[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [22]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Terkadang perlakuannya yang secara tiba-tiba itu membuat diriku jatuh lebih dalam lagi. ...
...-Zhein Anggara-...
Tak lama dari kepergian Celine dari rumah Iris, Zhein tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu rumah Iris sambil membawa cemilan untuk Iris.
"Cepet banget," ucap Iris yang kini sedang duduk di kursi ruang tamu.
"Lo kira gue bakalan lama?" tanya Zhein sambil melipat kedua tangan sambil memejamkan matanya.
"Gak gitu juga," jawab Iris.
"Bukannya lo mau keluar?" tanya Zhein.
"Iya," jawab Iris polos.
"Kenapa belum siap-siap?" tanya Zhein. Iris yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung mengembangkan senyumannya kearah Zhein yang kini sedang menatap kearah dirinya.
"Oke, tunggu, gue ganti baju dulu." jawab Iris sambil. melangkahkan kakinya pergi ke kamar.
"Jangan lama," ucap Zhein.
"Iya, gue gak bakalan lama." sahut Iris.
Saat ini Iris sedang memilih baju yang cocok untuk dirinya pergi keluar bersama dengan Zhein.
"Gue pake baju ini aja kali ya?" tanya Iris yang mengambil outfit yang simple.
Dengan secepat kilat, Iris sudah menggunakan baju pilihannya itu, Iris hanya memakai sedikit polesan make up yang tidak terlalu mencolok.
"Selesai." ucap Iris sambil mengambil tas senada dengan warna bajunya yang berada di atas ranjangnya.
"Ayo." ajak Iris sambil melangkahkan kakinya ke arah Zhein yang sedang memainkan ponselnya.
"Udah?" tanya Zhein. Iris menganggukkan kepalanya sebagai jawaban sambil tersenyum manis ke arah Zhein yang sedang menatap dirinya.
"Ayo." ajak Zhein. Mereka berdua melangkahkan kakinya keluar.
"Pake," ucap Zhein sambil memberikan helm yang sengaja dia bawa.
"Gak ada romantisnya sama sekali," gerutu Iris sambil mengambil helm yang berada di tangan Zhein.
"Bisa di ulang lagi gak kalimatnya?" tanya Zhein.
"Gak ada siaran ulang, dah ayo." jawab Iris sambil naik ke atas motor sport milik Zhein.
Tanpa Iris sadari saat ini Zhein sedang tersenyum I balik helm full face nya sambil menatap ke arah kaca spion menampilkan wajah kesal Iris yang sangat menggemaskan baginya. Mungkin di mulai dari hari ini wajah menggemaskan Iris itu akan menjadi candu baginya.
"Gak mau pegangan?" tanya Zhein.
"Gak." jawab Iris dengan wajahnya yang masih kesal.
"Gak takut jatuh?" tanya Zhein.
"Gak." jawab Iris.
"Oh oke," ucap Zhein sambil menghidupkan motornya.
Tuh kan, gak ada romantisnya sama sekali. ucap Iris dalam hati.
Zhein melajukan motornya dengan kecepatan standar, menyusuri hingar bingarnya jalanan kota jakarta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
30 menit berlalu, Zhein dan Iris sudah sampai disalah satu cafe yang terlihat begitu ramai, kesan minimalis dan elegan melekat di cafe tersebut.
"Ayo," ajak Zhein sambil menggenggam tangan Iris untuk mengikuti dirinya masuk kedalam Cafe tersebut.
Iris dan Zhein memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, karena kursi lain sudah penuh.
"Mbak," panggil Zhein pada salah satu pelayan cafe.
"Silahkan dipilih kak," ucap pelayan tersebut sambil memberikan buku menu di cafe tersebut kepada Zhein dan Iris.
"Mbak, aku pesan milk shake rasa coklat sama kentang goreng aja." ucap Iris yang masih melihat ke daftar tersebut.
"Ada lagi Kak?" tanya pelayan tersebut.
"Udah, itu aja," jawab Iris.
"Cuman itu aja?" tanya Zhein sambil menatap ke arah Iris.
"Iya, gue lagi gak mau banyak makan" jawab Iris.
"Oh oke," sahut Zhein.
"Kakak nya ya?" tanya pelayan tersebut sambil menatap ke arah Iris.
Sedangkan Iris yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung tersenyum.
"Iya mbak, ini kakak iris." ucap Iris sambil terkekeh pelan. Zhein yang mendengar penuturan tersebut langsung menatap Iris tajam, dia tidak menghiraukan tatapan tajam dari Zhein.
"Greentea latte sama sate Taichan mbak." ujar Zhein sambil menatap ke arah Iris yang sedang terkekeh pelan.
"Baik, ditunggu sebentar ya kak." ucap pelayan tersebut sambil berlalu pergi.
"Kenapa?" tanya Zhein setelah pelayan tersebut sudah berlalu pergi dari hadapan Zhein dan Iris.
"Apanya?" tanya Iris pura-pura tidak mengerti.
"Kenapa bilang Kakak?" tanya Zhein.
"Emang mau nya apa?" tanya Iris sambil tersenyum ke arah Zhein yang sudah terlihat kesal dengan perlakuannya itu.
"Pacar." jawab Zhein sambil menatap serius kearah mata Iris.
"Iris gak mau bilang gitu." ucap Iris yang sedang tersenyum penuh arti.
"Kenapa? Malu punya pacar kayak gue?" tanya Zhein yang sudah terlihat kesal dan menahan amarahnya.
"Engga, Iris gak malu, Iris cuman mau bilang kalau Zhein itu calon suami Iris gimana boleh gak kalau Iris bilang gitu?" tanya Iris sambil terkekeh.
"Apa si yang engga buat yang namanya Iris," jawab Zhein yang sedang mencubit pipi Iris.
"Makannya jangan kesel dulu," ucap Iris sambil menggenggam tangan Zhein.
"Ya udah gue salah, gue minta maaf." ujar Zhein.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