NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16. Saksi Kunci

"Arghhh," Rudi mengerang kesakitan.

Rayven menyiku perut Rudi kencang, membalikkan badan dan mendaratkan satu pukulan uppercut keras tepat di dagu Rudi.

Tubuh kekar Rudi tumbang seketika, matanya mendelik, lalu ia ro oh pingsan menghantam lantai kantor dengan kepala berdarah.

"Gila... Mas Rayven, kamu keren banget sumpah," bisik Zora.

"Kita gak bisa ninggalin orang ini disini. Kalau dia sadar, dia bakal lapor ke Fadel dan ibunya, dan bikin situasi makin kacau," kata Rayven.

"Terus mau diapain?" tanya Rhea.

"Saya punya safe house pribadi di daerah selatan. Tempatnya tertutup jadi gak bakal ada yang bisa lacak siapapun. Kita bawa dia kesana dan kunci dia di bawah pengawasan orang-orang saya," jawab Rayven mantap.

Dengan bantuan Rayven dan Rhea, mereka membopong tubuh Rudi yang tidak sadarkan diri keluar menembus pintu belakang menuju mobil Rayven.

Langkah kaki Rayven bergema pelan di lantai semen basement. Setelah mengunci pintu besi rapat-rapat dan meninggalkan Rudi yang masih pingsan di bawah pengawasan dua anak buah kepercayaannya, Rayven masuk ke dalam mobil.

Rhea dan Zora duduk di kursi belakang langsung menatapnya dengan raut khawatir.

"Gimana, Rayven? Rudi aman?" tanya Rhea cepat.

"Aman. Dia gak bakal bisa kemana-mana. Sekarang saya antarkan kalian pulang dulu. Besok pagi kita periksa semua berkas asli ini sebelum mereka sadar," sahut Rayven tenang lalu ia mengenakan sabuk pengaman.

Keesokan harinya, pukul tujuh pagi.

Matahari terbit tipis menembus kabut pagi di atas restoran Restu Ibu.

Bima berjalan perlahan menyusuri gang samping dengan membawa tas ransel lusuhnya. Seperti biasa, dia selalu datang lebih awal untuk mempersiapkan dapur, menyapu halaman dan memastikan restoran siap dibuka sebelum Fadel dan Ibu tirinya datang menuntut segalanya.

Namun, saat langkah kakinya mendekati pintu besi belakang dapur. Bima mendadak menghentikan langkahnya, matanya memicing tajam. Pintu besi itu tampak sedikit renggang.

"Loh... kok pintunya kebuka sedikit ya?" gumam Bima heran pada dirinya sendiri. Tangannya yang gemetaran perlahan menyentuh permukaan pintu besi yang dingin. "Apa semalam aku lupa menguncinya pas pulang? Ahh tapi seingatku udah di kunci."

Bima mendorong pintu besi itu perlahan. Di dalam dapur, suasana sangat hening. Bima melangkah masuk ragu-ragu, matanya menyapu lantai dapur. Tidak ada barang yang hilang atau berantakan, tapi perasaannya mendadak tidak enak.

"Selamat pagi, Mas Bima,"

Suara sapaan ramah mendadak memecah keheningan. Bima sedikit terlonjak kaget lalu menoleh.

"Ehh. Selamat pagi juga, Pak Yudi, Mbak Sri," sahut Bima cepat mencoba menyembunyikan rasa paniknya.

"Pagi-pagi kok udah ngelamun sih, Mas?" tanya Pak Yudi sambil tersenyum hangat, menepuk pundak Bima. "Ayo. Bantu Bapak potong sayuran buat stok kaldu hari ini."

"Iya, Pak. Ini saya mau beres-beres dan siapkan peralatan dulu," jawab Bima mengangguk pelan.

Sementara itu, sekitar pukul sepuluh pagi di Biro Bantuan Hukum Rhea & Partners...

Suasana di dalam ruko kecil itu terasa sangat tegang. Meja kerja Rhea dipenuhi oleh tumpukan map coklat tua yang diambil dari brankas semalam.

Rayven duduk di kursi dengan lengan kemeja yang digulung hingga siku, sementara Rhea tekun membaca dokumen lembar demi lembar di bawah paparan pendar lampu meja. Zora berdiri di samping mereka, mengunyah roti tawar sambil menatap berkas-berkas itu dengan dahi berkerut.

