Akulah Al, sang pewaris kekuatan supranatural.
Akulah Al, sang pembuka gerbang dua alam.
Akulah Al, sang mata batin yang akan melindungimu dari ilmu hitam.
Akulah Al, sang paranormal yang tidak pernah diperhitungkan.
Akulah Al, sang petualang alam gaib yang penuh romansa, darah dan kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 24
Setelah dua jam menunggu Risa melakukan pemeriksaan, hasil laboratoriumnya keluar juga. Dia menunjukkan padaku, aku jelas tidak mengerti bahasa medis yang dicetak di beberapa lembar kertas berlogo rumah sakit ternama di kota ini.
"Apa hasilnya, Ris?" Lebih baik aku bertanya, dokter pasti tadi sudah menjelaskan dan membacakan hasil tes labnya.
"Dokter bilang hanya masalah sistem hormon tubuh yang kacau Al, tidak seimbang gitu, jadi mempengaruhi siklus menstruasi bulanan. Bisa lebih cepat atau lebih lambat dari jadwal semestinya, intinya datang bulan jadi tidak teratur gitu lah," terang Risa.
"Penyebabnya apa kata Dokter?"
"Gaya hidup sama pola makan yang tidak sehat." Kali ini Risa yang tidak yakin, karena aku sendiri lihat Risa bukan cewek dengan gaya hidup tidak sehat.
"Tapi nggak ada sesuatu yang aneh kan?" Aku menunjuk hasil USG yang kata Risa 4D itu.
Risa menggeleng, "semua normal dan sehat, baik ukurannya maupun mulut rahimnya." Dia menambahkan selembar kertas lagi hasil papsmear yang mengacu tidak adanya gejala kelainan pada sel-sel serviksnya.
Aku bernapas lega, setidaknya Risa memang tidak apa-apa. Dia bilang pagi tadi juga sudah tidak ada lendir atau darah yang keluar dari **** *************.
"Harusnya kamu tadi mendengar sendiri penjelasan dokternya, Al. Suaminya boleh ikut masuk kok selama pemeriksaan berlangsung, kamu cocok loh jadi suami siaga!" kata Risa terkikik.
"Hemm… berarti kamu mau jadi istriku, Ris?"
"Mau mau mau…."
"Jadi istri ketiga ya?" Ujarku tertawa membalasnya.
"Sialan kamu Al, kamu tuh selalu tega sama aku!" Kata Risa kumat merajuknya.
"Yo wes, ayo aku antar kamu pulang sekarang! Aku masih ada perlu lain, aku mau ke rumah Dika." Aku merangkul bahunya sembari masih menahan tawa.
"Dika nggak salah apa-apa loh Al, itu murni aku yang minta dia mengantarku. Kamu jangan marah sama dia."
"Nggaklah, aku juga tau."
"Aku boleh ikut?"
"No, kamu istirahat aja di rumah. Tidur manis hari ini biar segera pulih."
"Kamu sama Dika mau kemana?"
"Ki Ageng mungkin, kalau dia mau nganterin."
"Ngapain kesana?"
"Ya sowan aja Ris, masak pasang susuk? Kamu tau kan aku udah ganteng dari sononya?" Aku membukakan pintu mobil untuk Risa.
"Eh… aku bisa buka sendiri, Al."
"Calon suami siaga," jawabku sekenanya saja.
"Sumpah Al, makin lama rasanya aku makin ingin jitak kepalamu itu."
"Ohya? Biasanya cewek kalo gemas suka ingin cium bukan jitakin kepala." Jawabku sambil memasang safety belt dan melaju menuju rumah Risa.
"Emang boleh?"
"Bolehlah, mau sekarang?"
Nah kan gelagapan juga akhirnya nggak bisa jawab, wajahnya merah merona dan matanya melihat ke arah luar menghindari kerlingan nakalku.
"Mau makan dulu nggak, Al?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan yang akhirnya membuatnya jengah sendiri.
"Kamu lapar ya?"
