NovelToon NovelToon
Ketika Rekor Bertemu Rindu

Ketika Rekor Bertemu Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:149
Nilai: 5
Nama Author: Ella

Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.

Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.

Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.

"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"

Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Sementara itu, di teras rumah yang megah namun terasa mati itu, Baskoro masih berdiri dengan rahang mengeras dan napas memburu. Matanya menatap tajam ke arah sisa kepulan asap dari mobil SUV hitam Kenzo yang baru saja melesat pergi.

Diana yang sejak tadi mengintip dari balik pintu kaca, langsung keluar dengan langkah cepat. Wajahnya yang semula sok manis kini berubah, memancarkan binar licik yang tertutup oleh topeng keprihatinan yang dibuat-buat. Ia menyentuh lengan Baskoro dengan lembut, mulai mengembuskan racunnya.

"Astaga, Pa... Kamu lihat sendiri kan bagaimana sikap Rindu sekarang?" hasut Diana, nadanya sengaja dibuat mendesah sedih seolah ia ikut terluka. "Dia sudah berani membentak kamu, mengabaikan sopan santun, bahkan pergi begitu saja dengan laki-laki asing. Sopir yang sudah kamu siapkan pun ditolak mentah-mentah."

Baskoro tidak menjawab, namun cengkeraman tangannya pada pembatas teras semakin mengerat.

"Papa harus selidiki siapa laki-laki itu," lanjut Diana lagi, nadanya semakin menyudutkan Rindu. "Zaman sekarang pergaulan anak muda bahaya, Pa. Jangan sampai Rindu cuma dimanfaatkan oleh laki-laki sembarangan yang cuma mengincar harta atau nama besar kamu. Lihat saja mobilnya, cuma SUV hitam biasa seperti itu. Jelas bukan dari kalangan kita. Kalau prestasinya di lintasan renang sampai hancur karena laki-laki gak jelas, yang malu kan Papa juga."

Hasutan Diana benar-benar bekerja dengan sempurna. Ego Baskoro sebagai seorang pengusaha terpandang seketika tersengat hebat. Pikiran pria itu kini dipenuhi rasa murka, mengira putranya Kenzo, yang aslinya adalah anak dari keluarga terpandang rekan bisnisnya sendiri hanyalah seorang pemuda biasa yang membawa pengaruh buruk bagi aset berharganya, yaitu Rindu.

"Papa tidak akan membiarkan itu terjadi!" geram Baskoro, suaranya terdengar begitu dingin dan tegas. Ia mengibaskan tangan Diana dari lengannya, lalu berbalik masuk ke dalam rumah dengan langkah besar yang dipenuhi amarah.

"Rindu harus fokus dengan turnamennya tiga minggu lagi. Dia adalah pertaruhan nama besar keluarga ini di kejuaraan nasional. Papa tidak akan membiarkan fokusnya dirusak oleh laki-laki tidak jelas!" lanjut Baskoro sambil menyambar ponselnya yang tergeletak di meja makan.

Diana yang berjalan di belakangnya diam-diam tersenyum puas. Hasutannya berhasil seratus persen. Ego Baskoro sebagai seorang ayah sekaligus pebisnis sukses kini benar-benar telah tersulut. Bagi Baskoro, Rindu bukan sekadar anak, melainkan sebuah investasi reputasi yang wajib menghasilkan piala.

Tanpa membuang waktu, Baskoro langsung mendial sebuah nomor di ponselnya.

"Halo, amankan jadwal Rindu setelah ini. Dan cari tahu siapa pemilik mobil SUV hitam dengan plat nomor yang baru saja pergi dari rumah saya," perintah Baskoro kepada orang kepercayaannya di seberang telepon, nadanya mutlak dan tak terbantahkan. "Awasi setiap gerak-gerik Rindu di tempat latihan. Jangan sampai ada orang asing yang mengganggu konsentrasinya menjelang turnamen tiga minggu lagi."

Baskoro menutup teleponnya dengan kasar. Ia sama sekali tidak sadar bahwa keputusannya ini justru akan membawanya berhadapan langsung dengan Kenzo putra dari sosok yang kedudukannya bahkan tidak bisa ia remehkan di dunia bisnis.

Kenzo bukanlah orang bodoh. Sebagai seorang pelatih berdarah dingin yang terbiasa membaca situasi dan strategi di lintasan, instingnya sangat tajam. Sejak keluar dari kompleks perumahan Rindu, mata elangnya beberapa kali melirik ke arah spion tengah. Ia menyadari ada sebuah mobil hitam yang terus menjaga jarak konstan di belakang SUV miliknya.

