Alexa tak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel dark romance yang ditulis oleh saudara kandungnya sendiri. Saat membaca bab terakhir, ia menggerutu karena merasa alurnya terlalu kejam dan tokoh utama perempuan diperlakukan tanpa belas kasihan. Namun, ketika tanpa sengaja terjatuh dari tempat tidur, Alexa membuka mata di dunia yang sama persis dengan novel itu. Yang lebih mengejutkan, ia bukan menjadi tokoh sampingan—melainkan Alexa, karakter utama dengan nama yang sama dengannya. Kini ia adalah istri dari Raiden Damon Alteir, seorang mafia paling berkuasa yang namanya ditakuti di seluruh dunia bawah tanah. Di balik wajah tampannya, Raiden dikenal sebagai pria yang dingin, kejam, dan tak mengenal belas kasihan. Setiap kali amarahnya memuncak, kedua matanya berubah menjadi merah, seolah memperlihatkan sisi tergelap yang bahkan para pembunuh bayaran pun takut hadapi. Dalam alur novel, Alexa hanyalah pion yang terus dipermainkan dan dikendalikan oleh sang mafia psikopat. Ia tahu bagaimana kisah itu seharusnya berakhir—tragis. Karena itulah, Alexa bertekad mengubah takdirnya dan keluar dari cerita sebelum semuanya terlambat. Namun, semakin keras ia berusaha melarikan diri, semakin Raiden Damon Alteir menolak melepaskannya. Di dunia yang dipenuhi rahasia, perebutan kekuasaan, dan bahaya di setiap sudut, Alexa harus memilih: mengubah akhir cerita yang sudah ditulis, atau tenggelam dalam takdir kelam yang menantinya bersama sang raja mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Perjalanan kembali dari kantin lantai dasar menuju kamar VIP terasa bagaikan siksaan marathon tanpa akhir bagi Alexa.
Setiap helaan napasnya terasa berat, dan setiap langkah kaki yang ia seret di atas lantai keramik dingin mengirimkan gelombang nyeri memotong tepat di bekas luka operasinya. Tubuh rampingnya bergetar hebat. Keringat dingin merembes deras dari pelipis dan celah-celah lehernya, membasahi gaun rumah sakit yang dikenakannya hingga terasa lembap dan menempel kaku di kulit.
Hah... hah...
Alexa bersandar rapat pada dinding koridor rumah sakit, memegangi tiang infus dengan jemarinya yang mendadak memutih dan tak bertenaga. Pandangannya mulai memburam dan berbayang. Pengaruh obat bius yang perlahan menguap, ditambah memaksakan diri berjalan jauh dalam kondisi luka dalam yang belum menutup sempurna, menguras sisa-sisa energi terakhir yang ia miliki.
Pintu kamar VIP-nya tinggal berjarak beberapa meter di depan mata. Namun, lutut Alexa mendadak goyah. Rasa pusing yang mendera begitu hebat membuat kesadarannya berputar liar.
'Nggak kuat lagi...' batin Alexa pasrah.
Merasakan daya tahan tubuhnya sudah berada di ambang batas absolut, Alexa memutuskan untuk tidak lagi berjuang. Ia mengendurkan pegangannya pada tiang infus dan memilih melepaskan bobot tubuhnya, membiarkan dirinya terjatuh meluruh begitu saja ke lantai dingin yang keras. Ia hanya ingin memejamkan mata dan beristirahat, tidak peduli seberapa kotor atau kerasnya lantai di bawahnya.
Namun... benturan keras yang ia bayangkan tidak pernah terjadi.
GREPP!
Sebelum tubuh Alexa sempat menghantam lantai keramik, sebuah lengan tegap, keras, dan bertenaga melesat cepat menangkap pinggangnya dari samping. Lingkaran tangan itu begitu kuat dan stabil, seketika menahan seluruh bobot tubuh Alexa yang terkulai lemas tanpa daya.
Aroma tembakau mahal bercampur minyak kayu cendana yang sangat familier dan dominan seketika menyeruak tajam menghujam indra penciuman Alexa.
