NovelToon NovelToon
Istri Rampasan Mafia Dingin

Istri Rampasan Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Pengantin Pengganti
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya Sonya Munic terpaksa harus membatalkan pernikahannya dengan Sagara Sardi tepat saat akan mengucapkan janji pernikahan. Batara Moretti datang merampas pengantin atas alasan utang keluarga. Padahal keluarga Munic telah mengatur pernikahan Batara dengan Talitha Munic, adik tiri Sonya. Di bawah ancaman nyawa ketua mafia paling berbahaya, Sagara terpaksa menyerahkan calon istrinya.
Tak mudah bagi Sonya, gadis yang terkenal lemah lembut hidup di lingkungan mafia dan sikap dingin Batara yang hanya menganggapnya sebagai istri pelunas hutang. Selain menagih hak suami istri Batara selalu diam dan acuh, saat Sonia mulai berdamai dengan keadaan, satu persatu kebenaran mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Yang Dilematik

Dengan bertelanjang kaki tanpa alas apa pun, Sonya melepaskan diri dari pegangan Ibu Yooka dan berlari kencang keluar dari dapur, melewati koridor utama, dan mendorong pintu lobi depan mansion hingga terbuka lebar.

Di halaman, suasana benar-benar ricuh dan kacau balau. Puluhan orang berseragam hitam tampak berlarian dengan panik, mengusung beberapa tandu menuju ke gedung mansion sebelah yang berfungsi sebagai markas medis utama dan pusat komando Inferno. Tidak ada satu pun pengawal yang menyadari kehadiran Sonya yang berdiri gemetar di tengah-tengah kerumunan mereka, karena fokus semua orang tertuju pada satu hal, menyelamatkan nyawa Jevan.

Batara berjalan dengan langkah lebar di samping tandu Jevan, wajahnya dipenuhi amarah dan kecemasan yang mendalam. Tanda-tanda vital Jevan dilaporkan terus menurun oleh paramedis yang memasang masker oksigen di atas helikopter tadi.

"Buka ruang operasi satu sekarang juga!" bentak Batara kepada tim dokter mansion yang sudah berdiri menyambut di koridor penghubung.

Di dalam ruang transit medis, tim dokter tampak sangat kewalahan. Jumlah korban luka tembak dari pertempuran pelabuhan malam ini terlalu banyak, dan stok peralatan serta konsentrasi tenaga medis terpecah. Jevan yang merupakan orang terpenting tentu saja diprioritaskan dan langsung dimasukkan ke dalam ruang penanganan utama.

Batara berdiri di depan pintu ruang operasi yang tertutup. Amarahnya yang memuncak membuat aura di sekelilingnya terasa begitu mencekam hingga tidak ada satu pun pengawal yang berani berdiri dalam radius tiga meter darinya. Batara mengepalkan tangan kanannya yang berlumuran darah, bersiap untuk memukulkannya ke dinding beton demi meluapkan rasa frustrasinya atas kondisi Jevan.

Namun, tepat sebelum tinjunya menghantam dinding, sudut matanya menangkap siluet seorang wanita yang berdiri membeku di sudut koridor medis yang remang-remang. Wanita itu mengenakan gaun tidur satin putih gading yang tipis, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan menggoda di bawah lampu neon rumah sakit, bertolak belakang dengan lingkungan medis yang penuh darah.

"Sonya..." desis Batara, rahangnya mengetat sempurna.

Pria itu berbalik, melangkah lebar dengan aura intimidasi yang pekat menghampiri istrinya. Matanya menatap tajam dari ujung kepala hingga ujung kaki Sonya yang kotor karena debu halaman. "Apa yang kamu lakukan di tempat kotor seperti ini, hmm?!" tanya Batara dengan nada suara yang bergetar rendah, menahan gejolak emosi yang campur aduk di dalam dadanya.

"Tu-Tuan... Sa-saya..." Sonya terbata-bata, seluruh tubuh mungilnya bergetar hebat saat berhadapan langsung dengan Batara yang tampak seperti iblis yang baru keluar dari neraka pertempuran.

"JAWAB!!!" Bentak Batara, membuat beberapa pelayan yang berada di kejauhan langsung menunduk ketakutan.

Bukannya mundur karena takut seperti biasanya, mata sayu Sonya justru bergerak turun, menatap ke arah bagian perut sebelah kanan Batara. Di sana, di balik robekan kain kemeja hitamnya yang hancur, terdapat noda darah besar yang tetap basah dan terus menetes perlahan, memperlihatkan sebuah luka sayatan yang cukup panjang di kulit perutnya yang kokoh.

