Sebuah kotak yang diwariskan turun temurun akhirnya jatuh ditangannya, tanpa sengaja berhasil membukanya dan memperoleh sebuah benih peradaban, tapi bagaimana kalau bukan hanya itu? bagaimana jika sebuah cahaya kecil mewakili teknologi juga tertarik dengan benih itu dan menjadi milik orang itu juga
Disinilah cerita bermula dari seorang anak biasa menjadi pemilik alam semesta
ikuti Yogi dalam menaklukkan alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melawan perampok (3)
Suara tembakan dan ledakan bukan hanya mengejutkan pihak polisi tapi juga mengejutkan pihak perampok yang mengira kalau ini adalah serangan dari pihak kepolisian yang bertujuan untuk masuk kedalam supermarket.
Perampok dengan kode nama Alfa yang melakukan panggilan dengan pihak kepolisian langsung menutup telepon dan pergi keluar dari ruang staf untuk melihat keadaannya.
Dengan senjata yang sudah siap sedia ditangannya Alfa keluar dari ruang staf diikuti oleh 3 orang perampok lainnya, dengan kewaspadaan penuh mereka mengamati keadaan sekitar.
"Bukan polisi atau militer?" Alfa bertanya kepada dirinya sendiri.
Alfa melihat dua orang rekannya terbaring tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah di lantai dan seorang gadis dengan senjata api ditangannya diarahkan ke teman perampoknya yang menjaga sandera.
Kembali ke beberapa menit sebelumnya. setelah Citra selesai menjelaskan rencana selanjutnya kepada Alvin mereka mulai mempersiapkan diri dengan cepat.
Saat mereka sedang bersiap mereka mendengar suara sirine polisi dari luar supermarket dan menyadari bahwa akhirnya kepolisian mulai bertindak.
"Sepertinya rencana kita akan lebih dimudahkan dengan kehadiran pihak polisi dan militer ini" Alvin berkata saat mendengar sirine.
"Yah semoga saja mereka tidak menganggap kita bagian dari perampok saat masuk kesini nantinya" Citra hanya menghela nafas ringan, dengan kedatangan pihak kepolisian dan militer ini maka penjagaan para perampok akan lebih ketat dan lebih berhati hati.
Citra mengambil bom asap dan granat lalu menyerahkan bom detonator kepada Alvin untuk dia gunakan.
"Ingat, saat aku melempar bom asap kak Alvin langsung bersembunyi di dekat ruang staf dan jangan menyerang sebelum aku memberi aba aba" Citra kembali mengingatkan Alvin untuk kesekian kalinya.
Citra merasa agak bersalah melibatkan Alvin saat ini dan bahkan merasa pilihannya untuk melawan kurang tepat, tapi untuk mengurangi ancaman dibunuh saat disandera Citra memilih melawan dan cukup percaya diri dengan keterampilan pribadinya sendiri.
"Oke, dan kau masih memiliki beberapa hal untuk kau jelaskan jadi jangan ceroboh" Alvin juga mengingatkan Citra.
Citra kemudian menarik nafas panjang sambil memegang bom asap, Citra menarik pin bom asap untuk membuat para perampok tidak bisa melihat mereka.
Para perampok sudah waspada dengan hal yang ada di toilet karena 4 rekan mereka belum kembali juga dari sana dan suasananya hening yang membuat lebih aneh, belum lagi saat ini ada polisi dan militer yang mengepung mereka.
Mereka kemudian melihat Citra dengan peralatan lengkap keluar dari toilet sambil berlari kemudian melempar sesuatu ke arah mereka dan terus berlari sampai kebawah eskalator.
Dalam pelarian menuju ke eskalator para perampok menembaki Citra dengan intens tapi semuanya meleset, bukan karena akurasi mereka yang buruk tapi Citra membelokan sedikit arah peluru sehingga tidak mengenainya.
Bom asap mulai mengeluarkan asap tapi hanya menutupi sebagian pengelihatan para perampok jadi bisa diabaikan oleh mereka, lagipula posisi mereka menyebar jadi bahkan jika salah satu tertutupi asap dari bom asap ini mereka masih memiliki 3 orang, tapi tujuan bom asap ini sebenarnya adalah untuk menyembunyikan keberadaan Alvin yang akan bersembunyi didekat ruang staf nantinya.
Citra yang telah memiliki tempat persembunyian dan melihat Alvin juga telah bersembunyi jadi Citra mengambil M16 dari punggungnya dan membalas tembakan mereka dan berhasil mengenai dada salah satu perampok, sebelum Citra mengenai perampok lain para perampok sudah mengambil sandera sebagai tameng sehingga Citra mengurungkan niatnya untuk menembak.
Salah satu perampok mengeluarkan granat dan melemparkannya kearah Citra, namun karena terlalu awal melemparkannya granat masih belum meledak, Citra menendang granat itu menjauh darinya dan terdengar bunyi ledakan tak lama setelahnya.
Citra mengambil melihat celah dan menembak perampok yang melempar granat tepat di dadanya, Citra menghindari titik vital mereka sehingga mereka tidak akan mati setidaknya jika pendarahan dihentikan.