Alexa perlahan-lahan mengangkak kelopak matanya yang terasa sangat berat. Pandangannya yang kabur perlahan memfokus, menangkap garis rahang tegas dan wajah tampan yang kini terpaut begitu dekat dengannya.
Itu Raiden.
Pria itu berdiri membeku di tengah koridor, mengenakan jas hitam mewahnya yang sempurna. Iris mata hitam legamnya menghujam tepat ke arah Alexa—sangat tajam, dingin, dan memancarkan guratan kemurkaan yang tertahan akibat tindakan nekat wanita di dalam dekapannya ini.
"Kau gila?" suara Raiden terdengar bagaikan desisan ular mematikan, amat rendah namun penuh dengan penekanan dingin yang menekan udara di sekitar mereka. "Siapa yang mengizinkanmu berkeliaran di luar kamar dalam kondisi seperti ini, Alexa?"
Namun, Alexa tidak lagi punya energi untuk takut, berdebat, apalagi mengeluarkan kepura-puraan manis sesuai rencana konyolnya di kantin tadi.
Gadis itu hanya menatap lurus ke dalam iris mata hitam milik Raiden dengan pandangan yang teramat sayu, sayu, dan penuh kepasrahan yang mendalam. Bibirnya yang pucat bergetar tipis tanpa suara, tetapi sepasang matanya yang berkaca-kaca seolah menyuarakan satu hal dengan sangat jelas pada sang penguasa: 'Aku benar-benar tidak kuat lagi...'
DEG.
Tatapan mata sayu dan keputusasaan murni di wajah Alexa mendadak menghantam kedalaman dada Raiden. Untuk pertama kalinya, pria berdarah dingin itu mendapati dirinya tertegun sejenak, kehilangan kata-kata saat menyaksikan kerapuhan mutlak dari wanita yang biasanya terus menatapnya dengan benteng pertahanan ketakutan.
"Tsk!"
Raiden berdesis keras, kejengkelan yang tajam mencetus di raut wajahnya. Tanpa membuang waktu lebih lama dan tanpa memedulikan tatapan shock dari para perawat yang kebetulan melintas di koridor, Raiden menyelipkan tangan satunya di bawah lipatan lutut Alexa.
SREK!
Dalam satu gerakan mulus dan tanpa usaha berarti, Raiden menyapu dan mengangkat tubuh ramping Alexa ke dalam gendongannya—bridal style.
Kepala Alexa terkulai terkulai lemas di atas dada tegap Raiden, secara tidak sadar menyandarkan dahi dinginnya yang berpeluh ke perpotongan leher pria itu. Kehangatan tubuh Raiden yang kontras dengan tubuhnya yang mendingin membuat Alexa menyusupkan wajahnya lebih dalam, mencari perlindungan di tengah rasa sakit yang menggerogoti fisiknya.
Otot-otot di rahang Raiden mengetat keras saat merasakan napas hangat dan terengah-engah dari Alexa yang menerpa lehernya. Pria itu menghentakkan kakinya, melangkah lebar dan tegas menendang pintu kamar VIP hingga terbuka, lalu membawa tubuh mungil istrinya masuk kembali ke dalam ruangan.
Raiden meletakkan tubuh Alexa di atas ranjang medis dengan gerakan yang sangat hati-hati—sebuah kelembutan langka yang kontras dengan aura membunuh yang mengepul dari tubuhnya. Setelah menyelimuti tubuh istrinya yang lemas hingga sebatas dada, Raiden memutar tubuhnya.
Suara langkah kakinya menghantam lantai bagaikan dentang lonceng kematian saat ia melangkah mendekati dokter utama dan jajaran staf rumah sakit yang berbaris di dekat pintu.
Dokter utama yang bertanggung jawab atas perawatan Alexa seketika berlutut di atas lantai. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, dan pelipisnya dibasahi keringat dingin yang mengucur deras. Tubuhnya gemetaran hebat di bawah intimidasinya iris mata hitam legam Raiden yang membeku.
"T-Tuan Muda Raiden... m-mohon ampun...!" cicit dokter utama dengan suara melengking panik, menyatukan kedua telapak tangannya yang bergetar. "Kami... kami baru saja memeriksa kondisi Nyonya Alexa!"
