AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Al tak sabar menunggu waktu pulang sekolah. Kakinya tak bisa berhenti mengetuk-ngetuk lantai ubin kelas.
Pikirannya sama sekali tidak ada di papan tulis.
Bagaimana bisa fokus, jika beberapa menit lalu sebuah notifikasi jika ia mendapatkan mobil.
Saat itu masih di jam pelajaran terakhir. Suasana kelas terasa begitu membosankan.
"Sistem, bagaimana aku mendapatkan mobilku? Apakah aku harus ke showroom dulu?" tanya Al dalam hati, menatap
Sebuah layar holografis biru, yang hanya bisa dilihat olehnya, berkedip.
[Tuan rumah tidak perlu repot. Kali ini, kurir khusus akan mengantarkan mobil tersebut tepat di depan gerbang sekolah Anda. Jadi, bersiaplah untuk menerimanya dalam waktu 15 menit.]
"Beneran? Oh my god!" teriak Al tanpa sadar. Suaranya menggema keras di ruangan yang tadinya hening.
KRETEK.
Seketika itu juga, puluhan pasang mata langsung tertuju dan menatap tajam ke arah Al.
Teman sebangkunya, Saka, menyenggol lengan Al dengan panik menggunakan sikutnya.
"Woi, lo gila ya? Kesambet apaan?" bisik Saka setengah mati menahan malu.
Pak Jio membalikkan badannya perlahan. Tatapannya dari balik kacamata tebal itu.
Beliau berjalan beberapa langkah mendekati meja Al, melipat kedua tangannya di dada.
"Al, ada apa denganmu? Apa ada yang lucu dari rumus fungsi sinus ini?" tanya Pak Jio, menatap tajam ke arah Al.
Seisi kelas mulai berbisik-bisik. Al harus memutar otak secepat mungkin agar tidak berakhir di ruang BK di hari paling membahagiakan dalam hidupnya.
"Ah... maaf, Pak! Saya... saya terlalu bersemangat dengan jawaban yang saya dapatkan," kata Al, terpaksa berbohong sambil memamerkan senyum paling polos yang bisa ia buat.
"Jawaban? Kalau begitu, coba kamu maju ke depan. Selesaikan soal nomor tiga yang ada di papan tulis. Bapak mau lihat seberapa benar 'jawaban' yang membuatmu berteriak seperti itu," kata Pak Jio menaikkan satu alisnya, tampak sangsi.
Beliau mengetuk meja Al dengan penggaris kayu
Rian langsung menepuk jidatnya sendiri. "Mampus lo, Al," gumamnya super pelan.
Al menelan ludah. Ia melirik ke papan tulis, lalu kembali berkomunikasi secara mental dengan asisten gaibnya.
"Sistem, tolong carikan jawaban soal di papan tulis dong! Cepat!"
[Memproses... Jawaban telah dikirim ke memori Anda, Tuan.]
Al langsung berdiri dengan tegak. "Baik, Pak. Tantangan diterima."
Dengan langkah santai, yang membuat teman-teman sekelasnya melongo, Al berjalan ke depan kelas, mengambil spidol dan menuliskan langkah-langkah penyelesaian dengan sangat lancar.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai ia meletakkan kembali spidolnya
"Sudah selesai, Pak Jio," ucap Al sambil tersenyum tipis.
Pak Jio memeriksa hasil kerja Al dari atas ke bawah.
Matanya membelalak kecil. Tidak ada satu pun angka yang meleset. Beliau berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat goyah.
"Ehem. Ya... jawabanmu benar. Tapi lain kali, kendalikan antusiasmemu, Al. Kembali ke tempat dudukmu."
"Terima kasih, Pak."
Begitu Al kembali duduk, Saka langsung mendekatkan kepalanya. "Gila, Al! Sejak kapan lo jadi jenius matematika begini? Lo kesurupan jin pinter ya?"
"Rahasia dong. Makanya, lihat nanti pas pulang sekolah. Ada kejutan besar," bisik Amirul dengan nada misterius.
KRIIIIINGG!
Bel panjang yang dinanti-nanti akhirnya berbunyi. Al langsung menyambar tas ranselnya cepat.
Mobil impian sudah menanti di depan gerbang sekolah buat ia tak sabar untuk melihatnya.