Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Damai?
Rivaldo tiba di kafe kecil yang berdiri tepat di seberang taman, tempat pepohonan tua berbaris rapi seakan menjaga ketenangan siang hari.
Ia mendorong pintu kaca dan disambut denting lonceng halus. Matanya menyapu ruangan, aroma kopi dan roti panggang bercampur hangat di udara. Beberapa meja sudah terisi, namun masih ada sudut yang kosong.
“Masih ada tempat,dan pas sekali sepertinya itu untuk dua orang." gumamnya pelan.
Ia melangkah ke sana, memilih meja untuk dua orang, lalu memberi isyarat singkat pada pelayan bahwa ia menunggu seseorang.
Rivaldo bersandar di kursi, bahunya turun sedikit, seolah beban yang biasa ia bawa sengaja ditaruh sebentar. Tak lama kemudian, seorang pelayan perempuan mendekat.
Usianya masih muda, setelan kerjanya rapi, langkahnya ringan. Ia menyerahkan selembar menu berlapis laminasi.
“Ingin memesan sesuatu?” tanyanya sopan.
Rivaldo menatap daftar itu sekilas, lalu mengangguk kecil.
“Dua Kopi saja. Hitam Saja.” Pelayan itu tersenyum tipis, mengambil kembali menu, dan menjawab singkat, “Akan segera disiapkan,” sebelum berbalik menuju bar.
Dari tempat duduknya, pandangan Rivaldo kembali tertambat ke pintu masuk. Beberapa detik berlalu, lalu pintu itu terbuka lagi. Rio masuk, mengenakan pakaian kasual yang sederhana.
Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari-cari, hingga akhirnya melihat Rivaldo yang mengangkat tangan kanannya sebagai tanda.
“Jadi kau di sana,” gumam Rio, suaranya nyaris tenggelam oleh hiruk pikuk kafe. Perasaan ganjil mengendap di dadanya, campuran waspada dan ragu yang belum sepenuhnya padam.
Rio melangkah mendekat dan duduk di kursi di hadapan Rivaldo. Jarak di antara mereka hanya selebar meja kayu itu, namun terasa lebih jauh dari biasanya.
tak ada ancaman, hanya keheningan canggung yang menggantung. Karena Untuk pertama kalinya, mereka bertemu tanpa kekerasan.
Pelayan perempuan itu kembali dengan langkah ringan, membawa nampan kecil berisi dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap. Ia menaruhnya hati-hati di atas meja, tepat di hadapan Rio dan Rivaldo.
“Ini pesanannya, silakan dinikmati,” ucapnya ramah sebelum berbalik dan meninggalkan mereka berdua, membiarkan aroma pahit kopi mengisi ruang di antara keheningan yang canggung.
Rio menatap Rivaldo tanpa basa-basi. Tatapannya datar, hampir dingin, seolah ia sudah lelah memutar-mutar kata.
“Jadi, kita mau membicarakan apa?” katanya langsung ke inti.
“Tentang kau yang katanya melindungiku?” Nada suaranya tenang, namun ada ujung tajam yang tak disembunyikan.
Rivaldo sedikit tersentak, alisnya terangkat. Ia tak menyangka Rio sudah sejauh itu. “Kau sudah tahu?”
Ia menghela napas singkat. “Ya… itu memang topik yang memalukan untukku.” Bibirnya melengkung tipis, lalu wajahnya kembali serius. “Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan hari ini.”
Kali ini, Rio yang terdiam sejenak. Rasa penasaran merayap cepat. “Kalau begitu, tentang apa?” tanyanya.
Begitu Rivaldo menjawab singkat, wajahnya berubah. “Ini tentang orang tuamu.” Seketika, sikap Rio menegang.
Tubuhnya condong ke depan, matanya menyala. “Apa maksudmu?” desaknya. “Apa yang kau tahu tentang orang tuaku? Dan janji apa yang sebenarnya kau miliki dengan ibuku?” Suaranya naik, emosi yang sempat jinak kembali menggeliat.
