Akira tewas terbunuh karena ledakan bom yang di pasang di mobilnya, oleh musuh. Namun keajaiban terjadi, dia terbangun di tubuh wanita bernama Elvira, seorang istri yang tak di anggap oleh suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Sisa perasaan
“Vira, kau disini. Aku mencarimu dari tadi,” ucap Zavian.
Elvira sengaja pergi meninggalkan Raisa bukan karena dia kalah berdebat, namun umpan yang dia tebar lagi sudah mendapatkan hasil. Seperti biasa dia memanfaatkan kejahatan orang lain demi mengisi uang di rekeningnya.
“Mantan pacarmu banyak bicara, aku kesal,” tanggap Elvira, sambil berjalan mendahului.
“Raisa. Apa saja yang dia katakan padamu?”
“Menurutmu?”
Zavian menarik tangan Elvira menghentikan langkah wanita itu, “apa pun yang dia katakan, semua itu hanya ada di masa lalu, Elvira. Sekarang Istriku, hanya kau.”
“Aku tahu. Jika kau punya wanita lain, mungkin Elvira akan mati lebih cepat.”
“Jangan bicara begitu. Aku sudah memutuskan, untuk memperbaiki hubungan kita. Mari lupakan semua yang pernah terjadi di masa lalu, kita mulai semua dari awal lagi.”
Elvira menarik tangannya dari genggaman Zavian, “tidak ada namanya memulai dari awal, kecuali jika kau mati dan hidup lagi.”
Zavian menghela nafas, “oke, aku faham maksudmu. Aku ingin kita melanjutkan pernikahan ini seperti pasangan pada umumnya, bukan hanya hidup bersama, tapi–,”
Elvira mengangkat sebelah alisnya, dia menunggu kelanjutan kata 'tapi' yang tergantung begitu saja.
“Tuan dan Nona, anda di tunggu di ruang makan, oleh Tuan besar,” ucapan seorang pelayan mengakhiri percakapan mereka.
“Baiklah, kami akan segera kesana.”
Selepas acara makan malam. Zavian dan Elvira berpamitan.
“Zav,” panggil Raisa.
Zavian melirik kearah Elvira sekilas. Seolah takut jika sang Istri marah karena dia membalas sapaan sang mantan.
“Ada apa?”
“Aku butuh tumpangan. Ban mobilku kempes, Zelda tidak bisa mengantarku, dia bilang perutnya sakit karena makan terlalu banyak,” Raisa mengutarakan niatnya.
‘Alasan yang payah. Dia pasti ingin menguji Zavian. Baiklah, mari kita lihat apa saja yang telah kau rencanakan, Raisa.’
“Minta supir untuk mengantarmu,” tanggap Zavian.
“Sudahlah Zav, mari kita beri dia tumpangan. Lagi pula ini sudah malam,” ucap Elvira.
“Kau tidak keberatan?”
“Kenapa aku harus keberatan. Lagi pula dia tidak akan duduk di pangkuanku,” balas Elvira.
“Ya sudah kalau begitu.”
Saat Elvira hendak masuk kedalam mobil. Raisa tiba-tiba mendahului, dia hendak duduk di kursi depan, di samping Zavian.
“Apa yang kau lakukan, tempat itu untuk Istriku,” tegur Zavian.
“Maafkan aku, kebiasaan lama. Aku lupa, kalau kita sudah berpisah.” Raisa yang sudah duduk manis, terpaksa harus turun lagi, air mukanya berubah seketika.
Elvira lalu masuk dan duduk dengan anggun menggantikan Raisa.
‘Cih, dasar pelakor tidak tahu diri. Mari kita lihat, seberapa kuat niatmu itu.’
Aw... Ringis Elvira, saat mereka sudah separuh jalan.
“Ada apa?” tanya Zavian.
“Kaki ku tiba-tiba keram,” ucap Elvira sambil memijat betisnya.
“Keram. Biar aku lihat.” Zavian menepikan mobil di pinggir jalan.
“Yang mana yang sakit?”
“Yang sebelah kanan.”
“Sini, taruh kakimu di pangkuanku.”
Elvira menarik sudut bibirnya. Sengaja memanasi Raisa dan ternyata itu cukup ampuh. Raisa menatapnya penuh kebencian.
“Apa yang ini?” Elvira mengangguk pelan sambil meringis, “sepertinya kau terlalu lama memakai sepatu hak tinggi. Jangan terlalu sering mengenakkannya.”
“Baiklah.”
“Zavian. Aku akan turun disini, terimakasih atas tumpangannya.” Raisa yang tidak tahan melihat Zavian yang begitu perhatian pada Elvira memilih berpamitan.
“Sama-sama,” sahut Zavian tanpa menoleh, dia masih terus melanjutkan memijat kaki Elvira.
Rahang Raisa mengeras. Sepertinya bukan jawaban seperti itu yang dia inginkan. Mungkin seharusnya seperti ini ‘ini sudah malam, biar aku mengantarmu sampai rumah.’ tapi tidak, Zavian tetap acuh sampai wanita itu pergi menaiki taksi.
“Sudah cukup. Sekarang kakiku sudah lebih baik,” Elvira kembali menarik kakinya.
Zavian mengulum senyum, “yakin sudah baik-baik saja. Sebaiknya kita pergi ke dokter untuk memastikan.”
“Tidak usah. Kita pulang saja.”
Zavian kembali melajukan mobilnya, satu hal yang ia temukan. Kecemburuan Elvira. Dia tahu wanita itu tak benar-benar merasakan sakit di kakinya, Elvira hanya berpura-pura untuk memanas-manasi Raisa.
Memberi tumpangan hanya jalan untuknya menunjukkan kepemilikannya. Zavian tersenyum senang, karena Elvira tak sepenuhnya berubah, masih ada sisa perasaan yang tertinggal di hatinya.
ikutan tegang
😍😍💪💪🙏🙏
😍😍😍😍💪💪💪💪🙏🙏🙏
apa selama ini akira jga memanipulasi dana amal?
😍😍😍😍💪💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🙏🙏😍😍💪💪
gk nyangka kalo hub akira dan calvin seperti itu awqlnya..
gk krtebak.
🙏🙏🙏😍😍😍😍😍💪💪💪
akankah mereka saling jatuh hati saat caviar tau kalo ebelyn adalah dori nya alias akira.?
🤣🤣😍🙏🙏💪💪
😍🙏🙏💪💪
penuh misteri..
seruu..
😍🙏🙏💪💪💪
🤣🤣💪🙏😍😍
jadi dia masih ngitilin elvira..
jadi tau saat elvira brkanja senjata ...
🤣🤣💪🙏😍
🤣💪🙏😍😍😍😍
rencana raisa kalah telak sama elvira
daripada raisa..
🤭😄😄💪💪🙏🤣🤣😍
tambah seru..
apa yg akan raisa lakukan...
bagaimna zavian menaggapi ..
apa yg akan akira lakukan..
🤣🤣😍😍🙏🤣🤣🤣😍😍😍
biar zelda kapok..
🤣😍😍🙏🙏💪💪
mulai..
🤣😍🙏🙏💪💪
jgn2 mantan tunangan Zavian...
😍😍😍😍🙏🙏💪