"Mau main-main ternyata," batin Kenzo. Senyum tipis yang sarat akan arti terukir di sudut bibirnya yang tegas. Pria itu langsung bisa menebak bahwa ini adalah ulah orang suruhan Baskoro, ayah Rindu.

Dengan ketenangan yang luar biasa, Kenzo tidak panik sama sekali. Ia sengaja melajukan mobilnya memutari area pusat kota terlebih dahulu. Sambil menyetir dengan satu tangan, tangan kirinya meraih ponsel dan mengirimkan sebuah pesan singkat berupa kode khusus kepada kepala pengawal pribadi di rumah utama ayahnya.

Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit bagi orang-orang pilihan keluarga Kenzo untuk bergerak.

Saat melewati sebuah persimpangan lampu merah yang cukup padat, sebuah mobil SUV hitam yang tipe, warna, dan bahkan plat nomornya sudah disamarkan agar persis dengan milik Kenzo, mendadak masuk memotong jalur dari arah kiri.

Dengan presisi yang sangat rapi, mobil kembaran itu langsung mengambil posisi di depan mobil pengintai, sementara Kenzo dengan cekatan membelokkan setirnya ke arah jalur alternatif yang lebih sepi.

Mobil suruhan Baskoro yang tidak menyadari taktik kecohan tingkat tinggi itu tetap lurus, mengira mereka masih membuntuti target yang benar.

Kenzo melirik spion tengahnya sekali lagi, melihat mobil pengintai itu semakin menjauh ke jalur yang salah. Senyum tipisnya berganti menjadi kekehan hambar. Baskoro pikir dia sedang berhadapan dengan pemuda naif yang bisa diintimidasi dengan mudah. Pria paruh baya itu sama sekali tidak tahu kalau dia baru saja memancing macan yang salah.

"Ada apa, Kak?" tanya Rindu yang menyadari perubahan rute jalan mereka, menatap Kenzo dengan bingung.

Kenzo menoleh sekilas, lalu mengusap puncak kepala Rindu dengan lembut, kembali memasang wajah hangatnya. "Nggak apa-apa, Sayang. Kakak cuma ambil jalur tikus biar kita lebih cepat sampai ke rumah sakit. Dokter spesialisnya udah nungguin kamu."

Rindu mengangguk patuh. Wajahnya tampak jauh lebih rileks, dan dia sama sekali tidak menyadari ketegangan singkat serta aksi kecohan tingkat tinggi yang baru saja dilakukan Kenzo di belakang kemudi. Bagi Rindu, keberadaan Kenzo di sampingnya sudah seperti pelindung tak kasat mata yang membuat semua kekhawatirannya menguap begitu saja.

"Iya, Kak. Rin ikut Kak Kenzo aja," ucap Rindu lembut, sambil membenarkan posisi duduknya dan menatap keluar jendela, menikmati pemandangan kota yang terasa jauh lebih indah pagi ini.

Kenzo melirik Rindu sekilas, memastikan gadis itu benar-benar tidak terganggu. Dalam hati, Kenzo bersumpah akan menjaga kedamaian yang baru saja mulai dirasakan Rindu ini, apa pun taruhannya. Jika Baskoro ingin bermain kucing-kucingan, maka Kenzo akan melayaninya dengan cara yang tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh pengusaha itu.

SUV hitam Kenzo terus melaju dengan mulus membelah jalanan, menjauh dari jangkauan orang-orang suruhan Baskoro, menuju ke sebuah rumah sakit swasta terkemuka di mana seorang dokter spesialis yang juga merupakan rekan dekat dari keluarga besar Kenzo sudah bersiap untuk memeriksa kondisi kesehatan Sang Ratu Lintasan.

Tidak butuh waktu lama, SUV hitam milik Kenzo akhirnya berbelok memasuki area parkir VIP sebuah rumah sakit swasta terkemuka. Tempat ini tampak begitu eksklusif, jauh dari kesan rumah sakit yang bising dan penuh sesak, memberikan privasi penuh yang memang sangat dibutuhkan oleh Rindu saat ini.

Begitu turun dari mobil, Kenzo langsung menggandeng jemari Rindu dengan erat, menuntunnya masuk melewati lobi utama. Langkah kaki Kenzo terasa begitu mantap dan penuh arah. Ia tidak perlu mengantre di loket pendaftaran umum, melainkan langsung membawa Rindu menuju lantai atas, tempat di mana ruangan dokter spesialis kenalan keluarga besarnya berada.

"Kita langsung ke ruangan Dokter Januar ya, Sayang. Beliau dokter spesialis paru dan pernapasan terbaik di sini. Kamu gak perlu tegang, om Januar ini orangnya sangat ramah," bisik Kenzo lembut di dekat telinga Rindu, seolah tahu kalau gadis di sampingnya itu mulai merasa sedikit gugup.