"Tuan... Anda terluka!! Perut Anda mengeluarkan darah!" ucap Sonya, suaranya bergetar penuh kecemasan yang tulus, mengabaikan bentakan suaminya tadi.

Batara menurunkan pandangannya ke arah perutnya sendiri, lalu kembali menatap wajah Sonya. "Kamu... kamu melihat darah sebanyak ini di tubuhku dan di sekeliling tempat ini... kamu tidak takut?" tanya Batara dengan nada suara yang mendadak melunak, sebuah pertanyaan yang sarat akan keraguan tersembunyi di lubuk hatinya.

Sonya menggelengkan kepalanya dengan cepat, air matanya mulai menggenang di sudut mata. Tanpa memedulikan tatapan heran dari para pengawal di sekitar mereka, Sonya mengulurkan tangan mungilnya yang bersih, menggenggam erat pergelangan tangan besar Batara yang kasar, lalu menarik tubuh kekar suaminya itu dengan lembut menuju ke sebuah sisi ruangan transit yang lebih sepi dan terhindar dari lalu-lalang korban luka.

Sonya mengambil sebuah kursi plastik hijau yang terletak di sudut dinding, lalu mendorongnya perlahan di belakang tubuh Batara. "Duduklah, Tuan... saya mohon duduk."

"Hentikan, Sonya. Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka goresan pisau kecil, tidak akan membuatku mati," ucap Batara, mencoba berdiri tegak untuk kembali ke depan pintu operasi Jevan.

"DIAM!" Ucap Sonya dengan nada suara yang tegas dan tinggi, sebuah tindakan kelancangan terbesar yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya kepada siapa pun, apalagi kepada seorang penguasa mafia. Kedua mata Sonya kini telah berkaca-kaca sempurna, memancarkan ketegasan yang lahir dari rasa takut kehilangan pria di depannya. "Duduk dan jangan bergerak, Tuan Batara!"

Batara tertegun. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia membiarkan seorang wanita membentaknya dan mendikte tindakannya. Dengan patuh yang aneh, Batara menurunkan tubuh kekarnya dan duduk di atas kursi plastik tersebut, matanya tidak lepas menatap wajah istrinya yang kini bergerak cepat.

Sonya berlari kecil menuju ke arah kerumunan perawat, dengan cekatan menyambar sebuah kotak P3K besar yang terletak di atas meja konter, lalu kembali berjalan cepat menghampiri Batara.

Dengan jemari yang gemetar namun dipenuhi ketelitian, Sonya mulai membuka kancing-kancing kemeja hitam Batara yang tersisa, lalu menyibakkannya ke samping, memperlihatkan seluruh dada bidang dan perut berotot suaminya yang kini dipenuhi noda darah kering dan basah. Di bagian perut kanan bawah, terlihat sebuah luka sayatan vertikal yang agak dalam, memerah dan terus mengeluarkan darah segar yang lambat.

Sonya mengambil sebotol air steril dan selembar kain lap bersih dari dalam kotak. Dengan gerakan yang sangat lembut, dia mulai mengusap dan membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di sekitar kulit perut Batara, memastikan area di sekitar luka tersebut bersih dari kotoran mesiu. Setiap kali kain lap itu menyentuh kulitnya, Batara tidak bergeming sedikit pun, matanya terus terpaku menatap wajah fokus Sonya yang berada tepat di depan dadanya.

Setelah membersihkan area tersebut, Sonya memeriksa kedalaman luka sayatan itu dengan saksama. "Lukanya cukup dalam... tapi untungnya tidak mengenai organ dalam dan tidak perlu dijahit," gumam Sonya, berbicara pada dirinya sendiri untuk menenangkan hatinya yang berdegup kencang.

Sonya mengambil sebotol cairan antiseptik, mengoleskannya secara merata di atas luka terbuka tersebut dengan kapas bersih, lalu mengambil segulung perban kain putih yang tebal. Dengan perlahan, dia melingkari perban tersebut di sekeliling pinggang tegap Batara, menutup luka sayatan itu dengan rapat dan rapi, membiarkan suaminya kini duduk bertelanjang dada dengan balutan perban putih di perutnya.

"Terima kasih," ucap Batara dengan suara yang sangat rendah setelah Sonya selesai merapikan peralatan medis kembali ke dalam kotak.

Sonya mendongak, mengangguk lemah dengan sisa napasnya yang lega. "Sama-sama, Tuan... Tolong jangan sewenang-wenang dengan tubuh Anda sendiri."

Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun terlebih dahulu, tangan kiri Batara yang bebas mendadak bergerak maju, mencengkeram tengkuk leher Sonya dengan lembut namun kuat, lalu menarik wajah istrinya itu mendekat. Detik berikutnya, bibir tipis Batara langsung mengunci dan mencium bibir ranum Sonya dengan sebuah kecupan yang dalam, penuh afeksi, dan sarat akan rasa kepemilikan yang kian mengakar di antara mereka di tengah aroma obat-obatan ruangan medis.

"Tuan Besar! Tuan Besar!"

Suara teriakan panik dari arah pintu ruang operasi seketika memutuskan tautan bibir mereka. Kepala tim dokter mansion keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh dingin dan ekspresi ketakutan yang teramat sangat. Tubuhnya gemetaran saat berjalan menghampiri Batara.

"Tuan Besar... Tuan Jevan... kondisi Tuan Jevan saat ini berada dalam masa kritis yang sangat akut! Peluru berhasil mengoyak sebagian besar arteri subklavia di dalam dada. Kami memang sudah berhasil menghentikan pendarahan internalnya di meja operasi, namun... namun saat ini beliau telah kehilangan terlalu banyak cairan tubuh. Tuan Jevan membutuhkan transfusi darah dalam jumlah besar dengan segera, dan golongan darah beliau adalah B negatif!"

Batara berdiri dari kursinya dengan sentakan kasar, mengabaikan rasa perih di perutnya yang baru saja diperban. "Lalu apa kendalanya?! Ambil stok darah dari gudang penyimpanan kita sekarang juga!"

"I-Itu dia masalahnya, Tuan Besar..." ucap dokter itu dengan suara yang nyaris menangis. "Golongan darah B negatif adalah salah satu varian golongan darah yang paling langka di dunia, terutama di wilayah benua ini. Stok cadangan di gudang medis kita sudah kosong sejak bulan lalu, dan saya baru saja menghubungi seluruh jaringan rumah sakit mitra klan dan bank darah pusat di Kota Qislan, namun hasilnya nihil! Semuanya kosong! Kita tidak memiliki waktu lebih dari tiga puluh menit sebelum organ dalam Tuan Jevan gagal berfungsi!"

"SIALAN!!!" Bentak Batara dengan suara guntur yang menggema di seluruh koridor, membuat tim dokter dan para perawat langsung berlutut di atas lantai marmer karena ketakutan yang luar biasa. Batara menarik pistol Beretta-nya dari pinggang, mengarahkannya tepat di depan kening kepala dokter tersebut. "Kalian semua adalah tim medis terbaik yang aku bayar dengan triliunan uang! Jika sampai matahari terbit Jevan tidak menyelamatkan nyawanya... maka kalian semua, beserta seluruh keluarga kalian, akan aku masukkan ke dalam satu liang kubur yang sama untuk menemaninya membusuk!!! Cari golongan darah itu bagaimanapun caranya, keparat!!!"

"Tuan... Tuan Batara, tolong turunkan senjatamu..."

Sebuah suara lembut namun jernih mendadak memecah ketegangan maut di koridor tersebut. Sonya melangkah maju, berdiri tepat di samping lengan Batara yang memegang senjata. Dengan mata yang menatap lurus penuh keyakinan ke arah suaminya, Sonya menarik napas dalam-dalam.

"Darahku... golongan darahku adalah B negatif," ucap Sonya dengan suara yang tenang namun terdengar sangat jelas di keheningan ruangan. "Ambil darahku untuk menyelamatkan Tuan Jevan, Tuan Besar."

"Jangan gila, Sonya! Tidak mungkin! Aku tidak akan mengizinkannya!" Jawab Batara dengan cepat dan tegas, langsung menurunkan senjatanya dan menatap Sonya dengan pandangan mata yang berkilat marah.

Batara tentu saja tahu kondisi fisik istrinya sendiri, dia memegang seluruh rekam medis Sonya sejak hari pertama wanita itu dibawa ke mansion ini. Sonya memiliki tubuh yang sangat lemah akibat malanutrisi bertahun-tahun di kediaman Munic, belum lagi riwayat kelainan katup jantung ringan yang membuatnya tidak boleh mengalami syok atau kehilangan tekanan darah secara drastis. Mengambil darah dari tubuh lemah seperti Sonya sama saja dengan mengantarkan nyawa wanita itu ke dalam jurang kematian.