Meskipun ini pertama kalinya Citra menembak seseorang namun karena suasana pertempuran seperti sekarang membuatnya tidak merasakan perasaan tidak nyaman.
Tak lama setelah itu pintu ruang staf terbuka dan terlihat 4 orang yang sebelumnya memasuki ruang staf keluar dengan senjata yang sudah siap ditangan mereka.
'Sekarang kak' Citra mengirim komunikasi pikiran kepada Alvin yang sudah bersembunyi di dekat ruang staf.
Alvin langsung menyelinap di belakang perampok yang baru saja keluar dari ruang staf dan menempelkan bom detonator di perampok yang sepertinya menjadi pemimpin mereka.
Karena terlalu fokus ke depan para perampok tidak menemukan Alvin yang menyelinap dibelakang mereka sampai Alvin menempelkan bom detonator ke Alfa.
para perampok yang telah mengetahui posisi Alvin kemudian berputar dan menodongkan senjata mereka kearah Alvin tapi dia tidak mau kalah dan mengeluarkan pemicu bom ditangannya.
"mundur, aku memasang bom detonator di punggungnya dan aku akan meledakkannya jika kalian melawan!" Alvin berteriak kepada mereka.
Mereka akhirnya menyadari bahwa ada bom yang menempel di punggung teman mereka dan mulai menjaga jarak darinya tapi tidak terlalu jauh.
"Aku tau kau pemimpinnya, bebaskan semua orang dan aku akan memberikan pemicunya" Alvin mencoba bernegosiasi dengan Alfa yang dia anggap sebagai pemimpin.
'Kak Alvin, kau terlalu dekat dengan mereka, mundur sedikit!' Citra berteriak melalui pikirannya dan Alvin akhirnya sadar dirinya terlalu dekat dengan mereka. Alvin akan mundur tapi tangannya yang memegang pemicu bom yang ada di punggung Alfa ditembak sehingga tangannya putus.
"Arrrrgggggg!!!" Alvin memegangi tangannya yang terpotong oleh beberapa peluru yang ditembakkan oleh para perampok.
"Alfa bantu kami melawan gadis itu, kemampuan menembaknya lumayan tinggi dan berhasil menembak dua orang dari kita" salah satu perampok berteriak kepada kelompok yang baru keluar dari ruang staf ini.
"dimana empat orang lainnya?" Alfa bertanya kepada rekannya yang berteriak tadi.
"Mereka..." Perampok itu terlihat bingung untuk memberitahunya tapi kemudian melanjutkan "Mereka sepertinya dikalahkan setelah memasuki toilet sebelumnya"
*Dor *Dor *Dor
Belum sempat Alfa menanyakan kejadian yang ada Citra sudah menembaki mereka dan melukai salah salah satu dari empat orang yang sebelumnya keluar.
Alfa langsung menggambil Alvin yang sudah agak lemas karena kehilangan banyak darah dari pendarahan yang didapatnya.
"Jangan berani menembak lagi atau orang ini akan mati" Alfa mencekik Alvin dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menodongkan pistol ke kepala Alvin.
Tidak ada respon dari Citra, dia tetap diam sambil bersembunyi dari kedua arah dimana ada perampok ini dan sedikit mengintip ke arah Alvin yang ditodong oleh pistol.
"Kemampuan menembakmu sepertinya cukup bagus, bagaimana kalau bergabung dengan kami dan kau akan jadi ratu setiap harinya" Alfa berkata dengan nada yang tidak senonoh kepada Citra.
"Dalam mimpimu! apa kau tidak tau kalau polisi sudah mengepung tempat ini" Citra memperingatkan para perampok itu untuk mengulur waktu berpikirnya.
Benar saja, Alfa dan lainnya langsung terdiam dan terlihat lebih hati hati lagi, sebelumnya mereka berjumlah 12 orang dan saat ini hanya ada 5 orang tersisa, ini semua karena pasangan ini.
Alfa akhirnya merasakan bahaya dari Citra dan tidak lagi berpikir untuk menjadikannya wanitanya dan mulai memikirkan cara membunuh gadis ini.
"Serahkan dirimu dan aku akan melepaskan laki laki ini" Alfa membuat penawaran lain kepada Citra.
Citra diam beberapa waktu sebelum menjawab "Baiklah, tapi lepaskan dia terlebih dahulu"
"Kau pikir aku bodoh? kau bisa saja menembaki ku setelah ku lepaskan dia, lemparkan semua senjata yang kau miliki dan akan ku lepaskan dia" Alfa membongkar tujuan Citra dengan mudah.
Citra kemudian melemparkan semua senjatanya dan hanya menyisakan sebuah belati militer yang dia sembunyikan untuk berjaga jaga.
Citra kemudian keluar dari tempat persembunyiannya dan mengangkat kedua tangannya menunjukan penyerahannya.
"Sekarang lepaskan dia" Citra menatap Alfa dengan galak dan memintanya melepaskan Alvin.
Namun siapa sangka setelah Citra keluar Alfa langsung menodongkan senjata kepada Citra yang tanpa mengucapkan apapun.