Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Memutuskan
Suasana di depan kelas 11-B mendadak terasa canggung.
Beberapa murid yang hendak pulang diam-diam memperlambat langkahnya. Ada yang pura-pura merapikan tas, ada juga yang sengaja berdiri di dekat pintu kelas hanya untuk melihat kelanjutan drama yang sejak siang tadi belum juga selesai.
Di tengah tatapan puluhan pasang mata itu, Sephia hanya bisa memijat pelipisnya pelan.
Ya Tuhan... belum kelar juga?
Di hadapannya, Sagara masih berdiri dengan tenang.
Sementara di sampingnya, Alan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, menatap Sephia tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan.
Hana yang berdiri di sebelah Sephia mulai gelisah sendiri.
Matanya bergantian menatap Sagara, Alan, lalu Sephia.
"Kenapa gue jadi ikut-ikutan deg-degan, sih?" batinnya.
Hening.
Tidak ada satu pun yang membuka suara.
Sampai akhirnya...
"Ayo."
Sagara menganggukkan kepala kecil ke arah koridor.
"Pulang."
Belum sempat Sephia menjawab, Alan menyela tanpa mengubah ekspresinya.
"Belum bisa."
Sagara menoleh pelan.
Alan balas menatapnya.
"Dia masih punya utang cicilan pulang bareng gue."
Suasana yang tadinya sudah hening kini terasa makin menyesakkan.
Beberapa murid mulai saling senggol pelan.
"Mulai lagi..."
"Fix, bakal lanjut."
Hana refleks menelan ludah.
"Kenapa gue belum pulang aja, sih..."
Sementara Sephia...
perlahan mengembuskan napas panjang.
Kesabarannya yang sejak siang tadi tinggal seujung kuku...
akhirnya habis juga.
"Udah selesai?"
Suara Sephia tidak keras.
Tapi cukup membuat Alan dan Sagara sama-sama menoleh ke arahnya.
Sephia menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Tatapannya bergantian mengarah ke Alan, lalu ke Sagara.
"Lagian kenapa sih kalian ngomongnya kayak gue nggak ada di sini?"
Hening.
Tidak ada yang langsung menjawab pertanyaan Sephia.
Alan dan Sagara sama-sama menatapnya.
Sephia mengembuskan napas kasar, lalu menggeleng pelan.
"Gue heran deh sama kalian."
Alis Sagara sedikit berkerut.
"Maksud lo?"
"Maksud gue..." Sephia menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk. "Emang gue kelihatan kayak anak TK yang harus dijemput tiap pulang sekolah?"
Hana yang berdiri di sampingnya refleks menunduk, berusaha menyembunyikan senyum.
Sephia belum selesai.
"Yang satu maksa nagih utang."
Telunjuknya bergeser ke arah Alan.
"Yang satu lagi tiba-tiba nyuruh pulang bareng."
Kini telunjuknya mengarah ke Sagara.
"Terus kalian berdua ngomongnya kayak gue nggak punya hak buat mutusin sendiri."
Koridor mendadak sunyi.
Beberapa murid yang sejak tadi pura-pura lewat mulai saling pandang.
Sagara membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu.
Namun Sephia lebih dulu memotong.
"Mulai sekarang, jangan mutusin sesuatu buat gue."
Nada suaranya tidak tinggi.
Justru itu yang membuat kalimatnya terasa lebih tegas.
"Gue capek."
Kalimat singkat itu membuat Hana spontan menoleh ke arah sahabatnya.
Capek?
Sephia jarang sekali mengaku capek.
"Gue capek jadi bahan omongan satu sekolah."
"Gue capek tiap keluar kelas orang-orang ngeliatin gue."
"Dan gue paling capek kalau tiap pulang sekolah harus kayak gini."
Hening kembali menyelimuti koridor.
Sephia menarik napas panjang.
Lalu menoleh ke arah Hana.
"Han."
"H-hah?"
"Jadi, kan?"
Hana mengedip bingung.
"Jadi... apa?"
Sephia menghela napas.
"Ke rumah lo."
Mata Hana langsung membulat.
"Hah?"
"Gue ikut ke rumah lo dulu."
"Lho... tapi—"
"Pokoknya ikut aja."
Tanpa memberi kesempatan Hana bertanya lagi, Sephia langsung meraih pergelangan tangan sahabatnya.
"Permisi."
Sephia melangkah melewati Alan lebih dulu.
Lalu melewati Sagara.
Tidak satu pun dari mereka berusaha menahan.
Hanya menoleh mengikuti langkahnya yang semakin menjauh.
Sementara Hana...
Masih setengah diseret sambil menoleh ke belakang dengan wajah penuh tanda tanya.
"Ini... beneran ke rumah gue?"
Sepanjang koridor menuju tangga, tak satu pun dari mereka berdua membuka suara.
Bukan karena tidak ada yang ingin dibicarakan.
Justru terlalu banyak.
Sephia masih berjalan cepat sambil menggenggam pergelangan tangan Hana, seolah takut kalau berhenti sedetik saja, Alan atau Sagara akan muncul lagi di belakangnya.
