NovelToon NovelToon
Adikku Sayang Adikku Malang

Adikku Sayang Adikku Malang

Status: tamat
Genre:Fanfic / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:627.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: DN YM

"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."

Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.

Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.

Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.

Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?

Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22 ~ Foundation

...🍁🍁🍁...

Suara adzan subuh di mesjid menjadi alarm di pagi hari bagi keluarga Pak Aidi. Dhina pun terbangun dari tidurnya. Rasa sakit di pipinya masih sangat terasa akibat tamparan preman tadi malam. Kini rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuh Dhina. Sejak bangun tidur, tubuh Dhina merasa tidak enak terutama di bagian kepala.

Namun mengingat hari ini adalah hari penting bagi sang ayah. Dhina pun tidak bisa menolak untuk segera bangkit dari tempat tidur. Dengan kepala yang terasa sangat pusing, Dhina berusaha berjalan menuju kamar mandi. Tapi saat Dhina ingin masuk ke kamar mandi, tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara yang mengetuk pintu kamarnya. Lalu Dhina menghampirinya terlebih dahulu.

"Baru ingin masuk ke kamar mandi saja sudah ada yang mengetuk pintu. Ayolah kepalaku, tolong jangan sakit dulu untuk hari ini."

Dhina pun berjalan menuju pintu kamar sambil memegang kepalanya. Setelah sampai di dekat pintu, Dhina langsung membuka pintu kamarnya dan ternyata yang mengetuk pintu adalah Sadha dan Dhana.

Melihat kedua masnya di depan pintu, Dhina pun merubah ekspresinya agar tidak ketauan kalau saat ini ia sedang sakit kepala. Dhina terpanah dengan penampilan kedua masnya yang sudah rapih dan tampan dengan pakaia batik yang mereka kenakan sebagai dress code untuk acara pagi ini.

"Mas Sadha, Mas Dhana... ada apa Mas?" tanya Dhina yang berdiri di dekat pintu dan berusaha menutupi rasa sakit di kepalanya.

"Izinkan kita masuk dulu, Dek." jawab Dhana yang langsung masuk ke kamar adik kembarnya itu.

Tanpa menunggu jawaban dari Dhina, mereka berdua pun langsung masuk. Dhina yang melihat tingkah kedua masnya itu hanya memasang ekspresi heran sambil menutup kembali pintu kamarnya.

"Mas kenapa sih? Seperti habis dikejar setan saja." ujar Dhina yang berjalan mendekati kedua masnya itu.

"Kita takut ketauan Ayah dan Ibu, Dek. Kata Mas Ammar luka memar ini tidak boleh terlihat oleh Ayah dan Ibu. Adek lupa ya?" jawan Sadha yang sedang sibuk mencari sesuatu di meja rias adik perempuannya itu.

"Oh, iya. Adek tidak lupa sih Mas." ujar Dhina yang tertawa karena menggoda kedua masnya itu.

Sadha dan Dhana hanya saling pandang melihat sikap Dhina yang menggoda mereka. Lalu...

"Adek sudah mandi? Salat subuh?" tanya Dhana yang masih duduk di tepi tempat tidur Dhina.

"Adek baru juga bangun, Mas. Saat Adek mau masuk ke kamar mandi, kalian mengetuk pintu. Jadinya Adek buka dulu." jawab Dhina seraya duduk di sebelah Dhana.

"Adek... foundation Adek yang mana nih? Mas minta untuk menutupi luka memar ya." ujar Sadha yang sejak tadi mencari foundation milik adik perempuannya namun tidak bertemu.

"Iya Mas, ambil saja. Itu yang warna orange. Pakai foundationnya tipis saja ya, nanti kalau terlalu tebal disangka pakai make up lagi." ucap Dhina yang berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

"Oke, Sayang. Lebih baik Adek mandi dulu sana! Nanti malah telat subuhnya. Biar Mas sama Dhana dandan dulu di sini." ujar Sadha yang tertawa sambil mencolek foundation Dhina.

"Iya, Adek mandi dulu ya. Nanti kalau sudah selesai, pintu kamar Adek ditutup lagi ya, Mas." sahut Dhina dari dalam kamar.