"Nggak, aku ngantuk!" Jawabnya galak. "Orang tanya makan itu ya hubungannya sama lapar."
"Iya, ayo makan! Nggak usah sewot, sensi banget. Mau makan apa?"
"Nggak jadi," tukasnya singkat. Perempuan aneh, nggak ngerti aku apa maunya. Dan tiba-tiba jadi diam saja tanpa bicara.
"Kok malah diem, ada apa lagi? Mikirin Damar Jati?"
"Eh… kamu tau laki-laki itu? Jujur aku takut dia datang lagi malam ini, Al."
"Aku akan mengurusnya, kalau kamu takut nanti malam tidur rumah aja lagi, beres kan?"
"Sungkan aku, Al. Banyak merepotkan kamu sama keluargamu!"
"Halah gayamu. Aku nggak mampir ya Ris, nanti malam kalau mau nginep kabarin aja. Salam buat mama kamu!" Aku menepikan mobil di depan rumahnya.
"Al… aku boleh tanya?"
"Hemm… apa?"
"Kamu emang niat poligami ya?"
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaannya, aku mengambil dagunya dengan telunjukku agar dia menatapku, "itu cuma bercanda Risa. Sekarang kamu kok jadi serius nanggepin omonganku sih? Kamu kenal aku sudah berapa lama?"
"Lalu soal ciuman itu, beneran boleh?" Tanyanya malu tapi serius.
"Astaga Risa…." Aku memandangnya tajam melihat kesungguhannya, dan akhirnya membiarkan dia menautkan bibirnya padaku. Membiarkan dia mengungkapkan apa yang tidak bisa disampaikannya dengan bicara. Membiarkan dia menyalurkan cinta dan kasih sayang terpendamnya. Membiarkan dia memuaskan diri dengan rasa penasarannya. Aku hanya mengikuti keinginannya sampai dia sendiri yang melepas bibirnya.
"Udah?" Tanyaku kemudian. Wew, ternyata gerah juga.
"Kamu nggak membalasnya dengan hati, Al." Keluhnya masih juga kurang terima. "Hal seperti ini yang membuatku ingin segera pergi ke Korea."
"Eh… kamu mau pindah kuliah di sana?" Tanyaku kaget.
"Mau operasi muka sama payu*dara, biar cantik dan seksi kayak Lucia." jawabnya dengan cengiran paling menyebalkan yang pernah diberikan Risa.
"Koplak kon Ris!" Makiku yang membuat kami akhirnya tertawa bersama.
"Thanks Al, apapun itu aku sudah tau bahwa kamu tulus hanya berteman denganku, aku juga akan berusaha seperti kamu. Tidak akan lagi melibatkan perasaanku padamu."
Risa turun dari mobil seceria dulu, seriang temanku, dan akan selalu begitu. Mungkin.
***
"Berangkat sekarang, Al?" Tanya Dika yang sudah bersiap, aku menelpon pagi tadi kalau mau berkunjung ke rumahnya setelah mengantar Risa.
"Jauh tah?"
"Nggak, sebelum masuk kota Lamongan."
"Kamu sering kesana?"
"Ya terakhir nganter Risa itu. Emang keperluanmu apa Al ngajak aku ke sana?"
"Pasang susuk," jawabku enteng menahan tawa.
"Rupamu wes ganteng ***! apa lagi yang mau disusuk?"
"Ya buat wibawa dan kehormatan, bentar lagi aku kan masuk dunia kerja." Jawabku beralasan. "Emang Beliau bisa apa aja, Dik?"
"Apapun Al. Jodoh, penglaris, jabatan, semua bisa dibantu sama Beliau."
"Kalau kamu dibantu apa, Dik?"
"Pengasihan Al. Aku mintanya itu," jawabnya tertawa sembari memegang gelang batu Mustikanya. "Kalau liburan kayaknya aku mau nambahin ilmu Al, buat pegangan aja."
"Oh ya apa itu? Ilmu kebal?"
"Ya sejenis itulah. Cuma kalau di suruh puasa-puasa itu yang aku nggak kuat, Al."