"Ta-tapi Tuan... Tuan Jevan adalah orang kepercayaanmu, dia saudaramu di klan ini! Jika kita tidak bertindak sekarang, dia akan mati!" Desak Sonya, memegang lengan bertelanjang dada Batara dengan tatapan memohon.

"Tidak ada tapi-tapian, Sonya! Nyawamu adalah milikku, dan aku tidak mengizinkan sebutir pun cairan tubuhmu keluar untuk orang lain, bahkan untuk Jevan sekalipun!" Perintah Batara dengan mutlak, mengunci pergelangan tangan Sonya dengan cengkeraman besinya.

Di tengah perdebatan yang kian menegangkan antara pasangan suami istri itu, seorang pengawal divisi intelijen Inferno tampak berjalan terburu-buru memasuki koridor medis dari arah lorong bawah tanah. Pengawal itu membungkuk hormat di hadapan Batara, lalu membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah tepat di samping telinga sang ketua klan.

Mendengar bisikan misterius itu, kedua mata hitam Batara yang semula dipenuhi amarah mendadak melebar sedikit. Sebuah kilatan kelicikan yang dingin dan kejam perlahan-lahan kembali muncul di wajah tampannya.

Batara menoleh ke arah pengawal tersebut dengan rahang yang mengeras. "Kamu yakin dengan informasi itu?"

"Seratus persen yakin, Tuan Besar," jawab pengawal itu dengan penuh percaya diri.

Batara membalikkan tubuhnya, menatap ke arah koridor belakang yang menuju ke arah kamar isolasi samping mansion. "Bagus sekali. Antarkan saya ke kamar isolasinya sekarang juga. Biarkan wanita keras kepala itu memberikan kontribusi pertamanya bagi klan Moretti sebelum dia membusuk."

1
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
oh ternyata Ibu Yooka yang menjadi pengasuh Batar, pantes aja jalau dia paham sama sifat Batara
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Astaga Batara kamu tega banget sih jadi cowok mentang2 di takuti seenaknya ajs sama perempuan, apa kamu gak kasihan sama Sonya yang ketakutan
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
pantes aja si Jenna kasar banget ternyata dia punya obsesi terhadap bosnya sendiri
✮⃝🍌 ᷢ ͩ✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴹᵉᵎzc❖𝐕⃝⃟🏴‍☠️
Talitha harusnya kamu tuh berfikir kenapa orang memilih Sonya, harusnya kanu jadikan pelajaran bukan malah hidup dengan kedengkian
Muft Smoker
kak jgn sampe deeh si batara tdur sama thalita ,,
kasihan Sonya gx pnrh bahagia ,,
lgan si Sonya lemah amat kak ,,
kasih kekuatan super kek si Sonya ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker: 😭😭😭😭😭😭
total 3 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻтяι'𝐆🤎 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🏡s⃝ᴿ
ladalah Jenna masih ada disana kirain sudah dibuang jauh jauh dan ini Sonya kau terlalu lemah sekali kapan kau jadi kuat dan berani 🤔😔😔
SENJA
yaelaaah lemah banget lu kan isteri mafia, hadeeeh berubah dikit kek
SENJA
kirain jena udah dipecat hadeeh
SENJA
jangan terpedaya batara si lacur lagi sandiwara
SENJA
lacur emang lah kau sampah 😤
RANDI Satriandi
tuhh kan.. bener plot twist. ternyata Sonya udh duluan donor darah
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: 🤣🤣🤣🤣 tau aja
total 1 replies
RANDI Satriandi
kok curiga saya.. Sonya abis donorkan darah untuk jevan diam².. biasanya othor yang satu ini bikin plot twist/Applaud//Applaud/
🏘⃝Aⁿᵘ𝐇⃟⃝ᵧꕥᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉🤎: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/iya gitu
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
berani bersikap kurang ajar seperti ini, karena iri hati kah 😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
air mata buaya Betina 😑 penuh kepalsuan
Muft Smoker
kak bikin aj dstu mati lampu ,, ad sosok penjaga yg postur tubuh ny sama dg batara ,, yg masuk menggantikn batara ,, pas udh beres lampu nyalah ,, syik syak syok gx tuh si thalita ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂😂
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
😑 masa pakai darah Thalita, nnti makin besar kepala diaa
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
harusnya gak perlu panggil tuan 🤭🤭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
gak perlu takut lagii, kmu istri Batara, harusnya mreka yg takut sama kamuu
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
pantas saja ada musuh di balikk selimut 😑
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Batara kena jebakan kahh ini? 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!