"Iya, Dek. Dasar cerewet! Punya Adek cewek satu cerewet nya minta ampun. Tapi kalau tidak punya, ke mana pula kita cari foundation seperti ini." sewot Dhana seraya mengambil foundation sang adik.

"Makanya jangan jomblo dong! Kalau punya pacar 'kan enak, bisa minta foundation sama pacar." ujar Sadha yang sedang menata foundation di beberapa luka memarnya sambil menggoda Dhana.

"Mas, Mas... Mas lupa ya, kalau Mas Sadha itu juga jomblo. Jomblo kok teriak jomblo." sewot Dhana yang juga sedang mengoles foundation di wajahnya.

"Ya ampun, jomblo sekarang itu bukan masalah, Dhana. Lebih baik jomblo daripada pacaran tapi ujungnya sakit hati." jelas Sadha yang menceramahi Dhana dan diri sendiri.

"Curhat ya Mas?" goda Dhana yang tertawa mendengar ceramah Sadha.

"Sudah, sudah! Mas malas sekali membahas itu. Kalau sudah waktunya, jodoh juga akan datang sendiri. Tugas kita hanya berdo'a dan usaha. Sisanya biar Sang Pencipta yang mengatur." tutur Sadha yang sudah selesai memakai foundation diluka memarnya.

"Iya, iya, Masku yang ganteng dan bijak." jawab Dhana yang masih membenarkan foundation di wajahnya.

"Bagaimana Dhana? Masih terlihat tidak luka memar di wajah Mas?" tanya Sadha seraya memperlihatkan wajahnya pada Dhana.

"Sudah pas, Mas. Pintar juga ya Mas memakai foundation. Tolong Dhana dong Mas, masih belum rata nih." ujar Dhana yang mendekatkan wajahnya pada Sadha.

Melihat tingkah Dhana membuat Sadha hanya mengelengkan kepalanya. Saat sedang asyik membenarkan foundation di wajah Dhana, tiba-tiba dari luar ada yang mengetuk pintu kamar Dhina. Sadha dan Dhana pun saling pandang karena takut yang mengetuk pintu kamar Dhina adalah orang tua mereka. Namun di saat bersamaan, Dhina keluar dari kamar mandi. Dhina yang mendengar ada yang mengetuk pintu, meminta kedua masnya untuk membuka pintu kamarnya.

"Mas... kenapa diam saja? Itu ada yang mengetuk pintu. Tolong dibuka dong, Mas." ujar Dhina yang sedang mencari baju di lemarinya.

"Adek saja yang buka. Kalau misalnya Ibu yang mengetuk, lalu Mas yang buka, Ibu bisa curiga sama kita berdua. Adek saja ya." jawab Sadha yang berusaha bersembunyi di belakang pintu kamar Dhina.

"Ya ampun, kalau Ibu, tinggal bilang saja Mas ada perlu dengan Adek, mudah bukan?" ujar Dhina sambil berjalan untuk membuka pintu.

Setelah pintu terbuka, ternyata yang mengetuk pintu adalah Ammar. Ammar yang sudah rapih dengan pakaian batiknya sesuai dengan dress code yang di beritahu oleh Pak Aidi untuk menghadiri acara pagi ini.

"Adek? Baru selesai mandi ya?" tanya Ammar sambil memasang kancing dilengan bajunya.

"Mas Ammar? Iya, Mas. Adek baru selesai mandi. Adek ingin salat dulu setelah itu bersiap. Mas ada apa?" ujar Dhina yang masih berdiri di dekat pintu.

"Tidak ada apa-apa, Mas hanya ingin melihat kondisi Adek, Sadha dan juga Dhana." ucap Ammar yang masih merapihkan lengan bajunya sambil melihat ke arah Dhina.

Sadha dan Dhana yang mendengar suara Ammar langsung keluar dari balik pintu kamar Dhina. Lalu...

"Kita di sini, Mas." ujar Sadha dan Dhana yang keluar dari tempat persembunyian.

"Kalian di sini? Sudah pakai foundation Adek? Luka memar kalian sudah tidak terlihat lagi tuh. Jangan sampai terhapus ya foundationnya." ujar Ammar dengan suaranya yang pelan.