Rindu hanya mengangguk pelan, mempererat genggaman tangannya pada jemari kekar Kenzo.

Begitu mereka sampai di depan sebuah pintu kayu jati yang elegan dengan papan nama dr. Januar, Sp.P, seorang perawat pribadi yang sudah berjaga di depan langsung berdiri dan tersenyum hormat. tampaknya mereka memang sudah dikosongkan jadwalnya khusus untuk menyambut kedatangan putra dari keluarga terpandang ini.

"Selamat pagi, Mas Kenzo. Dokter Januar sudah menunggu di dalam. Silakan langsung masuk," ucap perawat itu dengan sangat sopan sembari membukakan pintu untuk mereka.

"Pagi, Om," sapa Kenzo begitu melangkah masuk ke dalam ruangan yang harum aroma terapi menenangkan, jauh dari bau obat-obatan yang menyengat.

Seorang pria paruh baya berkacamata dengan jubah putihnya langsung mendongak dari balik meja kerja. Begitu melihat siapa yang datang, senyum hangat segera terbit di wajah dr. Januar. Beliau langsung berdiri untuk menyambut mereka.

"Wah, Kenzo! Akhirnya sampai juga. Sudah lama sekali kamu gak main ke rumah, Papa kamu apa kabar?" tanya dr. Januar ramah, menjabat tangan Kenzo dengan akrab sebelum pandangannya beralih pada gadis yang berdiri di samping Kenzo.

"Papa baik, Om. Nanti biar Papa yang telepon Om langsung buat ngobrol," jawab Kenzo sopan. Ia lalu menarik pelan pundak Rindu agar maju selangkah. "Om, jadi ini Rindu yang kemarin malam Ken ceritain di telepon."

dr. Januar mengangguk paham, sorot matanya yang bijaksana menatap Rindu dengan senyuman kebapakan yang sangat meneduhkan, membuat rasa gugup Rindu perlahan surut.

"Halo, Rindu. Mari silakan duduk dulu," ajak dr. Januar mempersilakan mereka berdua duduk di kursi nyaman di depan mejanya. Beliau melirik Kenzo sekilas dengan tatapan penuh arti, menyadari betapa protektifnya pemuda itu pada gadis di sampingnya. "Jadi, Ken bilang akhir-akhir ini dada kamu sering terasa sesak, terutama kalau bangun tidur atau lagi di bawah tekanan, ya? Boleh cerita ke Om sejak kapan gejala ini mulai sering muncul?"

dr. Januar mendengarkan dengan seksama, raut wajahnya berubah menjadi sangat bersimpati saat Rindu mulai membuka suaranya.

Dengan nada lirih namun jujur, Rindu menceritakan semuanya tentang bagaimana dunianya runtuh sejak ibu kandungnya meninggal dunia, dan bagaimana keadaan semakin memburuk setelah papanya memutuskan untuk menikah lagi dengan Diana. Rumah yang dulunya menjadi tempat teraman, kini justru berubah menjadi sumber tekanan mental terbesar baginya. Rindu juga mengaku bahwa setiap kali rasa sesak itu menyerang, ia selalu mengandalkan inhaler peninggalan almarhumah ibunya untuk bisa kembali bernapas.

Kenzo yang duduk di samping Rindu diam-diam mengepalkan tangannya di bawah meja. Hatinya berdenyut nyeri mendengar setiap untaian kalimat yang keluar dari bibir gadis itu. Ia membawa tangan kirinya untuk menggenggam jemari Rindu, menyalurkan kekuatan kekuatan di tengah cerita yang emosional itu.

dr. Januar mengangguk-angguk paham, mencatat beberapa poin penting di lembar rekam medis sebelum akhirnya meletakkan penanya.

"Rindu, terima kasih ya sudah mau berbagi cerita dengan Om," ucap dr. Januar dengan suara yang sangat lembut dan menenangkan. "Dari apa yang kamu ceritakan, Om bisa simpulkan kalau sesak napas yang kamu alami ini kemungkinan besar dipicu oleh faktor psikologis atau emosional, yang biasa kita sebut dengan psychogenic asthma atau serangan panik yang bermanifestasi ke pernapasan. Tekanan batin yang kamu pendam sendiri memicu tubuh kamu memberikan respons seperti itu."

Dokter senior itu kemudian membetulkan letak kacamata dan menatap Rindu serta Kenzo bergantian dengan serius.

"Dan soal inhaler almarhumah ibu kamu... Om sangat menyarankan agar kamu berhenti menggunakannya. Pertama, setiap obat memiliki masa kedaluwarsa, dan kita tidak tahu apakah dosis serta kandungan di dalamnya masih aman atau sesuai dengan kondisi fisik kamu saat ini. Kedua, ketergantungan pada inhaler itu tanpa resep dokter yang tepat justru bisa berbahaya bagi detak jantung kamu, apalagi kamu seorang atlet profesional, kan?"

