Sebuah cerita tentang makhluk mitologi yaitu werewolf dan vampire, menyamar dan berbaur dengan manusia untuk menemukan putri yang hilang. Salah satu dari mereka ternyata adalah mate sang putri.
Namun setelah putri yang hilang ditemukan terjadi peperangan besar yang membunuh banyak vampire.
kisah ini menceritakan tentang dua golongan vampire dan juga dua golongan werewolf yang saling memperebutkan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putriifrhm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. The Root
Dengan posisi yang benar-benar tak formal ini, mereka tengah berbicara tentang rencana yang dipikirkan oleh Jane. Semuanya benar-benar penasaran, kecuali Hilda dan James yang sepertinya sudah mengetahui isi otak Jane.
Leo datang dengan nafas terengah-engah, ia berdiri tepat di belakang Jane, "Jane, mengapa kau tiba-tiba lari?" tanya Leo dengan nafas yang masih kacau.
"Kita bisa hancurkan perisainya, tapi, bukan kalian, maksudku para vampire. Aku akan melakukan ini bersama dengan Leo dan teman-temannya. Apa kau tak keberatan Leo?"
Leo tersentak, "Ti-tidak, dengan senang hati aku melakukannya untukmu,"
"Tapi Jane--" Alex terlihat tidak setuju.
"Alex, percayalah padaku. Kau tahu? Saat kau merasa aku tak bisa mengatasi ini, hatiku benar-benar sakit. Entahlah, aku hanya merasa dianggap lemah, tapi semoga saja kau tak menganggapku lemah," Sela Jane, ia tersenyum hangat dan penuh keyakinan.
"Dia benar, Alex," James membela Jane.
Rahang Alex mengeras.
"Alex, aku janji, akan kembali dengan selam--"
"JANE! HENTIKAN! AKU TAK TAHAN MENDENGAR KAU SEPERTI INI!" tiba-tiba kemarahan Alex meluap, "Jane, kau tahu, aku tak bisa melupakan perasaanku, aku sangat takut jika terjadi sesuatu denganmu. Kau tak akan pernah tahu bagaimana besarnya kekuatan mereka, aku tak ingin kau mati,"
Jane meneguk salivanya dengan berat.
Sementara Leo tersenyum remeh, ia menghampiri Alex yang tengah diselimuti amarah itu, "Tenanglah, aku janji akan membawa adikmu dengan selamat. Kau tak perlu khawatir," Leo menenangkan, "Ah, dan aku akan memperkenalkanmu dengan gadis cantik di sini, mereka juga petarung,"
Namun Alex tak menggubrisnya dan langsung pergi meninggalkan Leo dengan yang lain.
"Leo, ayah percayakan ini padamu dan Jane," Thomas memegang kedua bahu milik anaknya itu. "Aku akan datang kesana untuk berjaga-jaga,"
"Aku akan ikut juga," sahut Hilda.
Jane menoleh ke arah Hilda, "Tidak, ini sangat berbahaya untuk para vampire,"
"Aku akan menggunakan jubah,"
"Hilda...,"
"Okay, baiklah,"
Jane, Leo dan anak buahnya berlari dengan wujud serigala. Dengan posisi Jane menaiki tubuh serigala Leo. Mereka berlari sangat cepat, hampir cepat seperti vampir yang melesat secepat kilat.
Saat sampai di perbatasan, mereka sangat terkejut. Bukan karena keadaan desa yang porak poranda tetapi justru sebaliknya. Desa menjadi lebih berkelas dengan bangunan-bangunan yang berlapis emas dan batu permata. Jalanan pun kini di hiasi dengan rumput hijau. Sangat sempurna--tidak, hampir sempurna. Satu saja yang kurang, suasana ramainya masyarakat. Di sana sangat sepi, seperti tak ada kehidupan. Jika ada orang, ia pun hanya sendirian.
"Cepat, kalian fokuskan untuk menghindari serangan mereka. Buatlah mereka menembak kekuatan mereka ke arah perisai, aku tahu akan sangat sulit. Tetapi, kalian bisa lompat sangat tinggi bukan? Itu akan membantu kalian untuk menghindari serangan mereka. Ayo!" Jane tampak sangat cerdas di mata para werewolf yang tengah dipenuhi semangat berapi-api itu.