"Jadi ini sertifikat tanah asli Restoran Restu Ibu? tanya Zora sambil menunjuk kertas tebal berstempel garuda yang ada di tangan Rhea.

" Iya. Sertifikat tanah asli, akta pendirian dan ini... surat wasiat sah yang ditulis tangan langsung oleh Pak Bambang," sahut Rhea pelan.

"Di dalam surat wasiat itu, Pak Bambang dengan tegas menyerahkan seluruh kepemilikan aset dan saham restoran secara mutlak kepada Bima Sutejo. Fadel dan ibunya sama sekali tidak mendapatkan sepeser pun," Rayven menyandarkan punggungnya di kursi lalu memiringkan kepala.

"Tapi tunggu deh. Kalau kita bawa dokumen ini ke pengadilan sekarang, pihak sana pasti bakal ngelak kan? Mereka pasti bilang berkas kita yang palsu, secara mereka punya draf balik nama yang kemarin di serahkan ke Mas Rayven," sela Zora mengunyah rotinya cepat.

"Makanya kita butuh saksi kunci hukum," tegas Rayven. Dia menunjuk ke lembar terakhir akta dan surat wasiat tersebut. Di sana tertera stempel resmi dan tanda tangan seorang notaris.

"Notaris Notokusumo, S.H. Beliau yang mencatat dan melegalisir seluruh dokumen asli Pak Bambang ini lima tahun yang lalu," baca Rhea nyaring.

"Notaris ini sekarang adalah saksi hidup. Kalau notaris Notokusumo mau bersaksi di depan hakim dan menyatakan bahwa berkas milik Rika dan Fadel adalah dokumen bodong tanpa legalitas, mereka bakal langsung tersudut," kata Rayven.

"Bentar, bentar. Lah, ini kan notaris senior yang kantornya di daerah Menteng itu kan? Tapi sekarang beliau susah banget ditemuin karena udah tua dan rasa tertutup," Zora membelalakan matanya, menunjuk nama notaris itu.

"Saya tau dimana kantornya. Kita harus temuin beliau hari ini," sahut Rayven dingin.

Tanpa membuang waktu, mereka bertiga langsung bergerak menaiki mobil Rayven menuju ke kediaman notaris Notokusumo di daerah Menteng.

Satu jam kemudian mereka sampai di kediaman Notokusumo.

Seorang pria tua berusia sekitar 70 tahunan dengan kacamata tebal dan piyama batik. Pak Notokusumo sedang duduk santai di teras sambil menikmati teh hangat. Ia mendongak saat melihat tiga tamu asing melangkah mendekatinya.

Rayven melangkah paling depan lalu menunduk sopan. "Selamat pagi, Pak Noto. Maaf mengganggu waktu Bapak di pagi hari."

"Selamat pagi. Silakan duduk dulu. Anak-anak muda ini dari mana ya? Kelihatannya ada urusan yang cukup penting," Pak Noto menyipitkan mata di balik kacamata tebalnya.

"Terima kasih, Pak," sahut Rayven sembari menjabat tangan Pak Noto dengan hangat. "Saya Rayven Mahesa dari Utomo Law Firm. Dan ini rekan saya, Rhea dan Zora dari Biro Bantuan Hukum Rhea & Partners."

Rhea dan Zora ikut membungkuk dan menjabat tangan Pak Noto dengan sopan. "Selamat pagi, Pak Noto," sapa Rhea lembut.

"Oalah, Pak Pengacara dari Utomo Law Firm toh. Ada angin apa nih pengacara elit jauh-jauh main ke rumah pensiunan seperti saya?" Pak Noto mengangguk-angguk terkesan.

Rayven mendudukan dirinya di kursi kayu jati, lalu menatap Pak Noto dengan raut wajah yang berubah serius. "Kami datang membawa dokumen penting milik almarhum Pak Bambang Sutejo, pemilik Restoran Restu Ibu."

Mendengar nama Bambang Sutejo, cangkir teh di tangan Pak Noto seketika berhenti di udara. Wajah tua itu meredup menyisakan raut terkejut dan duka yang mendalam.

"Jadi... Bambang Sutejo sudah meninggal dunia?" suara Pak Noto bergetar parah, matanya berkaca-kaca menatap Rhea dan Rayven.

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!