Sebuah kecelakaan telah merenggut nyawa kekasihnya. Kesedihan yang mendalam Felisha rasakan.. bukan saja karena kehilangan namun juga karena bayi dalam kandungannya akan terlahir tanpa ayah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon requeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan cinta
Minggu siang Bagas dan Felisha juga anak-anak pamit pulang. Sebelum pulang mereka sempat-sempatnya menodong Dio meminta uang untuk jajan.
"Kenapa tidak minta sama daddy kalian saja, daddy kalian kan banyak uang " Dio menggerutu sambil mengeluarkan 3 lembar uang dan menyerahkan kepada 3 bocah yang sedang menengadahkan tangannya.
Setelah mendapat uang dari Dio ketiga bocah itu berebut menciumi pipi Dio
"Sudah dikasih uang baru kasih cium " sungut Dio.
Bagas hanya tersenyum melihat kedekatan anak-anak dengan Dio. Meski dulu Dio terlihat tidak suka padanya namun kepada Nakula dan Sadewa Dio tetap baik. Mungkin itulah yang membuat anak-anak begitu dekat dengannya.
"Anak-anak saja yang dikasih uang, mommy nya tidak? " Felisha tidak mau kalah.
"Suami kamu kan banyak uangnya, kenapa minta ke kakak? "
"Dasar pelit " cibir Felisha
"Ya sudah kalau kak Dio tidak mau kasih kamu uang, kakak saja yang kasih " Kinanti mengambil dompet Dio dan memberikan tiga lembar uang kertas berwarna merah kepada Felisha
"Loh kok pake uang aku? " Dio protes
"Kan uang suami uang istri juga " jawab Kinanti sambil tersenyum. Dio pun hanya pasrah.
Setelah mendapat uang dari Dio, mereka pun pulang. Di mobil Luna terus mengoceh
"Kenapa om Dio kasih mommy tiga tapi aku sama kakak kembar satu " Luna protes
"Ya sudah ini mommy kasih buat kalian " Felisha membagi uang pemberian Dio kepada anak-anak Masing-masing satu lembar. Anak-anak pun senang.
"Uangnya ditabung ya " titah Felisha
"Dasar kamu tuh.. sudah punya suami masih minta uang sama kakak kamu " ujar Bagas. Felisha hanya tertawa.
Dio adalah kakak satu-satunya yang sangat Felisha sayangi. Meski kadang terlihat galak tapi Dio adalah sumber keuangan Felisha selain ayah sebelum Felisha menikah dengan Bagas.
"Mas..lagi ada proyek ya sama kak Dio? " tanya Felisha
" Iya " jawab Bagas
"Kok tidak cerita ke aku? " tanya Felisha
"Biasanya kamu saya ajak ngobrol saja susah.." jawab Bagas
"Aku heran saja biasanya kalian kan tidak terlalu akur..sekarang tiba-tiba ada proyek kerjasama " ujar Felisha.
"Kerja sama itu sama siapa saja bebas yang penting saling menguntungkan " jawab Bagas lugas.
"Mommy.. Luna tidur " Nakula dibelakang bersuara.
Felisha menoleh ke belakang, Luna tertidur dengan kepala dipangkuan Nakula dan kaki dipangkuan Sadewa.
"Kakak pegel tidak? kalau pegel Luna nya mommy pindahin kedepan " tanya Felisha
"Tidak " jawab Nakula
Sesampainya di rumah, Bagas menggendong Luna dan membawa ke kamar mereka. Sementara Nakula dan Sadewa langsung naik ke kamar mereka dilantai atas.
Bagas menurunkan Luna diranjang mereka, ditatapnya wajah cantik Luna.. sebuah perpaduan yang sempurna antara Felisha dan Bagus.
Perlahan diciumnya pipi bulat Luna yang menggemaskan. Jika saja Bagus masih ada tentu ia sangat bahagia mempunyai putri secantik Luna.
"Jangan diganggu mas nanti bangun " omel Felisha.
"Tidak ganggu.. hanya cium saja " jawab Bagas.
"Kira-kira Luna marah ga ya kalau dia punya adik? " tanya Bagas masih menatap wajah cantik Luna.
Jantung Felisha tiba-tiba berdetak sangat kencang ketika mendengar ucapan Bagas.
Bagaimana bisa Bagas membicarakan masalah itu disaat hubungan mereka belum sepenuhnya membaik.
"Fe...! " Bagas menunggu jawaban Felisha
"Saya tidak tau " jawab Felisha gugup.
Bagas melirik kearah Felisha yang tampak gugup. Baru mendengar ia mengatakan itu saja sudah membuatnya gugup apalagi jika Bagas meminta haknya sebagai suami. Entah apa yang akan terjadi pada gadis itu.
Bagas turun dari ranjang ketika ia mengingat sesuatu. Ia berjalan menuju nakas. Bagas membuka laci nakas seperti mencari sesuatu. Setelah menemukan benda yang dicarinya, Bagas menghampiri Felisha yang sedang duduk di sopa sambil memainkan ponselnya.
"Sini tangan kamu " Bagas mengambil tangan kanan Felisha membuat ponsel Felisha nyaris terjatuh.
"Apaan sih mas? " Felisha kaget
Bagas memakaikan cincin pernikahan yang baru Bagas ambil dari nakas dijari manis Felisha.
"Jangan berani-berani dilepas lagi " ancam Bagas. Felisha tidak menjawab
"Fe..! "
"Saya tidak berani janji " jawab Felisha
"Maksud kamu apa? " tanya Bagas
"Saya kan tidak bisa memprediksi kedepannya kita seperti apa.. bisa lebih baik atau.. "
"Saya pastikan kedepannya kita akan semakin baik " potong Bagas.
"Dan saya harap kamu bisa menerima cinta saya dengan tulus " ujar Bagas sambil berlalu ke kamar mandi.
Felisha terhenyak.. Apakah barusan Bagas menyatakan cinta kepadanya? tapi kenapa Bagas malah langsung pergi, tidak menunggu jawaban dari Felisha. Apakah itu gaya Bagas ketika menyatakan cinta?
Felisha tuh adik iparnya Kinanti
Kinanti adik iparnya Ajeng
Nah Ajeng mantan adik iparnya Bagas, suami Feli kyk yg muter gitu loh panggilan ‘mbak/kak’ nya