Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeratan Muslihat dan Penyerahan Diri
Ponsel Lea bergetar di atas nakas, menampilkan nama yang sempat menjadi pusat dunianya: Tom. Sebuah pesan singkat masuk, mengajak Lea bertemu di sebuah kafe terpencil dengan alasan ingin menyelesaikan segalanya secara baik-baik sebelum ia benar-benar menyerah.
Di balik layar ponsel itu, Tom tersenyum licik. Di tangannya terdapat sebuah botol kecil berisi cairan bening. Pikirannya sudah diracuni obsesi. "Jika aku tidak bisa memilikimu dengan cinta, maka aku akan memilikimu dengan cara ini, Lea. Kamu akan menjadi milikku seutuhnya malam ini," gumamnya penuh niat jahat.
Lea, yang merasa berhutang penjelasan jujur agar Tom tidak lagi mengejarnya, bergegas bersiap. Ia ingin mengakhiri semua drama ini agar ia bisa fokus pada lembaran barunya bersama Gus Malik dan kakaknya.
Saat hendak keluar rumah, Lea bertemu Gus Malik di ruang tamu. Pria itu nampak tenang membaca kitab tebalnya di bawah cahaya lampu yang temaram.
"Gus, gue... gue mau keluar bentar ya. Mau ketemu Dira di kafe depan, ada tugas kampus yang mendesak," bohong Lea. Suaranya sedikit bergetar, ia tak berani menatap mata tajam suaminya.
Malik menutup kitabnya perlahan. Matanya menatap Lea dengan gurat kekhawatiran yang tak mampu ia sembunyikan. "Jangan pulang terlalu malam, Kalea. Hati-hati di jalan."
"Iya, Gus."
Lea melangkah pergi dengan terburu-buru. Namun, Malik merasakan ada yang tidak beres. Firasatnya sebagai seorang suami dan pelindung terusik. Ia bangkit, mengambil kunci mobil, dan memutuskan untuk mengikuti Lea dari kejauhan.
Di sebuah kafe dengan pencahayaan minim, Lea duduk berhadapan dengan Tom. Gus Malik yang mengintai dari kejauhan mengepalkan tangannya saat melihat sosok pria yang ia tahu adalah mantan kekasih Lea. Hatinya perih, ia merasa dikhianati dan dibohongi. 'Jadi ini 'Dira' yang kamu maksud, Kalea?' batinnya pedih.
Di dalam kafe, Lea berbicara panjang lebar. Ia meminta maaf, ia menjelaskan bahwa ia sudah menikah secara sah dengan Gus Malik dan ia tidak bisa kembali ke London. "Gue sayang sama Kak Najwa, Tom. Dan sekarang, gue harus menghormati pernikahan gue," ucap Lea tegas.
Tom hanya mengangguk-angguk pura-pura mengerti, lalu mendorong sebuah gelas berisi jus jeruk ke arah Lea. "Gue paham. Minum dulu, Lea. Lo pasti haus bicara sepanjang itu."
Lea yang merasa tenggorokannya kering tanpa curiga meminum jus itu hingga tandas. Tak sampai sepuluh menit, dunianya mulai berputar. Rasa panas yang asing menjalar dari ulu hati ke seluruh tubuhnya. Napasnya menjadi pendek dan berat.
"Tom... kok... kok badan gue panas banget ya?" gumam Lea sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah.
Tom berdiri dan meraih lengan Lea. "Mungkin AC-nya mati. Ayo, kita cari udara segar. Gue antar lo ke tempat yang lebih nyaman."
Tom membimbing Lea keluar menuju hotel yang terletak tepat di samping kafe tersebut. Namun, di tengah jalan, Lea yang masih memiliki sedikit kesadaran merasa ada yang salah. Gairah yang meledak-ledak ini tidak wajar.
"Lo... lo masukin sesuatu ke minuman gue?" tanya Lea dengan mata sayu namun penuh amarah.
Tom menyeringai puas. "Hanya sedikit bantuan, Lea. Biar lo tahu siapa yang bener-bener bisa bikin lo bahagia. Gue masukin obat perangsang, dan sekarang lo nggak punya pilihan selain ikut gue."
Lea terbelalak. "Jijik! Lo benar-benar menjijikkan, Tom!" Dengan sisa tenaga yang ada, Lea menghempaskan tangan Tom dan berlari sekuat tenaga ke arah parkiran.
Tepat saat itu, sebuah mobil putih yang sangat familiar berhenti di depannya. Pintu terbuka, dan Gus Malik muncul dengan wajah tegang. Lea langsung masuk ke kursi penumpang.
"Jalan, Gus! Sekarang! Pergi dari sini!" teriak Lea histeris.
Malik melihat Tom yang mengejar di belakang, ia segera memacu mobilnya menjauh. Di dalam mobil, keadaan menjadi kacau. Efek obat jahannam itu semakin menguasai tubuh Lea. Keringat membasahi pelipisnya, dan kulitnya berubah kemerahan.
"Panas, Gus... panas banget," rintih Lea. Dengan tangan gemetar, ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, menyisakan tanktop tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Astaghfirullah! Kalea, apa yang kamu lakukan?" Malik berseru kaget, mencoba tetap fokus pada jalanan meski jantungnya berpacu liar.
"Tom... dia jahat, Gus... dia masukin obat itu ke minuman gue... Gue nggak tahan," Lea mulai meracau. Ia bergerak seperti cacing kepanasan di kursinya. Tangannya yang nakal mulai merayap ke arah dada Malik, memainkan kancing baju koko pria itu.
Sentuhan Lea terasa seperti sengatan listrik bagi Malik. Ia terus beristighfar, mencoba menahan gejolak yang mulai membakar dirinya sendiri. Ia tahu ini bukan Lea yang sadar, ini adalah pengaruh zat kimia.
Sesampainya di rumah, suasana sunyi senyap. Najwa dan ibunya sedang pergi ke pengajian, sementara Arkan belum dijemput dari sekolah. Malik menggendong Lea yang sudah hampir kehilangan kendali diri menuju kamar atas.
Begitu sampai di kamar, Lea langsung melepaskan sisa pakaian luarnya, menyisakan pakaian dalam yang sangat minim di depan mata Malik. Malik segera menutup matanya dengan tangan, tubuhnya bergetar hebat.
"Kalea, kendalikan dirimu. Saya akan ambilkan air dingin," ucap Malik dengan suara parau.
"Nggak mau air! Gue mau lo, Gus!" Lea menerjang Malik, memeluknya dari depan. "Tolong... sentuh gue... panas banget..."
Lea dengan berani meraih wajah Malik dan mencium bibir pria itu dengan penuh gairah lebih berani dari saat di club malam. Malik awalnya mencoba bertahan, namun saat lidah Lea mulai menjelajah dan rintihan penuh penderitaan itu terdengar di telinganya, benteng pertahanan terakhir sang Gus runtuh.
Ia sadar, wanita ini adalah istrinya yang sah. Ia sadar, membiarkan Lea dalam keadaan tersiksa seperti ini sendirian adalah sebuah kekejaman. Malik membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama kuatnya. Nafsu dan tanggung jawab melebur jadi satu dalam keheningan kamar yang hanya diterangi cahaya sore.
Sore itu, di balik pintu kamar yang terkunci, Gus Malik dan Lea menyerah pada takdir yang telah menyatukan mereka. Tidak ada lagi paksaan, hanya ada dua jiwa yang akhirnya bersatu dalam ikatan yang paling intim, menghapus jejak-jejak masa lalu dan mengunci masa depan dalam satu nafas yang sama.