NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 - Awal Balas Dendam

Malam harinya...

Alexia baru keluar dari kamar mandi sambil menggosok wajah dan rambutnya dengan handuk. Air menetes dari poni rambutnya yang panjang, dan kulit yang halus dan seputih salju terlalu menggoda untuk disentuh manusia.

"Entah mengapa hari ini aku sangat lelah." gumamnya.

Sekarang, dia sudah kembali ke kamarnya sendiri setelah semua bekas pertarungan dibersihkan oleh para pelayan.

Tidak ada noda darah di mana pun, apalagi baunya yang menyengat juga hilang. Bukan hanya buku saja, namun kasur dan selimut, semuanya diganti dengan yang baru.

Alexia kini duduk di depan cermin dan menghela nafas.

"Aku senang bisa kembali ke kamarku lagi, tapi ..."

Ingatan tentang makan siang bersama Aurora membuat alisnya berkerut. Letak permasalahannya bukan berada pada makanannya, tapi cara Aurora memperlakukannya.

Mengingatnya lagi membuat Alexia mulai risih kembali.

"Apakah dia tidak tahu yang namanya menjaga jarak?"

Alexia merasa terganggu saat Aurora menunjukkan kasih sayang yang berlebihan padanya. Mereka memang adik dan kakak dalam hubungan darah, tapi Alexia tidak mau menjalin hubungan manis yang terlalu jauh dengannya.

Ini pengalaman baru untuknya, karena di masa lalu yang jauh, Alexia tidak mengenal yang namanya keluarga dan kasih sayang. Yang ia kenal dari dulu adalah kesendirian.

Kesendirian dan kesepian saat dia baru berusia 10 tahun hingga duduk di atas takhta dan menjadi 'Demon Queen'.

Alexia menggelengkan kepalanya dan berpikir,

'Tidak ada gunanya aku memikirkan hal itu sekarang.'

"Sebaiknya aku mencari lebih banyak informasi tentang pedang aneh yang tidak sengaja aku temukan itu." kata Alexia sambil menatap tongkat kayu di pantulan cermin.

Tongkat kayu itu pasti menyimpan banyak rahasia.

Dari namanya yang tertulis dalam huruf kuno, perubahan bentuk tingkat tinggi yang tidak bisa ditiru oleh penempa dan pandai besi. Dan yang paling membingungkan dari tongkat itu adalah energi familiar yang memancar keluar.

Apalagi masih ada banyak hal mencurigakan lainnya.

Alexia mengerutkan alisnya dan berkata,

"Energi yang tidak asing ini mirip dengan 'orang itu'."

Semakin dirasakan dengan baik, Alexia menjadi semakin yakin dengan tebakannya. Energi yang ia rasakan sedikit istimewa dan tidak sembarang orang dapat memilikinya.

Dengan kata lain, energi istimewa itu sangatlah langka.

'Apa ini salah satu senjata buatannya, atau ...'

Saat memikirkan hal itu, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.

Tok tok tok

Alexia tersadar dan menoleh ke arah pintu kamarnya.

"Nona Alexia, ini saya Siria." ucap orang di luar pintu.

"Siria, ya? Masuklah." sahut Alexia, mengizinkannya.

Pintu pun dibuka dan Siria melangkah masuk ke dalam.

"Ada apa?" tanya Alexia, sedikit penasaran dengan alasan Siria tiba-tiba saja mengunjungi kamarnya di malam hari.

'Nona Alexia terlihat sangat kelelahan.' pikir Siria setelah melihat kerut di sekitar matanya. 'Lebih baik aku segera melaporkan hal ini agar dia bisa beristirahat lebih cepat.'

Siria segera mendekat dan mengatakan tujuannya.

"Saya akan langsung ke intinya." katanya dengan serius.

"Setelah saya menginterogasi assassin yang datang dan ingin membunuh anda sebelumnya, saya mendapatkan tiga informasi tersaring yang saling berkaitan." lanjutnya.

Alexia mendengarkan dengan seksama.

"Pertama, mereka berencana untuk meledakkan seluruh kediaman ini." ucapnya dengan nada dan ekspresi datar.

"Hah?" Alexia sedikit terkejut.

"Tapi anda tidak perlu khawatir." lanjut Siria sambil sedikit membusungkan dada. "Semua bahan peledak yang telah mereka pasang sudah saya ambil dan buang ke sungai."

Suasana untuk sesaat menjadi hening.

'Dia mengatakannya seperti bukan apa-apa.' batin Alexia.

Tindakan yang para assassin lakukan terlalu berlebihan hanya untuk membunuhnya. Mereka tidak memikirkan konsekuensi dari meledakkan tempat tinggal salah satu Swordmaster dan pengguna Aura terkuat di kerajaan ini.

Amarah seorang Swordmaster terkuat bukanlah sesuatu yang dapat di tanggung siapapun, bahkan oleh kerajaan.

"Darimana mereka mendapat keberanian sebesar itu?"