Rivaldo mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar Rio menahan diri.
“Tenang dulu,” katanya dengan nada lebih santai, hampir menggoda. “Kau kelihatan menyeramkan kalau begini, tahu?” Ia lalu menatap Rio lebih dalam. “Aku serius berterima kasih padamu. Karena sudah memaafkanku atas semua yang kulakukan.”
Rio menghembuskan napas panjang. Ketegangan di bahunya perlahan luruh. Ia bersandar ke kursi, meraih cangkir kopinya, lalu menyesap pahitnya tanpa ekspresi.
...“Tidak apa-apa,Setiap orang punya ideologinya sendiri.”...
Rivaldo menatap Rio seolah sedang melihat orang lain yang baru dikenalnya hari ini. Tatapan itu tidak lagi berisi jarak atau rasa unggul, melainkan keheranan yang jujur.
“Rio… kau sudah berubah sejauh ini, ya,” ucapnya pelan, seperti mengakui sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
Rio hanya tersenyum tulus. Ia tertawa kecil, singkat, tanpa beban.
“bicara apa kau ini, Heh… perubahan itu juga terjadi karena dirimu sendiri,” jawabnya apa adanya. Tidak ada sindiran, tidak ada dendam yang diselipkan. Hanya sebuah fakta yang diterima begitu saja.
Rivaldo membalas dengan senyum tipis sebelum wajahnya kembali mengeras. Ia duduk tegak, tak lagi bersandar.
“Baiklah,” katanya, nada suaranya turun dan serius.
“Aku akan mengatakan janjiku pada ibumu.” Udara di antara mereka berubah berat,hanya ada meja kecil tempat dua masa lalu saling berhadapan.
“Saat orang tuamu menghembuskan napas terakhir, mereka memintaku menjagamu. Dan satu hal yang paling mereka tekankan… mereka meminta untuk membuatmu tidak mencari penyebab kematian mereka.”
Mata Rio melebar. Ada sesuatu yang akhirnya klik di kepalanya.
“Pantas saja,” gumamnya.“Sejak kematian mereka, sikapmu jadi aneh. Jadi itu alasannya." Ia terdiam sesaat, lalu menatap tajam. “Tunggu… kau bilang ‘penyebab’. Jadi kematian mereka bukan kecelakaan?”
“Bukan,” jawab Rivaldo sambil menggeleng pelan.
“Setidaknya, tidak sesederhana itu.” Ia menghela napas. “Aku juga tidak tahu detailnya. Tapi dari apa yang kulihat, mereka terlibat dalam suatu masalah. Masalah yang bahkan mereka sendiri tidak ingin kau dekati.”
Rio menyandarkan punggungnya, jemarinya menyentuh dagu, pikirannya berlari cepat.
“Jadi itu sebabnya,” katanya lirih. “saat aku melihat Mobil mereka hampir tak rusak, tak ada tanda kecelakaan fatal… dan mereka sengaja menutupinya dariku karena takut aku terseret ke masalah yang sama.”
Ia menatap Rivaldo lurus-lurus. “Karena itulah kau berjanji pada ibuku.”
“Ya,” jawab Rivaldo singkat.
Namun ketika Rio bertanya, “Lalu apa sebenarnya penyebab kematian mereka?”
bahu Rivaldo menurun. Ia menunduk, wajahnya memelas. “Sejujurnya… aku tidak mencarinya. Jadi aku tidak tahu.”
Rio terdiam, lalu bangkit sedikit dan menepuk pundak Rivaldo. Sentuhannya ringan, tanpa amarah. “Ah, jadi begitu,” katanya pelan.
“Hei…jangan memasang wajah seperti itu di depan ku ,kau tidak terlihat seperti dirimu yang biasanya.” Senyum kecil muncul di bibirnya. masa lalu yang kelam itu tidak terasa seperti rantai, melainkan pintu yang akhirnya terbuka."Terima kasih atas perbuatan mu selama ini."