Warning! Mengandung banyak bawang. Harap bijak dalam memilih bacaan.
Silahkan promo di atas bab 100 ya. Hargai penulis ya. 🤗
Kehilangan cinta kedua orang tuanya bersamaan membuat gadis belia delapan belas tahun bernama Naya, merasa masa depannya bahkan hidupnya telah berakhir.
Kebaikan dan Cinta seorang duda seusia bapaknya, membuat hidup Naya penuh intrik. Orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya untuk alat membalas dendam dan mencapai tujuan pribadi.
Kira-kira nih, Naya akan tumbuh menjadi wanita yang seperti apa? Dan bagaimana dengan kisah cintanya? Karena terkadang cinta bisa membahagiakan dan menyakitkan di waktu bersamaan.
Ini adalah novel ketiga DewiOmega, semoga bisa menghibur pembaca semua. Tetap dukung karya para penulis dengan memberikan Like, komen vote dan rate bintang 5 ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Mimpi Buruk
Sudah tiga hari Putra diam tinggal di rumah. Bukan tanpa alasan, tapi karena ada Kanaya yang menemaninya selama Laras bekerja mengurus panti. Putra merasa tertarik dengan Naya yang mudah bergaul dan ceria. Banyak hal yang bisa mereka bicarakan walaupun hanya bahasan sederhana.
“Apa yang akan kamu lakukan setelah lulus SMA?”
“Dua minggu lagi aku sudah mulai kuliah di LaModѐ. Aku ingin menjadi desainer pakaian. Kalau kamu sendiri?”
“Entahlah. Yang aku tahu, saat ini aku sedang tertarik padamu.” Putra menyeringai.
Naya hanya tersenyum mendengar perkataan pemuda itu. “Bagaimana dengan kuliah? Apa kamu tidak berniat melanjutkan sekolah?”
“Otakku tidak akan cukup untuk menyimpan materi perkuliahan. Sudah waktunya diinstal ulang.”
“Ada-ada saja kamu. Aku tinggal dulu ya, aku mau mandi.” Naya beranjak meninggalkan Putra dan menuju ke kamarnya mengambil pakaian ganti.
Sebuah seringai yang mencurigakan mengawal Naya keluar kamar hingga masuk ke kamar mandi di dekat dapur.
“Sudah dua hari aku tidak mencuci pakaian. Sebaiknya aku rendam dulu, nanti setelah mandi baru aku cuci.” Ujarnya bermonolog dalam kamar mandi.
Naya mengunci pintu kamar mandi dan mulai merendam pakaiannya. Air kran mengalir dengan derasnya mengisi bak mandi yang hampir kosong. Naya mulai melepas pakaiannya sambil bersenandung lirih untuk mengusir rasa dingin. Tanpa dia sadari, seseorang dari luar sedang berusaha membuka pintu kamar mandi yang terkunci menggunakan sepotong kawat.
Posisi Naya sedang berdiri membelakangi pintu. Kedua lengan Naya menekuk ke belakang tubuhnya berusaha melepas kait bra yang tidak biasanya menjadi sulit untuk dibuka. Tiba-tiba sepasang tangan lain menyentuh tangannya dan membantunya. “Nampaknya kamu sedang kesulitan.”
Naya sontak berbalik dan mendekap bra yang hampir lolos dari dadanya dengan kedua tangannya. “Apa yang kamu lakukan?! Keluar!” Naya berteriak kesetanan.
“Jangan takut Kanaya, aku hanya ingin membantumu melepas kaitnya.” Mata pemuda itu berkilat penuh nafsu.
“Keluar kataku! Atau aku akan teriak!” Kamar mandi itu terlalu sempit hingga tidak menyisakan ruang untuk Naya menghindar.
Putra maju selangkah lagi, tinggal selangkah dan dia dapat menyentuh Naya. Matanya menatap tubuh telanjang Naya seperti hendak memangsanya. Mata Naya sibuk menyisir sudut kamar mandi mencari benda yang dapat dipakainya untuk menghajar Putra.
