NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran yang lain

Sepanjang perjalanan, Hana memikirkan tentang kerupuknya. Ia menyangkal jika ia lupa telah memakan semuanya.

"Kurasa dibawa tikus. Tapi tak mungkin di sana ada tikus."

"Ah, sudahlah. Nanti aku akan membeli lagi, semoga saja nenek itu berjualan."

Hana melangkah cepat ketika sudah berada di depan gedung, ia tak ingin terlambat dan terkena poin. Itu akan berpengaruh pada jumlah gajinya nanti.

"Hana!"

Rekannya memanggil kala ia baru saja mengabsen diri.

"Ada apa?"

"Kau sudah sarapan?"

"Belum."

"Kalau begitu, ayo kita sarapan dulu, masih ada waktu 15 menit sebelum jam kerja dimulai."

"Oke."

Kantin di perusahaan tersebut hanya satu tempat diperuntukkan oleh semua orang yang bekerja di naungan perusahan B, itu bertujuan agar tak ada perbedaan yang bisa membuat beberapa pekerja merasa superior.

Terlihat ramai dengan jam sarapan yang sedang berjalan, Hana dan rekannya bernama Yumna memilih meja yang berada di dekat jendela.

"Apa kau akan mengambil cuti tahunan?"

"Ya." Hana mengangguk merasakan menu kali ini sangat menggugah seleranya.

"Kau akan pergi kemana?"

Hana berhenti sejenak lalu mengedikkan bahu.

"Aku tak tahu, belum ada rencana."

"Bagaimana kalau kita pergi liburan bersama?"

Hana menatap Yumna yang tersenyum cerah, makanannya belum tersentuh sedikitpun.

Hana terpikirkan sudah berapa bulan ia tak liburan, murni liburan.

Beberapa bulan yang lalu ia ke Swiss karena mengasuh bayi besar yang cabul, itu tidak ia hitung sebagai liburan.

"Akan ku pertimbangkan." Yumna bersorak.

"Bagus! Aku tunggu keputusanmu, Na." Ia lalu segera menyantap sarapannya dengan cepat.

Hana sibuk dengan pertimbangan akan mengambil liburan atau tidak. Untuk uang, ia mempunyai tabungan, namun ia sangat enggan untuk menghabiskan ke hal yang tak terlalu penting, akan tetapi ia juga ingin berlibur sejenak melepaskan diri dari penatnya pekerjaan yang tiada henti.

Dari sudut kantin terlihat Luca sedang bersama Ruby menikmati sarapan mereka.

Sesekali Luca melirik ke arah Hana yang beberapa kali melamun usai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Notifikasi ponsel berbunyi bersamaan dengan pesan masuk ke ponsel milik Luca.

Pria itu mengambil benda pipih tersebut dari saku jasnya.

"Nanti malam ayo kita bertemu di rumah kakekku. Keluarga besarku sedang berkunjung ke Indonesia."

Pesan dari Helen hanya ia balas singkat.

Manik hitamnya tak lepas dari pandangan ke arah gadis yang cukup jauh dari mejanya berada.

"Aku sudah selesai."

Ucap Luca. Ruby segera menghabiskan sarapannya dengan terburu-buru.

Luca hanya melirik apa yang dilakukan Ruby.

Saat menunggu lift terbuka, Luca mengecek ponsel sedangkan Ruby melihat ipad di tangannya untuk mengurus beberapa jadwal Luca yang berubah secara tak terduga akibat satu pertemuan yang dilakukan dengan mendadak.

"Panggil Hana ke ruanganku."

"Baik, tuan." Ruby segera pergi meninggalkan Luca yang masuk ke dalam lift seorang diri.

Kakinya melangkah menuju ke tempat dimana Hana biasa bekerja.

"Nona." Hana menoleh ketika mendengar suara yang familiar di telinganya.

"Ya, ada apa tuan?"

"Anda diminta ke ruangan tuan sekarang."

