Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Keluarga Laras
Rumah Laras.
Dari ruang tengah terdengar tawa renyah Rara dan orangtuanya. Pandangan ketiganya fokus pada acara komedi di salah satu saluran televisi swasta.
"Lawakannya sudah sering diulang tapi lucu terus," ungkap Rara, gadis itu duduk diantara Ayah dan ibunya. Mereka duduk dengan nyaman di sofa keluarga. Terlihat seperti keluarga kecil bahagia.
"Daya tarik pelawak yang jam terbangnya sudah tinggi memang begitu, bahkan baru melihat wajahnya saja sudah membuat Ayah tertawa."
"Bagus, kalian bersenang-senang di tengah penderitaanku!" Dari belakang, Laras bertepuk tangan, memergoki keluarga yang tengah bahagia tanpa kehadirannya. Sudah terkena musibah, kini saat datang ke rumah disambut juga dengan pemandangan yang membuatnya iri. Sakit hati yang mulai reda kini malah timbul lagi. Laras merasa semua penderitaannya hari ini karena adik kurang ajarnya itu.
Ketiganya menoleh, Rara langsung berbinar begitu melihat paperbag yang dibawa Laras. Gadis kecil itu langsung berlari memeluk kakaknya. "Kakakku yang paling tersayang, terimakasih banyakkk," ucapnya dengan sangat bahagia. Tidak peduli dengan wajah masam kakaknya.
Rara kemudian menarik paperbag dan kembali ke sofa, kemudian membuka isinya. Sekali lagi, matanya berbinar melihat album sudah terbubuhi tanda tangan Aditya. "Ahhhhh, akhirnya koleksiku bertambah!"
Sedangkan Laras, gadis itu menyusul. Duduk di single sofa dengan kaki selonjoran. Badannya lelah sekali, begitu juga mentalnya.
"Makasih ya kakak." Kali ini ucapan tulus Sari terdengar. Sedikit menyembuhkan hati Laras yang nyeri.
"Menyebalkan, Aditya sangat menyebalkan. Aku bersumpah tidak akan mau berurusan lagi dengannya!" Laras ngedumel sembari menatap adiknya yang tengah kesenengan, sibuk mengambil foto Album dan ber-selfie dengan benda pembawa musibah itu.
"Ayah mendukungmu!"
"Jangan bermain-main dengan kata sumpah, Laras. Tidak baik." Sari menasehati. Ibu dua anak itu kemudian beranjak ke dapur.
"Terserah kakak mau ketemu atau tidak, yang penting albumku sudah ditandatangani." Rara tertawa kegirangan. Gadis itu tanpa ijin mengambil foto Laras yang tengah manyun. Tidak sampai disitu, Rara juga merekam dirinya bersama ayahnya
"Keluarga kecil dan gadis cantik pemilik album bertandatangan Aditya, hahaha." Rara memutar kamera ponsel agar satu persatu keluarganya masuk ke dalam frame. "Ah iya, sedih banget enggak bisa datang ke event-nya kak Adit. Tapi udah digantiin sama kakakku yang baik ini. Makasih kak Laras," celotehnya di depan kamera. Rara mendekati Laras untuk memeluknya sekilas.
Video berakhir dengan Ayah yang menjewer telinga Rara. Hal itu membuat video semakin terlihat lucu. "Kakakmu lelah, jangan diganggu," ucap ayah mereka yang tak lain bernama Harto.
"Benar, jangan ganggu kakakmu lagi Rara." Sari mendukung kalimat suaminya. Wanita itu lantas memberikan mug yang dibawanya pada Laras. "Coklat panas untuk hari yang melelahkan ... Terimakasih ya nak, sudah mewujudkan keinginan adikmu itu." Sari melirik Rara sekilas. Kemudian duduk di samping Harto dengan tangan bersedekap.
Laras hanya mengangguk sembari menerima mug dari ibunya, meniup panas minuman itu sebelum menyeruputnya sedikit demi sedikit.
"Kamu mau mandi tidak? Nanti ibu siapkan air panas."
"Mendadak sekali jadi baik begini?" tanya Laras sembari memicingkan mata. Sangat tidak sopan sekali, namun Sari tidak merasa sakit hati karena memang itulah sifat Laras anak pertamanya.