“Aku sudah bisa bayangkan lekukan itu dari balik pakaian yang kamu pakai.”
“Jangan mendekat. Aku akan teriak!”
“Teriak saja. Aku sudah mengunci pagar dan pintu rapat-rapat. Ayo teriaklah!” Putra tertawa mengejek dan mencoba meraih Naya.
Sebelum tangan kotor itu berhasil menyentuh tubuhnya, kaki Naya lebih dulu menendang benda yang membengkak di antara paha Putra dengan sangat keras. Putra berteriak kesakitan dan langsung jatuh berlutut seraya memegang ke****annya. Melihat lawannya tersungkur, Naya segera mengambil kesempatan untuk melarikan diri.
Naya meraih handuk besar miliknya dan melilitkannya membungkus tubuh telanjangnya. Ketika akan meraih pakaiannya yang tergantung di dinding, tangan Putra mencengkeram pergelangan kakinya dengan erat.
“Aaa…! Lepaskan bajingan!” Naya berbalik, menggunakan kaki kanannya yang bebas untuk menginjak tangan yang mencengkeram kakinya, berkali-kali hingga cengkeraman itu mengendur.
Naya segera berlari menuju pintu depan dengan tubuh masih berbalut handuk. Dia menangis ketakutan dan bingung. Dibukanya dengan cepat pintu rumah sambil berteriak minta tolong seperti kesetanan. Sore itu hujan deras, membuat para tetangga lebih betah di dalam rumah dan tenggelam menikmati kegiatan yang sedang mereka lakukan.
Pagar rumah itu lumayan tinggi dan saat ini ada gembok besar menggantung dalam kodisi terkunci. Naya mengedarkan pandangannya dengan cepat, mencari kemungkinan untuk memanjat, namun Putra lebih dulu menyusulnya keluar.
“Apa kau butuh bantuan, Cantik?” Putra tertawa girang melihat Naya belum berhasil melewati pagar rumahnya. “Kuncinya ada dalam saku celanaku. Ambillah sendiri.”
“Kau bajingan gila!!” Naya mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan. “TOLONG!”
DHUARR. Petir menyambar dengan keras, menenggelamkan suara teriakan Naya.
“Bahkan alam pun sedang membantuku mendapatkanmu. Aku janji, ini tak akan lama. Kemarilah.” Putra mulai melangkah mendekat.
“Ayo sini, brengs*k! Aku akan menghajarmu kali ini!” Naya hanya punya pilihan itu. menghajar Putra hingga dia bisa merebut kunci dari laki-laki itu. Naya membetulkan handuknya dan mengikatnya erat agar tidak melorot.
“Aku suka gadis agresif sepertimu. Membuatku semakin bergairah.” Putra melangkah lebar hendak menangkap Naya. “Sial!” dia meringis kesakitan ketika ternyata selangka**annya masih terasa ngilu akibat tendangan gadis itu.
Mereka bermain kejar-kejaran seperti kucing dan tikus selama beberapa saat, hingga klakson sebuah mobil membuyarkan konsentrasi mereka. Naya menoleh ke belakang, sebuah mobil sedan hitam yang sepertinya dia kenal sedang menyalakan lampu tanda peringatan dan menekan klakson tanpa henti.
“TOLONG!” teriak Naya, melihat ada peluang untuk lolos. Naya melambaikan tangan dan Putra mengambil kesempatan itu untuk memeluknya dari belakang dan mengangkat tubuhnya masuk ke dalam rumah. “TIDAK! TOLONG AKU!” Naya terus meronta.
Di dalam mobil, majikan dan sopir sedang berdebat. “Tabrak saja pagarnya!”
“Tapi, Bos… mobilnya.”
“Sekarang!” teriak majikan dengan geram.
