku dari tadi gak lihat Mas Saka, apa gak datang ya hari ini?” Tanya Yuki lagi, tiada kata patah semangat yang tersemat pada langkah, wajah, apa lagi benak Yuki. Sudah kepalang tanggung Yuki kembali datang ke restoran, bertingkah ekstra dan nekat mendekati Keven.

Duk.

Punggung kokoh itu terhantam dahi keras Yuki tanpa rem atau bahkan gerakan slow motion. Bukan salah Keven yang berhenti mendadak atau Yuki yang sempat teralihkan pada bunyi lonceng di pintu masuk sehingga tidak menyadari langkah Keven di depannya sudah terhenti.

“Maaf pelanggan yang saya hormati, anda bisa kembali ke meja selama hidangan yang anda pesan kami siapkan!” Ucap Keven sambil tersenyum yang membuat Yuki terbengong. Meski ucapan itu sebuah perintah dan pengusiran, namun yang kini menjadi fokus Yuki adalah senyum manis yang rupanya bisa hadir di wajah kaku Keven.

“Wah, manis juga senyum Mas Keven. Tapi masih manis senyum Mas Saka. Udah manis, ganteng banget lagi.” Celoteh Yuki tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Keven yang sudah memerah menahan kekesalan. Anehnya di mata Yuki yang terlihat hanya keindahan tanpa cacat.

Rasanya Yuki ingin menyentuh pahatan hidup yang menggoda kulit telapak tangannya. Beruntung separuh kesadaran Yuki masih berhasil menahan diri dari tindakan konyol yang akan lebih membahayakan status lamaran kerjanya.

“Aku ganteng banget ya?” Sebuah suara berbisik tiba-tiba menggelitik indera pendengaran Yuki bersamaan dengan menegangkan rambut-rambut halus di tengkuk Yuki.

Berdiri membeku, hanya pupil mata Yuki yang bergerak. Nafasnya tertahan tidak berani menyapa dunia, benar-benar malu. Terbukti dengan tengkuk, daun telinga dan pipi Yuki yang langsung bersemu merah.

...****************...

*

*

*

Sekali lagi, kilas balik ini akan lama, tapi gak lama-lama banget. Semoga cukup singkat dan kembali ke masa Yuki kabur dari Mas MUNAROH (MUNAfik sepaROH).

Yang baca kisah Ara dulu baru kisah Yuki pasti paham banget gimana tokoh pemeran laki-laki yang mungkin Hans, Bima dan Gilang. Tapi rupanya pemeran utama laki-laki nya adalah ~….~ 🤭(Jeng Jeng Jeng~~)

Semangat menerka, semoga berhasil dan semoga gak bosan dengan tulisan ku ini.😄

1
Yuyun ImroatulWahdah
😭😭😭😭
Yuyun ImroatulWahdah
menarik🤔😊😁
Dewi Murni
saka dong suaminya
Indra Fatiria
usahain Yuki bercerai dari Keven, laki2 GUOBLOKKKKK
Indra Fatiria
Tolong Yuki harus meninggalkan suaminya, suami gk punya otak, suami guoblok
Indra Fatiria
kapan Yuki gugat cerainya
Indra Fatiria
bisa gk belut licin itu matikkkkk aja
Indra Fatiria
emang suami Yuki gk punya nama ya
Sedang mengetik...
masih saling cinta tapi keduanya harus merelakan cinta itu berakhir
Sedang mengetik...
nah Nita ketahuan kerja sama om om
Sedang mengetik...
sulit kali ya berada di posisi Dion.. cinta bertepuk sebelah tangan yg lebih parahnya lagi orang itu akan jadi adik ipar
Sedang mengetik...
gimana kev rasanya cemburu enak gak .. mamam tuh cemburu... cemburu mu udah telat... dari kemaren kemana aja.. sekarang Yuki bukan milik mu lagi.. jdi gak usah cemburu
Sedang mengetik...
baca judulnya aku tdi bingung... ehh ternyata oh ternyata....
Sedang mengetik...
setidaknya masih ada kenangan manis yg bisa di ingat sebelum perceraian terjadi
Sedang mengetik...
ada lega tapi rasa sesak itu juga ada
Sedang mengetik...
kev kamu tuh harus bisa bedakan mana yg sedang kamu perjuangan dengan yg tidak,, mana janjimu yg mengatakan hanya ada kita berdua pada Yuki dulu.. nyatanya sekarang kamu masih mendahulukan Alia dari pda yuki
Sedang mengetik...
Keven bodoh selalu saja tertipu dengan sandiwara Alia
Sedang mengetik...
bilang aja kamu juga iri kan dim... kamu juga berharap bisa romantis tomantisan kan sama Yuki
Sedang mengetik...
kadang kala orang lain emang lebih peka dari pda diri kita sendiri
Sedang mengetik...
kasian loh Yuki sebenarnya dia dah nikah tapi belum pernah merasakan roti sobek makannya sampai kebawa mimpi gtu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!