"Pi..."
Hana akhirnya memberanikan diri bersuara.
"Hm?"
"Lo bisa lepasin tangan gue dulu nggak?"
Sephia refleks menoleh.
Baru saat itu dia sadar sejak tadi masih mencengkeram pergelangan tangan Hana.
"Oh..."
Sephia buru-buru melepaskannya.
"Maaf."
Hana mengusap pelan pergelangan tangannya sambil terkekeh kecil.
"Gue nggak kabur, kali."
Sephia hanya mendengus pelan.
Mereka kembali melangkah menuruni tangga menuju lantai dasar.
Suasana sekolah mulai ramai oleh murid yang berhamburan pulang. Beberapa siswa yang berpapasan masih sempat melirik ke arah Sephia sambil berbisik-bisik.
Sephia pura-pura tidak peduli.
Padahal dalam hati, dia sudah ingin pulang sejak satu jam yang lalu.
Hana melirik wajah sahabatnya sekilas.
"Lo beneran nggak apa-apa?"
Sephia mengembuskan napas panjang.
"Menurut lo?"
Hana nyengir kecut.
"...Kayaknya enggak."
"Iya."
Jawaban singkat itu justru membuat Hana ikut terdiam.
Beberapa langkah kemudian, Hana kembali membuka suara.
"Eh... tapi serius, kita beneran ke rumah gue?"
Sephia menghentikan langkahnya.
Ia menatap Hana beberapa detik.
Lalu...
"...Iya."
Hana mengernyit.
"Lah, kok jawabnya kayak nggak yakin?"
Sephia menghela napas panjang.
"Soalnya kalau gue pulang sekarang..."
Dia melirik sekilas ke arah gerbang sekolah yang mulai terlihat di depan.
"...gue yakin dua orang itu masih nungguin."
Hana ikut menoleh ke arah gerbang.
"...Masuk akal sih."
Sephia memijat pelipisnya pelan.
"Gue cuma pengen pulang dengan damai sehari aja."
Hana terkekeh pelan.
"Kayaknya... sejak Alan pindah ke sini, kata 'damai' udah keluar dari kamus hidup lo deh."
Sephia langsung melotot.
"Jangan diingetin."
Hana malah tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak keributan di kantin tadi siang, sudut bibir Sephia ikut terangkat tipis.
Meski hanya sesaat.
Koridor kelas 11-B perlahan kembali lengang.
Murid-murid yang sejak tadi menjadi penonton akhirnya mulai membubarkan diri.
Tak lama, hanya tersisa dua orang.
Alan dan Sagara.
Alan membetulkan letak tas di bahunya, berniat meninggalkan kelas.
"Alan."
Suara Sagara membuat langkahnya terhenti.
Alan menoleh pelan.
Tatapan mereka bertemu.
Beberapa detik berlalu tanpa sepatah kata pun.
Sagara mengembuskan napas pelan.
"Gue kenal Sephia jauh lebih lama daripada lo."
Nada suaranya tenang.
Tidak tinggi.
Namun terdengar begitu serius.
"Dia itu gampang percaya sama orang."
"Kalau ada orang yang baik sedikit sama dia, dia bakal nganggep itu tulus."
Alan hanya mendengarkan.
Ekspresinya tetap datar.
"Makanya..." lanjut Sagara.
"Gue harap lo jauhin Sephia."
"...apalagi kalau tujuan lo cuma buat main-main."
Hening.
Alan menatap Sagara beberapa saat.
"Lagi?"
Sagara mengernyit.
"Dari tadi semua orang ngomong seolah gue ini penjahat."
Alan terkekeh pelan.
Sangat pelan.
"Hana."
"Mawar."
"Lo."
"Sekarang giliran siapa lagi?"
Sagara mengepalkan rahangnya.
"Gue serius."
"Gue juga."
Alan melangkah mendekat.
Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa puluh sentimeter.
"Apa yang bikin lo yakin..."
"...kalau gue yang bakal nyakitin dia?"
Kalimat itu membuat Sagara terdiam.
Alan kembali membuka suara.
"Atau..."
"...sebenernya lo takut."
Sorot mata Sagara berubah.
"Takut apa?"
Alan tersenyum tipis.
"Takut..."
"...posisi lo di samping Sephia mulai diganti sama orang lain."
Hening.
Untuk pertama kalinya...
Sagara tidak langsung bisa membalas.
Karena jauh di dalam hatinya...
itulah yang paling ia takutkan.
Alan membetulkan tali tas di bahunya.
"Lain kali..."
"...jangan nilai orang dari prasangka lo."
Setelah mengatakan itu, Alan berbalik.
Melangkah meninggalkan koridor.
Meninggalkan Sagara yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Tatapannya kosong mengarah ke ujung koridor.
Bayangan Sephia yang tadi pergi bersama Hana kembali terlintas di kepalanya.
Selama ini...
dia selalu yakin.
Tidak akan ada siapa pun yang bisa menggantikan posisinya di sisi Sephia.
Namun kini...
untuk pertama kalinya...
keyakinan itu mulai goyah.