"Sudah, Mas. Kita baru selesai pakai foundationnya." jawab Dhana yang terus saja mengusap wajahnya karena tidak biasa memakai foundation.

"Kalau sudah, ayo turun. Kenapa masih di sini? Kalian ingin mengintip Adek pakai baju?" ujar Ammar yang berjalan menuruni tangga.

"Iya, Mas. Adek... terima kasih ya, Sayang. Jangan lupa foundationnya dibawa saja. Siapa tau nanti berguna." ujar Sadha pada Ammar dan juga Dhina sambil berjalan keluar kamar Dhina.

"Iya, iya, Mas. Nanti Adek bawa." jawab Dhina yang mau menutup pintu kamarnya.

"Mas ke bawah dulu ya, terima kasih foundationnya." timpal Dhana seraya mencubit pipi cubby adik kembarnya itu.

"Iya, Mas. Sama-sama."

Sadha dan Dhana pun pergi. Sementara Dhina hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ketiga masnya itu.

"Dasar! Punya mas tiga sikapnya aneh-aneh semua."

Dhina pun menutup pintu kamarnya, lalu shalat subuh dan bersiap-siap untuk menghadiri acara penting sang ayah tercinta di kantor dinasnya.

Dhina memakai kebaya modern berwarna taro yang manis. Ditambah nuansa batik berwarna serupa pada bagian rok. Dhina terlihat sangat anggun dan sangat cantik. Tidak lupa pula ia menambah sedikit make up natural diwajahnya, dan balutan hijab yang berwarna serupa. Pesona Dhina semakin keluar. Kecantikan dan keanggunan gadis itu pun semakin terpancar.

Setelah Dhina selesai bersiap, ia pun tak lupa untuk mengenakan sandal kaca yang tidak terlalu tinggi dan juga sebuah tas sandang kecil miliknya. Setelah itu, ia pun keluar kamar dan segera menuruni tangga untuk menyusul ketiga masnya yang sudah berada di bawah.

***

Ammar, Sadha dan Dhana sudah berada di ruang keluarga. Sedangkan Pak Aidi dan Bu Aini masih sedang bersiap-siap di kamar mereka.

Ammar, Sadha dan Dhana yang tadinya asyik dengan ponsel masing-masing pun langsung menoleh saat mendengar suara langkah kaki dari arah tangga.

"MasyaAllah, Dek. Adek cantik sekali. Mas kira ada bidadari yang turun di rumah kita." ujar Dhana yang menggoda adik kembarnya itu.

"Ah, Mas Dhana gombal. Masa adiknya sendiri digombalin sih. Ada-ada saja." jawab Dhina yang berjalan ke sofa untuk duduk.

"Dhana tidak salah kok, Dek. Adek cantik sekali hari ini. Mas saja pangling melihatnya. Rasanya saat wisuda kemarin, Adek tidak secantik ini." timpal Sadha yang juga ikut menggoda adik perempuannya.

"Berarti waktu wisuda, Adek tidak cantik ya Mas?" tanya Dhina yang berusaha mengingat moment saat ia wisuda.

"Cantik juga, tapi tidak secantik sekarang." jawab Sadha dengan santai sambil memainkan ponselnya.

"Tidak usah dengarkan Sadha, Dek. Setiap hari Adek selalu cantik kok. Selain Ibu, Adek adalah wanita paling cantik di rumah ini bahkan dunia." ujar Ammar yang tidak mau kalah menggoda sang adik.

"Iya, iya, Adek percaya kok sama semua gombalan, Mas. Pasti kalian suka gombalin wanita lain seperti ini juga ya?" ujar Dhina yang menunjuk masnya satu per satu.

"Wanita? Mas-mas Adek ini semuanya jomblo, Dek. Sebenarnya ada sih yang mau otw tidak jomblo, tapi sepertinya dia belum mendapatkan hilal." jawab Dhana yang tertawa lalu melirik ke arah Ammar.

Ammar yang merasa tersindir dengan perkataan adik kembarnya itu pun melirik tajam ke arah Dhana. Lalu...