“Pegangan yang erat, Bos.” Sopir itu menginjak pedal gas dengan sekuat tenaga dan menekan punggungnya ke sandaran kursi tak kalah kerasnya.
BRAKK. PYARR.
Pagar terbuka dalam sekali tabrak. Suara kaca mobil pecah dan bodi yang ringsek semakin meramaikan suasana sore itu. “Bagus.” Penumpang itu membuka pintu mobil dengan kasar dan berlari menuju rumah. Sayangnya, pintu rumah itu sudah terkunci dari dalam. “Bajing*n!”
Pria bertubuh tegap itu berusaha mendobrak pintu dengan sekali tendang, namun usahanya gagal. Kali ini sopirnya datang membantu, dengan sekali anggukan, mereka berdua menendang bersamaan dan pintu rumah Laras berhasil dilumpuhkan.
“NAYA!” pria itu berteriak memanggil gadis itu.
“Tolong!” terdengar suara teriakan dari dalam kamar di tengah ruangan.
Pria itu berlari menuju asal suara. Tampak di hadapannya seorang gadis dengan tubuh polos sedang meronta di bawah kungkungan seorang pemuda yang kesetanan ingin segera memuaskan hasratnya.
BUG. Pria itu menendang tubuh pemuda di depannya hingga tubuhnya menghantam meja dan pemuda itu berteriak kesakitan.
“Arrgh…!”
Pria itu membungkus Naya dengan selimut hingga hanya kepalanya yang tampak dan menggendongnya keluar. Gadis itu masih saja meronta, mengira Putra yang sedang memeluknya erat.
“Lepaskan aku, Baj*ngan!” tangannya mengepal dan memukul dada pria yang menggendongnya.
“DIAM!” pria itu membentak Naya, membuatnya terdiam dan membuka mata. Ada rasa syukur yang besar dalam manik coklat yang membulat itu. “Tenanglah, ini aku.” Suaranya melembut.
“Alan.” Sontak Naya menangis tersedu seraya memeluk leher pria itu dengan erat dan berlindung di balik tubuhnya yang kokoh.
Suara Naya yang serak karena terlalu banyak berteriak membuat rahang Alan mengeras. Alan masuk ke dalam mobil dan memeluk Naya dalam pangkuannya. “Kita pulang.” Titahnya pada Henry.
Mereka menyusuri jalanan ibukota dengan mobil depan yang hancur. Naya masih saja menangis dan bersembunyi di ceruk leher Alan. Pria itu menepuk punggung Naya dengan lembut, berusaha memberikan rasa tenang dan aman.
“Kita sudah sampai, Bos.” Henry membuka pintu untuk Alan.
Alan keluar dari mobil masih dengan Naya menempel dalam pelukannya. Dante yang kebetulan akan keluar, membuka pintu dan terbelalak melihat kakaknya membawa seorang wanita terbungkus selimut dalam pelukannya.
“Apa yang terjadi? Siapa dia, Kak?” tanyanya bingung.
“Diam.” Alan terus berjalan menaiki tangga setengah melingkar menuju kamarnya.
Perlahan dia baringkan Naya di atas ranjang. “Tenanglah, kau sudah aman. Aku akan menyuruh pelayan untuk membantumu.” Alan mengusap anak rambut Naya sekilas dan meluruskan punggungnya.
****
Tekan simbol hati dan jempolnya. Ketik komentarmu tentang novel ini. Yuk ramaikan kolom komentarnya dan naikkan pop. Terima kasih.
teganya kamu Thor..harusnya Kanaya merasakannya kebahagian 😭😭
minta dua an aja...cemburu yaa sm Ji min😀
kenapa sih pak Indra ngga terus terang aja..kalo Dari awal udah jelas pasti anak2nya maklumin....
semangat nanyaaa 😘😘
aku padamuuuuu💖💖😀
untung ada Alan ..
apa tuh wasiatnya om Indra Hartawan 🤔
aku mah udah ngacirrr 😂
tambah penasaran bacanya
Lanjutttt..