⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sejak menjawab pertanyaan dari Javeno tadi, Javeno malah diam, membuat Disty jadi merasa kalau dirinya salah dalam bicara.
"Jav," panggil Disty pelan.
Javeno tersadar dari lamunannya. "Hm," dehemnya menjawab sembari kembali menjalankan mobil.
"Apa jawaban aku salah sampai buat kamu diam?" tanya Disty hati-hati, takut malah memperburuk suasana hati Javeno dan berakhir dirinya yang mendapatkan hukuman.
"Selama ini kamu nggak pernah anggap aku jadi milik kamu ya Dis, ternyata cuma aku yang ngerasa begitu," batin Javeno tanpa memberikan jawaban dari pertanyaan Disty.
"Jav, kalau aku salah...."
"Diam Disty!" tegas Javeno menyela dingin. Mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang hingga kini mereka sampai di halaman mansion.
Mobil Gaveno terparkir di sana.
Javeno keluar lebih dulu membuat Disty juga keluar, lalu mengikuti langkah kaki Javeno yang masuk ke dalam rumah.
Disty memelankan langkah saat melihat ada dua orang yang tidak ia kenali duduk di ruang tamu. Seorang pria paruh baya yang memiliki rahang tegas dan tatapan tajam, dan seorang gadis cantik yang seumuran dengan dirinya.
"Wajahmu terkejut begitu, bingung?" tanya Gaveno membuyarkan pikiran Disty yang memang sedang bertanya-tanya siapa mereka berdua.
Javeno hanya diam, tatapan tajamnya bertemu dengan tatapan tajam pria paruh baya ini.
Robert Mixvell. Ayah kandung dari Javeno dan Gaveno.
"Ini Daddy," ucap Gaveno memperkenalkan kepada Disty.
Disty yang mendengar itu segera membungkukkan tubuhnya separuh untuk memberi hormat kepada Robert. Disty hendak menyapa, tapi Javeno langsung merangkul pinggangnya.
"Masuk kamar," kata Javeno menatap mata bulat Disty.
Disty tidak langsung patuh, ia menatap Robert lagi lalu menatap gadis yang duduk di sebelah Robert.
"Aurelia Mahendra," kata Robert dengan nada yang dingin namun ramah.
Gadis anggun, cantik dan manis, dialah Aurel.
"Calon istri Javeno setelah kelulusan," lanjut Robert yang membuat Aurel menunduk tersipu malu.
Javeno bisa merasakan reaksi tubuh Disty yang menegang.
"Disty," panggil Javeno dingin.
"Y-ya," sahut Disty gugup dan menatap pada Javeno.
"Masuk kamar," titah Javeno sekali lagi.
Disty mengangguk dan melangkah pelan menuju kamar setelah Javeno melepaskan rangkulannya.
"Dia menyimpan rasa sakit setelah mendengar kalau gadis ini adalah calon istrimu," komentar Gaveno menilai perasaan Disty.
"Diam Gaven!" tegas Robert menatap putra bungsunya.
Gaveno memutar bola matanya, lalu berdiri. "Aku sudah memiliki gadis ku sendiri, jadi jangan harap Daddy bisa melakukan perjodohan gila seperti yang Daddy lakukan sekarang untuk kembaran ku," katanya sebelum berlalu pergi, meninggalkan mansion Javeno.
Javeno sendiri masih diam, wajahnya tetap datar bersama aura dingin yang keluar.
"Aurel lebih pantas dan cocok untuk menjadi calon menantu keluarga Mixvell dari pada gadis tadi, Javen," ujar Robert.
"Apa peduliku?" Javeno menaikkan sebelah alisnya. Tanpa menatap Aurel yang menunduk.
"Mulai besok, Aurel akan satu sekolah dengan kamu, sebagai pendekatan sebelum kelulusan kalian," ujar Robert.
Javeno bergerak menuju ke kamar tanpa peduli lagi.
"Om, sepertinya Javeno nggak suka aku," cicit Aurel tampak sedih.
Robert tersenyum. "Jangan khawatir, kalian baru bertemu hari ini. Setelah satu sekolah nanti, dia bakal suka kamu perlahan. Pertemuannya sudah selesai, mari, Om akan antar kamu lagi ke rumah," ajaknya.
Sedangkan Javeno sudah masuk ke dalam kamar, tapi tidak mendapati Disty di dalamnya.
Javeno tidak memanggil atau mencari, karena sudah melihat siluet Disty yang berada di balkon. Javeno menyusul dan langsung memeluk dari belakang.
"Udah selesai?" tanya Disty lembut.
"Hm," dehem Javeno.
Disty melihat ke bawah saat ada mobil yang masuk ke halaman, lalu Robert dan Aurel keluar.
"Dia cantik, Jav," ucap Disty menilai Aurel yang memang cantik serta anggun.
Javeno diam tanpa suara, ikut memandang ke bawah sana. Di mana mobil sudah membawa pergi Ayah dan gadis asing itu.
"Setelah Aurel masuk ke kehidupan kamu, apa aku udah bisa bebas Jav?"
Pertanyaan Disty itu membuat rahang Javeno mengeras, membalik tubuh Disty secara paksa dan mencengkram kuat pinggang Disty yang sekarang menahan sakit.
"Sampai kapan pun kamu nggak akan pernah bisa lepas dari aku, Disty. Ingat ini baik-baik di kepala kamu," desis Javeno dingin dengan tatapan tajam.
"Tapi setelah memiliki istri nanti, kamu nggak mungkin tetap mempertahankan aku sebagai pelacur kamu. Aku nggak mau...."
"Aku nggak kasih pilihan untuk kamu terima atau enggak nya Disty!" geram Javeno sebelum melumat bibir Disty secara kasar.
Disty hendak memberontak namun Javeno menahan kepalanya dan semakin memperdalam ciuman ini.
"Aku nggak mau jadi simpanan setelah kamu udah punya istri nanti Jav," batin Disty memejamkan matanya.
Disty memukul dada Javeno saat oksigen mulai menipis, membuat Javeno melepas tautan itu. Napas keduanya sama-sama tersengal.
Javeno kembali mencengkram kuat pinggang Disty, membuat gadis itu langsung memeluk Javeno.
"Maaf, maaf kalau pertanyaan dan ucapan aku bikin kamu marah, tolong jangan kasar," pinta Disty membenamkan wajahnya di dada bidang Javeno.
Javeno diam dan memejamkan mata, menikmati angin sore yang menerpa wajahnya. Tangannya bergerak membalas pelukan Disty secara hangat.