"Siapa yang belum dapat hilal, hah!? Situasi dan kondisinya saja yang belum tepat untuk mengungkapkan perasaan." serkas Ammar yang terpancing dengan perkataan Dhana.

Dhina dan Dhana saling pandang saat mendengar pernyataan Ammar itu. Dhina merasa kalau Ammar memang sedang menyimpan sesuatu terhadap Ibel. Lalu...

"Berarti Mas memang suka ya sama Kak Ibel?" tanya Dhina yang menatap lekat manik Ammar.

Ammar hanya terdiam saat mendengar pertanyaan adik perempuannya itu. Melihat sikap Ammar yang tiba-tiba berubah seketika, membuat Dhina langsung teringat akan hubungan mereka yang sampai saat ini tidak ada kejelasan. Mereka selalu mengaku hanya sebagai sahabat. Namun Dhina bisa melihat kalau ada cinta di dalam mata mereka. Apalagi Dhina juga sudah tau akan perasaan Ibel pada mas sulungnya itu.

Dhina pun ikut terdiam sambil memikirkan cara untuk menyatukan keduanya. Sedangkan Dhana yang tadinya menggoda Ammar, kini juga ikut terdiam karena tidak mau membuat mas sulungnya itu marah ataupun sedih.

Suasana ruang keluarga pun menjadi hening. Dari arah depan Pak Aidi dan Bu Aini yang sudah rapih dengan pakaian couple, menghampiri anak-anaknya yang sudah sejak tadi menunggu mereka.

"Kenapa semuanya diam? Tadi Ayah mendengar suara kalian tertawa." ujar Pak Aidi seraya merapihkan lengan bajunya.

"Ayah dan Ibu sudah siap. Ayo kita langsung berangkat saja." ujar Ammar yang langsung beranjak dan berjalan keluar rumah.

"Mas kamu kenapa Nak?" tanya Bu Aini yang melihat sikap Ammar sambil mengelus kepala Dhina.

"Tidak apa-apa, Bu. Mas Ammar sedang kepikiran pekerjaannya mungkin. Ayo Ayah, Ibu, Mas... kita berangkat. Kalau terlalu lama, nanti make up Adek bisa luntur nih." ujar Dhina yang menggandeng kedua orang tuanya itu.

"Mas... ayo! Asyik sekali sih dengan ponsel sejak tadi." timpal Dhana pada Sadha yang sedang asyik dengan ponsel.

"Anak Ayah cantik sekali." ucap Pak Aidi seraya mengusap lembut kepala Dhina yang tertutup hijab.

"Siapa dulu ibunya." ujar Bu Aini dengan bangga karena kecantikan yang dimiliki sang putri menuruni kecantikan darinya.

"Siapa dulu juga, Bu. Kembarannya." timpal Dhana yang tidak ingin kalah sambil menyusul langkah Bu Aini.

"Ayahnya tidak nih?" tanya Pak Aidi yang merasa cemburu pada anak-anaknya karena tangan Bu Aini digandeng oleh mereka.

"Ayah cemburu, Bu. Ayah gandeng Mas Sadha saja tuh. Sejak tadi dia asyik sendiri dengan ponselnya." jawab Dhana seraya melirik ke arah Sadha di belakang.

"Sudah selesai kok, Yah. Tadi Sadha hanya ingin menghubungi sekretaris Sadha karena hari ini Sadha tidak ke kantor dulu." ujar Sadha seraya memasukan ponselnya ke dalam saku dan berjalan mengikuti sang ayah.

"Iya, Ayah mengerti kok. Anak-anak ayah itu orang sibuk semua. Ayo masuk mobil, nanti kita telat." ucap Pak Aidi pada Sadha sambil masuk ke mobil.

"Adek di depan ya, Ayah." ujar Dhina seraya berlari ke arah pintu mobil bagian depan agar bisa duduk di samping mas sulungnya.

Pak Aidi yang melihat tingkah putrinya itu hanya bisa menggelengkan kepala. Kini mereka semua sudah masuk ke dalam mobil. Ammar yang melihat adik perempuannya duduk di depan hanya terdiam dan tersenyum pada Dhina. Namun tidak untuk bicara panjang lebar seperti biasanya.