Mereka telah memasuki daerah kerajaan yang semula milik Dryford. Mereka berjalan dengan wujud manusia, sangat hati-hati dan waspada dengan jebakan serta serangan mendadak.
Sekarang tujuan mereka hanya satu, yaitu istana.
"Mengapa sangat sepi? Seharusnya, mereka langsung menyerbu kita setelah merasakan kehadiran kita," tanya Leo. Ia benar-benar keheranan dengan keadaan ini.
KRETAK KRETAK
Suara lantai semen retak kini membuat mereka lebih waspada, pasalnya, serangan dari tanah biasanya di lakukan oleh Kevin.
Benar saja, ia langsung menyerang tanpa basa-basi. Hanya kekuatannya saja yang nampak, tetapi entah di mana letak sang empunya.
Semua berubah menjadi werewolf, kecuali Jane. Ia terus berada di pundak Leo, bagaimana pun keadaannya, ia tetap berada di sana.
Mereka melakukan tugas dengan baik, sepertinya Wetford tidak akan menduga rencana bagus ini.
TRANGG.
Salah satu serangan akar pohon berhasil mengenai perisai, dan membuat sedikit pecah di atas.
Kevin dan Alice tertawa jahat saat muncul secara tiba-tiba, mereka menyeringai setelahnya.
"Berani sekali kalian datang? Ah, tanpa si vampire, apa rencana kalian? Atau kalian berencana menyerah?" ujar Kevin meremehkan
Jane menyeringai, "Jangan pernah anggap remeh kami."
Alice tertawa nyaring, ia tertawa seperti setelah mendengar lawakan Jane. Tentu saja semua sorot mata tertuju padanya, "Manusia? Aku tak habis pikir, untuk apa kau mengikuti ini?"
Jane menatap tajam mata merah Alice, ia mendengus kesal dengan perilaku Alice yang terlalu meremehkan kecerdasan manusia.
"Sudahlah, tunggu apa lagi?" Kevin mengangkat tangannya, akar-akar besar dari pohon bermunculan. Dengan kekuatan secepat kilat, akar-akar itu mendekati Leo dan pasukannya.
Para werewolf itu berlari dan melompat untuk menghindari serangan yang sangat berbahaya itu. Tak sia-sia, beberapa serangan mengenai perisai hingga membuat kerusakan besar.
"Hentikan, Kevin!" pekik Alice.
Kevin menghentikan serangannya, "Ada apa? Kau tak ingin bersenang-senang?"
"Bukan! Mereka sangat cerdas, seranganmu membuat perisai pecah dan hancur, jika sampai rusak semua, kita akan habis."
Kevin menatap langit, ia merasa benar-benar bodoh tanpa mengetahui rencana para hama di hadapannya. Emosinya kini meluap. Namun tiba-tiba ia tertawa tanpa alasan yang jelas, "Nyali kalian cukup besar untuk merencanakan hal ini. Aku hargai usaha kalian, jika kalian berniat untuk memancing emosiku, maka kalian telah berhasil."
Karena kepintaran Alice, semua rencana cerdik Jane hancur. Tak hanya hancur, hal itu malah memancing seluruh kekuatan Kevin. Kini, Kevin tersenyum jahat dengan ribuan akar pohon bersiap di belakangnya.
Jane bergidik ngeri, juga Leo dan pasukannya.
"Apa kau punya rencana B?" tanya Leo pada Jane.
Mata Jane masih menatap ngeri ribuan akar pohon yang bisa membunuhnya kapan saja, "Ti-tidak."
"Kalau begitu, aku akan membuatnya sekarang."
"Apa?"
"Melarikan diri."
Sebelum melarikan diri, akar-akar yang dikendalikan oleh Kevin itu telah mengurung mereka semua, membentuk kubah. Tanpa celah sedikit pun, tentu saja tak ada sedikit pun cahaya yang masuk.
Gelap.
"Sial." umpat Jane, ia turun dari punggung Leo.
Leo berubah menjadi manusia, begitu juga pasukannya.
"Kita akan mati," ujar salah satu pasukan Leo.
"Aku akan mati lebih cepat," sahut Leo. "Aku ingin ke toilet."
"LEO!!" pekik Jane, "Ini bukan saat yang tepat untuk bergurau."
"Aku tidak bergurau, aku benar-benar ingin buang air."