"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tontonan Murahan dari Balik Jendela
Matahari pagi di kawasan bisnis Sudirman baru saja naik, memancarkan sinar yang mulai terasa menyengat di atas kulit. Di depan gerbang besi menjulang tinggi milik gedung Arania International, suasana yang tadinya tertib mendadak berubah menjadi riuh dan penuh sesak.
Seorang wanita tua dengan daster batik yang sudah pudar warnanya dan rambut yang disanggul asal-asalan tampak berdiri tepat di tengah trotoar, menghalangi jalan masuk bagi mobil-mobil karyawan. Di kedua tangan tua nya yang gemetar, ia mengangkat papan kardus bekas berukuran besar. Di atas kardus itu, tertulis untaian kalimat dengan spidol hitam besar yang benar-benar provokatif:
"RANIA PENGUSAHA DZOLIM! SETELAH SUKSES, KAMU MEMENJARAKAN ADIK IPARMU SENDIRI DAN MEMBIARKAN MANTAN IBU MERTUAMU MENJADI GELANDANGAN! MANA HATI NURANIMU?! BEBASKAN TYAS WIJAYA!"
"Rania... Keluar kamu, Rania! Tolong lihat Ibu, Nak!" Ibu Ratna mulai berteriak dengan suara yang sengaja dibuat serak dan melengking memilukan, mengundang perhatian dari setiap orang yang lewat.
Plokk!
Ibu Ratna dengan sengaja menjatuhkan dirinya berlutut di atas paving blok yang panas. Ia mulai memukul-mukul dadanya sendiri, berakting menangis histeris hingga air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya yang sengaja dibuat tampak kusam dan menderita.
"Ya Tuhan... Tolong hamba... Wanita kaya di dalam gedung ini dulu saya tampung di rumah saya saat dia tidak punya apa-apa... Tapi setelah dia kaya raya dan berkuasa, dia tega memenjarakan anak perempuan saya yang tidak bersalah! Dia mau menghancurkan hidup kami sampai mati!" ratap Ibu Ratna dengan suara yang menggelegar, bener-bener sebuah akting playing victim tingkat tinggi yang sangat rapi.
Strategi murahan Ibu Ratna rupanya berhasil memancing umpan. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, kerumunan pengendara motor, pejalan kaki, hingga beberapa kreator konten TikTok dan wartawan media daring kelas bawah sudah berkumpul menyemut di sekelilingnya.
Kamera-kamera ponsel mulai dinyalakan, merekam drama jalanan itu secara langsung. Bisikan-bisikan dari orang asing yang mulai salah paham dan menyudutkan nama Rania mulai terdengar di antara kerumunan. Ibu Ratna yang melihat hal itu di balik air mata palsunya merasa di atas angin. Ayo, Rania... Keluar kamu! Kamu pasti panik karena takut reputasi perusahaanmu hancur, kan? Cepat bebaskan Tyas kalau kamu mau drama ini selesai! pikir Ibu Ratna dengan senyuman licik yang tersembunyi di dalam hatinya.
Namun, apa yang terjadi di lantai teratas gedung Arania International benar-benar jauh dari ekspektasi liar Ibu Ratna.
Di dalam ruang kerja CEO yang sangat luas, mewah, dan berlantai marmer putih, suasana justru terasa begitu sunyi, damai, dan dingin oleh embusan pendingin ruangan. Bau aromaterapi lavender yang menenangkan menguar di setiap sudut ruangan.
Rania berdiri tegak di depan kaca jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit ruangan. Kedua tangannya memegang secangkir kopi hitam hangat yang masih mengepulkan asap tipis. Dari ketinggian lantai dua puluh itu, Rania menatap lurus ke bawah, ke arah gerbang luar kantornya di mana sosok Ibu Ratna tampak sekecil semut, sedang berguling-guling di atas tanah dikerumuni banyak orang.
Tidak ada secuil pun rasa panik di wajah cantik Rania. Tidak ada amarah yang meledak, apalagi ketakutan akan reputasinya yang tercoreng. Sepasang mata jernih di balik bulu mata lentiknya hanya menatap pemandangan di bawah dengan pandangan yang benar-benar kosong, dingin, dan penuh dengan penghinaan terdalam. Bagi Rania saat ini, aksi Ibu Ratna tidak lebih dari sebuah tontonan sirkus murahan yang tidak bernilai.