Selama di perjalanan, mereka tidak ada yang bicara. Hanya Pak Aidi dan Bu Aini yang berbicara membahas acara yang akan mereka hadiri. Dhina merasa kalau Ammar tidak suka saat ia bertanya tentang hubungannya dengan Ibel.

Apa Mas Ammar marah ya saat aku tanya tadi? Adek minta maaf ya, Mas. Kalau sudah membuat Mas tersinggung. Tapi niat Adek baik kok. Adek hanya ingin Mas jujur dengan perasaan Mas sendiri. Adek janji akan membantu Mas untuk mendapatkan Kak Ibel. Gumam Dhina dalam hati.

Adek kenapa bertanya seperti itu sih? Aku bukannya tidak berani, tapi karena Ibel saja yang sudah ada orang lain di hatinya. Bagaimana ingin menyatakan cinta, kalau kita sendiri tau hatinya untuk orang lain. Gumam Ammar dalam hati.

Ya... yang Ammar tau adalah bahwa di hati Ibel saat ini, sudah ada orang lain yang menghiasinya. Namun Ammar tidak tau, bahwa orang lain yang di hati Ibel itu adalah dirinya. Ammar sering tidak peka dengan isyarat yang diberikan oleh Ibel. Sikap Ammar yang membuat hubungan keduanya masih seperti sekarang dan tidak ada kejelasan. Ibel sibuk menunggu Ammar, sedangkan Ammar tak kunjung mengerti dengan perasaan Ibel.

Hanya karena satu pertanyaan singkat, membuat Ammar bad mood selama perjalanan menuju acara di kantor dinas Pak Aidi dan ia hanya fokus ke jalan.

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

1
Fitri03
terharu banget bacanya sampe menguras air mata
Fitri03
pas dhina diagnosa terkena penyakit kanker darah disitu aku nangis banget bacanya sampe Dhana akhirnya menikah dengar orang benar2 mirip sama adeknya,benar2 terharu bacanya dan menguras air mata.makasih yaa Thor udah bikin cerita sebagus ini kalau bisa bikin season 2nya tentang Dhana dan mala.
🌹Dina Yomaliana🌹: Alhamdulillah makasih banyak ya kak udah mau baca novel aku🥹🩷🙏 btw lanjutannya ada kok, di sebelah silakan berkunjung juga ya semoga suka☺️☺️
total 1 replies
Asih Asih
jangan di kasih penyakit terus dong Thor,kasih kebahagian bersama imam pliss
🌹Dina Yomaliana🌹
Sebagai penulis dari novel ini, saya berharap akan ada banyak orang yang menyukai alur ceritanya. Walaupun saya sadar, kalau cerita ini masih sangat banyak kesalahannya.
Dina Ima Tari
aduhh capek banget baca cerita ini tuh, rasanya gak berhenti mengalir, ini novel pertama yang aku ingin banget si tokoh utamanya hidup
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
Nadia Permata
berulang kali baca ini...
ttp aja nangis...
Erma Wahyuni
😭😭😭😭😭
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Erma Wahyuni
gimana ya kabar imam
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Rani Virjani
kenapa jg yg nungguin harus d bawah sih..sedangkan yg sakit berada d lantai atas🤦‍♀️🤦‍♀️
Li Permana
Mampir kak, 3 like untuk karyamu
Mommy Gyo
10;like hadir thor mampir
Ganezt Ganezho
wesss mantap mengandung bawang yg buanyaaakkk pokok e... top dach kk thor bkin certa nya
Yenz_Azzahra
Hadir disini.
tingglkn jejak dulu ya
Μғ⃝🦪тιαяα м͜͡¢͢🦇
Semangat Thor ceritanya sangat bagus😍, mampir juga di novel ku "Hijrahnya Gadis Pembunuh Bayaran" 💙💙
Martina Alfarizqi
semangat untuk karya barunya💪💪
Eva Santi Lubis
keren
Anun
Udah mampir dari my Maria
Yeni Eka
Disitu tulis Plak, eh aku yang meringis ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!