"Baik." Hana segera membereskan alat-alat kebersihannya ke tempat penyimpanan.

"Hana, kau mau ke mana? Kenapa mengambalikan semua alatmu?"

"Aku ada urusan sebentar." Hana berlalu pergi sebelum rekannya memberi pertanyaan yang mengulik.

Bersama Ruby, Hana berjalan sedikit di belakang pria muda itu.

"Apa tidak sebaiknya anda memiliki nomor telepon saya, tuan?" Ruby menatap Hana meminta penjelasan.

"Agar lebih mudah tuan memanggil saya, daripada harus naik turun lantai. Maaf, jika saya lancang."

"Benar juga, kenapa baru terpikirkan."

Ruby tersenyum ramah, ia bahkan tak memikirkan ide seperti ini setelah lelah bolak-balik memanggil Hana dan mengurus beberapa keperluan Luca.

Namun, saat akan meminta nomor telepon perempuan itu, Ruby kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Tidak perlu. Tuan akan marah jika saya melakukannya."

Hana mengernyit bingung. Ia tak mengerti apa maksud asisten majikannya ini.

"Kenapa?"

"Hanya begitu. Tak masalah jika saya harus mencari anda ke sana kemari. Itu sudah tugas saya." Ruby tersenyum simpul.

Hana mengangguk paham.

Mereka keluar dari lift dan berjalan bersama, di balik meja sekretaris berdiri seorang perempuan yang berbeda dari kemarin.

Ini sudah terhitung orang ketiga sejak Hana berurusan dengan Luca.

Perempuan kali ini terlihat lebih matang dan profesional.

Senyum ramah terkembang di bibir yang dipoles lipstik merah menyala. Tubuhnya yang tinggi semampai dengan penampilan yang stylish namun simple membuat Hana segan.

Mereka berdua masuk ke ruangan Luca yang seperti biasa, suhu dingin langsung menyapa kulit terbuka Hana.

"Tuan memanggil saya?"

Hana berdiri di sisi Luca yang duduk di balik meja kerjanya.

"Ruby, tolong ambilkan aku kopi."

"Baik, tuan."

Ruby segera keluar ruangan untuk membuatkan kopi sesuai dengan perintah Luca.

"Bagaimana pekerjaanmu?"

"Pekerjaan saya? Semua lancar, dan seperti biasa saya membersihkan semua lantai dan ruangan yang berada di gedung, tidak berubah menjadi penata rias artis."

Jawaban Hana membuat Luca terkekeh pelan.

"Bagaimana jika aku menawarkan pekerjaan yang lebih baik?"

"Pekerjaan apa yang dapat saya kerjakan dengan ijazah saya, tuan?"

Hana sudah bersyukur ia dapat bekerja dengan ijazah SMA yang ia punya bisa untuk membayar hutang ayahnya.

"Sebagai sekretarisku."

"Saya tidak pandai komputer, tuan."

"Aku bisa membiayai kuliahmu hingga mendapat ijazah yang lebih baik."

"Itu akan membuat hutang saya bertambah, saya menolaknya tuan."

Luca mendesah pelan. Ia menginginkan Hana menjadi istrinya, namun gadis ini selalu menolaknya ketika ia mulai membahas hal tersebut.

"Andai kau mau menerima menjadi istriku. Hidupmu akan nyaman dan terbebas dari hutang."

Jadi, sebenarnya Hana harus menebus hutangnya dengan hidupnya. Gadis itu menggeleng pelan.

"Saya punya mimpi yang ingin diwujudkan."

"Baiklah, kau boleh keluar."

"Pembicaraan seperti ini anda bisa membahasnya ketika di rumah, tuan."

"Kenapa? Di rumah atau di sini sama saja kau adalah pekerjaku."

Hana ingin mengelak dengan alasan Luca menganggu pekerjaannya namun memilih diam saja.

"Saya permisi."

"Hana."