Rindu tertegun mendengar penjelasan dr. Januar, sementara Kenzo langsung menoleh ke arah dokter. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Om? Tindakan medis apa yang paling tepat buat Rindu?"

Sejenak dr. Januar mengembuskan napasnya pelan, memikirkan langkah terbaik untuk atlet muda di depannya ini. Beliau kemudian menatap Kenzo dengan sorot mata profesional namun tetap hangat.

"Ken, boleh Om periksa Rindu dulu secara langsung? Takutnya ada apa-apa di paru-paru Rindu, agar Om tidak salah diagnosa," ujar dr. Januar meminta izin dengan lembut. "Meskipun pemicu utamanya kemungkinan besar adalah stres, kita harus tetap memastikan secara fisik kalau saluran pernapasannya tidak ada penyumbatan, flek, atau peradangan kronis."

Kenzo langsung mengangguk paham. Ia menoleh ke arah Rindu, memberikan senyuman paling menenangkan yang ia miliki dan meremas lembut jemari gadis itu.

"Gak apa-apa ya, Sayang? Biar Om Januar periksa sebentar, biar kita tahu pasti kondisi kamu dan bisa sembuh total," bisik Kenzo meyakinkan.

Rindu menatap mata Kenzo yang penuh ketulusan, lalu beralih menatap dr. Januar. Rasa takut yang biasanya menyergap kini perlahan terkikis. Ia mengangguk patuh. "Iya, Kak. Rin mau diperiksa."

"Bagus. Mari, Rindu, silakan berbaring di tempat tidur periksa yang di sebelah sana," panggil dr. Januar ramah sembari berdiri dan mengambil stetoskopnya, bersiap melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Sang Ratu Lintasan.

Kenzo berdiri setia di samping ranjang periksa, sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya dari Rindu. Ia ingin memastikan bahwa gadis itu merasa benar-benar aman dan terlindungi selama proses pemeriksaan berlangsung.

"Rindu, tarik napas dalam-dalam ya... lalu embuskan pelan-pelan," instruksi dr. Januar dengan suara lembut yang menenangkan sembari menempelkan stetoskopnya di beberapa titik dada Rindu.

Rindu mengikuti instruksi tersebut dengan patuh. Setiap kali ia merasa sedikit tegang, ia akan melirik ke arah Kenzo, dan senyuman hangat dari pelatih sekaligus kekasihnya itu selalu berhasil membuatnya kembali rileks. dr. Januar kemudian beralih memeriksa bagian punggung Rindu, lalu memeriksa ketukan di dadanya untuk memastikan tidak ada penumpukan cairan atau penyempitan saluran udara yang fatal.

Setelah beberapa menit yang terasa begitu intens bagi Kenzo, dr. Januar akhirnya melepas stetoskopnya dan mengangguk-angguk kecil dengan raut wajah yang tampak lebih lega.

"Oke, pemeriksaan fisiknya sudah selesai. Rindu boleh duduk kembali," ujar dr. Januar ramah.

Kenzo dengan sigap membantu Rindu untuk turun dari ranjang periksa dan menuntunnya kembali ke kursi di depan meja dokter. "Gimana hasilnya, Om? Aman, kan?" tanya Kenzo langsung, tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sabarnya.

dr. Januar kembali duduk di kursi kebesarannya, lalu menopang kedua tangannya di atas meja sembari menatap Kenzo dan Rindu secara bergantian.

"Secara fisik, fungsi paru-paru Rindu sebenarnya sangat bagus dan kuat. Wajar, karena dia adalah seorang atlet renang yang terlatih," jelas dr. Januar, membuat sebuah embusan napas lega keluar dari mulut Kenzo dan Rindu bersamaan. "Tidak ada flek, tidak ada penyumbatan kronis, dan tidak ada asma bawaan lahir. Jadi, dugaan Om di awal tadi terbukti seratus persen benar."

dr. Januar menatap Rindu dengan pandangan kebapakan yang dalam. "Sesak napas yang kamu alami selama ini murni karena tubuh kamu bereaksi terhadap stres, tekanan mental, dan rasa sedih yang kamu pendam sendiri sejak kepergian ibu kamu. Saat emosi kamu meluap atau merasa tertekan oleh lingkungan rumah, otak kamu mengirim sinyal darurat yang membuat otot-otot di sekitar saluran pernapasanmu menegang secara tiba-tiba. Itulah kenapa kamu merasa sesak."

—bersambung—

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!