"Jelaskan," satu kata keluar dari mulut Raiden—dingin, rendah, dan penuh ancaman mutlak.
"B-bahwa... Nyonya Alexa terpaksa berjalan sendiri ke kantin lantai dasar hanya... hanya karena kelalaian perawat yang bertugas!" teriak dokter itu terbata-bata, takut lehernya diputus di tempat jika terlambat memberikan alasan. "Perawat yang bertanggung jawab membawa baki makanan siang Nyonya lupa dan menelantarkan tugasnya di ruang staf! Nyonya yang kelaparan dan tidak bertenaga akhirnya terpaksa turun sendiri dengan luka operasi yang belum kering!"
DEG.
Atmosfer di dalam kamar VIP itu seketika merosot hingga ke titik beku. Aura membunuh yang dikeluarkan Raiden kini begitu pekat hingga membuat dua orang perawat di barisan belakang menunduk dalam-dalam dengan dada yang terasa sesak.
Raiden tidak membuang-buang kata. Mata hitamnya menyapu jajaran staf hingga mengunci pada seorang perawat wanita muda yang berdiri gemetaran di sudut ruangan—sosok yang sejak tadi tidak berani menatap matanya.
"Kau," panggil Raiden datar.
Perawat muda itu tersentak kaku, air mata ketakutan seketika meleleh menembus pipinya. "T-Tuan Muda... s-saya sungguh tidak sengaja, saya—"
"Aku tidak membayar fasilitas rumah sakit ini agar wanita milikku harus menyeret tubuhnya sendiri yang terluka hanya demi sesuap makanan," potong Raiden dingin. Suaranya tidak keras, tetapi penekanan di setiap kata terdengar bagaikan eksekusi mati.
Raiden menoleh ke arah pengawal pribadinya yang berdiri tegap di samping pintu.
"Pecat dia hari ini juga," perintah Raiden tanpa sedikit pun belas kasihan. "Blacklist namanya dari seluruh jaringan rumah sakit dan instansi medis di bawah naungan klan Alteir. Pastikan dia tidak akan pernah bisa bekerja di bidang apa pun lagi seumur hidupnya."
"T-Tuan Muda! Mohon ampun, Tuan! Saya mohon beri saya kesempatan!" jerit perawat itu histeris, meluruh jatuh ke lantai dan mencoba menggapai ujung celana Raiden.
Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh kain celana sang penguasa, dua pengawal berbadan tegap langsung menyeret tubuh wanita itu keluar dari ruangan tanpa belas kasihan. Suara jeritan dan tangisan penyesalannya perlahan meredup dan menghilang di sepanjang koridor.
Dokter utama dan jajaran staf yang tersisa makin menundukkan kepala mereka rapat-rapt ke lantai, menahan napas dalam ketakutan yang luar biasa. Mereka sadar, di hadapan Raiden Damon Alteir, satu kesalahan kecil yang merugikan Alexa sama saja dengan menggali liang kubur sendiri.
"Bawakan makanan baru yang hangat dan paling nutrisional ke ruangan ini dalam lima menit," pangkas Raiden penuh nada absolut, memutar tubuhnya membelakangi mereka. "Dan jika aku menemukan kelalaian sekecil apa pun lagi... kalian semua tidak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga nyawa kalian."
"B-baik, Tuan Muda! Segera kami laksanakan!" seru dokter utama dengan terburu-buru, lalu mengisyaratkan seluruh staf untuk mundur dan keluar dari ruangan secepat kilat.
Pintu ganda kamar VIP tertutup kembali dengan dentingan halus, menyisakan keheningan mencekam di dalam ruangan.
Raiden melangkah pelan mendekati sisi ranjang kembali. Pria itu menyilangkan tangannya di dada, berdiri tegap sembari menatap dalam-dalam pada sosok Alexa yang kini memejamkan mata dalam napasnya yang halus namun teratur.
ok...let's play 🤣🤣
Alexa swaaaag🤣🤣🤣🫣
double up
takut Raiden nya kelamaan ngejelasinnya nya
Alexa main lompat aja🥹
anak orang udah diperawanin trus ilang
jangan salahin kalau ntar Alexa nya menghilang juga😔