"Ya, tuan? Ada lagi?"

"Pulang bersamaku."

"Ta-"

"Tidak ada bantahan."

"Semua orang akan melihatnya, dan saya tidak ingin berurusan dengan tunangan anda."

"Aku akan mengurusnya."

"Baik, saya permisi."

Dengan respon Hana yang melunak, rasanya Luca ingin segera menyudahi perjodohannya.

Entah mengapa pesona gadis tersebut mampu menembus benteng dingin yang Luca bangun.

"Baby! Aku datang~"

Helen masuk dengan diiringi ketukan heels yang menggema di ruangan.

Bau parfum menyeruak membuat Luca seketika bersin. Helen seperti mandi parfum.

"Kenapa kau kemari?"

"Kau lupa nanti malam kita akan bertemu dengan keluargaku."

"Ini baru jam 3, masih ada waktu 4jam lagi."

"Aku merindukanmu. Kau pergi hampir seminggu dan sulit kuhubungi. Terakhir kali kita bertemu saat membicarakan gosip murahan itu."

Helen bergelayut manja di pangkuan Luca, pria itu hanya diam membiarkan Helen bertingkah semaunya.

"Pekerjaanku banyak."

"Kau sudah punya segalanya, kenapa tak bersantai saja. Uangmu akan terus mengalir tanpa kau bekerja."

Luca mengerti ucapan Helen yang mencerminkan gaya hidup tunangannya ini.

"Bagaimana jika kita pergi berlibur? Sudah berapa bulan kita bertunangan tapi kita belum pergi liburan bersama."

"Pekerjaanku masih banyak. Lagi pula sebentar lagi hubungan kita usai."

Ini yang Helen tak suka. Ia sangat kesal dirinya digunakan sebagai alat oleh kakeknya untuk bisnis.

Dirinya ingin benar-benar menikah dengan Luca, pria yang sudah lama ia incar untuk menjadi pasangan hidup.

Sebelum jam kerja selesai, Hana menghampiri Luca yang ia tahu dari Ruby sedang berada di ruangannya.

Pintu terbuka, sosok Hana yang masih mengenakan seragam berjalan menghampiri Luca yang duduk menatapnya.

Secara kebetulan Helen sedang keluar sebentar menemui temannya.

"Tuan, saya ing-"

"Kau pulang sendiri. Aku akan pulang bersama tunanganku."

"Baik, saya permisi."

"Tunggu."

"Ya, tuan?"

"Ada apa kau kemari?"

"Saya hanya ingin -"

"Baby, jam kerjamu sebentar lagi selesai, kan?"

Helen masuk tanpa mengetuk membuat Luca dan Hana terkejut.

"Kenapa kau sering terlihat kemari?"

Helen berdiri di depan Hana dengan sikap sombong. Luca hanya diam menonton apa yang dilakukan oleh tunangannya.

"Apa kau mencari kesempatan untuk menggoda tunanganku?"

"Tidak, Nona. Kalau begitu saya permisi."

"Tunggu!" Helen memegang tangan Hana.

"Ya, Nona?"

"Di mana tempat tinggalmu?"

Sontak Hana menatap ke arah Luca, pria itu menggelengkan kepala untuk mengisyaratkan tak memberitahu pada Helen.

"Kenapa anda ingin tahu tempat tinggal saya?"

"Kudengar kau sering terlihat di gedung apartemen xxx. Kau tinggal di sana?"

"Tidak."

"Apa kau seorang psk?" Pertanyaan frontal membuat Hana risih.

"Tidak, Nona."

"Lalu, kenapa kau berkeliaran di sana?"

"Nona Madelaine. Ayo kita pergi, kita akan terlambat ke rumah kakekmu."

Luca berinisiatif menahan rasa ingin tahu Helen.

"Baik, ayo Baby." Helen segera menggandeng tangan Luca, pasangan tersebut keluar meninggalkan Hana yang berdiri seorang diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!