"Trus?"
"Mending beli pusaka atau batu mustika yang sudah ada isinya, palingan ritual atau lelaku nya nggak susah. Tapi harganya lumayan mahal, belum ada duitnya. Nunggu dana dari Martha."
"Sopo iku Martha?"
"Selir."
"Gendeng kon Dik!"
"Aku kan nggak pernah minta, dia sendiri kok yang mau ngasih uangnya. Itulah kekuatan pelet cinta, Al. Biar dianggep sama aku dia mau melakukan apa saja, asalkan aku memberikan kesenangan padanya."
"Apes banget tuh cewek kena jeratan cintamu!"
"Makanya itu Al, gelangku ini banyak bawa keuntungan. Nggak rugi bayar mahal sama Ki Ageng."
Aku hanya menggelengkan kepala mendengar pengakuan Dika, kelakuannya sudah nggak ada benernya. Bejat.
Parkiran depan rumah Ki Ageng berisi satu kendaraan saja. Dika mengambil duduk nomor tiga, artinya kami hanya perlu mengantri dua orang yang mungkin pasangan suami istri.
Tidak sampai setengah jam kami sudah masuk ke ruangan tamu Ki Ageng. Pajangan beberapa pusaka menjadi hiasan dinding rumahnya, aku merasakan bermacam-macam energi yang keluar dari pusaka-pusaka tersebut.
Ki Ageng sendiri sudah cukup tua dan bermata cekung dengan sorot yang tajam, tubuhnya kurus tapi hawa gelap tubuhnya merembes tanpa mampu ditutupinya. Dia tersenyum ramah menyambut kedatangan kami.
"Ada apa nak Dika kemari lagi? Mengantarkan tamu lagi?"
Aku menutup semua kemampuanku agar tidak ada kecurigaan dan tersenyum mengangguk ketika Dika memperkenalkan dan menyampaikan maksud kedatangan kami.
"Lha kamu wes bagus, buat apa pake susuk? Apa nggak enak pake Gendam Asmoro seperti nak Dika saja? Jadi kamu bisa memilih wanitanya sendiri, tinggal sebut namanya nggak sampai sedino wes kelepekan bingung nyari kamu anaknya." Terang Ki Ageng menawarkan hal lain. Dia menyebutkan mahar yang harus dibayar dan lelaku yang harus dikerjakan.
"Saya tukang gambar, Ki. Saya perlu tangan saya menghasilkan gambar yang menarik dilihat orang, itu makanya saya berniat memasangnya di tangan."
"Owalah, lah nggak ngomong dari tadi. Tak kiro mau di pasang di wajah, yo wes tunggu sebentar tak siapno dulu semua."
Sembari menunggu aku berkonsentrasi mencari energi Damar Jati di antara banyaknya energi yang berseliweran di sini. Nihil. Sesuatu menutupinya.
Ki Ageng kembali membawa cawan kecil berisi jarum berlian dan mangkuk berisi air dengan bunga mengambang di atasnya. Membakar dupa berbentuk kerucut di atas sajen kecil di sampingnya dan mengambil tangan kananku untuk segera dipasangkan susuknya.
Beliau dengan khusuk membaca mantranya dan mulai menekankan jarum yang dibasahi dengan air bunga itu agar masuk ke dalam kulitku.
Dahinya mulai berkeringat karena susuk itu tidak kunjung menembus kulitku, justru beberapa kali jatuh di atas meja. Akhirnya Beliau menyerah dan mengatakan bahwa aku tidak cocok memakai benda itu.
Tatapannya tajam menyelidik padaku, aku hanya tersenyum salah tingkah. Aku sendiri tidak tau kenapa hal ini terjadi, padahal aku sama sekali tidak melawan energi yang akan dimasukkan kedalam tubuhku.
Aku lekas mengajak Dika pamit sebelum Ki Ageng makin curiga padaku. Sepertinya aku akan mengunjungi tempat ini dengan cara lain nanti, ketika malam sudah pada puncaknya.
***
kan kakak dr orgtua kita