Rania perlahan menyesap kopinya dengan gerakan yang sangat anggun, menikmati rasa pahit yang tertinggal di lidahnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu memecah keheningan. Siska, sekretaris pribadi Rania, melangkah masuk dengan wajah yang tampak sedikit cemas sembari membawa sebuah tablet digital.
"Ibu Rania... Mohon maaf mengganggu," ucap Siska dengan membungkuk hormat. "Di bawah... mantan ibu mertua Anda sedang melakukan aksi unjuk rasa sepihak. Beberapa media sosial sudah mulai menaikkan siaran langsungnya, dan mulai ada komentar negatif dari netizen yang tidak tahu duduk perkara aslinya. Apakah Ibu ingin saya menyiapkan tim humas untuk membuat klarifikasi resmi atau mengusir wanita tua itu menggunakan sekuriti gedung?"
Rania tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, berjalan dengan langkah kaki yang tenang menuju meja kerja kayunya yang megah, kemudian meletakkan cangkir kopinya di atas tatakan keramik. Sebuah senyuman tipis yang sangat menawan tapi mematikan terukir di bibirnya.
"Humas? Klarifikasi?" Rania terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin meremangkan bulu kuduk. "Siska... untuk apa kita membuang-buang energi dan anggaran korporasi hanya untuk meladeni kegilaan seorang wanita tua yang tidak tahu diri?"
Rania mendudukkan dirinya di kursi kebesaran, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Biarkan saja dia menangis sampai air matanya habis. Biarkan dia berjemur di bawah terik matahari Sudirman sampai kulitnya melepuh. Wanita tua itu mengira aku adalah Rania yang dulu—Rania yang akan menangis ketakutan dan mengalah setiap kali dia mengamuk atau membuat drama. Dia lupa... kalau singa tidak akan pernah menoleh hanya karena gonggongan seekor anjing di pinggir jalan."
Tepat pada saat itu, pintu ruang kerja Rania kembali terbuka tanpa ketukan. Sosok Elang Danuarta melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang sempurna. Wajah tampannya tampak mengeras menahan geram setelah melihat pemandangan di bawah gerbang tadi.
"Rania... wanita tua di bawah itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya," ucap Elang sembari berjalan mendekati meja Rania. "Dia mencoba merusak nama baikmu di depan publik. Biar aku yang turun ke bawah bersama tim pengacaraku, akan kubuat dia menyesal karena telah menginjakkan kaki di tanah milik perusahaanmu."
Rania mendongak, menatap Elang dengan pandangan yang lembut namun menyiratkan ketegasan yang mutlak. "Jangan, Elang. Jangan turun ke bawah. Jika kamu atau aku turun menemui wanita itu, kita hanya akan memberikan panggung dan konsumsi yang diinginkan oleh media-media haus drama itu. Mereka akan berpikir bahwa gertakan murahan seperti itu bisa memengaruhi kita."
Rania menarik sebuah dokumen dari dalam laci mejanya, kemudian menyodorkannya kepada Siska. "Siska, dengar instruksi saya dengan baik. Jangan gunakan sekuriti internal kita untuk menyentuh wanita tua itu sedikit pun. Hubungi pihak Polres Jakarta Selatan dan Dinas Sosial DKI Jakarta sekarang juga."
Mata Rania berkilat tajam saat melanjutkan kalimatnya, "Laporkan Ibu Ratna atas pasal pencemaran nama baik melalui media elektronik, perbuatan tidak menyenangkan, dan gangguan ketertiban umum di kawasan obyek vital bisnis. Bawa seluruh berkas putusan pengadilan asli mengenai kasus korupsi dan pencucian uang Tyas Wijaya yang telah inkrah sebulan lalu. Berikan berkas itu pada pihak kepolisian agar mereka yang membacakannya langsung di depan para wartawan saat wanita tua itu ditangkap."
Rania kembali menoleh ke arah kaca jendela, menatap ke bawah dengan senyuman badas yang benar-benar dingin. "Aku tidak akan meladeni drama hukum di jalanan. Skenario playing victim yang dia buat... akan menjadi tiket emas yang mengantarkannya ke sel tahanan yang sama dengan putri kesayangannya."