"Ayah, Ibu mendadak jadi baik setelah aku menuruti keinginan anak manja itu." Laras menunjuk Rara dengan dagunya, sedangkan yang ditunjuk sedang cengar-cengir dengan ponselnya. Entah apa yang sedang dilakukan gadis kecil itu sehingga nampak sekali bahagia.
"Aku lupa jika ayah juga sama seperti Ibu, selalu saja menuruti keinginan Rara. Aku jadi curiga jika sebenarnya yang anak kandung itu hanya Rara." Laras berkata tanpa pikir panjang. Kebiasaannya melihat konten meme di sosial media membuat otaknya ikut tercemar. Pemikiran-pemikiran di luar nalar akibat konten secara tidak langsung merasuk ke pikiran.
"Astaghfirullah mulutnya." Ayah Harto mengusap wajah Laras dengan tangan. Seakan me-rukiyah anak sulungnya.
"Ih ayah apaan sih. Wajahku nanti jerawatan!" Laras bangkit dari duduknya. Gadis itu pergi ke kamar dengan membawa serta mug berisi coklat panas.
"Sabar Yah, Laras pasti lelah sekali hari ini."
Harto menggelengkan kepala. Padahal dirinya yang bekerja seharian membanting tulang untuk mencari nafkah. Tapi rupanya putri tertuanya jauh lebih lelah daripada dirinya. Aneh sekali. "Entah darimana sifat itu berasal." Harto lupa jika sifat Laras menurun darinya.
Sari hanya menggeleng, lucu sekali melihat seorang ayah yang sedang mengeluhkan anak yang sifatnya tidak jauh beda dengan dirinya. Hari ini, Sari sedikit menang. Akhirnya suaminya itu tahu apa yang dirinya rasakan. Pandangan Sari beralih menatap Rara yang sedang asik sendiri dengan ponselnya. "Kamu tidak lupa dengan janjimu kan, Ra?"
"Siap ibu tercintahhhhh. Anakmu ini akan semakin rajin belajar." Rara berlari menuju kamarnya.
Harto menatap kepergian Rara. "Anak itu jika tidak dituruti mainnya demam, memang anak cerdik." Pria itu berkata demikian bukan tanpa sebab, hampir semua keinginan Rara pasti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Walaupun tidak pernah diungkapkan, dirinya berharap kedua putrinya pandai menyimpan uang, hemat dan sederhana. Harto ingin kedua putrinya dapat memanfaatkan hartanya untuk hal yang bermanfaat. Namun nyatanya tidak ada berpikir sampai sejauh itu. Baik Laras dan Rara memiliki baik buruknya masing-masing.
"Kebiasaan Ayah yang memanjakannya dari kecil." Sari mengingatkan kebiasaan buruk sang suami.
Harto tidak tahu dimana letak kesalahannya. Pria paru baya itu hanya berusaha membahagiakan kedua anaknya. Dulu saat kecil, dirinya serba kekurangan, dan sekarang Harto tidak ingin kedua putrinya mengalami hal itu juga.
Padahal dari anak pertama, Laras juga mendapat perlakuan yang sama, selalu dimanja dan semua yang diinginkan selalu di turuti. Hanya saja anaknya itu jarang sekali meminta sesuatu, kecuali uang. Semakin dewasa pergaulannya semakin sempit. Harto tahu karena beberapa kali dirinya pernah menyewa seseorang untuk memata-matai anak pertamanya. Anaknya itu seakan hilang minat pada apapun dan fokus pada kenyamanan dirinya sendiri. Hidup seperti apa yang dimau, bahkan menolak nasehat dan keinginan orang tuanya.
Berbeda dengan Rara yang selalu aktif, cenderung lebih penurut. Masalahnya, minat Rara pada lingkungan luar sangat besar. Gadis itu selalu ingin menjadi yang pertama dan suka sekali menjadi pusat perhatian. Meminta apapun yang diinginkan dan harus selalu dikabulkan atau jika tidak anak bungsunya itu akan demam.
"Ayah lelah, ingin istirahat saja." Pria itu beranjak dari sofa.
Sari mengedikkan bahu acuh saat satu persatu keluarganya pergi. Wanita itu mengambil remot di meja kemudian mengganti saluran televisi. Biarlah mereka istirahat, sekarang giliran dirinya menikmati sinetron anak muda yang selalu membuatnya penasaran walau sudah hapal betul dengan alur ceritanya.