Siria menggelengkan kepalanya sebagai tanggapan.

"Yang kedua," lanjut Siria sambil menurunkan pandangan matanya. "Assassin itu menyebutkan tentang tuan muda Evan dan ibunya, nyonya Hilda. Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan anda, dia akan menjawab mereka."

Alexia sepenuhnya terdiam setelah mendengarnya.

'Ingatan itu muncul lagi.' batinnya, merasa tidak nyaman.

Hilda selalu memarahi dan memukulnya. Setiap hari di rumah terasa seperti kriminal yang telah di siksa dalam penjara. Alexia mencoba untuk bersabar, tapi tubuhnya yang lemah tidak kuat lagi menahan pukulan dari Hilda.

Alhasil, Alexia takut dan menjadi orang yang penyendiri.

Selain Hilda, ada juga anaknya yang bernama Evan.

Dia tidak mengenal dan memiliki dendam dengan orang yang bernama Evan, tapi ingatan tentang rasa takut dan keputusasaan itu kembali membuka luka yang tertutup.

Momen di mana Alexia jatuh dari lantai empat akibat di dorong oleh Evan, itulah masa yang paling menyakitkan.

Hatinya yang tenang kembali merasakan rasa sakit dan ketakutan. Alexia yang dari dulu tidak mengenal emosi seperti itu, sekarang sangat berdebar dan bersemangat.

'Rasa sakit ini adalah bukti bahwa aku masih hidup.'

Itulah yang sedang dipikirkan oleh Alexia dalam hatinya.

"Nona Alexia ...? Nona Alexia?!" panggil Siria.

Alexia yang tenggelam dalam emosinya pun tersentak.

"Apa anda baik-baik saja?" Siria bertanya, mulai khawatir.

"A-aku tidak apa-apa." balasnya sambil memegang dada dan mengepalkan tangan dengan erat. "Aku tadi sedang memikirkan sesuatu, jadi tidak terlalu mendengarkanmu."

Alexia menurunkan pandangannya sambil berpikir,

'Kenapa assassin itu menyebutkan Hilda dan Evan? Apa mereka adalah orang yang sangat ingin aku mati di sini?'

Mereka seharusnya tidak punya hubungan, tapi setelah Alexia pikirkan baik-baik, alasan mereka melakukan itu sama, yaitu ingin Alexia terluka ataupun mati terbunuh.

'Ingatan ini membuatku sangat tidak nyaman.' pikirnya.

"Lalu untuk informasi yang ketiga ..."

Nada yang digunakan Siria semakin turun dan rendah.

Keraguan langsung tampak di mata dan raut wajahnya.

"Saya tidak tahu apakah assassin itu jujur atau tidak, tapi dia menyebutkan sebuah nama." Siria menarik nafas dan melanjutkan, "Nama yang tadi dia sebutkan adalah Belio."

Alexia yang terpikirkan satu orang pun menyahut, "Belio Iris Swan? Mengapa nama pamanku ikut dia sebutkan?"

Dalam ingatan Alexia, Belio adalah paman yang baik dan perhatian. Ketika ayahnya sedang menjalankan tugas di luar kota, dia adalah orang yang menggantikan perannya.

Saat Hilda sedang memarahinya, Belio akan datang dan melindunginya. Dia adalah seorang paman yang punya tanggung jawab. Itulah yang menyebabkan Alexia kaget.

'Dua kali ...' batinnya dengan raut wajah yang ditekuk dan tampak sedih. 'Ini kedua kalinya aku dikhianati. Pertama oleh bawahan yang paling kupercayai, dan kedua adalah paman yang selalu tersenyum dan bersikap baik padaku.'

Siria menundukkan kepalanya dan juga merasa sedih.

Suasana di dalam kamar pun menjadi sunyi dan sepi.

Alexia menghela nafas panjang dan memandang ke luar.

"Siria, apa aku tampak seperti orang yang sangat mudah dipermainkan?" tanya Alexia hingga membuat Siria diam.

Keheningan malam telah menjawab pertanyaannya.

"Apa aku tampak seperti orang yang lemah?"

Jawabannya masih sama dan tidak pernah berubah.

Siria hanya bisa terdiam sambil mengerutkan alisnya.

'Sepertinya aku tidak perlu berpura-pura lagi.' pikirnya dan menatap bulan yang bersinar terang di langit malam. 'Ini waktunya aku melepas topeng palsu dan bergerak maju!'

Alexia akhirnya membulatkan tekadnya.

"Siria, besok bawakan aku baju berwarna putih polos."

Permintaan tiba-tiba itu menuai tanda tanya, tapi Siria tidak perlu bertanya hal itu lebih jauh dan menurutinya.

"S-sesuai yang anda inginkan, nona Alexia."

Tersisa satu hari lagi sebelum kepala keluarga kembali, dan Alexia telah menyiapkan sebuah rencana sempurna.

Rencana seperti apa yang akan digunakan Alexia untuk menarik para tikus yang bersembunyi di balik bayangan?

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!