"Baik, Ibu Rania. Segera saya laksanakan," jawab Siska dengan patuh, merasa kagum yang luar biasa melihat betapa tenang dan mematikannya cara berpikir bos wanitanya itu. Siska langsung berbalik dan keluar dari ruangan untuk mengeksekusi perintah.
Di bawah gerbang, Ibu Ratna yang sudah merasa lelah karena berteriak selama hampir satu jam mulai tersenyum puas ketika melihat tiga mobil patroli polisi dengan sirine yang meraung-raung datang membelah kerumunan warga. "Hahaha! Akhirnya polisi datang! Rania pasti yang memanggil mereka karena dia ketakutan setengah mati!" batin Ibu Ratna bersorak kegirangan.
Wanita tua itu langsung memasang wajah paling menderita, bersiap untuk mengadu pada petugas polisi bahwa dia adalah korban kezaliman Rania. Namun, belum sempat Ibu Ratna membuka mulutnya, seorang perwira polisi berpakaian dinas lengkap melangkah maju dengan wajah yang sangat tegas, didampingi oleh dua polwan di belakangnya.
"Ibu Ratna Wijaya?" tanya perwira polisi itu dengan nada suara yang menggelegar melalui pengeras suara.
"I-iya, Pak Polisi! Tolong saya, Pak! Saya didzolimi oleh pemilik gedung ini—"
"Anda kami tahan atas dugaan pelanggaran Pasal 310 KUHP terkait pencemaran nama baik, serta Pasal 218 KUHP atas tindakan mengganggu ketertiban umum dan melakukan provokasi palsu di area publik!" potong perwira polisi itu tanpa ampun.
Sebelum Ibu Ratna sempat mencerna apa yang terjadi, perwira polisi itu berbalik menghadap ke arah kerumunan wartawan dan kamera ponsel warga, lalu mengangkat sebuah dokumen resmi bermaterai. "Perlu kami tegaskan kepada seluruh rekan media dan masyarakat, bahwa tuntutan yang dibawa oleh saudari Ratna ini adalah bentuk provokasi palsu. Putri dari saudari Ratna, yaitu Tyas Wijaya, telah resmi divonis bersalah oleh pengadilan atas kasus penggelapan dana abadi yayasan kanker anak sebesar miliaran rupiah. Tidak ada unsur kezaliman dari pihak Arania International. Tindakan yang dilakukan hari ini adalah murni pelanggaran hukum!"
Klik!
Dua petugas polwan dengan cepat mencengkeram kedua tangan Ibu Ratna dan memasangkan borgol besi yang dingin di pergelangan tangannya. Papan kardus protes yang ia banggakan langsung jatuh ke atas aspal, terinjak-injak oleh sepatu bot petugas.
"Eh?! Apa-apaan ini?! Kok saya yang ditangkap?! Lepaskan saya! Raniaaa! Kamu benar-benar anak durhaka! Polisi, lepasin saya! Aaakhhh!" jerit Ibu Ratna histeris, wajah tuanya mendadak pucat pasi bercampur malu yang teramat sangat ketika ratusan kamera wartawan kini justru menyorot wajahnya sebagai pelaku provokasi palsu se-Indonesia.
Tubuh tua Ibu Ratna diseret dengan kasar, dimasukkan ke dalam bagian belakang mobil tahanan polisi di tengah sorakan makian dari kerumunan warga yang kini berbalik menghujatnya habis-habisan karena tahu fakta bahwa keluarganya telah mencuri uang anak-anak kanker. Mobil patroli itu kemudian melaju cepat meninggalkan area gedung, membawa Ibu Ratna menuju kehancuran barunya.
Dari lantai dua puluh, Rania menyaksikan mobil polisi itu menjauh hingga hilang di belokan jalan raya. Ia kembali menyesap kopi hitamnya yang kini sudah mendingin, menampilkan sepasang mata yang benar-benar puas. Drama murahan telah berakhir, dan singa tetap kokoh berdiri di atas takhtanya tanpa tersentuh sedikit pun oleh lumpur jalanan.
pst dapat cap pelakor😄🤭